
Akhirnya mereka sudah sampai di rumah kini, dengan wajah tak berkawan Dena menawarkan singgahan untuk Galang.
" mas nggak mau singgah dulu? " tanya Dena saat Galang membalikkan tubuhnya setelah Dena membuka pintu rumahnya.
" emang boleh, kalau kamu masih marah, mas lebih baik pulang saja" ucap Galang.
Dena tak menjawab ia bergegas masuk kedalam rumahnya, Galang tersenyum kemudian duduk di teras samping rumah Dena.
Dena membersihkan wajahnya lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian santai saja, dress selutut berwarna dove ia pilih kemudian keluar untuk menemui Galang.
Galang tengah asyik dengan ponselnya.
" lihatin apa mas serius banget kayaknya" ucap Dena seraya meletakkan teh hangat untuk Galang, Galang segera meraih teh hangat nya.
" makasih ya, teh kamu numero uno" ucap Galang seraya meletakkan kembali minumannya.
" ih korban iklan ya" ucap Dena, lalu mendekat kan tubuhnya, ia ingin melihat apa yang tengah di perhatikan oleh calon suami nya itu.
"apa? kamu curiga, nih mas lagi cari referensi untuk undangan dan souvenir pernikahan kita nanti, kamu sukanya yang mana? " tanya Galang menunjukkan layar handphone nya kepada Dena.
. "undangannya yang sederhana aja mas, aku ngga mau jika terlalu mewah, mubadzir" jawab Dena.
" iya, terus untuk souvenir gimana? " tanya Galang lagi.
" kita cari yang bermanfaat aja, kalau sajadah aja gimana mas?tanya Dena.
" mas ikut aja, apapun pilihan nya mas yakin itu yang terbaik" jawab Galang seraya membuka halaman websitenya.
" undangan sudah, souvenir sudah, gaun pengantin sudah juga, apalagi yang belum sayang? " Galang kemballi bertanya.
Dena tampak mengetuk- ngetuk pelipis kepalanya,
" emm, apalagi ya mas? " tanya nya kembali.
"mas kawinnya sayang" jawab Galang tersenyum.
Dena pun ikut tersenyum menoleh kepada Galang .
"mas kawinnya apa? " tanya Galang lagi.
" terserah kamu aja mas" jawab Dena singkat.
" nggak bisa gitu, mas kawin itu adalah hak calon mempelai wanita sayang, mas nggak punya hak, tapi itu adalah kewajiban mas untuk memenuhinya, katakan apa mas kawin yang kamu inginkan" tanya Galang.
" emm, sesuai namanya aja deh mas, aku ingin mas kawinnya berupa logam mulia, yang kecil aja, aku nggak mau yang gede- gede, jariku sakit" ucap Dena malu- malu.
" iya, nanti kita cari ya,atau sekarang aja berangkat nya, besok kamu sudah sibuk dengan kuliah mu kan? " tanya Galang.
" tapi ini udah sore mas, nanti magrib di jalan dong" ucap Dena.
" nggak apa- apa Dena, semua peralatan sholat tersedia di toko papa, kamu nggak usah mengkhawatirkan itu, oke? " ucap Galang.
Dena menangguk- anggukan kepalanya, setelahnya ia pun masuk kekamar nya untuk membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian, setelah siap ia sekilas melihat pada tubuhnya pada pantulan cermin lemarinya,
mengenakan long dress tanpa lengan berwarna navy, tak lupa blazer panjang untuk menutupi tangannya pun ia kenakan.
" langsung ke toko atau pulang dulu kerumah mu mas? " tanya Dena dengan posisi berdiri di samping Galang.
" kok pulang dulu, nanti kita bisa kemalaman sayang, langsung aja ya" jawab Galang.
" memang kamu nggak mandi dulu apa mas, bau ih, uhh" ucap Dena seraya menutup hidung dengan satu tangannya.
" kambing yang seumur hidup nya nggak pernah mandi aja harganya mahal sayang, apalagi aku" jawab Galang penuh percaya diri.
" iya kamu kan induknya kambing alias bandot,, " ucap Dena kesal.
" iya deh, nanti mas mandi kalau udah sampai di toko, sekarang kita berangkat dulu aja, ayok" Galang mempersilahkan Dena untuk jalan terlebih dulu.
.
.
__ADS_1
.
.
keduanya kini telah tiba di toko perhiasan kepunyaan orang tua Galang.
" kamu pilih saja mana yang kamu suka, mas mau mandi dulu "ucap Galang ketika kini mereka sudah sampai.
Dena tersenyum, para karyawan toko itupun kini sudah tau bahwa Dena adalah calon istri tuan muda mereka otomatis Dena adalah calon nyonya muda mereka.
" silahkan mbak Dena, nanti jika sudah menemukan barang yang cocok silahkan panggil kami" ucap wanita berbaju hitam dengan rambut di gerai sebahu.
" iya trimakasih mbak, saya nunggu mas Galang saja" jawab Dena lalu duduk pada kursi yang tersedia.
tak lama kemudian Galang tampak keluar dari dalam ruangan di toko itu, mengenakan celana chargo hitam selutut dengan tshirt berwarna putih polos Galang menghampiri Dena dengan rambut nya yang masih terlihat basah.
" udah selesai milihnya, coba mana mas ingin lihat" ucap Galang.
Dena menggeleng kan kepalanya.
" kenapa geleng-geleng? " tanya Dena.
Dena tak menjawab ia hanya menunjukkan kelima jarinya lalu tersenyum.
setelah menemukan cincin untuk mas kawin nya nanti keduanya kini tampak berada pada counter pakaian khusus wanita .
" kamu disini aja mas, nggak usah ikut malu tau! ucap Dena coba menghalangi langkah kaki Galang.
" kenapa. malu sayang, mas kan calon suami. kamu hem? " jawab Galang.
" baru calon mas, belum sah menjadi suami ih" ucap Dena menampik tangan Galang.
" jadi nggak boleh nih ceritanya? " tanya Galang menggoda.
Dena berlalu tak menggubris celotehan Galang yang kini duduk dan sibuk dengan handphone di tangannya.
Dena melangkah sendiri mencari pakaian khusus wanita, dalam pikiran Dena, namanya aja kan Outlet khusus pakaian wanita jadi nggak mungkin kan ada kaum adam di sini, saat sedang sibuk memilih size yang sesuai untuk ukuran tubuhnya, Tiba-tiba saja ia di samping nya sudah berdiri seorang lelaki dengan menggendong batita yang sepertinya sedang menangis, Dena dapat memdengar isakannya.
" iya nanti bunda ke sini, tunggu sebentar lagi ya" jawab pria tersebut.
" itu bunda ayah, itu bunda cantik " rengek sang anak kembali dan tangannya menunjuk kepada Dena yang tengah asyik memilih.
" ini pria ngapain sih kok ada disini, emang istrinya kemana, ngajakin balita lagi" gerutu Dena merasa tak nyaman dengan kehadiran pria tersebut.
" itu bukan bunda sayang " ucap sang pria coba membujuk sang putri yang kini malah melorot dari gendongannya lalu berlari dan tiba-tiba saja memeluk Dena yang kini menjatuhkan semua pakaian dalam khusus kaum hawa nya,,, Dena membela lak kan kedua matanya melihat lembar- lembaran itu terpampang nyata di hadapan sang pria.
pria itu mengalihkan pandangannya dari benda- benda keramat milik Dena tersebut, ia memandang lurus kepada sang putri yang kini ada dalam gendongan Dena.
" ica, nggak boleh gitu sayang, sini nak, ayo kita ke kakak cashier yuk" ajak sang pria namun balita tersebut malah semakin nemplok dalam gendongan Dena, yang kini memandangi wajah balita dan juga ayahnya secara bergantian.
" Hai cantik, ini kakak bukan bunda,sekarang kembali ke ayah ya, kakak mau keluar boleh? " ucap Dena lemah lembut dan keibuan sekali,,
sang pria itu rupanya terpesona dengan sikap Dena yang lemah lembut dan sangat ke ibuan itu.
" maaf kan putri saya" ucapnya lirih, Dena menganggukan kepalanya, dan berusaha mengembalikan balita tersebut kepada sang ayah namun balita tersebut malah semakin erat memeluknya.
" mau gini aja bunda, boleh ya, bunda kan udah lama nggak main sama ica" rengek nya dengan air mata nya yang kembali berderai, Dena merasa ibah melihat nya ia pun menganggukan kepalanya seraya mengelus lembut surai hitam dengan gelombang di bagian ujung nya itu.
" tapi kakak nggak bisa lama- lama disini sayang, disana ada calon suami kakak yang sedang menunggu kakak, sekarang ikut ayah ya" pinta Dena, namun lagi- lagi balita cantik kan mungil itu menggeleng kan kepalanya, seraya menghapus air mata dengan ujung gaunnya.
Dena memandang kepada sang pria yang tak lain adalah ayah dari balita yang kini tengah menangis dalam gendongan nya.
kening Dena berkerut, dengan mata yang memicing, seolah bertanya" bagaimana ini? sang pria pun menegedikkan bahunya pertanda ia pun bingung, namun tak ayal ia pun maju untuk membujuk sang putri agar ikut denagn nya.
" ica, kakak cantik mau ke chasier,ica ikut ayah ya, kita ke chasier juga buat bayar pesanan bunda oke? " pinta pria itu yang dibawab dengan gelengan kepala oleh sang putri.
" nggak mau sama ayah, maunya sama bunda aja, ayok bunda kita bayar barang belanjaan bunda, kita sama- sama aja, ayok ayah" rengek nya yang kini malah menarik- narik tangan sang ayah.
sang pria bingung menatap kepada Dena.
" maaf sekali lagi, mungkin setelah kamu menuruti keinginannya ini, dia baru akan mau ikut saya, apa kamu bersedia, sekali ini saja, saya janji' ucap pria tampan itu penuh harap kepada Dena.
__ADS_1
Dena membuang nafasnya kasar,
"baiklah, untuk sekali ini saja" ucap Dena pelan, agar balita itu tak mendengarkan ucapannya.
" barang belanjaan mu bagaimana? " tanya sang pria melihat sekilas pada beberapa helai pakaian khusus yang tadi sudah dipilih oleh Dena,pria itu akan memungutinya, namun Dena buru- buru mencegahnya.
" eh, jangan, biar saya saja nanti,sekarang kita selesai kan dulu tentang putri anda ini" ucap Dena sebelum berlalu ke chasier.
" tapi saya tidak sedang berbelanja nona, saya hanya mengikuti keinginannya saja yang tiba-tiba teringat pada bundanya" ucapan sang pria sontak saja menghentikan langkah kaki Dena, duh ni orang nggak tau apa ya, kalau Dena sudah ketar- ketir kini, ia melihat jarum jam ditangan nya, sudah hampir 30 menit ia disini, lalu apa kabar dosen ku calon suamiku di sana ya? gimana kalau dia tiba-tiba datang dan melihat Dena sedang menggendong balita yang matanya masih basah karena tangisannya tadi? .
Dena memandang geram pada sang pria.
"kalian sengaja ya, mau mengerjai saya, tolong saya tidak punya banyak waktu untuk ini" ucap Dena dan kini berusaha mengembalikan balita itu kepada pria yang merupakan ayah dari balita tersebut.
" nggak mau bunda, ica nggak mau sama ayah maunya sama bunda aja, ica rindu sama bunda" rengeknya yang kini malah semakin erat memeluk Dena dan menciumi pipi mulus Dena.
" bunda semakin cantik sekarang, bunda harum sekali, emm" ucap balita itu seraya menciumi pipi Dena berulang-ulang.
hal yang ternyata membuat sang pria tampak menyeka airmata yang mengalir di ujung matanya, Dena melihat gurat kesedihan dimata pria yang jika di telisik usianya mungkin tak jauh berbeda dengan Galang, ah Dena jadi teringat pada calon imamnya itu sekarang, pasti dia sudah mondar-mandir nggak karuan sekarang, ingin menyusul tapi tadikan sudah di wanti- wanti sama Dena,
" maaf, bunda nya sudah pergi meninggalkan dia untuk selamanya, mungkin melihatmu dia seperti sedang melihat bunda nya, sekali lagi maaf " ucap sang pria dengan suara bergetar dan tertunduk.
Dena terdiam, lalu kembali memandangi wajah polos balita cantik yang kini tengah erat memeluknya, bagaimana ini, sisi kewanitaan nya hadir kala mendengar ucapan pria di depannya itu,dia akan berkata namun suara berat ciri khas Galang tiba-tiba saja seperti menggema di gendang telinganya.
" sayang, anak siapa yang ada dalam buaian mu itu? " pertanyaan Galang sontak membuat Dena dan juga sang pria menoleh ke arahnya.
" mas, ini"belum selesai ucapan Dena namun sang pria menyela nya.
" ini anak saya tuan" ucap sang pria,,
Galang melangkah mendekati ketiganya, hmm harmonis sekali ya, keluarga bahagia dengan satu zuriat yang berparas canti jelita ini.
" anda siapa, dan kenapa putri anda ini ada dalam buaian calon istri saya? " tanya Galang yang kini menggamit satu tangan Dena.
" dia bunda ku om jangan rebut bunda dari ica ya, ica mohon" pinta balita itu terhadap Galang.
Galang mengerutkan keningnya,, apa kata balita ini, bunda, om? oh ayolah Galang wajahmu itu terlalu membingungkan sekarang.
" ini maksudnya apa sayang, mas bingung, kamu punya anak dengan pria ini, kapan?" tanya Galang heran.
" nggak mas, dia bukan anak ku" jawab Dena.
" tapi dia memanggilmu dengan sebutan bunda sayang, dan pria ini pasti ayahnya kan? " tanya Galang yang kini memindahi pandangannya kepada sang pria dengan setelan casual seperti dirinya.
" anda benar tuan, sang pria menjedah ucapnnya, ucapan yang bagaikan boom atom Hiroshima bagi Galang,,
" benar katanya, ia membenarkan analisanya"
Galang segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan pasangan yang tengah berbahagia di depan nya itu.
" mas Galang tunggu, kamu salah paham mas" ucap Dena lalu menyerah kan balita itu kepada ayahnya, namun balita itu masih saja enggan melepaskan pelukannya terhadap Dena, Dena memandangi nya lembut, lalu membelai wajah mungilnya.
" sayang, kakak pergi dulu ya, kakak yang datang tadi marah sama kakak, ica ikut ayah sekarang ya, oke? pinta Dena, dan balita itupun menganggukan kepalanya dan berpindah kepada sang ayah, Dena segera berlari menyusul Galang yang sudah tak terlihat lagi.
" nona, trimakasih " ucap sang pria yang masih dapat di dengar oleh Dena, Dena menoleh lalu tersenyum.
Dena berhenti, ia melihat di semua sisi pusat perbelanjaan ini, tapi tak jua ia temui.
" kamu dimana mas, jangan marah dong, kamu salah paham" lirih Dena yang kini meluruh dan terduduk lemas di kursi yang tadi di duduki Galang.
Dena menundukkan kepalanya, ia tau Galang pasti sudah berpikiran yang tidak- tidak tentang dirinya, saat dalam kegundahan itu tiba-tiba saja Dena merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya, ia pun menoleh.
siapa ya,, mas Galang kah, atau pria tadi,,?
trimakasih, semoga selalu suka
happy weekend,,
see u,,,
__ADS_1