Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
terciduk.....


__ADS_3

Galang sangat faham siapa pemilik suara lembut itu, ya dia adalah Anisa mantan calon istrinya, tapi itu bagi Galang ya, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Anisa, karena sampai saat ini pun Galang belum bertandang kerumahnya untuk membatalkan perjodohan mereka,, banyak nya masalah yang menghampiri dan harus segera di selesaikan membuat Galang lupa pada rencana utamany ini, barulah ketika sang mantan calon istri nya itu datang ke ruangannya Galang baru ingat.


" kenapa ekspresi mu seperti itu mas, aku bukan pencuri yang sengaja masuk ke ruanganmu ini mas, tolong wajah mu itu di kondisi kan, aku nggak nyaman dengan tatapan matamu itu" ucap Anisa, namun ia yang masih berdiri di ambang pintu itu belum menyadari bahwa ternyata Galang tidak sendiri, karena ada Dena yang tengah tertidur pulas di peraduan milik sanggrama Wijaya, hehehe nama Galang nya di skip dulu ya, kalian tau siapa itu sanggrama Wijaya gaes?hmm, beliau adalah pendiri dan maharaja pertama Kekaisaran majapahit... kalau yang ini kan prof. Galang aditama Wijaya, ya nggak apa- apa lah nyangkut- nyangkut dikit ada wijaya, Wijaya nya...


Galang masih diam menatap tajam kepada Anisa yang masih berdiri termangu di tempatnya.


" kamu nggak nyuruh aku buat masuk mas? " tanya Anisa lagi, kemudian ia pun melangkah pelan menghampiri Galang.


" untuk apa aku mempersilahkan mu masuk, bukan kah kamu tidak membutuhkan itu, kamu bisa dengan mudah dan sesuka hatimu masuk ke dalam kafe dan ruangan pribadiku ini bukan? kamu kan sudah menempatkan diri sebagai calon nyonya wijaya di tempat ini" ucap Galang yang sarat akan ejekan kepada Anisa.


" jika melihat dari nada bicara mu sepertinya waktu memang berputar lebih lama dari biasanya ya mas, sehingga dirimu masih bisa berbicara seperti itu terhadap ku" ucap Anisa yang kini mulai melangkah mendekati Galang, namun langkah kakinya terhenti ketika tak sengaja ia melihat ada seorang perempuan tengah tertidur pulas di atas single bed milik Galang.


Anisa mengerutkan dahinya, lalu senyum tipis tersungging di bibir nya.


" apa itu Adreena mas, apa yang sudah kalian lakukan di sini? " tanya Anisa yang membuat Galang berdiri dan kini matanya menatap nya lang kepada Anisa.


" jaga cara bicara mu Anisa, kamu sadar siapa dan darimana dirimu berasal, bahkan kau tau pintu ini terbuka lebar saat dirimu akan memasukinya, lalu analisa mu yang mana yang melatarbelakangi pertanyaan kotor mu itu? dan dari mana kamu mendapatkan kata- kata yang untuk hanya sekedar mendengarkan nya saja aku sudah jijik, tapi ternyata kalimat itu bisa keluar dari bibir kebangsawanan mu"ucap Galang yang masih menatap tajam ke arah Anisa.


" kenapa kamu harus marah mas, jika kalian memang tidak melakukan hal yang seperti aku tuduhkan seharusnya tidak begitu sikap mu atas pertanyaan ku barusan" Anisa tak peduli tatapan mata Galang yang penuh amarah kepadanya itu.


" cukup!! kamu sudah melewati batasan mu Anisa, sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan ku, sekarang!! ucap Galang dengan suara lantang, emosi yang membuncah membuatnya lupa bahwa disana ada Dena yang tengah tertidur, dan benar saja Dena yang lamat- lambat mendengar suara gaduh di ruangan Galang itupun tampak mengerjapkan matanya dan menggeliat kan tubuhnya perlahan, ia dapat melihat bahwa Galang tengah berdiri berhadapan entah dengan siapa, karena posisi Galang saat ini sedang memunggungi dirinya.


" pak Galang" Dena memanggil dengan suara parau nya.


Galang yang sadar jika telah berbicara kencang itupun kemudian menoleh.


" sayang" ucapnya lalu meraih air mineral di atas meja kerjanya dan memberikannya kepada Dena.


Dena belum menyadari jika Galang tengah bersitegang dengan Anisa.


" sudah bangun Adreena, gimana tidurnya nyenyak sekali pasti ya, di atas busa empuk, ruangan yang bersih, dan tentunya di temani pria tampan hasil dari merebut kekasih orang" ucap Anisa yang kini menyembul kan tubuhnya di samping Galang.


Dena menoleh kepada Galang, Galang tersenyum laku meraih satu tangannya.


" nggak usah takut dan tidak perlu menjawab pertanyaan nggak berbobot yang keluar dari mulut nya, selama bersama ku kamu aman" ucap Galang pelan di depan Dena.

__ADS_1


" apa kepentingan mu sehingga datang berkunjung ke kafe ku ini? " tanya Galang yang kini duduk di samping Dena.


sementara Dena tampak sedang merapikan pakaian dan rambutnya yang acak- acak kan .


" apa aku perlu menjelaskan nya kepada mu mas, apa sungguh om Wijaya belum menceritakan kan nya kepada mu tadi waktu kalian masih berada di rumah sakit? tanya Anisa masih ingin menunda- nunda waktu untuk menyampaikan kabar yang kurang menggembirakan bagi Galang itu.


" aku tidak suka berbasa- basi Anisa, langsung saja kepada pokok permasalahannya, tidak usah membuang- buang waktu,aku bukan pengangguran dengan segudang waktu untuk bersantai"ucap Galang datar.


" sebaiknya kamu segera pulang dan tanyakan langsung kepada om wijaya, aku rasa beliau akan sangat bisa merangkai kalimat- kalimat yang sejatinya adalah sebuah keterpurukan menjadi sebuah kalimat motivasi untuk dirimu mas, maaf aku tidak berkenan untuk menceritakan nya kepada mu, sejujurnya niatku menemuimu adalah untuk membicarakan hal itu, tapi ya sudahlah sepertinya kehadiran ku tak tepat waktu, maaf" ucap Anisa sekali lagi sebelum akhirnya ia pun melangkah pergi meninggalkan Galang dan juga Dena yang kini tengah memeluk guling di depannya.


" kamu laper" tanya Galang kepada Dena yang menyandarkan kepalanya pada guling yang di peluknya.


Dena mendongakkan kepalanya, lalu ia pun


tersenyum.


" banget, kenapa pak Galang membiarkan saya tidur di sini, nggak sopan ih, malu pak" ucap Dena yang kini beranjak dari tempatnya dan dia melihat jika di meja kerja Galang telah tersaji dua porsi makanan plus minuman dingin yang sepertinya sudah tidak dingin lagi itu,yang tampak mengembun pada sisi luar gelas nya.


" aku tau kamu lelah, maaf suara lantang ku yang membangunkanmu" ucap Galang mengusap puncak kepala Dena pelan.


keduanya lalu duduk Galang menarik piring di depan Dena.


" ck,lama pak, laper banget nih" rengek Dena, dan Galang dapat mendengar cacing- cacing bernyanyi keroncong di perut Dena.


" krukuk, krukuk,krukuk....


Dena tersenyum dengan kedua tangan yang menutupi perut nya.


" saya nggak bohong kan pak, bapak denger sendiri mereka sudah ber keroncong ria didalam sini" tunjuk Dena pada perutnya.


Galang lalu tertawa pelan, dia pun menunduk lalu mengusap perut Dena.


" sabar ya cing, makanan nya sedang dalam perjalanan menuju kelokasi anda" ucap Galang.


" iya cing, aku akan sabar untuk menyantap mu" jawab Dena terkekeh.

__ADS_1


mereka tak menyadari jika adegan mirip suami yang sedang berbicara kepada istrinya yang tengah hamil itu menjadi tontonan Dimas dan Angga yang melongo di depan pintu ruang kerja Galang.


Angga menoleh kepada Dimas, Dimas pun terkekeh hampir tak bersuara.


" opo maneh iki mas, rasanya pulang nanti aku harus mandi besar deh, mataku ternodai karena melihat adegan mereka ini, kalau kamu? " tanya Angga kepada Dimas, yang masih memperhatikan kelakuan tuan muda di depannya itu.


" kalau aku mau ber thaharoh saja ngga, mensucikan pikiran yang tiba-tiba ngeres gara- gara mas Galang " jawab Dimas.


" ehm, ehm, " Dimas memberanikan diri untuk membreak aktivitas 18 tahun keatas yang sebenarnya tidak sama dengan apa yang mereka sangkakan itu.


Galang segera berdiri," sejak kapan kalian berdiri di situ ha!! tanya nya.


" sejak tadi mas" jawab keduanya hampir bersamaan.


" kalau sejak tadi kenapa nggak langsung masuk saja, malah bengong di situ, awas ya kalau sampai kalian berpikir yang bukan- bukan, yang kalian lihat tidak seperti kenyataan nya" ucap Galang yang melangkah untuk mengambil nampan yang di pegang oleh Angga.


" kamu ngapain ikut ke atas Dim, emang di bawah nggak ada kerjaan ya? " tanya Galang yang heran akan kehadiran Dimas di samping Angga.


" saya mau mengantarkan laporan bulanan kafe mas, sebenarnya tadi mau saya titipin ke Angga, tapi sepertinya Angga sangat kuwalahan membawa pesanan mas Galang, jadinya saya putuskan untuk mengantarkan nya sendiri ke sini, maaf mengganggu mas" ucap Dimas, pada ujung kalimat nya.


" plakk!! Galang menimpuk tangan Dimas dengan map yang baru saja di terimanya dari Dimas.


" mengganggu apa maksud kamu ha!! sergah Galang kesal, pastilah imajinasi kedua karyawan nya ini sudah melanglang buana entah kemana.


" kita paham kok mas, ya sudah silahkan dilanjut mas" sontak Dimas dan Angga segera berbalik untuk mengambil langkah seribu,,


" mlayu ngga,, mlayu.... ucap Dimas si sela- sela langkah kakinya.


" Dimas, Angga,,, bulan ini gajih kalian di pending sampai kalian bisa mengakhiri masa jomblo kalian" ucap Galang yang tentu saja tak di dengar lagi oleh Dimas maupun Angga....


brrrhhh dasar karyawan uedddddaaaannnn....


hehehehe...


trimakasih, semoga selalu suka sampai tamat ya

__ADS_1


BarokAllah...



__ADS_2