Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
merasa nyaman.


__ADS_3

Galang sudah sangat bersemangat sekali untuk mendengar kan suara Dena walaupun hanya berupa ocehan.


memang cinta dapat merubah makna ya, orang lagi kesal di artikannya sayang, ocehan di bilangnya pujian.. wuih ini sih jauh banget melenceng nya pak.


saat panggilan di putuskan secara sepihak oleh si wanita, maka yang ada dalam benak si pria adalah si wanita pasti marah ni di gombalin kayak tadi.. hmmm, salah banget tuh pak dosen, karena pada kenyataannya si wanita lagi senyum- senyum sendiri di kamarnya, tangan nya tak mau beranjak dari dada nya, ada hati yang debaran nya di atas normal tuh kayak nya.. kalau hanya panggilan sayang aja bisa buat kamu jadi seperti ini, kenapa ucapan cinta darinya malah tak kau tanggapi den,hmm..


tok, tok, tok, suara pintu kamar di ketuk dari luar.


" Dena, kamu lagi apa, ada tamu tuh di luar nyariin kamu. suara ibu terdengar dari pintu kamar Dena.


" iya bu sebentar, Dena beresin buku dulu. tanpa menanyakan siapakah gerangan yang bertamu Dena langsung melangkah keluar, berjalan dengan pandangan nggak tau kemana karena sibuk mengibaskan tangan yang masih basah juga rambut yang masih acak- acak kan,


harap maklum kawan Dena kan barusan naik kendaraan terbuka, hehehe, jadilah rambutnya ikut berkibar tadi terkena hembusan angin.


" Anita ya, ucap Dena asal tebak. namun tebakan nya tak tepat, karena yang ada tepat di hadapan nya saat ini adalah orang yang tadi membuat hatinya berdebar bar bar..


" eh, saya pikir Anita tadi, duduk pak, ucap Dena dan akan segera berlalu, namun tangannya terasa ada yang menyentuh.


" mau kemana? tanya Galang.


" ehm, lepasin pak malu ah dilihat ibu, saya mau ambil minuman hangat buat bapak di dapur.


" tetap disini, saya nggak butuh minuman hangat, saya mau nya kamu.


ih, bohong sekali pak dosen ini, sudah jelas- jelas wajah lelah nya membutuhkan cairan agar tak dehidrasi, eh dia bilang nggak butuh! cuma butuh kamu katanya Den.


tarik telinganya dan katakan.


" bapak nggak bakat jadi cowok pembual, nggak cocok sama wajah dan profesi nya, gombalan nya gak berkualitas,itu namanya penghinaan terhadap diri sendiri pak! hehehe, rupanya kalimat itu benar-benar benar terlontar dari bibir tipis Dena, tapi nggak sampai menarik telinga nya ya den.


" lho kok membual sih den, saya serius. ucap Galang yang kemudian duduk di samping Dena. Dena tak menanggapi nya,hanya tersenyum.


" senyuman mu penuh kepalsuan Dena!


Dena mengerutkan kening nya, kedua tangan ia angkat setinggi dada, se olah bertanya" mengapa bapak bilang begitu?

__ADS_1


" iya kalau senyuman tulus itu mengandung pujian, kebahagiaan, tapi dalam senyummu itu mengandung penghinaan terhadap saya atau lebih tepatnya pada kalimat yang baru saya ucapkan!


" hmm, bapak kelihatan lelah sekali ya, makanya marah- marah aja, kenapa pak, ada masalah di kampus tadi atau ada mahasiswi yang curi- curi pandang ke bapak gitu.


" kenapa langsung memutus panggilan saya tadi, Galang langsung pada inti nya aja guys, nggak suka berbasa basi.


" ya itu,bapak nggak cocok jadi pembual, nggak bakalan berhasil.


" kalimat saya yang mana Dena, yang mengandung pembualan menurut mu?


sekarang Dena bingung, galau dan malu teman, mau jujur kalau ucapan sayang dari galang tadi lah yang membuat nya terbuai bukan terbual ya Den, hmmm, masih malu- malu nih mahasiswi nya pak!


Dena tak menjawab, wajahnya memerah.


" kenapa diam saja, coba katakan bagian yang mana?tanya Galang lagi, senyum menggoda terukir di Bibir merah nya.


"baiklah, sepertinya kamu tidak perlu menjawabnya Dena, karena saya sudah tau apa jawabannya.


" sok tau! Dena memalingkan wajahnya.


" he eh, iya in aja biar nggak panjang sesi debat nya, tapi kenapa bapak kok ke rumah saya, kok nggak langsung pulang atau singgah di kafe bapak seperti biasa nya?


" ya karena saya mau ketemu sama kamu.


Dena menelan ludahnya, lalu membuka layar smartphone nya dan di perlihatkan kepada Galang sebuah tulisan yang di cetak tebal dan semuanya berhuruf besar


GENDENG!!!


Galang tertawa setelah membaca kalimat di layar handphone Dena, dia bukan orang Jawa tapi dia tau apa itu artinya GENDENG!


" biarpun Gendeng tapi kamu suka kan, hayo ngaku aja, daripada di sembunyiin terus lama- lama nanti kamu yang gendeng.


plakk!!


Dena memukul bahu galang dengan buku tulis yang ada di bawah meja.

__ADS_1


" lagi dong, saya suka pukulan- pukulan sayang kamu Dena, sampai ada tanda merah seperti hati ya.


"Edan tenan iki pak dosen e" ( nggak waras ini pak dosen nya)


" iya, kamu yang membuat saya menjadi tidak waras, jadi lah dokter untuk hati dan jiwa ku Dena.


Dena segera berlalu, ia mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin.


" bapak butuh ini, ucap Dena seraya menuang air kedalam gelas, lalu ia suguhkan untuk Galang.


Galang meraih minuman yang di suguhkan Dena.


" kamu tau Dena sejak pagi tadi saya ingin bertemu dengan mu, tapi kamu malah sibuk dengan mahasiswa yang terluka tadi, saat pulang saya ingin mengantarkanmu, tapi kamu sudah duduk manis di motor pak Sulis, saat saya sampai di rumah mu kamu malah bilang kalau saya ini, pembual, gendeng. apa tidak ada kata- kata yang lebih indah di dengar untuk saya Dena?


" oke, sekarang saya akan duduk diam mendengarkan cerita bapak. hayu mau dari mana ceritanya.


" dari sini turun ke sini,Galang menunjuk kedua indra penglihatan nya kemudian turun ke dada.


Dena geleng-geleng kepala mendengarnya, namun kemudian ia terdiam.


" saya nggak mau cinta bapak ke saya menjadikan rasa benci juga untuk saya, tentu saja benci dan marah itu datangnya dari Anita, sahabat saya yang dengan jelas nya mengakui bahwa dia sangat mengagumi pak Galang, lalu jika saya ternyata bersama dengan pak Galang seperti ini, saya takut membayangkan nya pak, takut sekali.


tanpa terasa bulir- bulir ktistal membasahi pipi Dena, Galang menyeka dengan tangannya.


Galang semakin yakin bahwa Dena memiliki rasa yang sama terhadapnya.


Galang menarik nafasnya lelah lalu ia keluarkan berlahan.


"aku mau menjadi diary mu Dena, tempat mu berkeluh kesah, bercerita, tertawa, mulailah terbuka terhadap orang lain, jangan kau simpan semuanya sendiri, kau tak akan mampu, kita ini mahkluk sosial yang tak bisa hidup sendiri.


Dena hanya diam, ia tak lagi menangis. seperti nya Galang berhasil meredam ke khawatiran nya. lama kedua nya berbincang-bincang, hingga suara adzan berkumandang.


" saya pulang ya, jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, jalani yang ada di depan mu saat ini. Galang mengacak- acak puncak kepala Dena pelan, lalu bergegas pergi.


" kenapa rasanya nyaman sekali pak, apa ini yang namanya cinta?Anita maafkan lah sahabat mu ini, ucap Dena seraya menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2