
Ardi melajukkan kendaraan nya dengan kecepatan diatas rata- rata hingga akhirnya mereka tiba di kantor nya lebih cepat.
" saya masuk ke ruang meeting dulu Di, tolong kamu pegang handphone saya, segera kabari jika ada berita dari Dena" ucap Galang lalu menyerahkan ponselnya kepada Ardi.
" baik mas" ucap Ardi yang kemudian duduk disofa.
Galang menggeser pintu ruangan meeting, disana sudah berkumpul para karyawan Galang yang akan ikut terlibat dalam pertemuannya dengan Ismail kali ini.
" pagi semuanya , bagaimana apakah kalian sudah siap dengan agenda kalian masing-masing " tanya Galang tegas dan penuh wibawa khas seorang pemimpin.
" kami sudah siap dengan agenda- agenda kami pak, semoga hasilnya sesuai harapan kita" jawab seluruh karyawan Galang.
" baiklah kita tinggal menunggu kedatangan tuan ismail, yang seperti nya sudah berada di area gedung ini" ucap Galang, dan benar saja tak berapa lama kemudian tampak pintu terbuka lalu mumculah sosok laki-laki tampan berkulit putih, postur tubuhnya hampir sama dengan Galang.
" assalamu'alaikum profesor Galang aditama wijaya, mohon maaf sudah menyebabkan anda menunggu, saya pikir anda menunda pertemuan kita hari ini, a bagaimana kondisi istri anda? " tanya Ismail seraya menjabat tangan Galang.
"semua baik- baik saja, tuan Ismail begitu pula dengan kondisi istri saya, dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, terimakasih untuk perhatian nya" ucap Galang lalu melepaskan jabatan tangan keduanya.
setelah mencapai kesepakatan akhirnya perusahaan Galang kembali bekerja sama dengan perusahan Ismail dalam bidang pemasaran.
saat ini Galang tengah mengajak Ismail untuk makan siang di kafe nya.
" rupanya prof Galang ini seorang Entrepreneur sejati ya, usaha nya bercabang-cabang " ucap Ismail memperhatikan kafe milik Galang ini.
" hanya coba mengembangkan nya saja tuan" ucap Galang.
" a, maaf tadi sebenarnya saya bermaksud menjenguk istri prof yang tengah dirawat dirumah sakit dan saya pikir prof ada di situ" ucap Ismail lalu menyeruput coffe late nya.
" o ya, wah saya merasa tersanjung sekali lho tuan, kenapa tidak menghubungi saya terlebih dahulu, lalu apakah tuan bertemu dengan istri saya? " tanya Galang.
" emm, sepertinya tidak, karena saya cukup kesulitan saat mencari ruang perawatan istri anda prof" ucap Ismail.
wah, padahal mereka sudah sempat berinteraksi tadi di rumah sakit kan, namun apalah daya mereka sama - sama tak mengenal satu sama lainnya kan?
" wah sayang sekali, sudah sampai dirumah sakit tapi tidak berjumpa dengan istri saya, tapi tak apalah, mungkin kalian akan berjumpa dalam keadaan yang lebih baik lagi dan pastinya bukan dirumah sakit, pesta pernikahan anda mungkin saja kan? " ucap Galang santai, karena saat ini mereka tidak sedang membahas masalah pekerjaan lagi.
" anda benar prof, sepertinya saya mulai tertarik pada wanita didaerah anda ini, ya seperti wanita yang baru saja saya temui kat hospital tadi, dia pribadi yang unik menurut saya, pemalu namun tegas dan bisa menyesuaikan sikapnya dengan siapa ia berinteraksi selain ia juga berparas rupawan tentunya" ucap Ismail yang mendapat gelakan tawa dari Galang.
andai Galang tau siapa wanita yang tengah dipuji-puji oleh rekan bisnisnya itu, mungkin ia akan rela kerja samanya ini hancur daripada rumah tangga nya yang hancur,, ah semoga saja tidak ada yang harus dihancurkan ya thor, ,,hehehe
" hahaha, saya turut bahagia mendengar kan cerita anda tuan, semoga ada jodoh untuk anda ya, apakah pertemuan pertama kalian sudah meninggalkan jejak, Bertukar akun media sosial misalnya, atau saling save nomor handphone? " tanya Galang .
Ismail menggelengkan kepalanya.
" belum ada terpikir kearah situ prof, ya mudah- mudahan akan ada pertemuan- pertemuan selanjutnya " ucap Ismail yang kini wajahnya sungguh sangat ceria sekali senyum manis tak pernah pergi dari wajahnya,, ia terus mengingat wajah cantik Dena yang dilihat nya hanya menundukkan kepalanya saja tanpa mau melihat dirinya,,
" baiklah kalau begitu kita berpisah di sini tuan, kapan anda akan kembali ke KL? " tanya Galang sebelum berpisah dengan rekan bisnis nya itu.
" sepertinya saya akan stay disini beberapa hari sebelum kembali ke KL prof"
" apakah anda berniat untuk meneruskan cerita anda tentang wanita yang anda ceritakan tadi tuan? " tanya Galang lagi.
" hmm, saya rasa tidak ada ruginya jika dicoba, siapa tau berjaya, dan saya akan mendapatkan dua hal baik sekaligus selama di sini, satu kerja sama dengan anda dan yang kedua, pulang membawa calon makmum,, ah semoga saja"ucap nya sumringah.
akhirnya mereka berpisah, Galang kembali ke rumah dan Ismail kembali ke apartement nya.
dengan diantarkan oleh Ardi Galang sudah tiba di rumahnya kini.
" lho kamu kok pulang lang, istrimu siapa yang nemenin dirumah sakit? " tanya sang mama heran.
" ada mbak mirna ma, Galang pulang ganti pakaian sebentar saja, setelah ini Galang akan langsung kerumah sakit" ucap Galang lalu naik ke lantai dua.
" udah ditelpon Dena nya, nanti dia nungguin kamu lho" ucap sang mama sebelum Galang membuka pintu kamarnya.
" nggak usah ma, Dena pasti tau lah" ucap Galang lalu masuk kedalam kamar nya, namun bukannya segera membersihkan badannya ia malah rebahan di kasurnya, dan tubuh nya yang lelah seharian ini akhirnya dengan mudah membawanya terlelap kedalam alam mimpi, sementara pintu ia kunci dan handphone masih ada ditangan Ardi.
" mas Galang nya mana ya mas Ardi kenapa kok belum datang kerumah sakit, apa meeting nya belum selesai? " tanya Dena pada sambungan telepon nya dengan Ardi yang sudah cemas menunggu sang suami yang tak kunjung datang.
"mas Galang ada dikamar nya mbak, tapi pintu nya dikunci dan saya kurang berani untuk membangunkannya, apa minta bantuan ibu saja ya mbak? " tanya Ardi bingung.
" a,, nggak perlu mas,biarlah mungkin mas Galang kelelahan, saya hanya mengkhawatirkan dirinya" ucap Dena sebelum mengakhiri panggilannya.
Dena kembali duduk di hospital bed nya, menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang nya, tangannya masih setia dengan handphone nya, namun untuk apa, sedangkan handphone Galang kini ada ditangan Ardi.
" kamu ngapain sih mas, tidur kok lama banget,, apa aku telepon lagi aja ya mas Ardi nya, ah tapi nggak sopan, tunggu aja lah mungkin sebentar lagi mas Galang kesini" ucapnya kemudian meletakkan kembali handphone nya tersebut di atas nakas.
__ADS_1
sudah satu jam berlalu namun sang suami tak kunjung datang, Dena pun sudah tak berniat menghubungi nya lagi, marah lah sudah Dena kini, bahkan makan siang yang datang pun sama sekali tak disentuh nya.
" mbak Dena, kenapa makanan nya nggak dimakan, mbak Dena harus minum obat nya kan? " ucap mirna yang memperhatikan sang nyonya muda yang tampak kesal tersebut.
" lagian mas Galang sama Ardi itu kemana sih, masa iya cuma mandi aja sampe berjam-jam, atau mereka ketiduran ya, tapi ibu kan ada dirumah ya, apa beliau tidak menegur mas Galang gitu, kasian mbak Dena pasti nungguin banget tuh" bathin Mirna yang kini mendekat kepada Dena.
" ini obatnya diminum mbak, tapi sebelumnya mbak Dena harus makan dulu, sedikit aja nggak apa- apa mbak sebagai penghantar obat nya saja " ucap Mirna yang akan menyendokkan nasi ke mulut Dena, namun ditolak oleh Dena.
" nggak usah mbak Mirna, saya nggak laper, saya bosen disini mbak, kita keluar aja yok, saya mau makan diluar aja, mbak Mirna temenin saya ya? " pinta Dena.
" duh gimana ya mbak, saya takut mas Galang marah kalau mengizinkan mbak makan makanan yang bukan dari rumah sakit, kalau keluar nya saja saya mau deh mbak nemenin nya, tapi kalau lebih dari itu, maaf saya nggak bisa mbak" ucap Mirna.
Dena diam sejenak, ia tampak sedang memikirkan cara agar ia bisa menikmati makanan yang sedikit pedas misalnya, karena sungguh makanan rumah sakit ini walaupun ia dirawat dalam ruangan VVIP sekalipun, namanya makanan orang sakit ya seperti itu lah.
" ya udah, mbak Mirna temenin saya keluar aja, nanti saya makan deh makanan nya, tapi sekarang keluar dulu ya" pinta Dena lagi dan kali ini Mirna pun menyetujuinya.
ia mendorong kursi roda Dena menuju ke area taman.
" mbak Mirna saya bisa minta tolong nggak" ucap Dena .
" mau apa mbak?
" tolong beliin buah pepaya yang masih mengkal dong sepertinya segar banget itu, ngences aku mbak " ucap Dena.
" dimana ya mbak ada buah pepaya yang masih muda, terus kalau saya pergi,mbak Dena sama siapa dong? " ucap Mirna merasa ragu untuk menuruti keinginan sang nyonya muda, yang diyakininya tengah ngidam itu.
" saya nggak apa- apa mbak, udah nggak usah galau kayak itu, buruan mbak " ucap Dena lalu memberikan beberapa lembar uang kepada asisten nya itu.
" tapi mbak Dena jangan kemana-mana ya, janji sama saya" pinta Mirna yang mendapat senyuman manis dari Dena.
setelah Mirna sudah tak terlihat lagi Dena segera menekan tombol pada kursi roda nya hingga kursi rodanya tersebut meluncur pada lorong rumah sakit.
" hmm, mana ya abang- abang siomay yang biasanya mangkal di pinggir jalan sini, kok nggak keliatan sih" ucap Dena yang tak kunjung menemukan makanan yang di inginkan nya.
saat sedang mencari- cari dimana kiranya para penjual makanan bintang lima itu kini mangkal, terdengar suara laki-laki menyapa nya.
" Hai, kita bertemu lagi disini " Dena segera menoleh dan alangkah terkejutnya ia mana kala pria yang telah menolong nya di rumah sakit pagi tadi, dan kini mereka bertemu lagi.
Dena tersenyum.
" sedang apa nona disini dan juga kenapa nona selalu sendirian? " tanya Ismail penuh perhatian, hal yang membuat Dena bertanya-tanya.
" saya sengaja keluar sendirian, asisten saya sedang mencari makanan untuk saya" ucap Dena tanpa melihat kewajah pria tersebut.
" makanan, makanan apa?
" makanan yang pedas, saya nggak suka masakan rumah sakit, ngak ada pedas- pedasnya" ucap Dena yang tanpa disadari ia telah banyak berbicara dengan pria disamping nya itu.
" mau makan apa?
" siomay yang pedas " ucap Dena lagi.
" makanan apa itu? " tanya Ismail bingung.
Dena memperhatikan sekilas wajah pria yang kini berdiri disamping nya itu.
" apa itu makanan yang nona cari? " tanya Ismail saat tanpa sengaja ia melihat sebuah gerobak bertuliskan nama makanan yang di sebutkan oleh Dena tadi.
" iya benar itu, mang, mang, stop mang" ucap Dena reflek ia akan berdiri, namun ia lupa jika kakinya kan terluka dibagian telapaknya,,
" aww,,, " rintihnya yang kembali terduduk.
" nona disini saja, biar saya yang memesankan makanan itu untuk nona"
Dena diam saja melihat pria asing tersebut tampak berlari mengejar abang siomay yang terus saja mendorong gerobak jualannya.
" kenapa tuan tidak berhenti, nona itu berteriak memanggil tuan" ucap Ismail saat kini ia sudah berhasil menghentikan si mamang siomay yang mengenakan topi koboi nya.
" ngapunten kang, kagak kedengeran tadi" ucap penjual siomay tersebut lalu ia nampak mulai menyiapkan pesanan Ismail sesuai permintaan Dena.
" pedas ya kang" ucap mamang siomay itu lagi.
" iya, nona itu ingin makan makanan yang pedas katanya" sontak saja simamang kini beralih melihat kepada Dena yang tengah duduk di kursi rodanya.
" eneng yang duduk di kursi roda itu ya kang? " tanya nya.
__ADS_1
Ismail hanya menganggukkan kepalanya saja, sungguh ia tak terlalu paham dengan ucapan si mamang itu, namun sedikit saja yang ia pahami.
" eneng nya lagi sakit ya kang, apa lagi isi, keliahatan masih pucet itu wajahnya" ucap si mamang seraya menyerahkan satu kotak sterefoam berisi siomay plus sambalnya.
" terimakasih tuan, ini uangnya" Ismail segera berlalu setelah menerima pesanan nya dan memberikan dua lembar uang ratusan ribu rupiah kepada si mamang penjual siomay tersebut.
" eh, kang uangnya kebanyakan ini" ucap nya.
Ismail menoleh, sebenarnya ia tak tau apa yang tengah diucapkan oleh pria bertopi lebar tersebut, namun melihat dari tangannya yang melambai- lambaikan uang yang ia berikan tadi ia pun jadi berpikir apakah uangnya kurang, hingga ia kembali merogoh saku celananya lalu mengeluarkan lagi satu lembar uang kertas berwarna merah.
" ck, si akang malah ditambahin, uangnya kebanyakan atuh akang, sok diambil kembaliannya nih" ucap si mamang seraya menyerahkan uang kembaliannya kepada Ismail.
" oh, no no, tidak perlu dikembalikan, ini buat anda saja, saya ikhlas" ucap Ismail meletakkan kembali uang itu di gerobak siomay si mamang yang kini tersenyum penuh haru.
" hatur nuhun atuh kang, semoga si eneng cepet sembuh, gangsar sampe lahiran ya,, "ucap si mamang dan Ismail tau apa yang diucapkan pada kalimat terakhir si mamang tadi, lahiran, melahirkan? aduh si mamang aya- aya wae,,
tapi ya sudahlah kita anggap saja itu adalah doa dan kita tak tau doa yang mana yang lebih cepat di ijabah oleh Allah kan, maka mari kita aamiinkan saja,, eits,, doa yang salah jangan di aamiinkan dong ya, jelas salah karena disini Dena tidak sedang dalam keadaan mengandung dan dia adalah istri dari seorang profesor Galang aditama wijaya.
" ini makanan yang nona inginkan semoga sesuai dengan keinginan nona"ucap Ismail seraya menyodorkan sterefoam berisi siomay tersebut kepada Dena.
" trimakasih " ucap Dena segera membuka kotak putih didepannya itu lalu mulai mengaduk nya agar pedasnya merata, Dena sangat menikmati makanannya itu hingga ia lupa ada orang lain didamping nya.
" maaf, saya lupa, apakah tuan tidak menginginkan nya? " ucap Dena menunjukkan siomay nya yang hanya tinggal separuh porsinya saja.
Ismail menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
" saya tidak tau dengan makanan itu, mendengarnya saja baru kali ini, tapi kelihatan nya nona sangat menikmati, apakah nona sudah terlalu lama tidak menyantap nya? " tanya Ismail.
" hemm, saya dilarang makan makanan pedas sebenarnya, tapi untuk hari ini saya rasa ada pengecualian " ucap Dena sambil terus mengunyah makanan nya.
" pengecualian, karena apa? " tanya ismail mulai menikmati obrolannya bersama Dena.
" karena mereka tidak melihatnya, hahahaha " ucap Dena lalu tertawa kecil.
" uhuk, uhuk"Ismail segera menyodorkan satu botol air mineral kepada Dena.
" tertawa saat kita sedang menikmati makanan kita itu kurang baik untuk kesehatan " ucap Ismail menutup kembali air mineral nya.
Dena tersenyum, namun sejurus kemudian ia segera meletakkan kotak putih yang masih menyisahkan separuh porsi siomay nya itu disamping Ismail, karena ia melihat Mirna kini tengah berjalan kearahnya tanpa membawa apapun ditangannya.
" maaf saya harus pergi, terimakasih atas kebaikan hati anda beberapa kali untuk hari ini kepada saya" ucap Dena lalu menekan tombol pada kursi rodanya.
" mbak Dena kenapa disini, bahaya lho mbak, dan itu apa dipipi mbak Dena kok seperti saus kacang, mbak abis makan siomay ya, pasti pedas, aduh mbak, kalau sampai mas Galang tau bisa abis saya mbak dan gimana kalau lambung nya kambuh lagi, aduh mbak Dena cari perkara deh " ucap Mirna lalu mendorong kursi roda Dena menuju ke ruang perawatan nya.
" sekarang minum obatnya mbak, sebelum mas Galang datang" ucap Mirna yang mulai menyiapkan beberapa bulir obat dan juga air mineral untuk Dena.
" mbak Mirna, tolong jangan katakan ini sama mas Galang ya, oke" pinta Dena memelas.
" untuk kali ini saya masih memberi keringanan mbak, karena ini juga akibat kecerobohan saya yang meninggalkan mbak Dena sendirian tadi, tapi tidak untuk selanjutnya " ucap Mirna lalu duduk disamping Dena.
Dena mengangguk, lalu ia bersiap untuk istirahat siang, sebenarnya ia sangat ingin pulang kerumah saja, karena ia merasa jika kondisi nya kini sudah jauh lebih baik, tapi apalah daya, my big boss tak kunjung datang, dan akhirnya ia pun terlelap.
Mirna yang melihat jika di pipi Dena masih menyisahkan sedikit saus kacang dan juga aroma pedasnya itu lalu membersihkan nya dengan tisu.
" pasti pedas banget nih siomay nya, bau sausnya bukan kacang lagi tapi udah dominan ke cabe, duh semoga lambung mu baik- baik saja ya mbak" bathin Mirna lalu menyelimuti sang nyonya muda hingga sebatas perutnya.
sementara itu dirumah Galang.
" ma, kenapa nggak bangunin Galang sih, Dena pasti udah ngoceh nggak karuan nih dirumah sakit nungguin Galang " ucap Galang saat menuruni tangga dan ia melihat sang mama tengah merapikan pajangan vas bunganya di lemari kaca.
" lho mama pikir kamu udah dirumah sakit lang, karena mama juga nggak lihat si Ardi, apa dia juga lagi ngorok sama kayak kamu? " ucap sang mama.
" Ardi? sial handphone ku ada pada Ardi" Galang segera berlari menuju kekamar sopir pribadinya itu.
" Di, Ardi, bangun Di, kita kerumah sakit sekarang " ucap Galang dari balik pintu kamar Ardi yang langsung terbuka, dan tampaklah sang sopir pribadi yang tengah mengucek satu matanya yang merah khas orang bangun tidur.
" kenapa mas? " tanya nya santai.
" mana handphone ku, kenapa kamu nggak bangunin aku sih, tapi malah ikut- ikutan tidur, Dena pasti marah banget ini, aduh Ardi kamu ceroboh sekali " ucap Galang dan lihatlah wajah Ardi yang seperti nya heran namun lebih kepada dongkol ya,,,
" yang ceroboh itu sebenarnya siapa, lalu yang dimarahi itu siapa? ",,, nasib, nasib,,
Terima kasih untuk yang selalu suka dan membaca cerita ini,,
jazakumullah khoiron,,
__ADS_1
see u,,,