
mereka nampak berbincang-bincang santai sambil menikmati makanan yang tersaji.
" jadi nak Galang ini seorang dosen sekaligus owner kafe ini to mas Wijaya?"tanya pak Broto dengan nada santai.
" iya mas Broto, saya memang membebaskan dia mau bekerja sebagai apa saja, tapi dia juga sudah saya persiapkan sebagai penerus perusahaan saya nanti nya"
" kalau nak anisa bekerja dimana mas?"tanya sang papa.
" Anisa ini seorang entrepreneur, lebih spesifik sih food entrepreneur. dia mengelola restoran sederhana berlabel halal tentunya mas"
" wah, hebat sekali nak anisa ini rupanya ya, masih muda tapi pencapaiannya luar biasa, tapi ngomong- ngomong anak- anak kita memiliki kesamaan ya mas, iya sama- sama bergerak di bidang makanan"sang papa melihat ke arah Galang lalu tersenyum.
Galang membalas senyuman sang papa tak kalah manisnya, rupanya saat Galang tersenyum tadi terlihat oleh Anisa yang langsung menundukkan wajah nya.
" besok apa nak anisa nya ada di rumah mas Broto? sepertinya di sini hanya kita para orang tua yang asyik berbincang-bincang, sementara tujuan kita kan mereka mas"
Galang dan Anisa sama- sama melihat pada ayah mereka masing-masing dengan wajah penuh tanya.
rupanya mereka ini memang tidak berdiskusi dulu pada anak-anak nya sebelum memutuskan untuk melakukan pertemuan dengan mereka yang menjadi tujuannya.
" lho wajahnya biasa aja dong lang, jangan kayak orang mau nodong gitu nanti anisa nya nggak berani ngobrol sama kamu"
" papa"ucap Galang pelan.
" biasa mbak, awalnya malu- malu, tapi nanti kalau sudah sering bertemu pasti jadi mau"kali ini sang papa berbicara kepada istri dari pak Broto, yang di jawab dengan senyuman.
"bukan malu- malu in ya lang"ucap sang ayah pelan.
Galang tau itu,walaupun ucapan sang papa tak sampai di indra pendengarannya, namun Galang dapat membaca ucapan papanya itu dan ia pun kembali menggelengkan kepalanya.
" trimakasih mas Wijaya atas jamuan makan malam nya, semoga kalau kita ketemu lagi status kita sudah ada kemajuan ya...
" calon besan" pak Broto nampak berbisik di telinga sang papa. Galang selalu memperhatikan setiap gerak- gerik ke dua lansia itu.
" bagaimana kesan pertama kamu saat bertemu dengan Anisa lang"tanya sang papa. saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah mereka.
" kalau Galang lihat dari cover nya sih lumayan ya pa, gadis baik- baik, berhijab pula"
" jadi tidak salah dong kalau papa menjodohkan anak papa satu- satunya ini dengan gadis sholehah seperti Anisa"sang papa menepuk pundak Galang pelan.
" ya kan ma?
" mama sih ikut apa kata Galang aja pa"
" lho kok Galang sih ma memang suami mama itu siapa? papa atau Galang"
__ADS_1
" ya yang di jodohin kan Galang pa, bukan papa! gimana sih"sang mama nampak kesal kini.
" lho kok jadi marah sih ma, nanti awet muda lho" goda sang papa yang malah di tanggapi dengan tatapan sinis dari istrinya itu.
" papa sama mama kalau mau berdebat nanti aja kalau udah sampai di rumah, kalau disini mengganggu konsentrasi Galang"
" tuh ma, anak nya lagi konsentrasi buat menata hatinya yang besok mau ngedate sama Anisa, iya kan lang?
" Anisa mana mau pa di ajak ngedate, tadi aja bareng sama papa dan mama nya, Galang nggak denger tuh kalau dia ada bicara sama kita, jangankan bicara, senyum nya aja di sembunyikan pa"
" lho iya ya lang, terus kamu mau samperin aja di rumahnya, kalau ngobrol di rumahnya mungkin dia nggak keberatan lang, kan kalian nggak cuma berdua kalau di sana, ada asisten- asisten rumah tangga juga"
" nanti Galang pikirin pa, sekarang Galang capek mau istirahat aja di kamar"
"lang, papa berharap banyak sama perjodohan ini semoga kalian dapat chemistrynya ya" ucap sang papa sebelum Galang masuk ke kamarnya.
" Galang ikut alur Nya aja pa, Kalau jodoh pasti bersatu tapi kalau nggak ya uda,berarti memang bukan jodoh Galang, sesempurna apa pun dia di mata papa tapi kalau takdirnya bukan sama Galang, maka kesempurnaan nya itu tak kan mampu menutupi kekurangan Galang pa"
Galang masuk ke kamar nya setelah sang papa berlalu.
setelah membersihkan wajah nya
Galang membuka jas dan kemejanya, lalu berniat mengganti nya dengan tshirt pemberian Dena.
ia nampak menilik baju yang bertuliskan nama Adreena di bagian punggungnya itu, lalu sebuah ide mengalir di otak nya.
sementara itu dikamar nya Dena nampak terbaring seraya tangan nya berselancar di media sosial milik nya, namun sebuah panggilan mengagetkan nya.
" pak Galang? mau apa nelpon malam- malam begini" tanya nya dalam hati. namun tak ayal ia pun menjawab panggilan tersebut.
" hallo pak" sapa Dena pada sambungan telepon nya.
" malam Den, kamu udah tidur kah? "tanya Galang di seberang sana.
" belum, cuma saya memang lagi rebahan aja di kamar pak, ada apa kok menghubungi saya malam- malam begini? "
" saya kangen sama kamu Dena, boleh nggak mode video aja? saya ingin melihat wajah kamu malam ini sebelum tidur boleh ya? " pinta Galang.
" kok gitu sih pak, kenapa kangen nya sama saya? sama someone nya dong! malam ini nggak ngedate ya? makanya jadi galau gitu"
" someone saya ya kamu Dena, jadi nggak salah dong kalau saya kangen nya sama kamu.
" emang saya pernah bilang kalau saya mau jadi someone nya pak Galang? "
" ya sekarang bilang dong kalau kamu mau, oke mau ya? "panggilan segera beralih ke mode video kini.
__ADS_1
" bapak genit ih" ucapan Dena mengawali panggilan video nya kini.
"Dena" ada jedah sebelum Galang melanjutkan ucapannya. Dena tersenyum lalu mengangguk.
" ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, ini sangat penting"
" apa, bicara aja pak saya siap mendengarkan nya"
Galang meraih t shirt pemberian Dena tempo hari lalu ia perlihatkan kepada Dena.
" besok saya pakai baju kamu boleh nggak? "
" boleh, itu kan sudah saya berikan untuk pak Galang jadi terserah bapak kapan pun ingin mengenakannya"
" saya di jodohkan Dena" Galang langsung kepada poin utamanya kini.
Dena nampak diam, namun ekpresi kecewa di wajahnya jelas terbaca oleh Galang.
" kamu nggak perlu khawatir akan perasaan saya ke kamu, sayang saya akan tetap utuh tak akan tergerus secuil pun terhadap kamu,
"saya pastikan bahwa saya tidak akan sejauh apa yang kamu pikirkan dalam perjodohan ini Dena"
Dena menggelengkan kepalanya kini.
" kamu adalah permintaan dalam doa di sujud lima waktu ku Dena, jadi jangan pernah ragukan saya saat kamu sudah menjadi prioritas dalam setiap doa saya, saya ini pria dewasa yang tak membutuhkan apa itu namanya pacaran, tapi untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidup saya nantinya butuh proses dan pendekatan Dena"
Dena hanya diam mendengar penuturan Galang.
" apa- apa an pak dosen nya ini, bilang nya sayang, kangen, tapi dijodohin sama orang tua nya kok manut enggeh- enggeh wae, nggak bisa nolak memang nya apa"
" terus saya harus apa pak, sedih, menangis, meratap, supaya bapak tidak menerima perjodohan ini, memangnya saya ini siapa nya pak Galang" Dena tampak sangat emosi saat mengucapkan kalimat itu.
"saya tidak menerima nya Dena, kan sudah saya katakan kamu itu adalah ikhtiar saya,sekarang katakan bahwa kamu percaya dan yakin sama saya, itu cukup untuk menjadi perisai saya dalam menjalani skenario yang sudah di tuliskan untuk saya ini"
Dena tak mengatakan apa pun, dia bahkan menutupi wajahnya dengan sepuluh jarinya.
cukup lama keduanya hanya diam dan Galang sudah berniat mengakhiri panggilan video nya.
" saya tutup ya, selamat malam dan selamat bobok" ucap nya, namun sebelum panggilan video itu berakhir Galang samar - samar mendengar Dena memanggil namanya.
" pak Galang"
" aku tresno karo kue "
"eh, eh, eh, mujarab sekali kata- kata yang Dena ucapkan barusan, karena Galang tak dapat memejamkan matanya kini.
__ADS_1
" hehehe, makan tak nyenyak tidur tak kenyang "