
flashback
Galang tak tau harus membawa sekretarisny itu kemana,ia bingung, ia tak mengerti, dari gelagat yang ditunjukkan si Olivia tadi,dia mengeluh jika kepalanya pusing,lalu perutnya seperti ditusuk- tusuk katanya,
" dia sakit apa sih" ucap nya lirih, lalu ia berniat mencari tahu lewat internet saja, pasti disana dia akan menemukan jawab nya, Galang merogoh saku celananya,
" lho kok handphone ku nggak ada " gumamnya, lalu ia memeriksa saku jasnya, hasilnya pun sama, nggak ada juga,
" apa tertinggal ya, tapi dimana? " tanya Galang prustasi, saat dalam kebingungan itulah ia melihat sebuah tempat dan di halamannya terdapat banyak kendaraan dengan orang berlalu lalang, namun bukan itu yang menjadi perhatian Galang, tapi lihatlah,,
senyum manis terukir di wajah tampannya, saat ia melihat seorang pria paruh baya, mengenakan jas putih dengan stetoskop tergantung di lehernya nampak berjalan cepat masuk kedalam ruangan di dalam bangunan itu, tanpa melihat papan nama yang tertera di dinding bangunan tersebut, Galang bergegas turun dari mobilnya,lalu segera membawa Olivia masuk kedalam ruangan itu.
klinik bersalin Anugrah
"suster, suster" panggil Galang seraya membenarkan posisi Olivia yang berada dalam gendongannya.
seorang wanita berseragam serba putih menghampiri Galang.
" istrinya kenapa pak? " tanya wanita berseragam putih tersebut.
Galang membulatkan matanya,
"a, dia bukan,, " belum selesai Galang berucap, beberapa orang laki- laki dengan pakaian yang sama datang membawa brankar.
" bapak silahkan mengisi formulir pendaftaran nya, istri bapak pingsan, kami akan segera menangani nya, silahkan" ucap wanita tersebut.
sebenarnya Galang ingin sekali meluruskan kebengkokan informasi ini, tapi nyawa sang sekretaris seperti nya tengah dalam bahaya saat ini, biarlah nanti dia akan menjelaskan setelah keadaan Olivia sudah membaik, ya begitulah rencana Galang pada awalnya, tapi lihatlah ternyata kenyataan tak sesuai rencana apalagi harapan, saat ia tengah melakukan registrasi untuk Olivia,,
" pasien atas nama siapa pak? " tanya pegawai klinik tersebut.
" Olivia princilie alur" jawab Galang.
" usia? " tanyanya lagi.
Galang terdiam, dia mana pernah menanyakan perihal itu kepada Olivia, "nggak penting banget sih!! bathinnya.
" berapa usia istrinya pak? " tanya suster itu kembali.
" a, " Galang bingung harus menjawab apa, sungguh ia tak pandai mengira- ngira usia seseorang.
sang suster menggelengkan kepalanya, merasa miris dengan pria di depannya itu.
" baiklah, jika bapak tidak tau berapa usia istri bapak, kalau tanggal lahir nya pasti ingat kan? " tanya wanita berhijab mint itu terhadap Galang yang kini malah mengerutkan dahinya, bingung.
" nggak ingat juga pak?" tanya nya kembali.
"sebenarnya bapak ini suaminya atau bodyguard nya mbak yang tadi itu sih ditanyain identitas istrinya kok nggak tau semuanya " ucap wanita itu terhadap rekan kerjanya yang tengah sibuk dengan layar laptopnya.
" mungkin itu bukan istri sah nya " ucap wanita itu menimpali.
" kalau bukan istri sah nya lalu apanya,orang tadi kesininya cuma berdua dan si wanita itu ada dalam gendongannya lho Za, masa iya mereka cuma pasangan kekasih, terus ngapain kesini, mau aborsi? ,nauzubillah minzalik, dunia memang sudah semakin rentah ya Za, ganteng- ganteng ternyata buaya!! ucap wanita itu memandang kesal terhadap Galang.
"eh, udah ganti ya Sus, bukan ganteng- ganteng serigala lagi, hihihi"
" mungkin wanita itu adalah gundiknya, wajar saja kan kalau hal seperti itu tidak ada dalam daftar ingatan nya, bisa- bisa nanti istri sah nya yang ulang tahun ternyata yang di pajang photo gundik nya,Astaghfirullah, kalau gue sih emoh, datang hanya untuk urusan ranjang, biarpun ganteng dan tajir melintir, males banget kalau harus di sortir, ketar- ketir kayak lagi nungguin hujan redah e yang datang malah petir"ucap rekannya.
" apa bisa di skip aja, untuk data pasien yang itu, saya cuma tau namanya saja" ucap Galang lagi.
"astaghfirullah, istri bapak sedang tak sadarkan diri lho, kok bapak bisa ya dengan santainya mengatakan hal ini, tapi baiklah, data diri selanjutnya bisa dilengkapi nanti, silahkan menunggu di sana, nanti dokter akan memanggil anda" ucap wanita itu menunjuk pada kursi di bagian ruang tunggu dan disana sudah berjejer beberapa pasangan suami istri yang tengah menemani istrinya untuk memeriksakan kandungannya.
Galang melangkah mengikuti saran wanita tadi,
sebenarnya ia juga dongkol sekali dengan fitnahan wanita berseragam putih tadi, sepenak udele dewe menghakimi dirinya, seolah- olah dirinya ini lelaki brengsek yang hanya mau enaknya saja, sekelas predator, iya buaya kan predator lang, Galang.
__ADS_1
Galang duduk, ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya, lalu membuka dua kancing teratas pada hem putihnya.
" lama banget sih" gumam Galang lalu terpejam dan menyandarkan kepalanya.
" istrinya kenapa mas? " merasa ada yang menyapanya Galang pun membuka mata dan menoleh ke arah suara tersebut.
" nggak tau mas, tadi pingsan di kantor" jawab Galang, malas sekali ia menjelaskan bahwa Olivia itu bukanlah istrinya.
" kecapean an mungkin mas, biasa itu, istri saya dulu juga begitu waktu awal trimester pertama, tapi tenang mas, kalau sudah memasuki trimester ketiga biassnya udah nggak lagi, tinggal nunggu menetas alias launching nya saja" ucap pria di samping Galang seraya menepuk pundak Galang.
" ini apalagi, kecapean? trimester pertama, trimester ketiga, dan menetas alias launching,alah mboh lah" Galang hanya tersenyum saja menanggapi ucapan pria di samping nya itu.
" suami dari nyonya Olivia princilie alur, silahkan memasuki ruangan" terdengar suara seorang wanita melaui microphone nya.
Galang segera berdiri lalu melangkah masuk kedalam ruangan dimana Olivia sedang diperiksa.
" permisi dokter" ucap Galang sebelum masuk kedalam ruangan tersebut.
" dengan suami dari nyonya Olivia? tanya perawat yang berdiri di samping hospital bed dimana Olivia terbaring.
dan lagi Galang terpaksa menganggukan kepalanya, sungguh ia ingin hari ini segera usai,, tolong panggilkan doraemon Galang ingin meminjam mesin waktunya hari ini saja, berapa pun biaya nya akan di sanggupi oleh Galang. hehehe, mesakno emen [ kasian sekali]pak presdir kita yang satu ini.
Galang duduk berhadapan dengan sang dokter yang ia lihat di depan klinik tadi, sekilas Galang membaca nametag yang tertera pada jas putih yang dikenakan oleh sang dokter.
dr. Hadi Poernomo adam, SpOG.
Galang terhenyak, ia tau gelar yang tertera pada ujung nama sang dokter tersebut.
" SpOG? itukan spesialis ginekologi, dokter kandungan? apa jangan- jangan Olivia ini tengah mengandung? " tanya nya didalam hati.
" setelah melalui beberapa pemeriksaan, istri anda hanya mengalami kelelahan, dan asam lambungnya yang sedikit bermasalah,saran saya, jika ia masih bekerja silahkan ambil cuti beberapa bulan, agar program kehamilan yang sedang kalian jalani memperoleh hasil yang maksimal "ucap sang dokter yang terlihat menuliskan beberapa resep di lembaran kertasnya.
Galang pasrah sekarang, program kehamilan katanya, mbel,wedus gembel, emboh lah, toh semuanya akan segera berakhir saat ia keluar dari tempat terkutuk ini.
Olivia berjalan disamping Galang, setelah mengucapkan terimakasih kepada sang perawat yang telah membantu nya tadi keduanya pun berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"hah, akhirnya selesai juga"ucap Galang menarik nafasnya lega,, rasanya plong ya lang, hehehe.
Galang melihat sekilas terhadap Olivia yang tertunduk saja sedari tadi.
" kamu kenapa, apa sekarang udah baikkan, nggak terasa ditusuk- tusuk lagi perutnya? "tanya Galang yang hanya di tanggapi dengan gelengan kepala saja oleh Olivia.
" sekarang kita lengkapi berkas registrasi mu yang belum lengkap tadi, ayo"Galang mengajak Olivia menuju meja pendaftaran.
kedua wanita tadi saling pandang sebelum memperhatikan Galang dan Olivia yang kini berdiri di hadapan mereka.
" silahkan dilengkapi data diri istrinya tadi pak" ucap wanita tersebut, Olivia menatap tak percaya terhadap Galang, istri bapak katanya dan Galang mengiyakan nya, ahhh, pinjaman Olivia sayap dong,,pingin terbang,,
namun baru saja Galang akan menyentuh kan ujung penanya di kertas yang berisi data diri Olivia tersebut, sebuah tepukan lembut di bahu Galang menghentikan tangannya.
Galang menoleh dan betapa terkejut nya saat ia tau siapa yang ada di sampingnya kini, Galang segera berdiri.
" sayang" ucapnya pelan,,,
Dena tak menyahut, hanya airmata yang mewakili perasaan nya kini,
" ini nggak seperti yang kamu lihat, mas bisa jelaskan nanti" ucap Galang meraih satu tangan Dena, namun Dena menepis nya.
kini Dena beralih pada wanita yang tengah duduk di samping Galang.
" ini kah wanita yang kamu ceritakan itu mas, rupanya kamu pandai menggunting-nggunting kenyataan yang coba kamu tutupi mas, kamu jahat sekali, tega kamu, belum cukupkah kecewa yang aku rasakan sebelum ini? " ucap Dena seraya menyeka air matanya.
" nggak sayang, kamu salah paham" ucap Galang coba meraih kembali tangan Dena, namun lagi- lagi Dena menepis nya.
__ADS_1
"jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu mas, aku nggak mau tubuhku ternoda oleh kelakuan bejad mu!! ucap Dena kemudian berlalu meninggalkan Galang.
" silahkan kamu selesaikan urusanmu di sini, saya sudah menyelesaikan pembayarannya " ucap Galang kepada Olivia.
sedangkan kedua wanita berpakaian serba putih itu kembali saling pandang, mereka menaikkan satu alisnya lalu sama- sama mengedikkan bahunya.
sedangkan Olivia sudah selesai melengkapi data diri nya yang sebelumnya ditulis oleh Galang.
" sudah selesai bu, silahkan mengambil obatnya di sana " ucap wanita itu menunjuk ke arah apotek.
Olivia tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya sebelum beranjak dari duduknya.
" tuh kan aku bilang juga apa ta, dasar buaya, padahal kurang apa coba istrinya itu, cantik iya, baik iya, tapi kok masih jelalatan sama wanita lain, sampai dihamili lagi, duh kalau aku yang jadi istri sah nya sudah ku sunat dua kali senjata pusaka milik suaminya itu"ucap sang wanita terhadap rekan kerjanya itu.
" iya, ya, tapi aku heran juga sih sama gundiknya itu, memangnya stok pria di muka bumi ini sudah punah apa ya, tega banget laki orang di embat juga, mubazir banget itu wajah cantik dan tubuh indahnya, di sedekahin sama predator kelas ikan asin kayak gitu"ucap wanita satunya menimpali.
.
.
.
" Dena, tunggu" ucap Galang setengah berteriak memanggil Dena yang sudah ada di atas kendaraan nya.
Ardi menoleh, ia bingung harus bagaimana, siapa yang harus dituruti, wanita yang hatinya kembali tersakiti di belakangnya ini atau tuan muda yang menjengkelkan di depannya itu.
"Di, tunggu, jangn pergi dulu" ucap Galang yang kini sudah ada di depan mereka.
" pulang sama mas ya, kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin mas akan jelas kan semuanya, tapi tidak di sini " ucap Galang coba membujuk Dena agar ikut pulang bersamanya saja.
Dena bergeming, ia menepuk- nepuk pundak Ardi agar segera melajukkan kendaraan nya.
Ardi memandangi Galang kini, Galang berbicara lewat bahasa matanya, Ardi yang mengerti maksud dari tatapan Galang itupun segera memberikan kunci kendaraan kepada tuan mudanya itu, sebelum kunci tersebut berpindah ke tangan Galang secepat kilat Dena coba merampas nya namun sayang rupanya gaya gravitasi lebih unggul dari secepat kilat nya Dena, hingga kunci tersebut sudah dalam genggaman Galang.
" mas mohon kamu pulang bareng mas ya" pinta Galang, Dena diam, ia memandang kepada Ardi yang menganggukan kepalanya.
sadar bahwa mereka kini ada di tempat umum dan siapa saja bisa melihat mereka, Dena akhirnya menuruti keinginan Galang, Galang kembali menyerahkan kunci kendaraan Dena kepada Ardi.
"kamu langsung pulang aja Di, nanti kalau ibu nanya, bilang saja kalau saya pergi ke toko sama Dena" ucap Galang sebelum Ardi melajukkan roda duanya.
" iya mas" jawab Ardi.
" saya percaya sama kamu, kamu pasti tau apa yang harus dan yang tidak harus kamu katakan"Galang menepuk bahu Ardi pelan, lalu masuk kedalam mobilnya, sedangkan Dena sudah ada di dalamnya, diam sejuta bahasa, weh,, weh perumpamaan nys bukan maen,,, bukan seribu duaribu, tapi sejuta cuy,,,,
Galang menepikkan kendaraan nya, Dena menoleh, menelisik wajah calon suaminya tersebut, Galang yang sadar bahwa Dena tengah memperhatikan dirinya itupun menoleh, ia merubah posisi duduknya menghadap Dena kini.
" apa yang ingin kamu ketahui tentang kejadian hari ini hem? " tanya Galang yang kini menggenggam tangan Dena, kali ini suasana hati Dena sudah sedikit membaik hingga ia biarkan saja ketika Galang menggenggam tangannya.
" semuanya, ceritakan semuanya jangan ada yang tertinggal walau hanya satu titik saja" ucap Dena memalingkan wajahnya, bahkan ia tak membubuhi sapaan mas di akhir kalimat nya.
" sekarang nggak pake mas lagi manggilnya? " ucap Galang tak henti memandangi wajah Dena.
" turuti dulu permintaan ku, baru setelahnya bisa mengajukan keberatan " ucap Dena.
" wih bahasa nya, berasa berada di kursi pesakitan saja Galang saat ini gess, tersangka atau sebagai terdakwa lang,,
trimakasih, semoga selalu suka
jazakumullah khoiron
see u,,,
__ADS_1