
setelah suasana kembali tenang, Galang membawa Dena untuk menemui orang tuanya di ruang perawatan nya.
Galang membuka pintu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
" Assalamu'alaikum pak, bu" ucap Dena memberi salam pada kedua orang tua Galang.
" waalaikumsalam' jawab mama dan papa Galang hampir bersamaan.
Galang meraih satu tangan Dena untuk dibawanya kepada sang mama.
Dena mencium punggung tangan Ryanti, namun saat ia akan melepaskannya, tangannya di tahan oleh wanita parubaya yang tak lain adalah mamanya Galang itu.
" kamu Dena " tanya Ryanti yang dijawab dengan senyuman dan anggukan kepala oleh Dena.
" pantas saja putra ibu bucin banget sama kamu nak, lihatlah tidak hanya rupamu saja yang memang sungguh cantik, tapi sopan santun dan budi bahasa mu sangatlah memikat, kamu sempurna nak" ucap Ryanti melepaskan pegangan pada tangan Adreena.
coba dengarlah apa yang di ucapkan mama nya Galang ini, bahkan Dena cuma mengucapkan salam dan mencium tangannya, tapi beliau sudah bisa menyimpulkan begitu, berlebihan sekali ma,
tapi,tentu saja tidak, karena memang Dena dididik dengan norma- norma susila,sopan santun dan adat budaya ketimuran,
"tetaplah sederhana walaupun nanti kamu bisa memiliki segalanya nak"pesan sang ayah telah terpatri dalam ingatan Dena.kini lihatlah betapa Dena merasakan buah manis dari ucapan sang Ayah.
" trimakasih bu, saya rasa semua orang akan bersikap seperti saya tadi jika bertemu dengan ibu atau bapak" ucap Dena menoleh kepada Wijaya yang tersenyum menatapnya.
" tidak semua orang nak mungkin ada beberapa saja" jawab Ryanti.
Dena tersenyum lalu dia melangkah ke arah papanya Galang, hal yang sama pun ia lakukan terhadap Wijaya.
" kamu masih ingat sama bapak nak, sama vanquish brioni nya Galang yang kamu berikan kepada bapak malam itu, dari situ sebenarnya bapak sudah feeling, dan dugaan bapak ternyata memang benar , Galang tidak salah jika memperjuangkan dirimu nak"ucap Wijaya menepuk pelan bahu Dena.
Dena merasa sangat terharu dengan sikap yang ditunjukkan oleh kedua orang tua Galang saat ini ,dirinya baru pertama kali berjumpa dengan mereka, ralat ya, kalau papanya Galang kan sudah dua kali ini ya.. ah, Dena malu- malu ngeong jika mengingatnya, hehehe, mungkin untuk sang mama barulah ini adalah kali pertama mereka bertemu.
semua kekhawatiran Dena ternyata tak ada satupun yang terealisasikan, mereka ini kan kaum berada ya banget malahan, sedangkan Dena?
~~oh,siapalah aku ini untuk memintal
buih yang memutih menjadi
permadani....
semua itu sungguh aku...
__ADS_1
hanyalah rakyat jelantah, jelantah apa Dena, hmm, jelantah ikan asin kepala batu kawan.... sungguh tingkat strata sosial yang sangat jauh sekali perbedaannya, tapi lihatlah, mereka menyapa Dena dengan sebutan nak,ingatan Dena langsung tertuju kepada ayah dan ibunya,bagaimana tidak, panggilan nak adalah salah satu hal yang manis yang selalu Dena dapatkan dari ayah juga ibunya..
Dena tersenyum, Galang yang menyadari jika kekasih nya itu makin salah tingkah karena di puji terus menerus oleh kedua orang tuanya itu lalu bergegas menghampiri Dena, lalu ia raih satu tangannya.
"ayo ikut saya, Lama-lama di sini kamu bisa kena serangan jantung seperti papa" bisik Galang di telinga Dena.
Wijaya menoleh kearah sang istri yang juga sedang memperhatikan gerak- gerik Galang dan Dena, Wijaya berbicara lewat bahasa matanya, sang istri pun mengacungkan jempolnya.
" cie, cie, ada yang bisik- bisik tetangga nih ma, papa kok jadi merasa sebagai papa yang tak di anggap ya ma"goda sang papa lalu keduanya tertawa, sementara kedua sejoli yang tengah dintertawakan itu hanya menggeleng- ngge langkan kepalanya saja, eits hanya Galang ya karena Dena tentu saja masih jaim guys,hihihi
" papa sama mama kayak nggak pernah muda aja deh, keluh Galang.
"o iya, Galang lupa kalau papa sama mama kan hasil dari perjodohan juga ya, kayak Galang sama A... "Galang tak melanjutkan ucapannya, dia keceplosan kawan! dia pun segera memandangi Dena yang memalingkan wajahnya kini.
" tadi bisik- bisik, sekarang salah bicara ma" ucap sang papa kembali menggoda Galang, yang kini salah tingkah karena Dena hanya diam saja, semenjak dia salah berucap tadi, owalah lang, lang, baru juga nyebut inisialnya aja, doi udah puasa bicara, puasa ala nabi Daud AS aja Den, jadi besok Galang bisa bicara sama kamu, biarlah hari ini dia gagal merayumu....
"papa sama mama bahagia banget kelihatannya ya" Galang mendengkus kesal menyaksikan kedua pahlawan hidupnya yang tengah menertawakan dirinya itu.
" sayang" bisik Galang pelan, namun Dena segera berdiri.
" saya mau ke kamar kecil" ucapnya lalu bergegas keluar dari ruang perawatan, namun saat melewati mamanya Galang Dena menundukkan kepalanya lalu tersenyum.
" ternyata papa benar, kenapa aku nggak kepikiran sampai kesitu sih", ah Galang, Galang, wajah mu saja yang tampan nya nggak pake ukuran tapi minim pengalaman, ora kanggo mas, mas.
Galang masih berdiri melihat Dena dari jarak yang lumayan jauh, hingga Dena tak menyadari jika Galang tengah memperhatikan dirinya.
"sayang, kamu dimana, kok lama banget di kamar kecilnya, aku susulin ya.
Galang mengirimkan sebuah pesan untuk Dena.
handphone Dena berdering, tampak Dena melihat pada layar ponsel nya, namun ia langsung meletakkan benda pipih itu di kursi yang ada di sebelahnya tanpa membaca apalagi membalas nya.
Galang berniat mengirimkan sebuah pesan lagi untuk Dena, namun niatan nya itu segera ia batalkan, karena dari tempat nya berdiri ia melihat seorang dokter muda datang menghampiri Dena, bahkan dokter tersebut kini duduk di samping Dena, dan memberikan ponsel Dena yang tadi tergeletak di kursi itu.
Galang memasatkan penglihatan dan pendengarannya.
" sedang menunggu siapa, kenapa sendirian? ucap dokter muda nan tampan di samping Dena.
Dena menoleh, ia tau bahwa pria di sampingnya ini merupakan seorang dokter, Dena sekilas membaca pada nametag yang tertera pada seragam putihnya. dr. Ardian airlangga nuh.
" nggak lagi nungguin siapa, siapa dok, bosen aja di kamar terus"jawab Dena dengan senyum di bibirnya.Dena tau jika Galang tengah mengawasinya,dan Dena sengaja melakukan hal itu, ia ingin membuat Galang cemburu pada dokter muda di samping nya ini.
__ADS_1
"kamu pasti panas dingin melihat aku berdua bersama pria lain pak, rasakan pembalasan ku" bathin Dena.
kekanak- kanakan sekali kamu Dena, Dena.
" siapa yang sakit, orang tua atau keluarga " tanya sang dokter.
nah lho den, mau jawab apa, jika kamu jawab orang tua, pastilah si bujang tua itu akan tersenyum penuh kemenangan di balik persembunyian nya, hayu den mau jawab apa.
" paman saya dok"jawab Dena sekenanya saja, tanpa memikirkan perasaan Galang yang kini tengah menyunggingkan bibirnya.
" aku bukan abege labil Dena, namun aku juga tak menampik jika ada sedikit cemburu saat kamu tersenyum bersama pria lain, biarlah lakukanlah jika itu bisa mengurangi marahmu" Galang belum beranjak dari tempatnya berdiri.
" a, dokter kok di sini" tanya Dena kembali, mereka berbicara layaknya sahabat yang lama tak berjumpa, padahal mereka tak mengenal satu sama lain sebelum ini.
sang dokter tak menjawab, ia mengangakat pergelangan tangannya, lalu membuka sedikit jas putihnya.
" istirahat makan siang,sama seperti kamu, saya juga suntuk di dalam" ucap sang dokter lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
" siapa namamu, tulis disini yang lengkap ya" ucap sang dokter.
Dena melongo kawan! yang lengkap?, ck,,ayolah Dena bukan anak PAUD yang harus mengeja dan dijelaskan apa arti dari bait terakhir kalimat yang di ucapkan oleh sang dokter.
"ini dokter main sat set sat set aja, nggak ada basa basi nya sama sekali, gimana nih, duh pak Galang pasti marah nih, kan niatnya tadi nggak kayak gini, duh kuwalat lo Den" bathin Dena, namun akhirnya ia pun mengetikkan nama dan nomor ponselnya pada aplikasi hijau yang terdapat pada handphone sang dokter.
" trimakasih Adreena, nama yang cantik,secantik orangnya" ucap sang dokter tersenyum.
Dena menganggukan kepalanya dengan senyum tak malu- malu tapi senyum takut- takut,
tak berapa lama kemudian handphone Dena berdering, segera saja Dena meraih benda pintar nya itu, besar harapan bahwa itu adalah panggilan dari Galang, tapi apa, Dena kini menoleh pada pria yang kini tersenyum manis kepadanya.
" namaku Ardian airlangga nuh, panggil saja Angga, itu nomorku" ucap sang dokter.
" a, iya, trimakasih dokter Angga" ucap Dena.
Dena, Dena, hoby banget sih bikin masalah, masalah yang sebelumnya saja belum di cek list, e,, kamu malah bikin daftar masalah baru, tapi Alhamdulillah den, bersyukur lah saat kamu memiliki masalah, lho kok gitu? iya karena itu artinya kamu masih hidup...
sabar pak dosen, sabar, perjuangan memang sudah lama di mulai, tapi sepertinya masalah yang baru, baru saja di mulai, siapkan amunisi yang banyak pak dosen, karena ucapan papa pak dosen memang layak untuk di tindak lanjuti... hehehe... peace...
trimakasih, maaf baru update, semoga selalu suka, BarokAllah.
__ADS_1