Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
pasrah tapi tak rela.


__ADS_3

Galang dan Anisa masih belum beranjak dari duduknya masing-masing, Anisa menoleh kepada Galang yang hanya diam sedari tadi, menunggu keputusan yang akan di ambil oleh dirinya.


" maafkan aku mas sudah membohongi kamu dan kedua orang tua mu, sungguh itu di luar kendaliku,kamu tau kehidupan disana sangat lah bebas mas, tapi aku melakukan itu hanya dengan Brian mas tidak ada pria lain lagi setelah dia" ucap Anisa mencoba mencari simpati Galang.


" jangan mencari- cari alibi untuk membenarkan kesalahan mu Anisa, bukankah dirimu dibekali dengan segala macam budaya, tata krama, adab susila yang menjungjung tinggi nilai- nilai adat ketimuran, seharusnya kamu bisa mengendalikan dirimu, banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk menghindari perbuatan yang menjijikkan itu nisa,dan iya kamu tidak perlu bersusah payah menjelaskan kepadaku tentang hal itu, aku sudah tidak peduli,apakah kamu melakukan nya hanya dengan dia atau lebih banyak lagi dia, dia yang lainnya, itu sudah bukan urusan ku lagi"ucap Galang tanpa melihat kepada Anisa.


" sebegitu jijik kah kamu kepada ku mas, hingga menatap wajahku saja kau tak mau" lirih Anisa yang hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Galang.


" aku bukan manusia suci dan sempurna nisa, jadi aku tak pantas untuk memandang hina kepadamu, aku tidak jijik dengan mu tapi aku hanya jijik dengan kelakuan mu, aku tidak munafik bahwa sebagai pri normal aku memang menginginkan jika aku lah laki- laki pertama yang akan menyentuh istriku nanti, tapi rupanya Allah kabulkan keinginan ku itu tapi bukan dengan dirimu, karena apa? " Galang tak meneruskan ucapannya, ia angkat kedua tangan didepan dadanya.


" apa semua harus berakhir seperti ini mas, tidak adakah kesempatan kedua untuk ku" tanya Anisa lagi, berharap Galang berubah pikiran, namun lagi- lagi Galang menggelengkan kepalanya,


" kamu yang mengakhiri nya nisa, maka teruskanlah oleh mu sendiri, tapi maaf, aku tidak berkewajiban menemani perjuangan mu lagi, lanjutkan lah hidupmu dengan pria yang memang sangat menginginkan dirimu" imbuh Galang.


Anisa menghela nafasnya panjang lalu ia hembuskan perlahan,


" baiklah mas, aku akui kesalahan sepenuhnya ada pada diriku dan aku tidak akan merugikan keluarga mu sedikit pun, aku sendiri yang akan datang kerumahmu untuk membatalkan perjodohan ini" ucap Anisa sembari menyeka air mata yang mulai membasahi pipi nya.


" trimakasih,aku tunggu secepatnya, kamu wanita baik, hanya saja kamu salah dalam memilih lingkungan dan teman, temui lah lelakimu itu, aku lihat dia sangat mencintai mu, jangan merawat luka mu seorang diri, jika ada pilihan merawat nya bersama- sama, endingnya jauh lebih bahagia, oke, aku pamit " ucap Galang kemudian berlalu meninggalkan Anisa yang duduk terpekur meratapi kegagalan cinta dan rencana pernikahannya yang sudah di ambang pintu itu.


Galang sudah duduk di balik kemudinya, satu tujuan kini adalah menemui Dena, ia ingin segera memberi tau sang pujaan hati tentang kabar bahagia ini, Galang menepikan mobilnya di depan toko bunga, ia melangkah dengan senyum yang terukir di bibirnya, setelah mendapatkan apa yang di inginkan, satu buket bunga berukuran sedang ada di tangannya kini,


" hmm, harum, Dena pasti sangat menyukai ini" gumamnya, lalu mulai melajukkan lexus hitamnya menuju kerumah Adreena.

__ADS_1


mobil Galang berhenti di depan gang rumah Dena, ia sedikit ragu,


" Dena ada di rumah nggak ya,, apa aku telpon aja, tapi nggak usah lah, bukan kejutan dong namanya kalau dia udah tau duluan" Galang pun memasukkan ponselnya ke saku celananya kembali, ia keluar dari mobilnya dengan satu tangan dibelakang membawa satu buket bunga lily putih kesukaan Dena.


Galang tak menyadari jika di depan kendaraan nya tadi ternyata terpakir Hyundai santa fe milik dokter Angga yang ternyata kembali menemui Dena setelah urusan nya di rumah sakit selesai dan kini sang dokter tengah duduk santai di teras samping rumah Dena, dia seorang diri, mungkin Dena sedang membuatkan minuman untuk sang dokter.


Senyum di wajah Galang mengembang sempurna, kayak adonan yang di campur margarin ya lang, hehehe, namun senyuman itu seketika sirna dan


langkah kaki nya tiba- tiba saja stuck di tempat, mana kala ia melihat ada seorang pria yang kini tengah duduk bersama Dena, dia sedang bersenda gurau, tertawa, entah apa yang tengah mereka perbincangkan, tampak akrab sekali.


" dia siapa? " bathin Galang lalu mundur beberapa langkah, bunga yang ada di tangannya meluruh ke tanah, bagaikan perasaan nya yang kini berubah nestapa,,


ternyata memang benar untung datang tak tepat waktu dan tak ada kebahagiaan yang harus di rayakannya atas batalnya perjodohan dirinya dan Anisa,,


" ternyata berpisah dengan Anisa tetap tak bisa membuatku untuk bersanding dengan mu Dena, mungkin seperti inilah rasa kecewa yang kau rasakan hari itu saat melihat ku bersama Anisa, tapi aku tak semesra kamu dan dia Dena, apa ini karma untukku Allah, aku rela Allah, tapi aku nggak ikhlas jika harus melepaskan Dena, please Allah jadikan dia jodoh dunia dan akhirat untuk hamba,, dunia nya aja belum lang, kok udah ngomongin untuk yang di akhirat, perjuangin dulu untuk dunia Baru setelahnya beribadah bersama agar bahagia sampai ke jannah Nya,, aamiin.


tapi gimana ya pak dosen satu ini katanya rela tapi kok nggak ikhlas, pasrah tapi tak rela itu namanya pak dos,,,


Galang melajukkan mobilnya beberapa meter kedepan, ia ingin tau siapa pria yang tengah dekat dengan Dena itu, tak lama kemudian dari dalam lorong rumah Dena pria itu muncul dan dia tak sendiri, ada Dena di samping nya, tapi bukan hal itu yang membuat Galang tersenyum manis kini, tapi lihatlah Dena yang tengah menggemgam satu buket bunga lili putih yang tadi di tinggalkan oleh Galang begitu saja.


" kamu suka sama bunga itu? " tanya Angga terhadap Dena yang kini tampak menciumi bunga tersebut berkali- kali.


" suka banget dok, ini bunga favorit saya, warna nya yang putih melambangkan kesucian, hmm, harumnya" ucap Dena kembali mencium kelopak bunga tersebut.

__ADS_1


" tapi itu sudah terjatuh di tanah Dena, saya bisa membelikan yang baru untuk kamu" ucap Angga lagi.


" beneran dok, kapan? tanya Dena masih memperhatikan bunga putih yang teronggok di atas tanah sebelum nya tadi.


" kamu maunya kapan? " tanya Angga sumringah sekali.


Dena tersenyum, lalu mendekatkan bunga itu kepada sang dokter.


" trimakasih dok,saya suka sekali, kapan saja boleh" ucap Dena menebarkan harum bunga lili di hidung sang dokter.


" cantik seperti kamu Dena" gumam sang dokter yang samar-samar di dengar oleh Dena.


" dokter bilang apa tadi? " tanya Dena menegaskan.


" oh itu, bunga nya cantik seperti kamu" jawab Angga, Dena memalingkan wajahnya, tak ada getar-getar aneh yang muncul ketika sang dokter memujinya tadi, hmm, belum aja mungkin den,,


" trimakasih, dokter Angga yang tampan dan baik hati" ucap Dena kemudian berlalu terlebih dulu meninggalkan sang dokter yang kini tengah senyum- senyum sendiri seraya membuka pintu Mobilnya.


trimakasih, semoga selalu suka,


BarokAllah


see u....

__ADS_1



__ADS_2