Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
pov for Annisa.


__ADS_3

Galang melaju mengendarai lexus hitamnya menuju ke sebuah kafe, dia sangat penasaran dengan informasi apa kiranya yang akan diperolehnya dari pria misterius tadi.


sesampainya pada lokasi yang telah mereka sepakati sebelumnya, Galang memarkirkan mobilnya, setelah nya ia menuju pada meja kosong yang sudah di booking terlebih dahulu oleh sang pria sebelum keduanya sampai di tempat ini.


Galang mengedarkan pandangannya, mencari sosok pria dengan ciri- ciri yang di sebut kan oleh pria di ujung telepon nya tadi.


" dia dimana sih, kenapa belum sampai juga, apa jangan- jangan aku ditipu ya, tapi tujuannya apa, aku nggak merasa punya musuh" Galang bertanya- tanya dalam hatinya.


Galang masih duduk santai di kursinya, saat seseorang menyapanya dari arah samping nya.


" dengan tuan Galang aditama Wijaya" ucap pria tersebut.


Galang menoleh tanpa tersenyum, tidak seperti biasanya ia yang selalu mengumbar senyum manis kepada lawan bicaranya, tapi tidak untuk pria di depannya kini.


" iya, saya sendiri " jawab Galang datar.


pria itu lalu duduk di depan Galang.


" maaf saya tidak suka bertele-tele, berbasa- basi, apalagi bernarasi, sebaiknya katakan saja apa informasi yang Anda ketahui tentang Anisa" ucap Galang memecah keheningan yang tercipta di antara keduanya.


" sabar bro, apa kamu tidak ingin berkenalan terlebih dahulu dengan diriku, ya minimal kamu tau siapa nama ku" ucap pria tersebut dengan senyum tersungging di ujung bibir nya.


Galang menggelengkan kepalanya pelan, bukankah sudah ia katakan bahwa ia tidak ingin mengulur- ulur waktu, bukankah pria itu juga yang mengatakan jika Galang tidak perlu tau siapa dirinya itu, lalu kenapa sekarang menawarkan diri untuk identitasnya itu, minimal mengetahui siapa namanya dia bilang,


" dasar plin plan" gerutu Galang.


" ya, ya baiklah, mungkin kamu memang sedang sibuk sekali akhir- akhir ini, pastinya menikah dengan wanita sekelas Anisa bukan lah hal yang main- main bukan? aku tau itu" ucap sang pria lalu meletakkan gelas minumannya di meja.


" baiklah, walaupun kamu tidak menanyakannya akan aku beri tau, namaku Brian Sergio aaron, panggil saja Brian" ucap Brian lalu mengulurkan satu tangannya Galang pun menyambutnya, hanya untuk formalitas saja.


Galang terdiam,


" kenapa firasat ku mengatakan dia ini adalah salah satu pria masa lalu nya Anisa ya" bathin Galang.


flashback....


satu bulan setelah pertunangan Galang dan Anisa.


di sebuah hunian mewah, sesosok pria tengah duduk santai di balkon kamarnya setelah menerima laporan dari orang kepercayaan nya, bahwa sang mantan kekasih ternyata telah melangsungkan acara lamarannya, ahad kemarin.

__ADS_1


pria itu tampak menimang- nimang ponsel di tangannya, sepertinya sedang menunggu informasi yang masuk melalui ponsel nya, dan benar saja, tak lama kemudian handphone nya bergetar menandakan ada pesan masuk untuk nya.


setelah memeriksa pesan tersebut, tampak pria itu tengah menghubungi seseorang di ujung telepon nya.


" hallo sayang, apa kabarmu, masih ingat dengan suaraku? " tanya pria tersebut kepada seseorang di ujung telepon nya.


" Brian? " tanya wanita di ujung telepon itu.


" ah, aku sangat senang kamu masih mengingat suaraku sayang, aku kangen kamu, apa kita bisa bertemu hari ini, sebelum kamu sah menjadi seorang nyonya wijaya? " tanya sang pria dengan senyum smirk di bibirnya.


" jangan mimpi bisa menemuiku brian, aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengan dirimu, kamu tau, sebentar lagi aku akan menikah dengan pria pilihan ku, jadi buang saja keinginanmu untuk menemuiku" ucap sang wanita itu dengan penuh emosi.


" oke, jika kamu memang tidak ingin lagi bertemu dengan ku, bagaimana jika aku temui saja calon suamimu itu, aku mau tau bagaimana reaksinya saat aku tunjukkan semua photo- photo mesra kita saat di luar negeri dulu,hmm, sepertinya itu hal wajib yang harus aku coba Anisa, bagaimana apa kamu tertarik dengan penawaran ku ini? tanya pria tersebut.


" berapa nominal yang kamu inginkan brian, katakan saja, tidak perlu mengancamku" ucap Anisa,, ya wanita tersebut tak lain adalah Anisa, calon istri Galang.


" waw, ternyata sifat sombong papa mu itu menurun sempurna pada dirimu sekarang ya"ucap pria tersebut.


" itu bukan urusanmu brian dan jangan bawa- bawa papaku disini, cepat katakan!!sebelum aku berubah pikiran" bentak Anisa.


" sabar sayang, nggak usah ngegas dong, dan sepertinya kamu belum tau siapa diriku sekarang,aku bukan pria madesu seperti yang kau ucapkan dulu Anisa, dan aku tidak membutuhkan uangmu itu" jawab sang pria.


" jika brian tidak menginginkan uangku, lalu apa yang dia inginkan dari diriku, arrrgghh,, Anisa meremas ujung kemejanya kasar.


" kenapa hanya diam? " sudah berubah pikiran, ayo katakan lah dimana kita bisa bertemu? " ucap sang pria kemudian.


" maaf brian, aku tidak bisa bertemu dengan mu, kamu harus tau pernikahan ku dan mas Galang hanya tinggal menghitung hari saja, mana mungkin aku membuat ulah yang artinya sama saja aku melemparkan kotoran di wajah kedua orang tua ku, itu tidak mungkin bri, ku harap kamu mengerti " ucap Anisa dengan suara lebih lembut kali ini.


" waw!! keahlian mu belum berubah ternyata nisa, tapi sayang, aku bukan lah brian mu yang dulu, maaf aku tak mau tau dan tak ingin mengerti kan dirimu" ucap Brian tenang.


" lalu apa yang kamu mau dariku, katakan" ucap Anisa dengan suara di tahan.


" aku mau, kamu batalkan pernikahan mu, lalu menikahlah dengan ku" jawab sang pria.


" omong kosong apa ini brian, kamu pikir aku ini wanita seperti apa hah!! sergah Anisa kesal.


" ow,, tenang sayang, pilihan nya ada ditanganmu, tentukan lah secepatnya " ucap brian lalu mengakhiri panggilannya terhadap Anisa yang kini terduduk lesu di kamarnya.


" apalagi ini Ya Allah, kenapa masa lalu selalu membayangiku" lirih Anisa lalu menangkup kan kedua tangan di wajahnya.

__ADS_1


note,, Annisa belum berhijab ya gaes waktu itu....


pov for Annisa..


terlahir sebagai putri tunggal ia menyandang klan tungga buwono garis keturunan dari sang papa,Askara raja tungga buwono, Annisa dididik dalam norma- norma sosial yang menjungjung tinggi adab kesopanan, namun minus dari segi religi nya, nama Annisa sebenarnya adalah pemberian dari sang mama yang pada awalnya tak di dukung oleh sang papa, namun demi cintanya pada sang istri ia pun merelakan nama islami itu di sandang oleh sang putri, Annisa yang berarti wanita.


ia tumbuh seperti apa yang kedua orang tuanya inginkan, lemah lembut khas putri keraton,ia tak pernah berbicara dengan suara lebih kencang dari orang yang lebih tua darinya, cantik itu sudah pasti, tubuh yang proporsional hingga sebenarnya ia lebih layak disebut sebagai seorang model internasional, namun semuanya sepertinya berubah ketika ia memutuskan untuk menempuh pendidikan pasca sarjana nya di luar negeri, di sanalah ia bertemu lalu menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Brian Sergio aaron,, semua hal yang di larang, menjadi biasa untuknya, hingga ia menyelesaikan study S2 nya lalu kembali ke Indonesia, namun semua tak lagi sama,, hingga hari ini semua cerita kelam di masa lalu nya berubah menjadi boomerang untuk dirinya dan juga nasib rencana pernikahannya dengan Galang,


hal yang menguntungkan tentunya bagi Galang, namun untung tak dapat diraih malang mungkin masih bisa di tolak oleh Galang, untung datang tak tepat waktu,karena yang di untungkan itu adalah hubungannya dengan Dena, tapi apa? lihatlah Dena kini yang tengah berleha- leha,ketawa ketiwi, haha, hihi, sambil menikmati kelapa muda bersama dokter Angga di tepian pantai,, hmm,, romantis sekali lang, Galang,, kamu nggak pernah kan mantai sama Dena lang? weh kalah start nih pak dosen sama pak dokter Angga nya ya,,


" sudah lebih tenang sekarang? " tanya dokter Angga yang sesekali mencuri pandang kepada Dena.


Dena yang tengah menikmati semilir nya angin pantai dengan kedua kakinya yang menjuntai kebawah lalu di ayun-ayunkan nya itupun menoleh mendengar pertanyaan sang dokter.


" sedikit berkurang dok" jawab Dena santai.


sang dokter tersenyum seraya mengangguk- anggukan kepalanya, Dena yang memang tengah memperhatikan sang dokter itupun lalu mengerutkan dahinya,


" kenapa senyum- senyum, dokter merencanakan sesuatu ya? " tanya Dena heran.


" iya" jawab sang dokter singkat.


Dena menarik ujung bibirnya, bingung dengan jawaban sang dokter, "merencanakan sesuatu lalu iya jawabnya"


" apa? " jiwa kepopedia Dena meronta-ronta nih dok, menanti sebuah jawaban.... by naff.... hehehe..


" rahasia",, jawab sang dokter lalu ia berdiri merapikan kemeja dan rambutnya yang berantakan,


" sudah sore, ayo kita pulang" ajak sang dokter meraih satu tangan Dena, Dena terdiam memperhatikan satu tangannya yang kini tengah di genggam oleh sang dokter.


hehehe,, ayo Dena, apa itu?


trimakasih, semoga selalu suka.


BarokAllah.


see u.....


__ADS_1


__ADS_2