Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
penolakan Dena.


__ADS_3

saat Anisa melakukan panggilan lewat video Galang merasa tak nyaman untuk menerima nya, karena pasti hal itu bisa menumbuhkan benih- benih yang pada dasarnya tak ingin Galang menyemainya apalagi memberinya pupuk agar tumbuh subur sungguh hal itu tak terbesit dalam pikirannya, ia ingin membasmi nya perlahan jika seandainya benih- benih rasa itu ternyata tumbuh dalam diri Anisa untuk dirinya.


Galang bukan ingin menolak panggilan dari Anisa, tapi dia hanya membiarkan sampai panggilan video dari Anisa itu berakhir, sama aja dong lang!!namun saat Galang mengunci layar handphone nya, rupanya sang Papa melihatnya.


" nggak di matiin kok pa, Galang belum sempat menjawabnya tapi keburu di matiin sama Anisa" ucap Galang pada sang Papa.


" telepon balik dong, mungkin dia mau bicara sesuatau yang penting sama kamu" ucap sang Papa.


" iya nanti pa, Galang mau rebahan dulu ya di situ"Galang menunjuk pada sofa panjang yang ada di balkon Kamar nya.


"Papa boleh join nggak"


"kok join pa, nanti Anisa canggung waktu ngobrol sama Galang kalau ada Papa" ucap Galang secara halus menolak keinginan papanya, padahal bukan itu alasannya, melinkan dia memang tidak berniat untuk menghubungi Anisa balik.


" ya udah Papa, ngobrol sama mama mu aja deh, Papa tinggal ya" tanpa menunggu jawaban Galang sang Papa pun berlalu.


" ngapain juga nelponin dia, mending cari ide biar Anisa mundur dari perjodohan ini" Galang merebahkan tubuhnya.


______


______


______


sementara itu di Kamar nya Anisa sedang duduk di ranjang nya.


" kok, nggak di angkat sih mas, kamu lagi ngapain, aku khawatir sama kamu, atau jangan- jangan dia lagi sama kekasihnya ya, makanya telepon ku nggak di angkat" saat sedang merenung tiba- tiba handphone nya berdering.


" iya, apa ada info tentang gadis yang bernama Adreena itu? " tanya Anisa pada orang di sambungan telepon nya.


" gadis itu kuliah di universitas yang sama dimana mas Galang mengajar mbak" jawab laki- laki di seberang sana.


" trimakasih info nya ric, kamu cari tau dimana alamat rumah nya ya, lalu segera hubungi saya jika sudah berhasil mendapatkan alamatnya"


" baik mbak, untuk saat ini hanya itu info dari saya" panggilan berakhir.


" rupanya dia mahasiswa di kampus mu mas, maaf mas jika caraku membuatmu membenci ku, aku hanya ingin membahagiakan ke dua orang tua ku yang sangat menginginkan ku untuk segera melepas masa kesendirian ku ini dan kamu yang mereka inginkan untuk menjadi pendamping Hidupku, walau sejujurnya aku pun meng iya kan ke inginan mereka, karena aku sudah jatuh hati padamu mas, tapi kamu ternyata sudah memiliki kekasih ya, tak mengapa mas, selama belum terucap ijab qabul dan sah,kamu masih bisa ku perjuangkan mas"

__ADS_1


Anisa keluar rumah mengendarai Mobil nya seorang diri, ia berniat untuk ke resto nya, sebuah notifikasi masuk, ia meraih handphone nya.


nampak Anisa tersenyum membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Eric bodyguard nya.


" apa aku temuin aja di rumah nya langsung ya, tapi kapan? Anisa melihat jam di tangannya, hampir pukul Lima sore, ah rasa nya kurang sopan kalau aku bertamu menjelang magrib begini" Anisa pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju resto nya, ia akan menemui Dena esok hari saja.


Ke esokan hari nya di kampus Dena.


" langsung pulang den" tanya Anita.


" iya nit,nggak ada kegiatan lagi kan, gue capek banget nih, pingin istirahat di rumah" jawab Dena yang sudah duduk di atas scooter matic nya.


"gue duluan ya nit, hati- hati banyak copet di pasar" ucap Dena lalu Berlalu.


tiga puluh menit kemudian Dena sudah tiba di gang menuju rumah nya, saat akan memasuki gang Kecil itu Dena melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam nampak terparkir di situ.


" mobil siapa, mirip sama lexus nya pak Galang deh, tapi kan pak Galang masih di kampus tadi waktu gue pulang,ah Den! yang punya mobil kayak gitu kan banyak bukan pak Galang aja" Dena tak terlalu memperhatikan kendaraan yang terparkir itu,ia pun segera melajukan roda duanya.


saat tiba di depan rumah nya, Dena melihat ada sepasang sepatu wanita dan dia juga mendengar suara sang ibu yang nampak sedang berbicara dengan tamunya.


" siapa ya, tumben ada orang kaya singgah di rumah kami, kecuali pak Galang kan"pikir Dena.


waalaikummusalam nduk.


Dena mencium punggung tangan ibu nya, Dena tinggal dulu ya bu" langkah Dena terhenti mendengar ucapan sang ibu.


"lho kok pergi nduk, mbak ini ada Perlu lho sama kamu, kok main pergi aja, sini duduk biar ibu buatkan minuman hangat dulu ya" ibu Dena beranjak dari tempat duduk nya, meninggalkan Dena dan Anisa yang masih belum saling menyapa.


" maaf mengganggu waktu istirahat mu dik, kamu pasti bertanya- tanya kan, siapa saya dan apa tujuan saya sehingga saya sampai menemui mu di sini"ucap Anisa dan Dena langsung menatap nya dengan tersenyum.


" saya tau siapa tante tapi tidak dengan tujuan tante ke rumah saya " jawab Dena.


" oh, rupanya mas Galang sudah bercerita banyak ya tentang saya kepada adik"Anisa berbicara sangat lembut terhadap Dena, namun Dena sangat tidak menyukai nada bicara Anisa itu, ia jadi teringat betapa manja nya Anisa terhadap Galang, sangat jauh berbeda dengan dirinya saat berbicara, kalau kata ibu Dena sih"gadis jowo kok ora eneng kalem- kalem e, kasar nduk"( gadis jawa kok nggak ada lembut- lembut nya, kasar nak) .


" nama saya Adreena, bukan adik


" ucap Dena ketus.

__ADS_1


"iya, Dena" ada jedah beberapa menit sebelum Anisa melanjutkan kalimat nya.


"kamu pasti nya sudah mengetahui kan tentang hubungan saya dengan mas Galang itu seperti apa? " tanya Anisa.


"saya tau kalian dijodohkan" jawab Anisa.


" hanya itu yang kamu tau" tanya Anisa lagi.


" saya tidak terlalu kepo dengan kehidupan orang,apalagi itu tidak ada hubungannya sama saya dan tidak ada untungnya juga buat saya, sama sekali saya tidak tertarik"ucap Dena masih dengan nada kasar.


" tapi kedatangan saya kemari ada hubungannya sama kamu Dena" ucap Anisa.


Dena memasatkan pandangannya pada Anisa.


"apa yang ingin tante tau tentang saya" tanya Dena.


" lebih spesifiknya tentang apa hubungan mu dengan mas Galang " ucap Anisa lagi.


" hubungan saya sama pak Galang, hanya lah antara dosen dan mahasiswi nya saja"


" tapi saya rasa lebih dari sekedar itu"timpal Anisa.


" dari mama tante bisa menyimpulkan seperti itu" tanya Dena.


" saya tau, dan saya mohon jauhi mas Galang" ucapan Anisa bagaikan petir di teriknya panas mentari, menggelegar dan menyambar apa yang ingin di sambar nya. Dena tersentak namun dia masih dapat menguasai Perasaan nya.


" kalau saya tidak mau bagaimana?" tanya Dena dan pertanyaan itu sanggup merubah ekspresi wajah Anisa, Anisa pikir akan sangat mudah mengintimidasi Dena yang hanya seorang mahasiswi di kampus Galang itu namun ternyata ia salah Dena memang sesuai dengan apa yang terlihat pada cover nya, nggak ada tuh pada diri Dena yang kata orang- orang " Krispy di luar lembut di dalam, kalau Dena ini sih tipe-tipe luar dalam Krispy ya... hehehe.


" perjuangan mu akan sangat berat adik, panjang dan berliku,kerikil nya sangat tajam, hati mu akan sering tergores luka jika kamu memaksa meneruskan hubungan mu dengan mas Galang"ucap Anisa, walaupun hati nya bergemuruh atas ucapan Dena tadi, namun Anisa adalah wanita dewasa dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang baik sehingga kalimat yang terlontar dari bibirnya senantiasa ia jaga agar tak menyinggung lawan bicara nya.


" tante benar, perjuangan saya memang akan sangat berat dan berliku dan saya nggak akan sanggup jika berjuang seorang diri, namun hal itu akan Terasa ringan dan lebih indah karena pak Galang berjanji akan selalu memperjuangkan saya,bukan hanya sekedar berjuang bersama"


"hehehe, good job Dena, tetap semangat ya"


'


'

__ADS_1


'



__ADS_2