
menjelang sore hari Dena dan juga Galang pamit pulang.
" Kami pulang dulu pak, bu, insya Allah lain waktu kami akan bermalam disini" ucap Galang seraya mencium punggung tangan kedua mertuanya.
" iya nak,lain kali kalau kesini jangan seperti tamu singgah sebentar lalu pulang" ucap sang ibu yang sebenarnya masih sangat merindukan putri kesayangan nya itu, tapi kewajiban nya saat ini adalah berada disamping suaminya.
" iya bu, akhir pekan insya Allah kami akan kesini lagi, masak soup jamur tiram lagi ya bu, Dena suka" ucap Dena yang membuat ayah dan ibunya tersenyum.
Galang kemudian menggandeng tangan sang istri melewati lorong pemukiman di sekitar kediaman Dena.
" sepertinya hujan akan segera turun, ayok" Galang mempercepat langkah kakinya dengan satu tangannya yang menggandeng Dena.
" mas, kamu lihat nggak tadi kalau si kevin itu merhatiin tangan kita" tanya Dena ditengah perjalanan pulang mereka.
" hemm, iya mas lihat, kenapa? kamu takut dia mengetahui tentang pernikahan kita? " ucap Galang menimpali.
" bukan hanya itu, tapi lusa kan aku udah masuk kuliah lagi mas, terus inai nya belum sepenuhnya hilang kan, gimana dong" ucap Dena bingung.
Galang tak menjawab, tapi ia malah menepikan kendaraan nya tepat di parkiran sebuah salon kecantikan muslimah.
" mas mau ngapain kesini, resepsi kan masih lama, kalau mau perawatan nanti aja kurang beberapa hari gitu, kalau sekarang kelamaan mas" ucap Dena kesal, pak suami nya itu tak menjawab kebingungan nya perihal inai tadi, tapi malah membawanya ke salon, buat apa coba?
"mas, jawab dulu pertanyaan ku" ucap Dena saat kini Galang malah membawanya masuk kedalam salon muslimah tersebut.
" assalamu'alaikum kakak, ada yang bisa kami bantu? " ucap seorang pegawai salon yang mengenakan hijab berwarna moca.
" wa alaikumussalam, sayang kamu sini deh" ucap Galang kembali meraih tangan istrinya itu agar mendekat kepada pegawai salon tadi.
" apa mas" tanya Dena masih bingung.
" tolong bersihkan kuku istri saya dari hena nya, lakukan dengan hati-hati, jangan sampai kukunya tergores" pinta Galang pelan.
" kenapa di buang kakak, hena halal kok dia tidak menghalangi air wudhu untuk sampai kepada tubuh kita, dan sepertinya ini masih baru beberapa hari kakak memakainya, sayang sekali" ucap pegawai salon tersebut.
" nggak apa- apa kak, kami hanya ingin membersihkannya saja" ucap Dena mendahului sang suami yang terlihat akan menjawab argumen pegawai salon tersebut, namun Dena segera mencekal tangannya, terlihat sekali jika suaminya itu tidak suka dengan ucapan wanita di depan nya itu.
" mas nya silahkan menunggu di sini, kami akan membawa calon istrinya kedalam ruang perawatan " ucap wanita tersebut, hal yang membuat Dena tersenyum kini, lihatlah wajah pak suami yang merah padam.
" kan saya sudah bilang jika dia ini istri saya, bukan calon istri "ucap Galang yang kini berdiri disamping Dena.
" maaf mas, a, kalau begitu silahkan jika ingin mendampingi istrinya didalam, mari " ucap wanita tersebut ramah, ia tak ingin Galang mengadukan pelayanan nya ini pada si empunya salon, padahal kan Galang tidak sekejih itu ukhty,,
Galang pun memutuskan untuk menunggu di luar saja.
tak lama kemudian Dena sudah keluar dengan menunjukkan tangannya yang sudah bersih tak ada sedikit pun inai yang tersisa.
" udah? " tanya Galang seraya memandangi tangan Dena.
Dena mengangguk.
setelah melakukan transaksi pembayaran, keduanya pun meninggalkan tempat tersebut.
" mas, punya mu nggak dibersihkan juga? " tanya Dena memegang tangan Galang.
" nggak perlu, lagian orang di kantor semuanya sudah tau jika mas sudah menikah dengan mu, nggak ada yang perlu ditutupi "jawab Galang.
" kalau besok kamu meeting sama klien mu yang dari negeri jiran itu lalu dia bertanya tentang ini lalu kamu mau jawab apa, aku yakin dia pasti bertanya- tanya, secara kamu kan laki-laki mas"
" ya aku jawab dong, kalau ini adalah simbol bagi seorang pria yang telah melangsungkan akad nikahnya selain cincin kawin ini tentunya" ucap Galang menunjukkan cincin kawin dijari manisnya.
"kamu mau ikut, biar sekalian mas kenalkan sama dia" tanya Galang.
" jangan dulu deh mas, besok aku harus prepare buat kuliah "tolak Dena.
Galang pun tersenyum lalu mengecup punggung tangan Dena mesra.
menjelang petang mereka sudah tiba dikediaman orang tua Galang.
mereka segera menuju kekamar.
" sayang ayok turun, mama sama papa udah nungguin kita buat makan malam" ucap Galang setelah mereka baru saja selesai melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah sebelum nya tadi.
" pergi kerumah mertua kok nggak ngasih tau mama kalian ini, mana nggak bawa oleh-oleh lagi, tangan kosong aja kamu kerumah mertua kamu lang? " ucap sang mama saat Galang dan juga Dena sudah duduk di kursi nya.
__ADS_1
" mendadak ma, Dena udah kangen banget sama ibu nya, kita juga nggak lama kok disana tadi" ucap Galang.
" kamu kok cepat banget pulangnya lang,gimana meeting nya lancar, kalian sudah memutuskan untuk kembali bekerja sama? " tanya sang papa.
" besok pa,bukan hari ini, tuan ismail menunda meeting bersama Galang, karena dia tengah menemani ibundanya yang tengah dirawat dirumah sakit"
" o gitu, dia memang sangat menomorsatukan orang tua dan keluarga nya lang dan papa ingin kamu juga menerapkan prinsip itu dalam kepemimpinan mu di perusahaan kita" ucap sang papa memberi petuah kepada Galang.
" pasti pa, karena Galang percaya sukses Galang ada pada papa dan mama dan juga bidadari syurga di samping Galang ini tentunya, iya nggak sayang? " ucap Galang.
"Hati-hati Dena, tidur jangan terlalu nyenyak, mama curiga dengan rayuan maut si bujang tua mu ini pasti ada makna terselubung itu" ucap sang mama.
" kok terselubung sih ma, ini kan ikhtiar Galang ma, seharusnya mama mendukung dong bukan malah memojokkan Galang, katanya pingin cepat- cepat nimang cucu tapi malah mematahkan usahanya, hmm" ucap Galang yang mulai menyantap makanannya.
" sayang kenapa nggak dimakan? "ucap Galang pelan.
" aku tiba-tiba mual mas, aku naik keatas dulu boleh nggak? " ucap Dena pelan sekali, ia takut jika ucapannya itu menyinggung perasaan mama dan papa mertua nya.
" tunggu sebentar ya, mas abisin makanannya dulu, baru setelahnya kita kekamar" ucap Galang lagi.
" apa bisik- bisik, mama tersinggung lho" ucap sang mama masih saja menggoda anak dan menantu di depannya itu.
" mama kepo deh, Galang sama Dena ke kamar dulu ma, pa, seperti nya Dena kelelahan seharian ini" ucap Galang lalu berdiri membantu Dena beranjak dari duduknya.
" mas, aku nggak tahan lagi" ucap Dena menutup mulut dengan kedua tangannya dan berlari menuju wastafel.
huek, huek,,,
" sakit ya? " ucap Galang seraya memijat leher Dena agar meringankan sakitnya.
Dena hanya menggeleng, ia merasa tubuhnya lemas hingga tangannya mencengkeram bahu Galang agar tak roboh.
" mas gendong ya, kita ke kamar aja, kamu pasti lelah kan" tanpa menunggu persetujuan dari Dena Galang segera mengangkat tubuh sang istri untuk dibawanya naik ke lantai dua.
" Dena kenapa lang? " tanya sang mama saat tadi ia mendengar Dena muntah- muntah.
" nggak tau ma, mungkin Dena kelelahan, Galang bawa kekamar dulu" ucap Galang lalu kembali menaiki tangga.
" iya ma" sahut Galang.
" kamu kenapa, tadi di rumah ibu baik- baik aja? " tanya Galang yang kini duduk di samping Dena yang perut dan punggungnya sudah ia baluri dengan minyak aroma terapi.
" masih kangen sama ibu, pingin tidur di sana? " tanya Galang lagi, Dena tak menjawab tapi ia malah memeluk tangan Galang erat.
" ngantuk pingin tidur, tapi kamu jangan pergi sebelum aku bener- bener terlelap ya, janji" ucap Dena masih memeluk erat tangan suaminya itu.
"iya janji, tidur lah, ahad nanti kita ke rumah ibu, mas akan temani kamu disana sampai rindumu benar-benar terobati, mas tau kamu kan tidak pernah berpisah sebelum ini, lalu sekarang tiba-tiba pergi dan datang hanya sebentar saja, pasti masih banyak hal yang belum kamu ceritakan sama ibu kan tadi? " tanya Galang yang di tanggapi dengan anggukan kepala saja oleh Dena.
tuk
tuk
tuk, terdengar pintu diketuk.
" masuk aja nggak dikunci" ucap Galang yang masih mengusap punggung Dena yang tengah tidur memunggunginya.
" ini wedang jahe nya mas, ibu yang membuat nya barusan, langsung diminum katanya mas" ucap wanita paruh baya asisten di rumah Galang itu.
" trimakasih bi" ucap Galang lalu segera meraih gelas yang berisi wedang jahe hangat buatan sang mama.
" sayang, mama buatin wedang jahe nih, katanya ampuh untuk mengurangi mual diperut mu, diminum dulu yuk" ucap Galang yang membantu Dena untuk duduk.
" hangat di tenggorokan ku mas, mama perhatian banget sih sama aku"ucap Dena setelah meminum sebagian wedang jahe nya.
" mama memang sesayang itu sama kamu, bahkan mas pernah iri dulu saat mama selalu saja membela kamu"
" dulu? karena apa mama membela ku mas? " tanya Dena bingung.
" em, ya karena yang waktu dulu aku ninggalin kamu selama beberapa hari tanpa keputusan "jawab Galang dengan suara tertahan.
" jadi mama juga tau mas tentang masalah kita dulu?
" semuanya, mama tau" ucap Galang.
__ADS_1
" nggak ada yang di skip gitu sama kamu? " tanya Dena penasaran.
" nggak ada sayang, karena mama, aku bertahan dengan hubungan yang tak pasti bersama Anisa dan karena mama juga aku bisa mengendalikan emosi ku yang saat itu rasanya ingin lari saja dari rumah ini, mendobrak semua batasan nilai- nilai dan norma- norma kesopanan yang selalu ku junjung tinggi, keputusan papa sungguh-sungguh telah merenggut hak asasi ku, aku tak diberi kesempatan untuk memilih apalagi menolak, tapi mama selalu meyakinkan aku bahwa apapun dan bagaimanapun cara dan perjalanan yang harus ditempuh, percayalah jodoh kita tak akan salah menemukan pasangannya, karena tulang rusuk tak akan pernah tertukar, dan aku meyakininya dan kamu lah bukti ucapan mama itu"ucap Galang kembali memijat pelipis Dena.
" masih mual? " tanya Galang.
Dena mengangguk.
" tamu bulanannya udah datang atau sedang on the way, atau udah dipending sampai 10 bulan kedepan hmm? " tanya Galang mengelus rambut hitam sang istri yang kini membalikkan tubuhnya menghadap Galang.
" belum mas, sepertinya beberapa hari lagi" jawab Dena yang kini beralih memeluk pinggang sang suami.
" beberapa hari lagi? ,dan itu berarti mas tidak bisa menyentuh mu selama siklus bulanan itu belum usai, iya?
" bener banget, kamu kok pinter sih mas, belajar dimana, googling ya? ucap Dena menggoda Galang.
" ck, kamu lupa suami mu ini siapa? biarpun sekarang sudah mantan dosen tapi kan gelar nya nggak bisa dijadikan mantan, akan tetap terpatri selamanya, profesor Galang aditama wijaya"ucap Galang merengkuh tubuh Dena erat.
" badan kamu panas sayang, kamu demam? " ucap Galang menempelkan telapak tangannya pada dahi Dena yang masih erat memeluknya.
Dena segera duduk, ia akan beranjak ke kamar mandi, namun ia merasa tubuhnya sangat lemah, hingga tak sanggup melangkah.
" mau kemana, biar mas bantu" ucap Galang menopang tubuh Dena dari belakang.
" mual, mau muntah, huek,,, Dena berusaha menahan mulut nya dengan tangannya, Galang bergegas mengambil baskom agar Dena memuntahkan isi perutnya disitu saja.
" keluarin di sini aja, nanti mas yang membuangnya" ucap Galang menyodorkan baskom stainless di depan Dena.
Dena pun memuntahkan semua isi dalam perutnya, hingga ia sudah sangat lemas namun rasa mual itu tak kunjung sirna.
" masih mau muntah" ucap Galang saat ia melihat Dena belum beranjak dari tempatnya.
Dena menggeleng namun ia kembali merasakan mual yang hebat, hingga yang keluar dari mulutnya tinggalah cairan berwarna kuning saja.
" pahit banget mas" ucap Dena terbata lalu menyandarkan tubuhnya pada tubuh Galang.
" ini terlihat semakin parah sayang, kita langsung ke rumah sakit aja ya sekarang" ucap Galang yang segera membopong tubuh lemah Dena yang memang sudah kehabisan tenaga setelah memuntahkan semua isi perutnya hingga tak bersisa.
" Di, Ardi " panggil Galang dan Ardi yang memang masih terjaga itupun segera menghampiri.
" mbak Dena nya kenapa mas? " tanya Ardi tampak khawatir.
" kita ke rumah sakit terdekat Di, saya takut Dena dehidrasi, muntah- muntah sedari tadi" ucap Galang yang segera menuju kedepan.
setelah mengeluarkan mobil dari dalam garasi nya, Ardi segera meluncur ke rumah sakit terdekat sesuai intruksi Galang.
[ ma, Galang kerumah sakit, Dena sudah sangat lemas dan suhu badannya tinggi, maaf tidak sempat memberi tahu mama sebelum berangkat tadi, Galang ditemani Ardi]
begitu lah isi pesan yang dikirimkan Galang untuk mamanya yang memang sudah terlelap, namun suara deringan diponsel membuatnya terjaga, ia pun segera meraih nya.
" Galang, ada apa ini, apa Dena semakin parah? " tanya nya, lalu membuka pesan yang dikirim kan oleh putra nya itu.
" pa, papa bangun pa, kita ke rumah sakit sekarang, Galang membawa Dena ke rumah sakit" ucap Ryanti seraya menggoyang- nggoyangkam tubuh sang suami yang kemudian langsung terjaga.
" kenapa ma, apa ini sudah subuh? " tanya Wijaya dengan suara berat khas orang bangun tidur.
" Dena pa, Dena dirawat dirumah sakit, ayo kita kesana, mama kok nggak tenang sekarang " ucap Ryanti panik.
" tenang ma, jangan panik, Dena pasti baik- baik saja, ada Galang yang menemani nya" ucap Wijaya yang segera berganti pakaian lalu begegas turun kelantai satu menuju garasi mobilnya.
" pelan- pelan aja nyetir nya pa" ucap Ryanti yang sebenarnya masih dalam kecemasan nya.
*apakah sang putra mahkota sedang dalam perjalanan menuju rahim mommy nya?
thanks for like and Reading
jazakumullah khoiron.
selamat hari jumat, penghulunya para hari.
see u*,,,
__ADS_1