
Setelah mengucapkan kalimat permintaan nya terhadap Dena, Galang masih berdiri, tentu saja menunggu jawaban dari gadisnya ini,
" ayo Dena, buruan jawab, iya,he eh, mau gitu" bisik Dinda di telinga Dena.
Dena menatap wajah pria di depannya itu, pria yang tak pernah ia bayangkan akan memintanya secara resmi di depan ayah dan juga ibunya, dan tak pernah terbesit di benaknya jika ia akan bersuamikan seorang Galang aditama Wijaya ,dosen di kampusnya, pria dewasa, tampan dan juga mapan, dulu Dena hanya membaca dalam cerita novel saja, seorang gadis dari keluarga biasa dan strata sosial menengah kebawah, kasta SUDRA kalau kata Dena ya, dipersunting seorang pria dari kasta Brahmana,
hmm, bahkan Dena tak berani walau hanya sekedar untuk membayangkannya, tapi sekarang apa, kini dirinya lah yang menjadi tokoh protagonis wanita berkasta sudra dalam cerita novel yang pernah di bacanya dulu, ah, mau nangis tapi malu, ingin tersenyum tapi jawab dulu aja lah,,,
Galang memandang penuh harap pada Dena, ya walaupun di beberapa waktu akhir- akhir ini Dena selalu bersama nya, dan mereka memang masih saling mencintai, namun rasa takut dan khawatir akan penolakan Dena, jelas tak bisa di anggap sepele oleh Galang, bisa saja kan dalam sujud istikharah nya Dena menemukan jawaban bukan dirinya,, "oh Allah, ku mohon jangan" lirih Galang.
masih harap- harap cemas kini.
" iya, aku mau" blesss,, airmata Galang sukses meluncur tanpa hambatan di pipi mulusnya, sementara Ardi dengan gerakan cepat memberikan selembar tisu untuk tuan mudanya itu, Galang menghapus airmatanya yang masih mengalir di pipinya.
" kok nangis sih mas, senyum dong" ucap Ardi melebarkan bibirnya.
" nangis bahagia di, nanti kamu juga bakal tau gimana rasanya" ucap Galang seraya mengeluarkan box jewellery dari saku jas nya.
ia pun membuka kotak tersebut lalu mengeluarkan benda mungil nan mewah yang memang telah di impikan sejak lama untuk ia sematkan di jari manis Dena.
Galang maju beberapa langkah lebih dekat kepada Dena, ia raih satu tangan Dena dan jari manisnya.
sebelum benda mungil nan mewah itu benar-benar tersemat di jari manis Dena, baik Galang maupun Dena tampak berucap lirih
" aku sayang kamu",,
dan akhirnya cincin pengikat itu kini telah seutuhnya berada di jari manis Dena, Galang mencium nya sekilas, yang di sambut dengan riuh para keluarga yang hadir saat ini.
" ehm, ehm, udah dong romantis- romantis an nya, mending sekarang kita tentukan untuk acara selanjutnya, niat baik kan harus di segerakan, bagaimana pak Indra suseno dan pak Wijaya utama? " tanya salah satu sesepuh yang di undang dalam acara lamaran Galang dan Dena kepada ayah dan papanya Galang, keduanya pun menangguk tanda setuju dengan ucapan pria sepuh tersebut.
Galang kini duduk di samping Dena, senyum keduanya merekah sempurna, aura kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajah mereka.
setelah mencapai musyawarah mufakat akhirnya acara pernikahan Galang dan Dena akan di adakan satu bulan setelah acara lamaran mereka hari ini, menimbang dan memutuskan, demi menghindari hal- hal yang tidak di inginkan, maka acara akan di adakan dalam tempo yang setingkat- singkat nya, hehehe, satu bulan coy, nikah aja kali den resepsi nya nanti aja, yang penting kan halalan toyiban dulu, ya nggak lang,,,
akhirnya kedua orang tua Galang, Ardi dan Dimas pamit pulang, sedangkan Galang? hmm, tinggal dulu, katanya ada yang akan di katakan kepada Dena, Hanya Dena ya guys,,,,
keduanya kini tengah duduk santai di teras samping rumah Dena, Galang menoleh kapada Dena yang hanya diam sedari tadi.
" Dena" sapa Galang, Dena menoleh tak menjawab panggilan Galang.
" semua urusan pernikahan kia, papa sama mama menyerah kan semua urusan sama saya, jadi kita harus gerak cepat berpacu dengan waktu, satu bulan sayang" ucap Galang lalu meneguk air putih dari gelasnya.
" kalau bapak aja boleh nggak, saya Terima beres aja ya, capek pak" keluh Dena, dengan wajah memelas.
__ADS_1
Galang menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Dena,
" boleh nggak panggilnya jangan pak Galang lagi" ucap Galang setengah berbisik di telinga Dena, Dena menoleh hingga pipi nya tersentuh bibir Galang yang merah dan mulus tanpa hiasan kumis tipis ataupun bewok gondrong nya...
Dena reflek menjauhkan wajahnya dari Galang, sementara Galang menarik dagu Dena, Dena tersenyum tersipu,
" maunya di panggil apa? " tanya Dena kemudian.
" mas Galang, bisa? " jawab Galang dengan senyum manisnya.
" malu pak, nggak biasa, lebih enak manggilnya pak Galang aja, boleh nggak? pinta Dena.
" kamu mau di ketawain mama sama papa tiap hari nanti nya, hem, kalau aku sih nggak yakin kamu bakal tahan sayang" ucap Galang lagi.
" sekarang aku ke kamu ya pak, nggak saya ke kamu lagi? " ucap Dena.
" mas Dena, mas Galang, di biasa in dong, kalau nggak dari sekarang, kapan lagi, nanti kalau udah ijab sah, iya? " ucap Galang dengan wajah merengut nya.
" hehehe, iya deh, mas, mas Galang ku sayang, ai lope yu,,, "
" love u more honey" balas Galang.
setelah berbincang cukup lama, akhirnya Galang pun pamit pulang, mereka akan melakukan fitting baju pengantin ke esokan harinya.
" dari dokter Angga lang, dia sendiri yang mengantarkan nya kesini, kamu masih di rumah Dena tadi" ucap sang mama dari tempat nya berdiri.
" dokter Angga datang sendiri atau sama calon istrinya ma" tanya Galang.
" sendiri lang, calon istrinya sedang ada jadwal praktik katanya tadi,terus langsung pamit pulang" ucap sang mama.
Galang segera membuka undangan kertas bertema klasik yang hanya menampilan siluet kedua calon mempelainya saja,
dr.Ardian airlangga nuh
dengan
dr. amelia choirunnisa yusuf
" sama- sama berprofesi sebagai seorang dokter rupanya, Dena harus tau kabar gembira ini" ucap Galang lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Dikamarnya, Galang segera melakukan panggilan video kepada Dena, panggilan langsung terjawab.
" sayang" sapa Galang saat wajah Dena sudah muncul pada layar handphone nya.
__ADS_1
" hemm" jawab Dena malas.
" kok gitu jawabannya, mas ganggu kamu ya, ya udah, mas tutup aja ya panggilan video nya" ucap Galang.
" nggak mas, mas Galang mau ngomong apa" ucap Dena to the point.
" nah gitu dong, makasih ya untuk panggilan sayang ya, you're so perfect honey,, [ kamu sempurna sayang]
Dena manggut- manggut saja tanpa suara.
Galang menunjukkan undangan yang diterimanya dari dokter Angga tadi siang.
" dokter Angga, menikah? " ucap Dena dengan ekspresi wajah tak percayanya.
" kenapa, kamu kecewa, patah hati, hem? " tanya Galang pelan.
" iya, aku kecewa dan juga patah hati, puas kan dengan jawaban nya!! kecewa karena pertanyaan konyol seperti itu bisa meluncur dari mulut calon suamiku, patah hati karena rupanya mas Galang masih menyimpan cemburu dan iri hati" jawab Dena kesal.
" lho kok jadi marah-marah sih, iya deh maaf, mas kan cuma ingin membagikan kabar bahagia ini sama kamu sayang, nggak ada maksud bikin kamu marah" Ucap Galang dengan ekspresi penuh penyesalan.
" iya dan seharusnya tidak perlu di tambah kan dengan kata- kata kecewa dan patah hati, kayak abege aja" Dena menimpali.
" emm, kamu lagi pms ya? " tanya Galang,, eh, bukan nya jawaban yang ia dapatkan tapi,,
naik kereta api
tut
tut
tut
hehehe sabar pak dosen, menjelang halalan toyiban memang ada aja godaan yang datang,,
satu kata sajalah,,
sabar,,,
trimakasih, semoga selalu suka
jazakumullah khoiron
happy Reading...
__ADS_1