
Galang turun ke lantai satu, ia segera menuju kedapur.
setelah menyiapkan sebagian bahan- bahan untuk membuat nasi goreng spesial permintaan Dena, Galang pun mulai memasak bahan makanan tersebut, setelah matang ia menyiapkan nya diatas piring.
" hmm, sedap" gumamnya mencium aroma masakannya itu.
ia berjalan cepat menuju kamar nya, dimana sang istri tengah menantikan kedatangannya.
"eh, eh, eh" Galang hampir saja menjatuhkan nampan yang berisi satu porsi nasi goreng juga oange juice nya.
" mama" ucapnya.
" kamu masak sendiri? kenapa nggak manggil mama atau bibi aja" ucap sang mama.
" Dena maunya Galang yang masakin nya mah, nggak mau masakan orang lain, mama sekalipun " jawab Galang lalu melangkah.
" ya, ya, ya, mama ngerti, ya udah buruan naik, nanti keburu tidur tuh istri kamu " ucap sang mama kemudian berlalu.
Galang kembali melangkah, namun sang mama memanggilnya kembali.
" tadi Ardi ke kamar mu, ngapain lang? " tanya sang mama.
Galang berhenti, lalu menoleh.
" Ardi, kapan ma? "
" tadi sekitar satu jam yang lalu" ucap sang mama menambahkan.
" oh, mungkin Galang sedang tidur ma, coba nanti Galang tanya ke Dena aja"
Galang segera membuka pintu kamar nya.
" udah mas" ucap Dena menghampiri Galang.
" mau di suapin? "tanya Galang.
" makan sendiri aja, bisa kok" tolak Dena.
" Dena, tadi Ardi kesini ya? " tanya Galang saat Dena sudah menyelesaikan makannya.
"oh, iya mas, katanya mas ditunggu di pos security" ucap Dena, seraya merapikan sisa makanan nya.
" mas temuin Ardi dulu ya" ucap Galang seraya mengusap puncak kepala Dena pelan.
Dena mengangguk, setelah Galang sudah ada pada tangga terakhir, Dena pun memutuskan untuk turun ke bawah saja, ia memilih duduk di gazebo di taman samping rumah mertuanya ini.
sementara Galang sudah duduk berdua dengan Ardi, di ruangan kerja nya.
" jadi teryata temennya mbak Dena itu didukung oleh sekretaris nya mas Galang dikantor, yang ternyata sudah resign dari kantor mas Galang"ucap Ardi mulai memberi informasi nya.
" maksud mu Olivia? " tanya Galang hampir tak percaya.
" iya mas, Olivia, yang kini tengah dicari keberadaan nya oleh orang-orang kepercayaan nya bapak"
" lalu bagaimana dengan Anita? " tanya Galang lagi.
" Anita sudah menyerahkan diri ke kantor polisi mas"
Galang menatap tak percaya akan penjelasan Ardi.
" kamu ketemu sama Anita? " tanya Galang lagi.
" iya mas"
" terus, dia ada ngomong sesuatu nggak sama kamu, pesan buat Dena mungkin? "
" ada mas, dia bilang dia menyesali perbuatannya, tapi dia juga tidak menuntut mbak Dena untuk memaafkan nya, biarlah dia menerima akibat dari kebodohannya "
Galang diam sejenak.
" tolong berita ini kita rahasiakan dulu, jangan sampai Dena dan keluarga nya tau, saya takut Dena syock,dan akan berpengaruh pada perkembangan calon bayi kami, bisa Di? "
"bisa mas, makanya tadi saya nggak bilang, saya cuma bilang jika ada hal yang penting yang harus saya sampaikan"
" terimakasih infonya Di, apa bapak masih dikantor? " tanya nya.
" masih mas, menyelesaikan urusan dengan tuan Ismail " ucap Ardi.
" ah, iya aku melupakan nya, bagaimana dengan pekerjaan kita yang itu"
" tuan Ismail memilih pulang ke negara nya mas, pekerjaan sepenuhnya ia serahkan pada perusahaan mas Galang"
weh, ternyata udah balek Ismail bin mail,,
salam untuk upin ipin dan kak ross ya, tanyakan kapan dia nak kawin,same abang iss, atau same abang badrul, cucu tuk alang,,,hehehe
__ADS_1
setelah percakapan nya dengan Ardi selesai, Galang kembali naik kekamar nya.
" Dena, kamu dimana? " tanya nya saat ia tak mendapati sang istri dikamar nya.
" nggak ada juga" gumamnya, menutup pintu kamar mandinya.
Galang mengganti pakaiannya dengan pakaian casual, mengenakan celana chargo hitam panjang selutut dan atasan kaus polo berwarna putih Galang tampak semakin tampan, ia meraih kunci mobilnya, lalu bergegas turun.
" ma, lihat Dena nggak? " tanya nya saat melihat sang mama melintas dari kamarnya.
" kayaknya tadi ditaman samping deh lang" ucap sang mama yang kini berjalan kearahnya.
" mau kemana, ganteng banget? " tanya sang mama seraya mengitari tubuh putra semata wayangnya itu.
" keluar ma, suntuk kemarin beberapa hari di rumah sakit, sekalian ajakin Dena" ucap Galang.
" bagus itu, sering- sering ajakin istri kamu healing, bumil dilarang stress " ucap sang mama, mendorong bahu Galang pelan.
Galang tersenyum melambaikan tangannya.
ia berjalan ke arah taman samping rumahnya, dan benar saja, ternyata Dena sedang rebahan di gazebo ditemani kucing persia putihnya.
" Hi, cantik lagi ngobrolin apa sama si mpuss? " ucap Galang memeluk sang istri dari belakang nya.
" mas, ngagetin aja ih" ucap Dena melepaskan pelukan sang suami.
" kamu kaget ya nak, maafin ayah ya" ucapnya mengelus perut Dena pelan.
Dena memindahi penampilan suaminya ini.
" kenapa?,mas memang ganteng, nggak usah dilihatin terus, nanti kamu nggak bisa tidur lho" goda Galang.
" gampang kalau nggak bisa tidur, tinggal peluk aja, kan sekarang orang nya selalu ada bersamaku" ucap Dena memanjang kan kakinya.
" cape nggak? " tanya Galang.
" nggak, cuma bosen aja" jawab Dena.
" keluar mau? "
" kemana? "
" kemanapun, mas akan turuti, kita healing ya " ucap Galang mengusap pipi Dena dengan penuh rasa sayang.
" masyaa Allah cantik nya istri soleha ku" ucap Galang memberikan satu tangannya agar Dena menggandeng nya.
" terimakasih calon ayah" ucap Dena menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Galang.
" Alhamdulillah Ya Allah, aku ikut bahagia dengan kebahagiaan yang kini mereka rasakan, terimakasih Ya Robb" ucap Ryanti yang tengah berdiri di depan kamarnya, melihat kebawah dimana Galang dan Dena melangkah keluar.
" Di, saya mau keluar sama Dena, nanti kalau bapak nanya, tolong sampaikan ya" ucap Galang.
" Hati-hati mas, jangan lupa oleh-oleh nya"
" iya, bolu talas kan? " tebak Galang, ia selalu paham dengan makanan favorit sopir kepercayaan keluarga nya ini,, iya bolu talas, oleh- oleh dari kota hujan, entah kenapa si Ardi ini suka sekali dengan makanan yang terbuat dari olahan tepung talas itu, padahal dia bukan berasal dari kota dimana makanan itu berasal kan, apa mungkin si Ardi ini memiliki kekasih yang tinggal disana ya, atau jangan- jangan istri siri nya?
" ngawur sampean mas, saya nggak mau ah nikah diam- diam, apalagi yang pakai siri- siri an, wegah, kalau nikah ya harus tercatat di catatan sipil dan pastinya harus sah menurut agama, itu yang paling penting mas, memangnya kalau saya suka sama suatu makanan, syarat nya harus memiliki kekasih atau istri yang asalnya sama dengan makanan itu, lah sampean aja nggak suka kan sama gaplek, padahal kan itu makanan khas dari daerahnya mbak Dena, iya kan mbak? "tanya Ardi sebelum tuan dan nona mudanya itu berlalu.
" itu lain Di, kalau singkong rebus saya masih bisa lah ya mentolerir nya, lah ini gaplek, singkong enak- enak kok susah- susah dijemur, di hujan- hujan kan sampai ireng, lalu direbus baru dimakan, ribet" ucap Galang yang ternyata mendapat cubitan tak mesra dari sang istri.
" lalu apa bedanya sama tempoyak mas? " tanya Ardi menyebut makanan kesukaan Galang.
" tempoyak, wuih enak banget itu Di, mahal lho harganya" jawab Galang.
" iya, Sama-sama dibusukkan dulu, baru diolah iya kan, 11,12 lah sama gaplek"iya kan mas? " ucap Ardi lagi.
" iya, iya, saya nggak akan menang kalau berdebat sama kamu, mau berapa kotak bolu teles nya"
" talas mas, bukan teles" protes Dena.
" o,, beda ya? " tanya Galang yang memang tak tau.
" iya lah beda, talas itu umbi-umbian, kalau teles itu basah" jawab Dena ketus.
" o ,, ngono to, ngerti, ngerti, talas ya Di, berapa kotak? "tanya nya lagi kepada Ardi.
Ardi mengangkat satu jari telunjuknya.
Galang membuka pintu untuk Dena, setelah itu barulah ia masuk kedalam lexus hitamnya.
" kemana, belanja, makan atau jalan- jalan dipantai? " tanya Galang saat mereka sudah melalui separuh perjalanan.
" makan aja deh mas" ucap Dena tersenyum.
" sepertinya mulai sekarang aku nggak perlu lagi deh, nawarin yang lainnya, yang dipilih pasti makan kan" bathin Galang.
__ADS_1
" iya, cari aman nya aja deh yah, ayah"
#tujuh bulanan#
pengajian tujuh bulanan sudah selesai digelar, dalam acara tadi, kedua calon orang tua masing-masing melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, dimana Galang mendapat giliran pertama dengan membacakan surah Yusuf, sedangkan Dena mendapat bagian membacakan surah maryam, kedua surah dalam Al-quran tersebut memang lazim dibacakan dalam prosesi tujuh bulanan.
Galang segera membawa Dena masuk kedalam kamar nya, mana kala ia melihat sang istri dengan perutnya yang sudah membuncit itu tampak kedinginan, ia dapat melihat dari bibir nya yang bergetar khas orang kedinginan.
Galang meraih handuk yang ada pada kapstok di dinding kamar nya.
" pakai ini ya, mas akan ambilkan pakaian ganti untuk mu" ucap Galang melilitkan handuk tersebut di tubuh sang istri.
" kan udah mas bilangin, nggak usah pakai acara mandi air tujuh sumur segala, jadinya kedinginan kan, mana malam hari lagi acaranya" ucap Galang yang mulai memakaikan satu persatu pakaian ke tubuh Dena.
" tapi itu keinginan ku dari gadis belia mas, kayak nya seru, dan ternyata memang seseru itu"ucap Dena.
setelan joger panjang dan juga tebal berwarna navy kini sudah membalut tubuh Dena.
" masih dingin? " tanya Galang dengan segelas coklat panas di tangannya.
Dena mengangguk, padahal Galang sudah membalut nya dengan selimut bulu tebal, namun entah kenapa masih saja dingin.
" mau dipeluk? " ucap Galang yang segera naik keranjang nya.
ia segera memeluk Dena dari samping, mendekap erat, mengusap perut buncit nya yang Sesekali menunjukkan reaksi.
" apa si baby kedinginan juga? " tanya nya seraya mencium perut sang istri.
" ya nggak sampai segitunya juga mas" ucap Dena yang malah menyembunyikan kepalanya di dalam ketiak Galang.
"ya tempat ternyaman seorang istri adalah disamping suaminya, mau diketiak kah, di dada kah atau di dekapan nya, ahh, itu sih pasti ya,,,
sarang heo pak suami,,,
" mas gimana Olivia sekretaris mu dikantor, apa dia udah menikah? " tanya Dena, dia tidak tau bahwa si olive oil itu kini tengah mendekam dihotel prodeo mempertanggung jawab kan perbuatannya bersama dengan Anita.
" a,, Olivia ya? ngapain nanyain dia, nggak penting " ucap Galang kembali menutupi kaki Dena yang sedikit tersingkap selimut nya.
" kok nggak penting, dia masih kerja dikantor kan, sebagai sekretaris kamu? " tanya Dena penasaran.
" nggak, dia udah lama resign dari kantor"jawab Galang seraya menyeruput coklat panasnya.
"udah lama? , kok kamu nggak cerita sih sama aku" protes Dena yang kini mendongakkan kepalanya, lalu merubah posisi duduknya.
" pasti susah ya, kamu hebat sayang, terimakasih sudah mengandung anak mas" ucap Galang, coba mengalihkan pertanyaan Dena yang belum dijawab nya.
" nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, aku bukan anak PAUD yang bisa di kibulin " ucap Dena menggeser duduknya menjauhi sang suami.
" sejak kamu hamil, tidak semua cerita harus mas ceritakan sama kamu, semua harus di saring dulu, dan untuk Olivia, mas rasa itu bukanlah hal yang penting buat kamu, udah ya,stop bahas dia, oke? " pinta Galang membelai pipi Dena lalu mencium nya singkat.
walaupun ada sedikit kecewa karena tanya nya tak menemui jawab, namun Dena tak marah dan dia akhirnya tertidur dalam pelukan Galang.
" aku sayang kamu Dena, kemarin, hari ini, besok dan selamanya " ucapnya, lalu merebahkan tubuh Dena, menyelimuti nya hingga sebatas dada, namun sebelum itu ia pegang perut sang istri yang kini tengah mengandung buah cinta mereka.
" anakku sayang, terimakasih sudah hadir dalam rahim bunda mu, jangan nyusahin bunda ya, kalau mau launching,, ketuk pintu nya pelan- pelan,, karena bunda adalah pintu syurga mu" ucap Galang lalu mencium perut sang istri, dan seperti telah memiliki ikatan bathin dengan sang ayah secara tiba-tiba janin dalam perut Dena bergerak pelan, Galang tersenyum.
" anak pinter, denger ya "ucapnya meletakkan satu telinga nya pada perut sang istri.
dua bulan telah berlalu setelah acara tujuh bulanan Dena, pagi itu ia terbangun, kehamilan nya yang sudah memasuki trimester akhir, membuat ruang geraknya terbatasi, Galang sudah menjadi suami siaga sejak beberapa minggu belakangan ini, sementara urusan kantor kembali di handle oleh sang papa, untuk kafe ia mempercayakan kepada dua karyawan kepercayaan nya disana yaitu, Dimas dan Angga.
Dena mengerjapkan matanya,
" mas bangun, aku mau buang air kecil" ucapnya menggoyangkan tubuh kekar Dena yang langsung menggeliat saat mendengar suara lembut Dena.
" ayo" ucap Galang lalu membantu Dena untuk bangkit dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Galang tak pernah sekali pun membiarkan Dena berjalan sendirian, kemanapun ia akan selalu mendampingi, wah siaga sekali ya ayah,,,
" udah? " tanya Galang saat Dena membenahi pakaian nya.
" tapi aku mau buang air kecil lagi mas" ucap Dena yang mulai merasakan mulas di pinggangnya.
" kenapa lang? " tanya sang mama, Ryanti berniat memanggil keduanya, karena waktu sarapan sudah tiba namun kedua nya tak kunjung hadir, namun saat ia masuk kedalam kamar Galang, ia mendengar suara rintihan dari dalam kamar mandi.
" itu bukan buang air kecil sayang, itu ketuban,kamu udah pecah ketuban, sejak kapan? kenapa nggak bilang sama mama, mau lahiran ini lang" ucap sang mama, lalu mulai sibuk menyiapkan semua perlengkapan yang memang sudah di siapakan oleh Galang beberapa hari belakang ini.
" ke rumah sakit sekarang " ucap Ryanti, Galang segera membawa Dena kerumah sakit, dengan didampingi papa dan mamanya, sementara ayah dan ibu Dena sedang dijemput oleh Dimas.
" sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu " bisik Galang pada perut sang istri.
jazakumullah khoiron,,
see u,,,
__ADS_1