
Galang kini berdiri dihadapan Dena, sementara Dena masih menundukkan kepalanya, ia tak ingin menampakkan wajah sedihnya dihadapan Galang, entah kenapa emosinya juga ikut tersulut saat mendapati sang suami berkata kasar kepadanya, bukan kalimat nya tapi nada bicaranya,,
podo wae!!
" sekarang jawab, beritahu saya, ngapain aja kamu ditaman, bertemu sama mantan kamu, bertemu cowok ganteng, atau brondong tampan dan crazy rich, bukan bujangan tua macam saya yang berharta karena warisan orang tua, iya!! ucap Galang pelan, ia tak meninggikan suaranya, dia marah, iya, lalu apakah Dena tau, jelas dia tau bahkan dia akan ikut- ikutan marah.
" iya, aku ketemu sama cowok ganteng, crazy rich, masih bening dan tentunya good looking,, lalu apa lagi yang mau kamu tuduhkan terhadap ku,, katakanlah sesukamu, toh aku tidak berhak membantah, jadi lebih baik aku iya kan saja semuanya, puas kan sekarang!! ucap Dena tak pelan dan juga kasar.
ya,,Dena wanita dewasa namun minim dalam hal hubungan romantis antara suami istri, yang ia tau suaminya ini tak pernah sekalipun berkata kasar kepadanya, tapi kenapa hanya karena ia yang keluar tanpa memberitahu dirinya, lalu semuanya harus berubah, se instan itu kah ?setelah kau dapat gurihnya lalu kau tinggalkan jejak pedasnya,, kau taburi pula dengan bawang goreng kriuk nya, ah lengkaplah sudah semua derita.
" apa begini caramu bersikap kepada suamimu? " ucap Galang masih pada posisi nya.
" apa boleh aku mengcopy ucapan mu itu, lalu aku tanyakan balik kepadamu? " ucap Dena menirukan ucapan tuan muda nan tampan asal negeri jiran,, Ismail namanya.
ah, Dena kenapa kamu malah membawa nama itu dalam gelud mu kali ini.
Galang meraih kedua bahu Dena.
" kenapa sekarang menjadi seorang pembangkang, apa begini didikan kedua orang tua mu terhadap mu Dena" ucap Galang, ia semakin tak dapat mengontrol emosi dan juga kalimat yang keluar dari bibir nya, sungguh ucapan Dena telah mengusik jiwa kelakiannya.
" cukup!! jangan bawa orangtua ku dalam hal ini, kamu boleh menghina dan mencaci diriku sepuasmu, tapi tidak dengan ayah dan ibuku, seujung kuku aku tidak terima,bukankah istrimu adalah cerminan dirimu, lalu sudahkah kau bercermin tuan Profesor Galang aditama wijaya? "ucap Dena yang kini memandangi wajah sang suami .
" kenapa harus menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau buat sendiri? " tanya Galang lalu mendekat kan tubuhnya terhadap Dena.
" itu juga yang seharusnya ku tanyakan padamu, jangan mendekat, aku nggak mau disentuh oleh lelaki yang sedang dikuasai oleh amarah nya" ucap Dena mendorong tubuh Galang, namun percuma tubuh kekar sang suami tak bergeser barang satu senti saja.
"kenapa apa aku sudah Terlarang untuk menyentuh tubuh istriku sendiri? " ucap Galang kembali mendekat kan tubuhnya.
" istri? bahkan kamu lupa bahwa aku adalah istrimu bukan budak belian mu, yang dengan sesuka hati kau hina, kau hardik, lalu sekarang kamu bilang aku ini istrimu, lalu sebagai apa diriku saat kau layangkan semua penghinaan dan fitnahan mu terhadap ku, sebagai apa!!!ucap Dena kesal, ia berdiri kemudian mengganti pakaian nya yang basah,, Galang masih memperhatikan setiap gerak gerik sang istri yang baru dinikahinya seminggu yang lalu.
Dena tampak mengemasi pakaian nya lalu ia masukkan kedalam koper kecil yang ia bawa dari rumahnya.
" mau kemana? " ucap Galang yang kini sudah berdiri di depannya.
" mau pulang, disini aku tidak dihargai barang sedikitpun, aku tau aku orang miskin, aku tau aku bukan siapa-siapa, tapi bukan berarti aku pantas untuk kamu lakukan seperti ini mas, minggir!! ucap Dena saat Galang menghalangi nya yang akan mengemasi pakaian dari dalam walk in closet nya.
" tapi aku tidak mengizinkan mu pergi dari sini!! ucap Galang yang kini sudah mulai bisa mengontrol emosinya, dia sadar bahwa pernikahan nya bahkan belum seumur jagung, lalu apa yang sudah ia berikan untuk Dena, nafkah sebagai pengantin baru, tentu saja itu adalah kebutuhan biologis nya, sudahkah ia membimbing Dena tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap pasangan, tentang nya jika sekarang ingin keluar rumah harus seizin suami, dia lupa bahwa mungkin Dena belum mendapatkan itu, ya walaupun itu adalah hal yang paling mendasar dalam sebuah hubungan, tapi Galang memang belum pernah sekali pun menyinggung tentang hal itu kan??
" maka sekarang izinkan aku pulang kerumah ayah dan juga ibuku" ucap Dena coba menerobos tubuh kekar sang suami yang malah kini semakin mendekat ke wajahnya.
" tidak akan pernah!! ucap Galang.
" kamu mau menyiksa ku mas, untuk apa? " Tanya Dena bingung, kenapa suaminya ini seperti memliki kepribadian ganda, sebentar kasar, sebentar lagi lembut, lalu sekarang apa?
__ADS_1
tidak akan pernah katanya, bahkan kini Galang menyudutkan tubuh Dena hingga ia tak dapat bergerak sama sekali.
" kamu membuatku bingung mas, kenapa berubah jadi begini, apa masalah di kantor yang kau bawa hingga kerumah dan aku lah pelampiasan mu? " ucap Dena terisak kini, Galang meraih dagu sang istri dan ia dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang dengan susah payah ia perjuangkan, banyak rintangan dan cobaan yang selalu mewarnai hubungan keduanya, lalu setelah kini mereka sudah sah menjadi suami dan istri dan tak ada lagi yang dapat memisahkan nya, lalu kenapa hanya masalah seperti itu, ya itu hanyalah miss comunikasi antara keduanya, mungkin benar apa yang disangkakan oleh Dena, jika Galang pulang dengan membawa masalah, maka saat ia mendapati sang istri keluar tanpa sepengetahuan nya, kemarahan nya semakin memuncak kini.
" kenapa seperti ini? " tanya Dena saat Galang tak menjawab tanya dan juga bingungnya, Galang hanya menatap nya saja tanpa suara.
" aku mau pulang saja, jika kamu tidak mengizinkan, maka antarkan aku pulang kerumah orang tuaku, dengan begitu aku tidak menyalahi peraturan dari mu" ucap Dena lagi.
" tidak akan ada yang pergi ataupun mengantarkan kamu pulang kerumah ayah dan ibu, tetap disini atau jika kamu tidak ingin melihatku biarlah aku yang pergi,aku tidak ingin merusak kebahagiaan mama dan juga papa dengan pertengkaran kita ini"
" lalu dengan kamu pergi, apakah mama dan papa tidak akan bertanya-tanya,, lalu menduga-duga, dan akhirnya ketahuan juga"
" banyak alasan bagiku, pekerjaan luar kota yang memang sudah mulai kujalani, mungkin bisa ku percepat keberangkatan ku, bila perlu aku bisa memesan tiket penerbangan malam ini juga, pasti mama dan papa tidak akan curiga" ucap Galang, lalu ia mengembalikan semua pakaian Dena dari dalam kopernya untuk ia gantung pada walk in closet sang istri.
" tapi aku tidak mengizinkan mu pergi dalam. keadaan marah" ucap Dena kini terduduk lesu di atas ranjangnya.
Galang membalikkan badannya, melihat kepada Dena yang kini kembali menangis tanpa suara.
" maafkan aku, sungguh aku sangat mengkhawatirkan dirimu, lingkungan ini baru untuk mu, kenapa pergi sendirian, kenapa tidak menunggu ku terlebih dahulu, atau setidaknya beritahu siapapun yang ada dirumah ini, supaya aku tidak bingung mencari mu" ucap Galang yang kini ikut duduk disamping Dena, memeluk sang istri, menyeka airmata yang semakin deras mengalir dipipi Dena, Dena menoleh dan saat itulah tatapan mata keduanya bersirobok.
" jangan pergi " lirih Dena yang lalu mengubah posisi duduknya menghadap Galang.
" aku akan tetap pergi"
Dena segera melerai pelukan nya pada sang suami.
" iya, pesan tiketnya malam ini, berangkat nya lusa" ucap Galang lalu kembali memeluk Dena lebih erat
" nggak lucu!! ucap Dena kesal.
" o ya, tapi kenapa menahan senyum, kenapa nggak nangis aja" ucap Galang menggoda sang istri yang malah berdiri, namun Galang segera meraih pinggang nya, kembali memeluknya.
" jangan marah- marah lagi, aku takut kalau kamu marah kayak tadi mas, takut" cicit Dena menelusup kan wajahnya pada dada bidang sang suami menikmati hangat dan harum tubuh Galang yang kini menjadi candu baginya, ia takkan bisa tidur jika tak mencium harum tubuh Galang, lalu bagaimana jika Galang harus bekerja diluar kota nantinya,, emang aroma bisa dirasakan lewat video call? hmm, emboh lah!!
" iya sayang, tapi tidak ada hubungan yang lurus tanpa masalah dan masalah datang untuk memberikan pelajaran kepada kita, tinggal kita apakah bisa mengambil hikmah atas masalah yang menimpa kita"ucapnya membawa tubuh Dena untuk berbaring bersamanya, malam semakin larut, bahkan kini hanya terdengar suara serangga- serangga malam yang berdenging, memecah kesunyian.
Galang sepertinya sudah terbuai dialam mimpi indahnya, ia tidur dengan tangannya yang dijadikan bantal oleh Dena.
" mas aku laper, tadi makannya dikit banget, keburu diajak naik sama kamu" ucap Dena, seraya menepuk-nepuk pipi sang suami pelan, sungguh ia belum berani jika harus turun ke lantai bawah seorang diri, maka ia pun terpaksa mengganggu tidur Galang.
Galang mengerjapkan matanya, membenahi posisi kepala Dena yang masih berada di atas lengannya.
" mau makan? mas ambilin sekarang, mau? "ucap Galang mencium bibir sang istri singkat, lalu berdiri, namun Dena mencegahnya.
__ADS_1
" nanti aku gendut, kamu ilfeel lagi sama aku" rengek Dena, bergelayut ditangan Galang.
" nanti juga kamu bakalan gendut kan, udah nggak apa- apa, emang bisa nahan laper hmm?
" nahan laper nya bisa, tapi gendut nya aku nggak mau, kenapa kamu bilang kalau aku bakalan gendut ? " tanya Dena heran.
" mau tau jawabnya, sekarang apa besok?
" sekarang dung"
Galang segera membuka tshirt hitamnya, membuangnya sembarang, ia menundukkan tubuhnya memeluk Dena dari depan.
" saat apa yang ada pada diriku tertanam disini" tunjuk Galang pada perut Dena.
" maka cinta adalah bahasa yang sesungguhnya untuk dia sampai pada rahimmu lalu hadir di tengah- tengah kita" ucap Galang, Dena mulai mengerti makna dari kata- kata cinta suaminya ini, ia pun melabuhkan sebuah ciuman mesra untuk Galang tepat dibibirnya,dan sejurus kemudian semua jenis pakaian yang mereka kenakan sudah meluruh dan berserakan diatas dinginnya lantai kamar.
" apa harus bertengkar dulu supaya kita lebih menikmati proses ini" bisik Galang dengan posisi nya masih diatas tubuh Dena.
" pertanyaan macam apa itu,, nggak lucu!! kesal Dena lalu memalingkan wajahnya, ia tak sanggup memandang wajah Galang yang kini sudah bermandi keringat.
"belum datang juga? " tanya Galang, dan Dena tau kemana arah pertanyaan Galang itu.
" belum"
Galang menciumi perut Dena berulang- ulang.
" kenapa? " tanya Dena.
" ya siapa tau diantara benih yang sudah bersemayam di rahimmu ada yang sedang berjuang untuk menemukan pasangannya, maka doa ku adalah ikhtiar nya juga,, semoga berhasil ya kita sama- sama berjuang " ucap Galang kembali menciumi perut Dena.
" aamiin, kalau ternyata belum berhasil, apa kamu akan kecewa mas?
" tentu saja tidak, dan mas akan berusaha lebih giat lagi, apa boleh mas usaha lagi? " ucap Galang mencolek hidung Dena.
" nggak ah, ngantuk" ucap Dena lalu segera menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Galang tersenyum lega, pertengkaran kecil baru saja mereka lewati dan mereka berhasil menyembunyikan itu dari kedua orang tua nya,
lalu apakah masalah yang lain sedang antri menunggu giliran untuk masuk kedalam rumah tangga sang presdir??
marah tidak akan menyelesaikan masalah,,
jazakumullah khoiron,
__ADS_1
happy weekend,
see u,,