
Galang coba menghentikan langkah kaki Dena dengan menggamit satu tangannya,,
" nanti asam lambungnya kambuh lho kalau telat makan'' ucap Galang masih dengan erat mengenggam satu tangan Dena.
" ini sih bukan telat lagi namanya mas, tapi G-A-G-A-L" ucap Dena mengeja kalimat terakhirnya.
" jangan gitu dong sayang, mas laper banget nih" bujuk Galang berharap Dena segera duduk kembali, dan akhirnya Dena duduk .
" mau di suapin? " tanya Galang seraya mengarahkan satu sendok spagetti bolognese nya ke mulut Dena, Dena menepis nya.
" nggak mau, nanti dilihat karyawan kamu, jadi panjang ceritanya kayak sinetron stripping, nggak abis- abis" ucap Dena yang kini menyendok makanannya.
" mereka nggak akan berani" Jawab Galang.
"yakin banget, mas mana tau jika dibelakang mas ternyata mereka nggosipin kita" imbuh Dena.
" itu urusan mereka, dosa nya mereka tanggung sendiri " ucap Galang lagi.
Dena tak menjawab lagi, setelah dipikir- pikir, ada benarnya juga ucapan Galang itu, hmm yo wes lah, sekarepmu wae lang, Galang.
setelah selesai, keduanya lalu turun ke lantai satu dengan Dena yang berjalan di samping Galang dengan tangan kanan Galang yang tampak menenteng sepatu high heels milik Dena.
saat berada di tengah-tengah tanggah, entah itu karena tangga nya yang licin ataukah kaki Dena yang lelah, hingga membuat Dena hampir saja terjatuh jika Galang tidak buru- buru menahan satu tangannya tadi.
" Hati-hati sayang, itulah kenapa sebabnya mas minta kamu untuk lepas sepatu, ini lah yang mas khawatirkan, sekarang ngerti? " ucap Galang dengan jantung berdegup kencang.
" iya, lain kali aku akan pakai wedges atau sandal teplek aja kalau jalan sama kamu mas" ucap Dena lagi, dan kini mereka sudah berada di lantai dasar, Dena duduk untuk memakai sepatu nya, tanpa bicara ia langsung meraih sepatu nya dari tangan Galang, Galang yang terkejut karena tengah fokus pada pengunjung kafe itupun memandang Dena dengan wajah bertanya-tanya.
" kenapa, masih marah? " tanya Galang.
" nggak, capek aja, mau pulang boleh? " tanya Dena dengan nada seolah-olah, itu hal yang merepotkan bagi Galang.
Galang tersenyum, kalu mempersilahkan Dena untuk jalan terlebih dulu, Galang menghampiri Dimas sebelum meninggalkan kafenya.
" saya langsung pulang Dim,kafe langsung tutup saja jika pengunjung sudah tidak ada" pesan Galang yang mendapat acungan dua jempol dari Dimas.
Galang bergegas menyusul Dena yang kini sudah menyender pada mercedes-benz putihnya.
Galang membukakan satu pintunya lalu Dena segera masuk, di susul Galang yang berada dibalik kemudi nya.
" langsung pulang? " tanya Galang sebelum melanjutkan kendaraan nya.
Dena menganggukan kepalanya, lalu ia pun bersandar pada sandaran kursinya.
" besok udah masuk kuliah lagi? " tanya Galang dengan pandangan fokus kedepan.
" iya mas, liburan semester nya kan udah selesai, mas Galang sendiri kapan mulai ngajar lagi? " Dena balik bertanya.
" mas udah resign sayang, papa yang minta" jawab Galang.
" resign, sejak kapan? apa sejak kamu menghilang itu mas? tanya Dena bertubi-tubi.
__ADS_1
" iya, papa mau mas fokus pada perusahaan papa, kalau nggak dari sekarang, lalu mau kapan lagi katanya" jawab Galang.
" kenapa mas Galang tampak keberatan sekali meninggalkan status sebagai seorang dosen" tanya Dena yang melihat raut kesedihan di wajah Galang saat menjawab pertanyaannya.
Galang menoleh kepada Dena, kemudian meraih satu tangan Dena untuk ia letakkan di dadanya.
" kamu tanya kenapa? " ucap Galang.
" iya, kenapa? " ucap Dena bingung.
" karena kamu masih ada di kampus itu sayang, dan mas nggak bisa melindungi kamu jika ada orang yang berniat jahat sama kamu" ucap Galang seraya mengecup punggung tangan Dena.
Dena terharu mendengar jawaban Galang barusan, ia akan menarik satu tangannya yang tengah di genggam Galang itu, namun sia- dia, Galang masih ingin menggenggam tangan nya.
" biarkan seperti ini, setelah kamu sibuk dengan urusan kuliah mu dan mas sibuk dengan pernikahan kita, moment- moment seperti ini akan jarang kita lalui, hingga kita sah menjadi suami istri nanti" ucap Galang tak henti menciumi punggung tangan Dena berulang- ulang.
" trimakasih mas, aku terharu mendengar nya, tapi mas Galang tidak usah terlalu mengkhawatirkan ku, aku akan baik- baik saja, lagian sebentar lagi kan aku wisuda, satu semester lagi mas, nggak lama lagi kan"ucap Dena mengeratkan genggaman tangannya.
" enam bulan bukan waktu yang sebentar sayang, dan status mu sudah berubah jauh sebelum wisuda mu, hem,, mas nggak rela ya kalau kecantikan istri mas ini dinikmati oleh pria lain" ucap Galang.
" aku tau posisiku sebagai apa mas" ucap Dena singkat.
" tapi orang lain kan nggak tau kalau kamu adalah istriku sayang" ucap Galang menoleh kepada Dena.
" maksud nya? " kini Dena kembali bertanya-tanya maksud dari ucapan Galang itu.
" menurut mu bagaimana, apa kita harus menyembunyikan pernikahan ini atau sebaliknya' tanya Galang.
Dena melepas genggaman tangannya, raut wajahnya berubah kini.
" bukan gitu sayang, mas hanya memikirkan kenyamanan kamu saja, mas kan hanya menawarkan pilihan, kalau kamu keberatan dengan pilihan yang pertama, mas malah akan sangat bahagia, karena dengan begitu mas tidak harus sembunyi- sembunyi lagi di depan para dosen saat menjemput kamu nanti, iya kan?bahkan mas akan sangat bangga mengakuimu sebagai istri mas, tapi kamu? bagaimana dengan teman- temanmu, dan juga sahabat mu yang kini menjauhimu, apa dia akan baik- baik saja saat tau bahwa kamu sudah menjadi istri ku, sedangkan hanya menjadi kekasih ku saja dia pernah akan mencelakai mu bukan? dan jika hal itu terulang kembali lalu mas nggak ada di sampingmu, bagaimana?, itulah yang mas takut kan Dena, sungguh mas nggak pernah sekalipun terbesit rasa malu jika harus mengumumkan pernikahan kita ini"panjang lebar penjelasan yang diberikan Galang berharap Dena dapat memahaminya.
Dena tampaknya mencerna penjelasan Galang itu, dia pun memandangi wajah mantan dosen ku tapi calon suami ku ini dengan senyum dibibirnya.
Galang melihat sekilas, lalu kembali menggemgam tangan Dena.
" bagaimana? " tanya Galang.
" aku ikut keputusan kamu saja mas, setelah ku pikir- pikir ternyata memang benar apa yang mas katakan tadi, mungkin untuk saat ini kita memang harus menyembunyikan pernikahan kita sampai. aku menyelesaikan pendidikan ku disini"ucap Dena.
" Alhamdulillah" ucap Galang.
" mas" ucap Dena lagi.
" apa? " tanya Galang pelan.
Dena tidak langsung berkata, ia tampak menggulung- nggulung ujung kemejanya, lalu menautkan jari jemari nya, Galang yang memperhatikan hal itu pun mengerutkan dahinya.
"apa, mau ngomong apa, bilang aja, jangan kayak orang bingung gitu" ucap Galang.
"aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu? " tanya Dena malu- malu.
__ADS_1
"mau minta apa, insya Allah kalau mas bisa pasti mas kabulkan permintaan kamu, asal jangan minta bulan madu di atas pelangi saja" ucap Galang lalu tertawa kecil,
plak,, Dena menimpuk tangan Galang dengan tas selempang nya.
" lho kok di pukul sih kenapa? " tanya Galang.
" mas mesum ih, kok sejauh itu ngomongnya" ucap Dena kesal.
" ya kan itu hanya pengandai- andai an mas saja Dena, terus kamu mau minta apa memangnya? " tanya Galang kembali.
" nanti kalau kita sudah sah menikah, ,, emmm,, Dena tampak menjeda ucapannya.
" apa, kenapa susah banget sih, bicara saja, jangan bikin penasaran, ayo katakan" pinta Galang.
" boleh nggak, emm, itu nya di tunda saja sampai aku lulus kuliah " ucap Dena masih malu untuk memperjelas kalimatnya, ia berharap Galang mengerti tanpa ia harus menjelaskan nya, tapi apa, ternyata mantan dosen ku calon suamiku ini, kini malah memasang wajah kebingungan dan mimik menertawakan ucapan Dena yang masih ngeblur itu.
" itunya itu apa? coba di perjelas, mas kurang paham sayang? " ucap Galang dengan menarik ujung bibirnya dan tentu saja tak terlihat oleh Dena, yang malah memalingkan wajahnya memandang keluar jendela.
" apa? Galang kembali bertanya.
" kamu pasti cuma pura- pura saja kan mas, mana mungkin pria dewasa seperti kamu nggak paham sama ucapan aku tadi, bohong banget!! ucap Dena kesal, ia merasa Galang sengaja menggoda nya.
" lho, mas ini kan anak sholeh sayang, masih perjaja ting- ting kalau kamu mau tau, beneran mas nggak ngerti kemana arah ucapan mu tadi, itu, itu nya apa?? ucap Galang masih bersandiwara,,
"itu nya mas, kegiatan pengantin baru itu memang nya apa sih, masak harus dijelasin secara vulgar, malu!! ucap Dena mendengkus kesal.
Galang tertawa kecil,,
" ehhhmm, kalau itu mas nggak bisa janji sayang tapi kita bisa mencobanya nanti,, gimana, apa kamu puas dengan jawaban nya? " tanya Galang.
" nggak puas sama sekali!! jawab Dena kesal.
hemm, permintaan yang sulit bagi Galang
tau sendiri kan, pengantin baru itu kerjaan nya apa,, ya itu, itu lagi,
sabar mas, apa di ganti bulan madu di atas pelangi saja ya,,,
*hanya kita berdua
nyanyikan lagu cinta
walau seribu duka
kita takkan berpisah
aaa~~
trimakasih, semoga selalu suka
happy Reading,,
__ADS_1
see u*,,,