
Susah payah Galang menelan saliva nya,,ia belum berniat memulai pembicaraan nya terhadap Adreena.
"kenapa diem aja, aku nungguin lho dari tadi, apa aku aja yang memulainya? " tanya Dena masih ketus.
" mas bingung darimana harus memulainya" ucap Galang.
" oke, sekarang aku tanya, kenapa handphone sengaja di tinggal? " tanya Dena.
" itu bukan pertanyaan sayang tapi tuduhan" walaupun tidak rela dengan tuduhan yang dilontarkan Dena, namun ia tetap harus calm down,, santai, slow respon,, nggak usah ngegas, inget di sini kamu sebagai apa dan Dena sebagai apa.
" itu kenyataan nya, aku hanya mengingatkan saja, dan karena aku butuh penjelasan ya silahkan di jawab, monggo" ucap Dena yang masih belum bisa meredam kekesalannya terhadap Galang.
" mas nggak sengaja meninggalkan handphone itu Dena, tapi handphone nya benar- benar tertinggal" Galang mulai menjelaskan.
" lalu kenapa bisa wanita itu ada dalam pelukanmu, sejak kapan kalian berhubungan dibelakang ku? " ucap Dena tanpa melihat Galang.
" mas nggak pernah sekalipun main serong di belakang mu sayang, sungguh, itu semua terjadi secara tiba-tiba, mas pun nggak menyangka akibatnya akan fatal seperti ini seandainya mas tau kamu akan salah faham begini lebih baik mas biarkan saja si olive itu pingsan, toh nanti dia akan sadar dengan sendirinya,
Dena memandang tak percaya terhadap Galang,
" sadis sekali ucapannya,tapi sayang ucapan sama perbuatan nggak sinkron " Dena masih belum bisa percaya begitu saja atas penjelasan Galang barusan.
" kandungan nya sudah menginjak berapa bulan, romantis sekali ya, periksa kandungan sama selir nya, sementara aku nangis bathin memikirkan kamu" Dena mulai meluahkan isi hatinya.
Galang menggeleng kan kepalanya, salahnya kenapa ia tak memperhatikan papan nama yang tertera di tempat itu tadi, klinik bersalin? rasanya wajar saja jika Dena bisa memiliki pikiran seperti itu, namun Galang coba menjelaskan nya sedikit demi sedikit, ya api takkan padam jika langsung di siram dengan air yang deras, namun secara perlahan dengan debit yang besar,, mari kita buktikan analisa pak presdir kita ini.
" prasangkamu kejauhan sayang, siapa yang hamil, nggak ada" ucap Galang lagi.
" lalu kenapa kalian pergi ke dokter kandungan?, oh aku tau kalian mau konsultasi tentang program kehamilan yang paling bagus iya, atau konsultasi alat kontrasepsi yang paling cocok mungkin, atau kemungkinan terburuk nya kalian ingin menggugurkan janin yang bersemayam di rahimnya, iya! ucap Dena penuh penekanan.
Galang menyentuh dagu Dena agar melihat nya kini.
" jangan palingkan wajahmu saat bicara dengan ku, aku nggak suka" sepertinya Galang mulai tersulut emosinya, sungguh tuduhan Dena telah mencoreng nama baiknya.
" kamu nggak suka, lalu aku apa, nggak terima, nggak rela, nggak terpikir sejauh itu pengkhianatan mu terhadap ku iya? ,katakan dimana salah nya, atau aku yang terlalu , katakan!! ucap Dena dengan suara beratnya.
" mas mohon dengarkan dulu penjelasan mas, sungguh prasangkamu sudah sangat jauh Dena, semua tidak seperti yang kamu pikir kan,
mas panik saat melihat Olivia tak sadarkan diri, wajahnya pucat, denyut nadinya pun melemah, sedangkan diruangan itu hanya ada mas, rasanya sangat manusiawi jika aku membawa nya, maaf jika aku harus menggendong nya, jika ada pilihan lain pasti aku akan sangat bahagia sekali, namun sayangnya tidak ada, hingga tiba di lobby, aku berharap Ardi ada disana, namun sial, karena rupanya Ardi tak ada di tempatnya.
Dena tampak mulai bisa menerima penjelasan Galang, terlihat dari matanya yang kini mulai memandang kepada Galang.
" maaf, jika kamu menganggap tangan ini menjijikkan karena sudah menyentuh wanita selain dirimu, itu darurat sayang, tapi mas menjamin bahwa tangan ini tak pernah sekalipun menjamah nya, mas tidak sebejad yang kamu tuduhkan " Galang berusaha meyakinkan Dena.
walaupun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir nya, namun Galang sudah merasa lega setidaknya Dena masih bersedia mendengarkannya.
" dan untuk klinik bersalin, kamu boleh percaya atupun sebaliknya, tapi mas pantang berkata dusta, sungguh mas tidak memperhatikan jika tempat itu adalah tempat pasangan suami istri yang akan berkonsultasi tentang kehidupan pasca menikah, program kehamilan mungkin, atau memeriksakan kandungan istrinya, tapi mas pastikan jika itu bukan lah tempat ilegal seperti yang kamu katakan tadi, aborsi? mas tidak menemukan tanda- tanda yang menjurus ke arah itu, dalam benak ku hanya ingin agar Olivia
segera ditangani secepatnya, dan ternyata memang benar,tak lama setelah ditangani oleh tim medis yang ada disitu, Olivia langsung sadarkan diri, mas lega walaupun harus berdrama menjadi suami khayalan nya Olivia, tapi ternyata berbuah petaka" Galang menundukkan kepalanya.
" kenapa tidak mengatakan yang sejujurnya jika kalian adalah rekan kerja bukan pasangan suami istri? " tanya Dena
__ADS_1
" situasinya sangat sulit saat itu sayaang,,, mas mohon mengertilah" pinta Galang untuk yang kesekian kali nya terhadap Dena.
Dena tetap tak bergeming, entah mengapa begitu payahnya untuk memahami penjelasan yang dijabarkan oleh Galang, mungkin rasa cinta yang begitu besar yang menjadikan nya begini, ia tau Galang tak pernah berkata dusta terhadap nya, tapi entah mengapa ada kekhawatiran yang tersisa direlung hatinya, apa ia egois jika menyalahkan Galang dalam hal ini? entahlah, terkadang cinta memang membingungkan.
" Dena, apa kamu masih belum percaya dengan ucapanku? " Galang kembali bertanya.
" aku percaya kamu nggak akan pernah berkata dusta terhadap ku mas, tapi entah kenapa rasa takut dan kekhawatiran itu tak bisa aku lenyap kan begitu saja, bayang- bayang buruk sekretaris mu itu seakan selalu mengintaimu,aku tau dia sangat menginginkan dirimu mas, aku tau itu " ucap Dena dengan mata yang mulai berair.
Galang menyeka air mata Dena dengan ujung jarinya.
" rasa takut dan kekhawatiran mu itu adalah ekspresi rasa sayang mu terhadap ku Dena,dan yang kamu khawatir kan itu adalah aku, kamu takut aku tergoda dengan Olivia? itu nggak akan mungkin terjadi sayang, aku tidak segila itu, susah payah perjuangan ku untuk ada pada tahap sekarang ini bersamamu, lalu semua harus sia- sia hanya karena wanita, ayolah Dena, kamu mengenalku bukan lagi hitungan jam atau hari, kamu pasti tau pria seperti apa calon suamimu ini, hem? " Galang kembali mengeratkan genggaman tangannya, Dena menatap wajah Galang, bulir bening kembali mengalir di ujung matanya.
" apa kamu mau menuruti satu saja permintaan ku mas? " tanya Dena.
" apa, katakan"ucap Galang.
" jangan lagi memperkerjakan Olivia di kantor mu, bisa? " tanya Dena.
" nggak bisa semudah itu sayang, semua ada prosedur nya, perusahaan itu papa ku yang merintis nya, maaf mas belum memiliki wewenang seutuhnya untuk hal itu, mungkin untuk hal yang lainnya mas bisa mengambil keputusan" jawab Galang coba mengerti kan ke risauan hati Dena.
" tapi aku takut dia akan lebih gencar lagi mendekati mu mas, kenapa aku seakan membaca gelagat buruk dari sekretaris mu itu" lirih Dena.
" percaya sama mas ya, semua pasti akan baik- baik saja, hanya tinggal hitungan hari kita akan segera menikah Dena, oke, mas anggap hari ini selesai" Galang mengusap puncak kepala Dena pelan, Dena merebahkan kepalanya pada bahu Galang.
" maafkan aku yang kekanak- kanakan ini mas, jujur aku cemburu, aku kecewa, bahkan rasanya ingin ku akhiri saja pertunangan kita ini, rasanya aku sudah ingin menyerah saja, menjalani hubungan dengan mu memang bukanlah hal yang mudah rupanya mas, tak seindah kelihatannya, mungkin bagi kebanyakan orang, akulah wanita paling beruntung karena bisa memiliki calon pendamping yang sempurna seperti mu mas, tapi mereka tak pernah tau kelelahan- kelelahan hatiku selama ini, pernah ditinggal tanpa kepastian, hingga bagaikan ilalang ditengah padang, tak punya tujuan, ikut saja kemana angin membawa ku pergi, tapi aku bersyukur akar ilalang ku kuat, hingga aku hanya hampir patah tak sampai terkulai lemah" Dena membenahi posisinya, ia pandangi wajah Galang yang juga tengah memandangi wajahnya, lalu tangan Galang terhulur menyentuh kedua pipinya.
" ceritakan semua sedihmu jika itu dapat meringankan beban pikiran mu, kecewamu, sakit hatimu, bencimu, semua yang pernah ada karena ulahku, katakan " ucap Galang.
" nggak perlu mas, aku yakin kamu sudah mengetahui itu, aku hanya ingin kamu berjanji, bahwa hanya aku yang akan mendampingi hidupmu, jangan ada lagi anisa, ataupun Olivia, Olivia yang lainnya, aku lelah mas, lelah" Dena merebahkan kepala nya pada sandaran kursinya, Galang menarik nya agar Dena bersandar di bahunya.
" sekarang kemana, mau pulang, mantai atau ke tokonya papa dulu " tanya Galang seraya mengecupi puncak kepala Dena berulang- ulang, ia bahagia karena akhirnya masalah ini kelar juga, Dena memang dewasa dengan karakter dirinya, ia marah pada tempatnya, ia bisa berubah manja dan mandiri pada orang yang tepat, dan Galang adalah orang yang tepat baginya untuk mencurahkan semua sikapnya.
Galang pun melajukkan lexus hitamnya menuju pusat perbelanjaan dimana toko perhiasan sang papa berada.
" saya mau cincin kawin yang simpel aja cell, apa masih ada? " tanya Galang kepada karyawan nya.
" ada mas, tapi ini terlalu biasa" jawab Cellin seraya menunjukkan sebuah cincin kawin tak bermotif kepada Galang.
" aku menggunakannya bukan untuk bergaya cek, tapi sebagai tanda bahwa aku ini sudah ada yang memilikinya " ucap Galang lalu tersenyum kepada Dena di samping nya yang tertunduk malu mendengar ucapan Galang barusan.
" duh, mas Galang ini romantis banget sih, Cellin jadi iri nih, kapan ya cellin punya calon suami seperti mas Galang" Dena membela lak kan matanya, baru tadikan dia berkata bahwa ia tak ingin ada anisa atau Olivia, Olivia yang lainnya lagi, tapi ini apa? dengan lantangnya karyawan Galang ini memuji calon suaminya dan memimpikan bisa mendapatkan lelaki seperti Galang ini, Ya Allah, apa sebegitu memikat nya kah Galang ini dimata para kaum hawa? baik Galang maupun Dena sama- sama menggeleng kan kepalanya.
" semoga kamu mendapatkan nya ya cell, tapi maaf kalau yang ini udah soldout" ucap Galang lalu menunjukkan jari manis Dena yang kini sudah tersemat cincin mungil nan mewah pemberian nya.
" iya deh, cellin mana berani mas kayak gitu, iman cellin masih kuat ya, biar jelek- jelek begini kalau untuk mendapatkan yang nggak ada beban masih bisa kali mas, nggak harus jadi pelakor juga, ih na'uzubillahiminzalik, amit- amit jabang bayik,, Hi, " ucap Cellin yang ditanggapi dengan senyuman oleh Galang juga Dena.
setelah selesai memilih cincin, mereka pun pergi meninggalkan toko perhiasan milik orang tua Galang itu.
" sekarang mas yakin, setelah melihat ini, nggak akan ada yang berani mendekati mas lagi" ucap Galang seraya menunjukkan jari manisnya yang sudah Berhiaskan cincin mungil polos.
Galang melajukkan kendaraan nya menuju pinggiran kota, setelah sampai ia pun menepikan kendaraan nya, lalu keduanya turun.
__ADS_1
berjalan bergandengan menyusuri tepian pantai, senyum bahagia selalu terkembang dari bibir keduanya.
" lusa kita akan menghadiri pernikahan dokter kamu itukan sayang? " tanya Galang ketika saat ini mereka tengah duduk bersantai beralaskan pasir putih dan angin yang semilir.
" dokter Angga mas namanya" ucap Dena membenarkan ucapan Galang.
" iya dokter mu, kan kamu yang kenal sama dia, tapi kok undangan nya di antar ke rumah mas ya, kenapa nggak kerumahmu saja? " tanya Galang heran.
" ya karena dia tau mas Galang adalah calon suami aku, gitu aja nanya" jawab Dena sewot.
Galang memindahi wajah Dena, lalu tersenyum.
" sekarang udah pinter marah ya ,nggak jaim lagi kayak dulu" ucap Galang mencubit hidung mancung Dena.
" apaan sih mas, sakit tau" Dena mengusap- usap hidungnya hingga memerah.
" aku sayang kamu" bisik Galang, Dena pun menoleh.
" sayang mas juga, lebih banyak " hahahah keduanya tertawa lepas sore itu,
ya,, setelah drama panjang yang mereka lewati hari ini, keduanya kini dapat bernafas lega karena semuanya sudah jelas sekarang, tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.
hari semakin sore, sebelum matahari benar- benar terbenam, keduanya sudah pergi meninggalkan tempat itu, dan disini lah mereka kini berada, menghabiskan waktu yang tersisa sebelum akhirnya pulang ke rumah.
" mas aku capek, boleh aku rebahan di single bed mu itu? " tanya Dena menunjuk pada tempat tidur yang ada di ruangan Galang itu, ya kini mereka sudah ada di kafe milik Galang dan tengah menunggu makanan yang tengah di siapkan oleh Angga di bawah sana.
"kenapa harus minta izin dulu, semua yang ada disini adalah milikmu sayang, pakailah sesukamu, kecuali aku, belum halal bagimu" ucap Galang menggoda Dena, Dena segera saja meraih satu file map yang ada di atas meja kerja Galang lalu menimpuk Galang dengan benda itu.
plakk!!
" dasar mesum!! siapa juga yang nanyain hal itu!! kesal Dena yang berniat mendaratkan kembali benda itu di bahu Galang, namun baru saja tangannya terayun sebuah ketukan mengagetkan nya.
" tuk, tuk, tuk,
permisi mbak, mas,... "
Angga masuk dengan nampan yang berisi makanan yang dipesan oleh Galang tadi.
" terimakasi mas Angga " ucap Dena seraya meletakkan kembali file map di atas meja kerja Galang.
" silahkan dilanjut mas mbak, maaf jika kehadiran saya mengganggu" ucap Angga sebelum keluar dari ruangan itu.
"apanya yang dilanjut, kamu kira kita ini lagi ngapain ha!! tanya Galang kepada Angga.
Angga menghentikan langkah nya lalu menoleh.
" lagi gelud mas, makanya saya bilang monggo di lanjut" jawab Angga sebelum benar-benar keluar dari ruangan bos mudanya itu.
trimakasih, selamat hari jumat..
semoga selalu suka.
__ADS_1
jazakumullah khoiron