Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
isi hati Dena.


__ADS_3

Dena masih memandangi Galang dengan wajah penuh tanya,


" apa mungkin, karena sudah tidak bekerja sebagai seorang dosen lalu membuat gelar Profesor nya juga ikut resign dari namanya, Galang aditama Wijaya aja gitu kali ya" bathin Dena.


" kenapa kamu melihat saya dengan tatapan seperti itu Dena" tanya Galang kemudian.


Dena membelalakkan matanya,lalu menggelengkan kepalanya.


" apa perlu saya tanyakan saat ini juga, semua pertanyaan yang sebenarnya sudah saya anggap hilang dalam ingatan saya, layaknya bapak yang pergi meninggalkan saya tanpa pesan waktu itu, masih perlu kah!! ucap Dena kesal namun raut wajahnya mulai berubah sendu.


Galang kembali mendekati Dena, ia berusaha meraih satu tangan Dena, namun Dena buru- buru menepis nya.


" jangan coba- coba menyentuh saya pak, atau saya akan,,, " belum selesai Dena berucap namun dengan gerakan cepat Galang menarik kedua tangan Dena hingga kini posisi mereka sangat dekat, Dena meletakkan kedua tangan nya di depan dada Galang, ia pandangi setiap inci wajah cinta pertama yang menorehkan luka di hatinya beberapa waktu lalu.


"maafkan saya Dena, pasti kamu kecewa, benci bahkan mungkin sudah tak ingin lagi melihat wajah ini, tapi mengertilah semua itu sangatlah sulit bagiku saat itu, aku membaca surat darimu, tapi aku tak kuasa untuk menjawab segala tanya mu, hanya keyakinan yang mampu aku janjikan kepadamu" Galang semakin mengeratkan genggaman tangannya, walaupun Dena berkali- kali coba melepaskan nya, namun selalu gagal.


" bapak jahat, bapak nggak tau betapa hari- hari saya hancur, ketika pak Galang menghilang,sejak hari itu, segala pikiran buruk selalu coba saya enyahkan dari dalam pikiran saya, tetapi setiap kali saya coba mematahkan semua stigma negatif tentang bapak, tapi kenapa semua jawaban seolah menentang itu, hingga akhirnya saya menyerah pada ikhtiar saya, karena pencarian saya nyatanya hanyalah kecewa yang tak berkesudahan, bapak tau? tidak ada yang lebih menyakitkan bagi saya, daripada di kecewakan oleh satu orang yang kita pikir tidak akan pernah menyakiti kita" ucap Dena dengan matanya yang mulai berkaca-kaca,Galang mengangguk- anggukan kepalanya lalu mendekap Dena dalam pelukan nya, tak ada penolakan dari Dena, ia biarkan tubuhnya lunglai dalam pelukan Galang, tangisnya pecah, dia kecewa, tapi kenapa ada bahagia saat ia menangis dalam pelukan orang yang telah menorehkan banyak luka di hati nya,mungkinkah cinta masih tertinggal di sana?


" pak Galang jahat" berkali-kali kalimat itu terlontar dari bibir Dena.


" iya, saya tau saya jahat, saya pecundang, katakanlah hal itu sesukamu Dena,sebanyak apapun maaf yang terucap dari bibir ini, tentu takkan menghapus rasa kecewamu begitu saja, luka yang kutorehkan tak sebanding dengan bahagia yang mungkin pernah kuberikan kepadamu , maaf" lirih Galang sekali lagi.


Dena melerai tubuhnya dari dalam pelukan Galang.


" maaf, saya terbawa suasana, tidak seharusnya saya bersikap seperti ini terhadap pak Galang, maaf" ucap Dena seraya menghapus air mata yang masih tersisa di pipinya.


Galang memperhatikan perubahan raut wajah Dena.


" kenapa, jadi benar kalian sudah terikat dalam hubungan yang lebih dari ini, kalian sudah menikah? "Galang kembali bertanya kali ini dia benar-benar ingin tau apa jawab nya.

__ADS_1


"plakkk,, telapak tangan Dena mendarat sempurna di pipi mulus Galang,


" apa saya layak mendapatkan ini Dena, katakan dimana letak kelayakan nya, katakan! ucap Galang pelan, seraya memegangi pipinya yang langsung memerah karena tamparan Dena barusan.


" jawabnya ada di sini!! jawab Dena menunjuk tepat di dada Galang, Galang mengerutkan keningnya,,


"maksudnya apa Dena" tanya Galang lagi.


Dena semakin geram kini, tapi baiklah mungkin mantan cinta pertama dan dosennya ini, harus di beri penjelasan ya walaupun tidak panjang kali lebar, tapi mungkin bisa mengurangi sedikit kadar kedunguan nya ini.


" bukankah sudah ada yang lebih berhak daripada saya terhadap diri bapak saat ini, kita sudah haram untuk berbuat seperti ini, bapak sudah mengkhianati istri bapak yang cantik jelita anggun mempesona itu"jawaban Dena membuat Galang bersusah payah menahan tawanya agar tak terbahak-bahak, sedikit terkikik mungkin masih terlihat baik ya lang,Galang, kikik,, kikik,,,


" kenapa senyam- senyum seperti itu! tanya Dena ketus.


Galang tak menjawab ia pun meraih id card nya lalu ia tunjukkan di hadapan Dena,


" di dalam sini, tertulis jika status saya masih single, belum menikah Dena" ucap Galang memberi keterangan pada id card nya kepada Dena.


" o ya, memang nya harus ya saya langsung mempercayai kata- kata bapak ini, Hoax!! tidak bisa di pertanggungjawabkan,id card bapak belum di perbarui,itu masih identitas pak Galang sebelum menikah!!ucap Dena kemudian dia segera berlalu meninggalkan Galang yang masih mengulum senyuman di bibir nya, kemudian satu tangannya mengelus pipinya yang masih kebas dan memerah akibat perbuatan Dena tadi.


" trimakasih Allah, walaupun sakit tapi hamba bahagia, setidaknya sakit ini nyata bukan suatu rasa yang hanya bisa hamba ratapi dan tangisi, layaknya sakit hati yang pernah Dena rasakan dulu"


Galang pun melangkah kedepan, ia memilih duduk di samping Dimas saja, kan nanti waktu Dena atau lelakinya itu melakukan transaksi pembayaran, Galang bisa leluasa memandangi nya, uhuy,,, bucin nya parah nih pak dosen, di tampar sampai abang ireng kok Alhamdulillah katanya,, wes ueddan tenanan iki.


Lama Galang menunggu, sedangkan Dimas yang memang tengah sibuk itu tak menyapanya sekalipun, tapi kok Dena tidak kunjung merapat lho,, lho,, lho,, Galang terperanjat manakala pandangannya tertuju pada kursi yang di tempati oleh Dena dan lelakinya itu kini sudah berganti orang, lalu kemana Dena nya?


" apa aku salah lihat ya? " tanya Galang dalam hatinya, seraya mengusap- usap matanya berulang- ulang.


" kenapa mas, matanya kelilipan? " tanya Dimas setelah suasana terlihat senggang kini.

__ADS_1


" nggak Dim,cuma mau mastiin aja, sini deh" Galang menarik satu tangan Dimas agar mendekat kepadanya.


" opo to mas kok saya di tarik- tarik kayak gini "gerutu Dimas.


" tadi kamu lihat kan kalau yang duduk di meja no mor delapan itu Dena sama teman pria nya, kok sekarang udah nggak ada sih dim? " tanya Galang.


" oo, mbak Dena nya udah keluar mas, belum lama sih" jawab Dimas lalu kembali duduk di kursi kasirnya.


Dimas memandangi wajah bos muda di samping nya kini,


" kenapa lihatin saya kayak gitu, ada yang aneh sama wajah saya hem?"tanya Galang merasa tak nyaman dengan tatapan Dimas.


" iya, wajah mas Galang beda hari ini, aura kebahagiaan calon manten nya terpancar nyata, abis bridal shower ya mas, wuih pasti mandi kembang tujuh rupa tuh, hmm, wangine" Dimas mengendusi tubuh Galang dari tempat duduk nya.


" ngawur!! bridal shower e wong ueddan opo Dim, nggak ada bridal shower, shower an, acara pernikahan nya batal! ucap Galang lantang yang membuat bukan hanya Dimas, tapi Angga yang berjalan ke arah mereka pun segera mempercepat jalannya, demi memastikan bahwa yang di dengarnya tadi benar adanya bukan hanya halusinasi nya belaka.


" ngawur sampean mas, ora ilok [ tidak boleh] bicara begitu, sabar mas,menjelang mendekati hari pernikahan memang cobaan pasti selalu saja datang menghampiri, tinggal mas Galang kencengin niat ingsun nya, jangan goyah hanya karena melihat mbak Dena, dosa lho mas"pesan Dimas kepada Galang.


" yang ngawur itu kamu dim, dim, pernikahan saya dan Anisa memang di batalkan dan yang membatalkan nya itu adalah Anisa, bukan saya " jawab Galang lagi.


" lho kok iso mas, piye ceritane iku? [ lho kok bisa mas, gimana ceritanya]kini giliran Angga yang ikut bertanya.


" ora usah kepo!! [tidak usah kepo] jawab Galang dan Dimas bersmaan.


lho, lho, dilarang kepo ngga, Angga.


trimakasih, maaf baru up


jazakumullah khoiron.

__ADS_1



__ADS_2