
Galang sudah bersiap dengan pakaian kantor nya, sementara Dena tampak tengah membereskan buku- buku ke dalam tas selempang nya.
" Dena, kamu diantar Ardi aja kekampus nya, biar mas bawa mobil sendiri, nanti kalau mas pulang lebih awal dari kantor, mas jemput kamu dikampus ya" ucap Galang seraya membenahi tuxedo nya.
" iya, tapi kalau kamu repot aku bisa ngegrab aja mas" ucap Dena yang sudah bersiap hendak kekampus.
ya, hari ini keduanya mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Dena dengan kuliahnya yang menyisahkan beberapa bulan lagi dan juga Galang yang kini tengah sibuk- sibuknya mengurus semua keperluan untuk kerja sama nya dengan ismail,
ngomong- ngomong tentang Ismail, apa kabar pakcik kita yang satu itu ya, setelah meninggalkan bunga lilinya begitu saja di hadapan para perawat dirumah sakit kemarin , apakah ia masih gencar mencari- cari Dena, oh tentu saja, bahkan sekarang dia sudah mendapatkan nomor ponsel sang wanita ketika mereka berbincang-bincang santai ditaman sore kemarin kan?
" apa aku telepon saja ya, dengan begitu aku bisa bertanya tentang tempat tinggalnya " ucap Ismail lalu meraih ponsel dari dalam saku celananya.
Dena dan juga Galang berniat turun untuk sarapan pagi, karena kedua orang tua Galang sudah menunggu.
handphone Dena sedang dalam mode senyap, hingga panggilan dan pesan yang masuk tak terdengar ditelinga nya.
"Hi cantik, kuharap harimu seindah senyum dan wajahmu,,
begitu lah isi pesan yang dikirim kan Ismail kepada Dena, setelah beberapa kali panggilannya tak jua mendapatkan respon dari sang pemilik ponsel, maka ia putus kan untuk mengirim pesan saja.
"Dena hari ini sudah mulai masuk kuliah? " Tanya Ryanti seraya memasukkan beberapa tauge kedalam mangkuk soto Dena.
a,, Dena ingin sekali mencegah sang mama mertua agar tidak menambahkan jenis kacang- kacangan yang sudah berakar itu kedalam mangkuknya, tapi kenapa ia merasa itu sangatlah tidak sopan, namun sang mertua tampak menambahkan lagi benda panjang dengan kepala nya yang sedikit terbelah itu kedalam sotonya.
" udah ma" jawab Dena, entah itu untuk pertanyaan perihal kuliah nya atau isyarat agar sang mama mertua tak perlu menambahkan lagi tauge ke dalam sotonya.
sungguh andai bisa ditukar dengan taburan lain, Dena bahkan memilih untuk tidak memakai taburan sajalah, tauge? suaranya saja sudah bikin berisik saat dikunyah, kres, kres kayak itu,, ihhh,,bikin gigi ngilu,,,
Galang yang memang sudah mengetahui bahwa sang istri sangat anti dengan makanan itu pun seolah tau kebingungan sang istri yang kini menoleh kepadanya.
" mas, buat kamu aja ya" ucapnya pelan yang hampir tak terdengar, namun Galang tau maksud dari ucapan Dena, ia pun lalu menukar mangkuk sotonya yang belum sempat ditambahkan tauge oleh sang mama kepada Dena.
" kenapa? " tanya sang mama yang malah melihat jika menantu dan anaknya ini tengah bertukar mangkuk.
" porsinya kebanyakan ma, Dena nggak bisa makan terlalu banyak" ucap Galang, ia tak mungkin bilang kalau Dena ini anti tauge, bisa diamuk dimeja makan mereka berdua,,
ya kalian tau lah ya,, manfaat dari tauge itu apa? berhubungan sangat erat dengan harapan sang mama agar sesegera mungkin bisa menimang cucu dari pernikahan Galang dan Dena.
Galang mengantar Dena menuju garasi dimana Ardi sudah menunggu disana.
" jangan pergi sebelum dia benar- benar masuk kedalam kelasnya " ucap Galang saat Dena sudah duduk didalam mobilnya.
" nggeh mas" ucap Ardi lalu menutup kaca mobilnya.
setelah lexus hitam yang dikendarai oleh Ardi keluar dari gerbang rumahnya, barulah Galang melajukkan toyota Porsche miliknya.
" kemarin kenapa mbak? " tanya Ardi tetap fokus pada kemudi nya.
" iya mas, apa? " tanya Dena tak mengerti dengan pertanyaan pak sopir yang menggantung itu.
" a, maaf nih mbak kalau saya kepo, kemarin mbak nya kemana, mas Galang marah- marah lho sama saya lantaran bingung nyariin mbak Dena" ucap Ardi menoleh sekilas pada nyonya muda nya itu.
Dena diam, rupanya benar suaminya itu sangat lah mengkhawatirkan dirinya, sangking khawatir nya bahkan semua yang coba bertanya malah menjadi sasaran amarahnya, lihat saja curhatan pak sopir kepercayaan suaminya itu kan.
" ketaman di ujung komplek mas" jawab Dena.
" o,, kenapa nggak bilang mbak, kan saya bisa anterin, mbak Dena kan baru beberapa hari tinggal di lingkungan ini, pasti banyak orang yang belum kenal sama mbak, mas Galang khawatir banget lho kemarin, sampe saya nanya aja dianya marah, gitu itu mbak, dijawab salah nggak dijawab ya tambah salah, saran saya lebih baik kalau keluar harus barengan sama mas Galang aja deh mbak, kalau mas Galang nya nggak bisa, ya udah nggak usah keluar, mas Galang kalau khawatir lebih condong ke garang sih mbak, semua salah, maunya marah"
" iya mas, makasih saran nya, aku juga nggak mikir sejauh itu sih, saat aku suntuk dirumah lalu ingin keluar, ya udah jalan aja, nggak perlu ngomong dulu sama orang dirumah, toh hanya ke taman aja, bukan ke pasar atau nonton bioskop, tapi ternyata tinggal dirumah besar nggak bisa sesimpel itu ya mas, maaf ya udah bikin mas Ardi kena marah mas Galang" ucap Dena.
" iya, mbak Dena harus mulai membiasakan diri, karena sekarang mbak Dena itu bukan orang sembarangan, mbak Dena itu istrinya seorang Galang aditama Wijaya, menantu keluarga wijaya, kita nggak tau kan jika ada orang yang nggak suka sama mas Galang lalu menjadikan mbak Dena sebagai objek sasarannya" ucap Ardi coba memberi pengertian kepada istri dari tuan mudanya itu.
Dena mengangguk kecil, mulai mengerti kenapa sang suami begitu marah kemarin, ternyata itu alasannya.
"nanti pulangnya gimana mbak? " tanya Ardi saat Dena akan keluar dari mobilnya.
__ADS_1
" nanti mas Galang yang jemput mas" ucap Dena sebelum menutup pintunya.
sesuai perintah Galang, Ardi masih terus memperhatikan sang nyonya muda hingga tubuhnya hilang dibalik pintu kelasnya.
" mbak Dena polos sekali ya, dia bahkan belum menyadari status nya sebagai siapa saat ini, harus dikawal kalau begitu, ah biar nanti aku coba saranin sama mas Galang untuk memakai jasa bodyguard" ucap Ardi lalu melajukkan kendaraan nya,
" Hi Dena" terdengar suara pria menyapa nya.
Dena menoleh,
" kevin, Hi juga" ucap Dena kemudian duduk di kursinya.
" kamu dianter siapa kekampus, aku lihat kamu keluar dari mobil mewah berwarna hitam tadi? " tanya Kevin masih berdiri disamping Dena.
" oh, itu tadi kebetulan mandor ayah ku lewat jadi sekalian aja aku ikut"ucap Dena berbohong, mana mungkin dia bilang jika itu adalah sopir pribadinya kan, bisa ketahuan dong nanti.
" oh gitu ya, crazy rich rupanya pak mandor ayahmu itu, tunggangannya itu lho setara sama Sultan" ucap kevin berseloroh.
" aku sih naik aja ke, aku mana tau tunggangan mewah seperti yang kamu bilang tadi, emang sih rasanya beda waktu duduk didalamnya, berasa pakai sayap, ingin terbang, hehehe " ucap Dena tertawa kecil.
jam kuliah sudah berakhir, Dena melenggang santai melewati lorong kampusnya seraya bernyanyi lirih.
" sepi banget sih" ucapnya lalu meraih handphone dari tas selempang nya.
" eh, ada panggilan dan juga pesan masuk, siapa ya? " ucap Dena lalu segera membuka pesan pada ponselnya.
namun belum lagi ia membaca pesan itu, sebuah tangan membekap mulutnya dari arah belakangnya.
" emmmmpppp"
Dena berusaha melepaskan tangan orang tersebut, ia tak dapat melihat wajahnya,,, namun tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap dan akhirnya ia tak sadarkan diri.
sementara handphone yang tadi ada ditangannya sudah tergeletak di lantai.
" bawa dia ke gudang" perintah seorang wanita dari ujung teleponnya.
sementara itu dikantor nya Galang sudah bersiap pulang, karena pekerjaan nya sudah selesai.
" labih baik aku telepon dulu, nanti keburu naik ojek Dena nya" Galang membuka layar handphone nya.
panggilan pertama berdering, namun tak kunjung dijawab oleh sang istri.
" ck, Dena kemana sih kenapa nggak dijawab" ucap Galang lalu mendial kembali nomor Dena, begitu seterusnya, hingga akhirnya Galang mengirimkan sebuah pesan untuk Dena.
" mas jemput sekarang, tunggu di kantin depan ya"
Galang memasukkan kembali handphone nya saat pesan yang dikirimnya sudah centang dua, itu artinya handphone sang istri aktif.
Galang melajukkan Porsche miliknya dengan kecepatan maksimum hingga tak butuh waktu lama ia pun sudah sampai di kampus Dena.
ia masih ada didalam kendaraan nya, mengamati sekitarnya.
" sepi sekali, Dena kemana sih, dan kenapa pesan ku nggak dibaca ya? " tanya Galang saat ia melihat jika pesan yang dikirim belum juga dibaca oleh Dena.
Galang membuka kaca mobilnya saat seorang pemilik kantin melintas di samping mobilnya.
" bu, apa semua mahasiswa sudah pulang ya, kelihatan nya sepi sekali? " Tanya Galang pada seorang wanita yang sepertinya mengenali dirinya.
" pak Galang" ucapnya.
Galang pun tersenyum.
" udah pulang semua pak dari tadi, pak Galang cari siapa? " tanya nya.
" oh, ya sudah bu terimakasih informasinya " ucap Galang yang kembali menutup kaca mobilnya setelah wanita itu pergi.
__ADS_1
" kenapa perasaan ku kok nggak tenang ya, ah, apa aku cek saja kedalam" Galang lalu memutuskan untuk keluar dari mobilnya.
ia berjalan dengan pandangan nya kesana kemari mencari keberadaan sang istri.
" Di, kamu lagi sama Dena nggak? " Tanya Galang dari ujung teleponnya.
" nggak mas, saya lagi nganterin ibu arisan nih, memangnya kenapa mas? " tanya Ardi.
" nggak apa- apa, kamu standby ya, handphone ditangan, jadi jika sewaktu- waktu saya hubungin kamu langsung jawab" ucap Galang.
" baik mas" jawab Ardi yang kini merasa tak tenang, baru saja tadi pagi kan ia berniat memberikan saran kepada Galang agar memakai jasa pengawal untuk mendampingi sang nyonya muda, tapi sekarang bagaimana,
"ah mudah- mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap mbak Dena, kasian dia baru juga beberapa hari menjadi istri mas Galang kan"
Galang kembali melangkah, ia kembali melakukan panggilan suara terhadap Dena sayup-sayup ia mendengar suara handphone berdering, walaupun sangat pelan namun karena suasana kampus yang sepi maka akan terdengar juga deringannya.
" itu sepertinya sebuah handphone " Galang mempercepat langkah kakinya, pikiran nya sudah jauh entah kemana,jantungnya berdegup lebih kencang, bahkan keringat dingin mulai mengalir di dahinya, manakala ia melihat jika benda yang tergeletak di lantai itu adalah handphone milik sang istri.
" Ya Allah, apa yang terjadi dengan istri hamba " ucapnya terduduk lesu menggemgam handphone Dena.
" Dena,dimana kamu sayang " ucapnya lirih dengan airmata yang mulai membasahi pipi nya, namun ia tersadar.
" aku harus segera menghubungi Ardi" ucap nya.
" Di, kamu kekampus Dena sekarang juga" ucap Galang, lalu mengakhiri panggilan nya.
" wah, ini pasti ada yang tidak beres" bathin Ardi yang baru saja sampai di rumah mengantarkan sang nyonya besar.
Ardi pun segera melajukkan lexus hitam Galang menuju kampus Dena.
bahkan saking ngebutnya ia kini sudah berada di depan pintu gerbang kampus tersebut.
" saya udah didepan pintu gerbang mas" ucapnya pada sambungan teleponnya.
" masuk, saya tunggu di aula " jawab Galang.
Ardi segera keluar dari mobilnya, ia berlari menuju aula yang dikatakan oleh Galang tadi.
" bagaimana ini mas, mbak Dena nya hilang? " tanya nya dengan nafas ngos- ngosan .
Galang tak menjawab, ia hanya menunjukkan handphone milik sang istri.
" kita ke kantor polisi sekarang mas" ucap Ardi.
" tidak perlu di, sekarang kamu ikut saya" ucap Galang lalu melangkah keluar dari area kampus.
Ardi berjalan disamping Galang.
" mobilnya tinggal saja ,nanti saya minta Dimas untuk mengambilnya " ucap Galang lalu masuk kedalam Porsche nya di ikuti oleh Ardi.
" sekarang kamu periksa handphone Dena, cari informasi apa yang bisa membantu kita untuk menemukan keberadaan nya" ucap Galang tetap fokus pada kemudi nya.
" baik mas" ucap Ardi lalu mulai membuka layar handphone Dena.
" banyak sekali panggilan masuk mas" ucapnya saat melihat ada banyak panggilan masuk yang rupanya berasal dari Galang, namun ia tak dapat menutupi keterkejutan nya mana kala ia membaca nama pria di handphone sang nyonya muda telah menghubungi nomor Dena berkali-kali, bahkan sebuah pesan yang belum tetbaca juga berasal dari nomor yang sama dan dengan nama yang Ardi tau siapa itu.
" bagaimana Di, ada sesuatu yang kamu dapatkan dihandphone Dena? " tanya Galang.
Ardi diam saja, ia tak berani menduga-duga, sungguh berprasangka baik itu adalah ibadah, tapi jika yang didapatinya adalah hal seperti ini, lalu hati yang manakah yang harus dijaga, tapi ia sungguh tak percaya, baru saja tadi pagi kan ia memuji kepolosan sang nyonya muda, masa iya, bisa secepat itu,, jika iya,, maka keputusan nya benar-benar salah,,
" anda salah orang bro,, eh sist"
terimakasih,
jazakumullah khoiron.
__ADS_1
see u,