
a few moments later,,,,
" duduk lah dulu nduk, pak Galang akan menjelaskan semuanya kepada kita " pinta sang ayah kepada Dena yang terlihat tak ingin menuruti permintaan pria yang telah menorehkan luka dalam di hatinya itu( dibaca Galang red).
Dena menggelengkan kepalanya,
"Dena belum siap bertemu dengan dia pak, biarkan Dena sendiri dulu, Dena butuh ketenangan" ucap Dena sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya.
" apa kata Dena, belum siap bertemu dengan dia, lah tadi di kafe diam saja waktu di peluk sama Galang, khilaf gaes, khilaf,,,
Galang menghela nafasnya berat, hal yang sama juga terlihat pada kedua orang tua Dena, mereka memandang sedih kepada Galang yang tertunduk lesu kini.
" maafkan sikap Dena pak, seharusnya dia bisa lebih dewasa dalam menyikapi suatu masalah " ucap ayah Dena.
Galang mendongakkan kepalanya lalu tersenyum,
" tidak perlu meminta maaf Pak, sayalah yang bersalah dalam hal ini, saya terlalu terburu-buru, sedangkan luka dan rasa kecewa yang saya torehkan saja mungkin masih terasa di hatinya, lalu tiba- tiba saya datang dan bilang jika saya ingin menjadikan nya pasangan hidup saya, saya tidak berpikir sampai sejauh itu pak, saya lupa jika cinta yang dulu pernah ada mungkin saja telah hilang bersama luka yang kemarin datang, saya terlalu percaya diri, maafkan saya pak, bu"ucap Galang.
" saya yakin Dena masih mencintai pak Galang, hanya saja memang benar yang dia ucapkan, ini terlalu cepat untuk hatinya yaang memang tidak sedang baik- baik saja, pak Galang hanya perlu bersabar" ayah Dena coba menguatkan Galang yang terlihat mulai berputus asa itu.
" apa selama saya menghilang Dena ada dekat dengan pria lain, maaf Pak jika pertanyaan saya ini kurang sopan, saya hanya ingin memastikan" tanya Galang,
sebenarnya ia tidak ingin menanyakan hal bodoh seperti ini, tapi apalah daya dia butuh kepastian, dia tak ingin membuang- buang waktunya percuma, cinta boleh, bodoh jangan!! ya, di saat nanti dia setia menunggu sampai Dena membuka hatinya kembali, tapi ternyata hatinya telah dimiliki oleh pria lain, aduh sorry sorry to say nih Lang,keburu karatan kamu nya,, inget umur lang, umur, sebentar lagi kepalanya udah bukan kepala tiga lagi kan tapi empat, hmm semoga saja jawabannya adalah tidak, aamiin...
ayah Dena tak langsung menjawabnya, beliau melihat kepada sang istri yang tampak menganggukan kepalanya, hal yang tentu saja membuat Galang ketar- ketir kini.
" ada pak, seorang dokter muda namanya dokter Angga"
jedddduarrr,,,,rasanya bagaikan petir di siang hari, ekspresi wajah Galang jelas terbaca oleh kedua orang tua Dena, ia syok tentu saja iya, rasanya Galang sudah tak memerlukan penjelasan apapun lagi setelah jawaban atas tanya nya itu, dokter muda, pastilah sangat tampan dan bernama Angga? Galang tau siapa itu, ya Galang masih mengingat wajahnya yang membuat Galang cemburu dan akhirnya bertengkar kecil terhadap Dena, arrrggghhh kenapa kamu bodoh sekali lang, gadis secantik Dena, disaat banyak pria coba memberikan cinta dan sayang untuk nya, tapi kamu malah pergi, demi apa lang, demi apa?
demi gadis tak lagi perawan,, oh sungguh kasian!!
" tapi saya jamin mereka tak menjalin hubungan yang lebih dari sebagai seorang sahabat, saya tau pak, karena Dena itu putri kami satu- satunya" ayah Dena coba mencairkan suasana yang memegang karena jawaban darinya tadi.
" boleh saya minta sesuatu pak? pinta Galang kepada ayah Dena.
" katakanlah, jika tidak memberatkan tentu akan kami turuti " jawab ayah Dena.
" tolong jangan memanggil saya dengan sebutan pak, saya merasa seperti perjaka tua yang sedang melamar anak gadis bapak dan ibu saja" ucap Galang.
ayah dan ibu Dena terkekeh pelan, tapi tunggu, tunggu ternyata bukan hanya ayah dan ibunya Dena saja yang terkekeh geli mendengar permintaan Galang tadi, tapi lihatlah, dibalik pintu kamarnya ternyata Dena sedang sekuat tenaga menahan tawanya agar tak terbahak- bahak hahahaha, ia menutup mulutnya kuat- kuat, hmm, cinta kok gengsi Dena, Dena.
" tapi kami tidak mungkin hanya memanggil nama saja, nggak sopan pak" kini sang istrilah yang menanggapi permintaan Galang tadi.
__ADS_1
" boleh yang lainnya bu, asalkan bukan pak, sungguh" ucap Galang lagi.
" baiklah kami panggil nak Galang saja bagaimana? tidak terlalu tua kan nak Galang? tanya ayah Dena sedikit berseloroh.
" trimakasih pak, bu"ucap Galang.
akhirnya Galang pun meninggalkan kediaman Dena dengan senyuman di bibirnya.
" datang lah kemabli, setelah kalian benar- benar sudah saling memahami " ucapan ayah Dena bagaikan mood booster untuk Galang,
Galang mempercepat langkah kakinya, namun tiba- tiba saja ia merasa seperti ada sepasang mata yang tengah memperhatikan dirinya dan ia pun menoleh, eh, eh, eh,,, ternyata benar,, sepasang mata itu milik Dena yang dengan gerakan cepat menutup gorden jendela kamarnya.
" tunggu saya Dena, saya pastikan kamu tidak akan menolak pinangan saya" langkah Galang semakin cepat dengan senyuman tak lepas dari bibir tipis nya.
sementara itu kedua orang tua Dena masih tampak berbincang-bincang ketika Dena keluar dari kamarnya lalu menghampiri kedua orang tuanya.
" apa yang di ucapkan pak Galang tadi pak, bu"tanya Dena pelan.
" dia melamar mu nduk" jawab sang ibu tersenyum menatap Dena.
" sepenak udele dewe, main lamar melamar, yakin sekali itu dosen kalau bakal Dena Terima lamarannya , over confident!! dengkus Dena kesal, namun hal itu di tanggapi lain oleh kedua orang tua nya.
" kenapa bapak sama ibu kok senyum- senyum gitu sih, ada yang lucu kah?? tanya Dena merasa aneh dengan sikap ayah dan ibunya ini.
Dena masih bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, ia masih memasang wajah kesal mendengar guyonan sang ayah,,
" bapak apa sih, Dena nggak lagi berakting kok pak,ini sungguhan, percaya sama Dena" ucap Dena coba meyakinkan.
" iya deh bapak sama ibu percaya, bahwa besok kamu pasti akan menerima pinangan dari nak Galang itu, selamat ya nduk, akhirnya soldout juga putri tinggal kita bu" ucap sang ayah sebelum beranjak pergi dan menggandeng tangan istrinya, keduanya tertawa meninggalkan Dena yang semakin kesal kini.
saat sedang kesal seperti ini, Tiba-tiba sang ayah kembali datang menghampiri nya, Dena mengerutkan keningnya.
" nih, calon suaminya nelpon, masuk kamar sana lalu angkat telpon dari nak Galang"ucap sang ayah.
Dena menyambar ponsel dari tangan ayahnya, ia pun buru- buru masuk kekamar nya.
" sayang", Dena mencebik mendengar Galang memanggilnya dengan panggilan itu,
" nggak usah sok romantis, saya nggak akan tertipu dengan gombalan bapak!! ucap Dena ketus.
" kenapa masih galak aja sih sama calon suami sendiri " goda Galang di ujung telepon nya.
" idih, over confident!! dengkus Dena.
__ADS_1
" lho, saya bukan kepedean sayang, tapi memang saya yakin bahwa sayalah yang akan menjadi pendamping hidupmu, aamiinin dong, doa yang baik akan kembali kepada yang mendoakannya Dena, ayo,, " pinta Galang.
Dena diam saja, ya walaupun dalam hatinya ia meng aamiinkan ucapan Galang itu, heleh,, Den, den, kalian itu sama aja, bucin tingkat dewa, parah, parah...
" baiklah, diam mu saya anggap iya, trimakasih ya sayang, tunggu aku dan orang tuaku yang akan datang kerumah untuk meminangmu"belum sempat Galang menambahkan kata- kata manisnya, panggilan terputus,,
tut,,
tut,,
tut,,
Dena melempar ponsel ke atas ranjangnya,,
" nggilani, nggilani,,, " Dena meraih guling lalu menelusupkan wajahnya di sana.
sedangkan Galang yang ternyata belum melajukkan kendaraan itu, kembali mengingat kata- kata yang terlontar dari seorang pria yang di yakininya itu adalah sang dokter muda teman pria Dena yang menemuinya tadi sebelum Galang masuk kedalam mobilnya.
flashback on,,,
Galang berniat membuka pintu mobilnya saat sebuah deheman pelan terdengar di telinganya.
"maaf apakah anda yang bernama Galang, dosen dan juga kekasih Dena, saya Angga" Galang pun menyambut huluran tangan Angga itu dengan ramah.
" benar, saya Galang" jawab Galang.
" maaf jika kehadiran saya di dalam kehidupan Dena selama anda tidak di sampingnya, membuat Anda merasa tidak nyaman, tapi sungguh tak ada hal lebih di antara kami, saya hanya memposisikan diri sebagai sahabat nya saja, yang menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah dan tentu saja semua tentang anda" ucap Angga.
"saya tau Dena masih mencintai anda, se kecewa dan sesakit apa pun luka yang pernah ia rasakan tak mampu menghilangkan cinta dan rindunya terhadap anda, anda beruntung memiliki kesempatan kedua, maka gunakanlah kesempatan itu sebaik- baiknya!!
" hanya keledai yang jatuh dua kali kedalam lubang yang sama"selamat berjuang kembali, semoga berjaya,, saya tunggu hari H nya,,,
Angga menepuk pundak Galang pelan sebelum berlalu pergi.
" trimakasih " ucap Galang yang di balas dengan anggukan kepala oleh Angga...
hehehe, keledai lang, keledai,,, bukan kedelai,,,
trimakasih, semoga selalu suka
jazakumullah khoiron
see u,,,
__ADS_1