
Jam kuliah sudah usai, Dena berjalan santai menuju parkiran, namun belum lagi ia sampai, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
" pulang sama siapa Dena? " tanya orang tersebut, Dena menoleh untuk memastikan siapa orang yang sekarang ada di samping nya.
" kevin, a, aku sendirian aja pulangnya " jawab Dena.
" naek motor? " tanya kevin lagi.
" iya, kamu ? " Dena balik bertanya.
" tuh, kuda besi gue udah nungguin dari tadi, barengan aja pulangnya, mau? " tanya kevin.
" boleh, kita kan searah, ayok"ajak Dena saat sudah siap dengan scooter matic nya.
keduanya melaju beriringan, sebenarnya Dena merasa risih jika harus beriringan seperti ini, tapi "bagaimana cara untuk mengatakan nya? "bingung Dena.
tiiiittttt,,, tiiiitttt,,suara klakson terdengar berkali-kali dari arah belakang kendaraan mereka, Dena pun memperlambat laju roda duanya, memberikan ruang untuk kevin ada di depannya saja, Kevin pun jalan terlebih dulu, setelah meng klakson kepada Dena.
tiiiitt,, suara itu kembali diperdengarkan oleh si empunya kendaraan, Dena yang merasa geram akhirnya semakin memperlambat laju roda duanya lalu menepi di bahu jalan,
" udah sana lewat"gerutu Dena kesal.
ternyata kendaraan itu malah mepet kearah Dena, Dena pun menghentikan roda duanya, membuka sedikit double layer pada helm hitamnya.
" siapa sih, orang kaya memang suka semena- mena" bathin Dena yang kini melihat jika mobil tersebut juga berhenti tepat di depannya.
Dena masih duduk diatas motornya, ia menunggu apakah orang tersebut akan menghampiri dirinya, lalu apa maunya.
perlahan pintu mobil terbuka, Dena masih memperhatikan nya, sedangkan Kevin yang ternyata juga menghentikan kendaraan nya datang menghampiri Dena.
" siapa sih Den, lo kenal? " tanya kevin.
Dena menggeleng kan kepalanya.
" nggak tau, eh lo cari benda apa gih sana, buat jaga- jaga kalau ternyata mereka ini perampok gimana coba? " ucap Dena menyenggol bahu kevin, Kevin masih belum beranjak.
" jangan su'udzon dulu, siapa tau dia orang yang berniat baik sama kita kan" ucap Kevin mencoba tenang.
Dena melihat kaki orang tersebut tampak keluar dari pintu sport car nya, Den tak melewatkan barang sedetikpun, merasa sangat penasaran dengan pemilik kendaraan tersebut.
" awas aja kalau wajahnya pas- pas an, ku timpuk pakai dahan sport car lho" geram Dena, seraya meraih dahan kayu dari tangan Kevin dan satu tangannya meraih handphone yang ada pada tas selempang nya.
" Dena, Den" kevin mengguncang- guncang bahu Dena, yang tengah mengambil handphone nya.
" apa sih vin, kamu kayak lihat nini kunti aja, ap,, ? Dena membelalakkan matanya kala melihat siapa orang yang kini berjalan ke arah mereka.
" pak Galang, selamat siang Pak " sapa kevin dengan sopan.
Dena tak menyapa dia hanya mendengkus kesal setelah tau bahwa orang nya adalah Galang,
kevin menyenggol bahu Dena berkali- kali, ia heran dengan sikap Dena yang tak ada hornat- hormatnya kepada Galang.
" pak Galang tuh Den, say hello dong sombong banget sih, mentang- mentang beliau udah nggak jadi dosen kita lagi terus lo bersikap kayak gitu" bisik kevin di telinga Dena.
" iya gue tau, dia itu calon laki gue vin" bathin Dena menirukan logat kevin.
" Dena!! kini kevin bicara sedikit lantang, dia pikir Dena tak mendengar bisik- bisik tetangga nya tadi.
"apa? " tanya Dena dengan wajah tak bersalah nya.belum lagi kevin berucap, tapi Galang sudah terlebih dahulu mengeluarkan petuahnya.
" lain kali kalau sedang berkendara lebih baik jangan beriringan, selain mengganggu akses pengguna jalan yang lain, hal itu juga bisa membahayakan kalian berdua, apa kalian mengerti? " ucap Galang menatap Dena yang malah sama sekali tak melihat padanya.
" mengerti pak" jawab kevin.
" silahkan kalian lanjutkan lagi perjalanan kalian" ucap Galang namun belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Dena mengerutkan dahinya.
" ngapain kok masih disini sih! geram Dena menatap kesal kepada Galang yang malah tersenyum kepada nya.
" permisi pak, saya jalan dulu, ayo Den" ajak kevin dan Dena pun segera menaiki roda duanya, namun gerakan tangan Galang seolah melarangnya, Galang mengacungkan lalu menggoyang- nggoyangkan jari telunjuknya.
" vin, lo duluan ya, gue mau isi bensin dulu di SPBU" ucap Dena mengerti dengan isyarat tangan Galang.
" gue tunggu deh, buruan" ucap kevin.
" nggak perlu vin, gue lama, lo duluan aja nggak apa-apa, gue aman kok, tenang aja" ucap Dena meyakinkan kevin yang terlihat mengkhawatirkan dirinya itu.
" yakin aman?, gue duluan, lo hati- hati, kalau ada apa-apa langsung hubungin gue, nope gue udah lo save kan? " ucap Kevin sebelum melajukkan kuda besinya.
Dena mengacungkan satu ibu jarinya, setelah kevin tak terlihat, Galang melangkah mendekat kepada Dena.
" asyik banget ya pulang barengan sama cowok ganteng " ucap Galang.
" he eh, ganteng, tapi mas lebih ganteng " Galang yang sebelumnya kesal akan jawaban Dena itu langsung merubah ekspresi wajahnya, ia tersenyum tipis.
" ngerayu, buat apa? " ucap Galang menggoda.
" nggak lagi ngerayu kok, mas aja yang ke ge er'an" jawab Dena.
Galang diam, senyum nya memudar memandangi wajah Dena kini.
" apa, mau marah? " ucap Dena lagi.
" kelihatan nya dia sangat mengkhawatirkan kamu ya, sampe segitunya , seolah-olah saya ini kakek- kakek mesum yang patut diwaspadai , udah saling save nomor handphone juga rupanya ,siapa nama kontak nya, my sunsine, my dear atau my husband? " ucap Galang sedikit kesal.
__ADS_1
" my bojo"jawab Dena kesal.
Dena tau jika calon suami nya ini sedang dalam mode barang, senggol kemplang,, prangggg!!!!
" sekalian aja aku lanjutin, biar makin sensi" bathin Dena dengan menarik ujung bibirnya.
" iya udah di save, mau tau nama kontaknya apa, nih!! Dena menunjukkan layar ponsel yang memperlihatkan contact name
my lope,,
" kamu" Galang meraih handphone Dena,namun Dena menariknya, begitu seterusnya hingga akhirnya Dena menyerah, ia biarkan Galang mendelete nomor- nomor yang sengaja diberi nama oleh Dena dengan nama- nama romantis.
" nih" ucap Galang menyerah kan kembali ponsel Dena.
" udah selesai? " tanya Dena.
" hem" jawab Galang singkat. ,
" itu semua nomer handphone siapa, kok namanya? " Galang tak melanjutkan ucapannya.
" nggak ada, itu cuma nama nggak ada nomernya, mas aja yang khalaf tu, makanya lihat dulu benar-benar, jangan cemburu terus yang digede in, nggak malu sama umur" ucap Dena kesal.
" kenapa selalu bawa- bawa umur sih kalau lagi kesel sama mas?
" iya kesel, di ingetin terus aja mas nya nggak sadar-sadar apalagi kalau nggak pernah di ingetin, bablas terus kayak rem blong, selonong boy aja "
" kamu marah sama mas?
"iya!! Dena pun segera meraih helm nya lalu ia kenakan, tanpa aba- aba Dena langsung tancap Gas meninggalkan Galang yang masih berdiri.
" gue dimarahin sama calon istri gue, mama,, belum sah jadi istri aja marahnya udah kayak gini, gimana nanti kalau udah sah? " bathin Galang yang segera menghidupkan mobilnya, dia harus menemani Dena hingga tiba di rumahnya.
hanya dalam hitungan menit saja sport car Galang sudah berada di belakang scooter matic Dena, Dena yang tau jika Galang sudah ada dibelakang nya itu pun semakin mempercepat laju kendaraan nya, hal yang membuat Galang khawatir hingga kini ada di samping motor Dena, terpaksa Dena memperlambat laju kendaraan nya.
*
*
*
Dena berbelok saat sudah sampai di lorong rumahnya, Galang pun menepikan kendaraan nya, rupanya ia akan singgah dirumah Dena.
Dena menghentikan laju roda duanya saat ia melihat Galang keluar dari mobilnya.
perlahan Galang sudah ada di samping motor Dena.
"boleh mas ikut? " ucap Galang pelan.
" hem"
" masuk mas, didalam ada ibu" ucap Dena dengan raut wajah yang sudah tak seperti saat memarahi Galang dijalan tadi.
Galang berjalan mengekori Dena, lalu duduk di sofa.
Dena keluar dengan minuman hangat di nampannya.
" diminum biar rileks " ucap Dena meletakkan dua gelas yang berisi teh hangat beraroma jasmin.
Galang segera meraihnya lalu mulai meminumnya.
" tadi siapa? " tanya Galang setelah meletakkan gelasnya dimeja.
" namanya kevin, anak seni sastra" jawab Dena.
Galang mengangguk- anggukan kepalanya.
" mas tau? " tanya Dena saat melihat Galang menganggukkan kepalanya.
" tau, dia cowok yang kepalanya nabrak tiang dikampus itukan, suka itu sama kamu" ucap Galang.
" sok tau ih,tapi tunggu,, mas ngapain kok tiba-tiba ada di belakang aku sih tadi, sengaja mbuntutin ya? " tuduh Dena.
" iya, karena mas nggak tenang di kantor, kepikiran kamu terus"
" terus, kerjaan di tinggal gitu aja?
" kan ada Olivia, dia akan hubungin mas kalau ada hal yang mengharuskan mas ada di kantor "
"gitu ya?
" iya, nanti kalau kamu udah selesai kuliahnya, kamu dampingin mas ya dikantor " ucap Galang.
" aku,di kantor, mas mau nempatin aku sebagai apa, nggak ah, jurusan aku nggak di bidang itu,nggak connect mas, error system nanti jadinya, bisa bangkrut nanti perusahaan papanya mas Galang" tolak Dena.
" ya udah kalau keberatan, mas nggak maksa kok, ikut mas yuk ke kantor, setelah itu kita ambil undangan terus ke sofia boutique ambil gaun kamu, tadi sofi telepon bilang kalau gaun kamu udah jadi dan bisa di ambil hari ini, gimana, kamu capek nggak, kalau capek biar mas sendiri aja yang ambil, nanti mas anter ke sini" tanya Galang.
" ikut aja nduk, besok kalian udah di pingit lho, udah nggak boleh ketemu lagi sampai hari akad"Galang dan Dena sama- sama menoleh, rupanya sang ibu yang berkata tadi dari balik gorden di ruangan tengahnya.
" ibu" ucap Dena sang ibu tersenyum, lalu mengacungkan satu ibu jarinya.
" tuh, kata ibu ikut, manfaatin moment yuk, mumpung belum di pingit, buruan ganti baju sana, mas tunggu diluar ya" Galang beranjak dari duduknya melangkah keluar.
*
*
__ADS_1
*
keduanya kini sudah berada dalam mobil, dengan Galang dibalik kemudi nya.
" besok udah nggak bisa ketemu lagi, kuat nggak? goda Galang.
" emangnya nahan apa kok nggak kuat? " ucap Dena.
" nahan rindu, jangan sakit ya, mas usahain selalu hubungin kamu" ucap Galang mengelus rambut Dena.
Galang meraih satu tangan Dena, lalu ia menimang- nimang jari manis Dena,
" cincinnya mana, kok nggak dipakai, sengaja ya? " tanya Galang masih belum melepas genggaman tangannya terhadap Dena.
" mas kebiasaan deh, nanya tapi nuduh, lebih baik nggak usah nanya, langsung nuduh aja sekalian, jadi aku mudah buat ngebantah nya"ucap Dena kesal, si bujang tuanya ini selalu saja bikin perkara.
" lho kok sewot sih, mas kan nanya, mas aja pakai terus lho, nggak pernah mas lepas, kecuali kalau lagi ambil air wudhu baru mas lepas"
" tadi aku kelupaan, jadi waktu di kampus aku lepas deh cincinnya" jawab Dena.
" lain kali kalau keluar sama mas dipakai ya Cincinnya" pinta Galang yang ditanggapi anggukan kepala saja oleh Dena.
Galang memarkirkan toyota porsche nya tepat dihalaman parkir boutique milik sofia ini, Galang keluar terlebih dulu, untuk membukakan pintu bagi Dena.
" trimakasih calon suami" ucap Dena dengan senyum manis dibibirnya.
Galang tersenyum,
" duh yang sebentar lagi mau jadi manten, romantis bener dah ah, jadi pengen cepet- cepet nikah biar ada yang bukain pintu waktu mau keluar dari mobil"Galang tersenyum kala mendengar sapaan hangat dari sofia si empunya boutique.
" mau ambil gaun nya Dena ya, ayok ikut aku" pinta sofia, Galang menggandeng satu tangan Dena untuk dibawanya memasuki boutique mewah nan elegant ini.
" nggak usah grogi, ada mas" ucap Galang semakin mengeratkan genggaman tangannya, ia tau Dena nggak percaya diri berada di tempat semewah ini.
" lang, ini gaun nya Dena, boleh deh kamu temani dia diruang ganti, biar kalau ada yang belum klop sama keinginan kalian, bisa langsung diperbaiki " ucap sofia dengan gaun putih milik Dena yang tengah di pegangnya.
Galang meraih gaun yang terlihat Sederhana namun menampilkan sisi kemewahan pada setiap sentuhan nya.
" mewah banget ini, e,, emang boleh ya kalau mas masuk kedalam juga, kamu nggak keberatan"tanya Galang seraya menyerahkan gaun putih kepada Dena.
" mas bisa dipercaya nggak, kalau nggak bisa jamin mending nggak usah aja deh, cobain nya pas dirumah aja" ucap Dena mengamati gaun yang akan dikenakan nya pada hari pernikahannya dengan Galang nanti.
" mas jamin, ayok masuk" ajak Galang menggandeng tangan Dena.
Galang berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding ruang ganti tersebut.
" mas, boleh minta tolong nggak? " tanya Dena dari balik gorden nya.
"apa, bilang aja" saut Galang.
" tolong pasangin zipper nya dong, tanganku nggak nyampe nih" ucap Dena yang sudah mulai mengenakan gaunnya.
Galang bergegas masuk, ia sibak gorden yang menjadi pembatas di ruangan ini, ia di suguhkan pemandangan punggung mulus Dena, yang sebagian sisinya sudah tertutup oleh gaun nya.
"mana zipper nya" bisik Galang yang malah menempelkan dagunya pada pundak Dena yang terbuka.
merasa ada kulit asing yang menyentuh bagian pundaknya Dena pun menoleh, naas bibir tipis nya menyentuh pipi mulus Galang.
" nggak usah mesum deh, inget belum H-A-L-A-L!!
Dena menjauhkan kepala Galang dari pundaknya.
" mas nggak mesum sayang, katanya mau dibantuin pasangin zipper nya" ucap Galang dengan wajah ditekuk.
" udah tua mas, nggak pantes pasang wajah kayak gitu, sok sok an baby face" gerutu Dena yang coba menarik zipper di gaunnya, namun selalu gagal.
" sini mas bantuin " ucap Galang pelan, lalu tangannya meraih ujung zipper gaun Dena lalu menarik nya hingga tertutup sempurna.
Galang melingkar kan tangannya pada pinggang Dena, merasakan harum tubuh calon istri nya tersebut.
" Dena, ucapnya lirih.
"hem" saut Dena yang tengah sibuk memandangi tubuhnya pada pantulan cermin di depannya.
" aku sayang kamu,
cup,, Dena menoleh kala Galang mencium pipi nya.
" sayang kamu juga mas" Dena memutar tubuhnya menghadap Galang, bertanya dengan tatapan matanya.
" satu kata dong buat gaunnya" ucap Dena.
"ayu tenan" ucap Galang.
" gaunnya mas bukan aku" protes Dena.
" mas maunya kamu" ucap Galang lagi.
hehehe, Maafkanlah.
trimakasih, jazakumullah khoiron.
see u,,,
__ADS_1