Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
stop atau lanjutkan?


__ADS_3

Kita tinggalkan Galang and the genk di kafenya,,,,


Dena dan dokter Angga sudah berpindah tempat kini, Dena mengajak sang dokter untuk mencari tempat lain saja siang ini, alasannya makanan nya nggak enak katanya, wuih Dena kamu nggak lupa kan sama nasgor spesial buatannya master chef Galang? " ya udah untuk saat ini di lupakan saja dulu ya Den, hehehe,,


mereka kini sedang duduk di pondok bambu di pinggir pantai, dua porsi kelapa muda dan baso Seafood menemani duduk- duduk santai mereka.


" kenapa tiba- tiba berubah pikiran, tadi ceria banget waktu baru masuk ke kafe, tapi waktu keluar dari kamar kecil kenapa wajahmu kusut sekali, ada apa, apa ada yang mengganggumu disana tadi? " tanya Angga seraya memandangi Dena yang tengah asyik menyeruput kelapa muda nya.


" iya, ada yang menggangu dok, ternyata dosen geblek itu masih hidup dan mengaku kalau dia masih single alias belum menikah" bathin Dena.


" kok diem aja, nggak mau cerita sama saya? " tanya sang dokter lagi.


" nggak nyaman aja dok tempatnya" jawab Dena melihat sang dokter sekilas.


" tempatnya atau orangnya?


Dena menoleh, ia perhatikan wajah tampan dokter muda di samping nya kini, senyum manisnya menciptakan gurat- gurat halus di rahang kokoh nya.


" maksud dokter? kok orangnya sih, saya kan perginya sama dokter, nggak mungkin kan saya nggak nyaman sama dokter Angga,tempatnya yang bikin nggak nyaman dok" jawab Dena, masih menyembunyikan pertemuan nya dengan Galang di kafe tadi.


" Dena" sang dokter mendekatkan sedikit tubuhnya kepada Dena yang kini tengah memandang ke arahnya, sang dokter memberanikan diri menyentuh satu tangan Dena, Dena diam saja.


" maaf" ucap sang dokter pelan.


" jika kamu merasa tak nyaman, saya hanya ingin menciptakan aura positif diantara kita berdua, sekarang pejamkan mata" pinta sang dokter, Dena menggelengkan kepalanya.


" tenang, saya bukan pria mesum, trust me!pinta sang dokter dan Dena mengiyakan nya, perlahan mata keduanya terpejam kini dengan tangan yang saling menggenggam.


" cukup diam dan rasakan" ucap sang dokter.


lama keduanya saling diam,menikmati semilir angin pantai yang mendayu syahdu, tak ada pergerakan diantara keduanya, genggaman tangan pun tak saling mengeratkan.


tanpa komando dari siapapun kedua mata mereka sama- sama terbuka, dan mereka saling pandang kini.


dengan tangan yang masih saling menggemgam.


" stop atau lanjutkan!! tanya sang dokter.

__ADS_1


" stop" ucap keduanya bersamaan, keduanya lalu tertawa lepas, menghilangkan semua rasa yang masih rancu walau hanya untuk sekedar bertanya saja.


" saya tau kamu masih mencintai dosen itu, kamu hanya perlu seseorang sebagai tempat mu untuk berkeluh kesah, saya sama seperti mu Dena, pernah mencintai tapi tak memiliki, dan akhirnya kecewa, saya tidak ingin kamu merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan Dena" ungkap sang dokter.


" saya sudah pernah dan masih merasakan apa itu yang namanya kecewa dok dan saya juga tidak ingin menjadikan dokter Angga hanya sebagai pelampiasan kekecewaan saya saja, saya nggak segila itu dokter, mungkin dokter ataupun saya bisa menerima kehadiran rasa diantara kita, tapi menyatukan dua hati dengan dua rasa yang berbeda sungguh hanyalah sebuah kesia- sia an saja dok, akhirnya kita akan sama- sama kembali merasakan kecewa" ucap Dena.


" kamu benar Dena, kita bukan remaja labil yang menjalin hubungan hanya untuk sekedar haha hihi, huhu, hem hem saja, kita harus memiliki seat goals kemana arah hubungan yang kita jalani, maaf sudah membuat mu tak nyaman" imbuh sang dokter dan tangan keduannya sudah terlerai.


" saya bisa membantu mu untuk mencari tau keberadaan dosen mu itu Dena" ucap Angga menawarkan bantuan.


" trimakasih dok, tapi maaf saya belum berkeinginan membahas nama itu saat ini, rasanya masih sakit sekali dokter" jawab Dena.


" sakit karena rasa cinta mu terhadapnya masih tertinggal di hatimu Dena, karena jika kamu sudah tidak mencintai nya lagi, maka kamu akan biasa saja saat berjumpa dengan nya, percayalah Dena, apa alasan dirinya meninggalkanmu? tanya Angga kini.


" dia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dok, kami berbeda kasta, kebodohan lah yang menyatukan kami, kami nekat melawan arus, namun ternyata kami berpisah di pusaran nya, entah apakah kami akan menyembul ke permukaan secara bersama-sama atau salah satu di antara kami, ternyata sudah nyaman dengan kehidupan kami masing-masing, entahlah dokter biarlah waktu yang akan menjawabnya, saya hanya butuh sabar saat ini.


" kamu ada diantara mereka berdua Dena? tanya Angga lagi.


" saya bukan pelakor dokter, saya ada sebelum wanita itu hadir dalam hubungan kami, ya walaupun Backstreet kami mencoba bertahan dengan keyakinan yang kuat, tapi kami lupa takdir bekerja nyata untuk kami, nyatanya keyakinan kami tak mampu merubah takdir yang sudah menyertai kami sejak terlahir ke dunia ini dan keyakinan kami itu hanya menjadi kisah luka tak berubah bahagia" jawab Dena.


" maaf, tapi apa kamu yakin jika mereka memang sudah menikah saat ini, bukti apa yang melandasi keyakinan mu itu?


"sssttt, dilarang meng ghibah, dosa!!


Dena menggelengkan kepalanya,


" nggak ada dok, hanya insting saya mengatakan mereka memang sudah menikah" ucap Dena.


" insting nya orang cemburu nggak pernah benar Dena, percaya deh sama saya"


" kok gitu dok? " tanya Dena bingung.


" karena saya tau Dena, firasat dan ingin mu berbeda kenyataan " jawab sang dokter pasti.


Dena tersenyum menanggapi argumen dari sang dokter.


" pulang yuk, kita udah kelamaan disini, takutnya ada yang nungguin kamu di rumah" Dena mengerutkan keningnya semakin bingung dengan kalimat yang di ucapkan oleh Angga.

__ADS_1


" dokter kayak peramal aja,emang siapa yang nungguin jomblo kayak saya, ayok ah pulang, nanti hujan" Dena pun beranjak lebih dulu meninggalkan Angga yang masih duduk memandangi tubuh Dena yang semakin jauh meninggalkan nya.


" ada Galang yang tengah menunggumu Dena, kamu pasti sangat bahagia nanti saat melihat nya" lirih Angga lalu ia pun melangkah menyusul Dena, ia percepat langkah kakinya, hingga berjalan di samping Dena.


Dena duduk santai di samping Angga yang tengah fokus pada kemudi nya.


" ngebut ya, biar cepet sampai" pinta sang dokter.


Dena menggelengkan kepalanya.


" saya takut dok" lirih Dena lalu menundukkan kepalanya.


" maaf, ya udah kita jalan santai saja, oke? ucap sang dokter melihat sekilas kepada Dena yang tampak menanggukan kepalanya.


tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di depan lorong rumah Dena, Dena menoleh saat sang dokter tak ikut sampai ke rumahnya.


" dokter nggak mau mampir dulu? " tanya Dena.


Angga tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


" nggak deh, takut ada yang cemburu" jawab sang dokter yang membuat Dena bertanya- tanya, membagongkan sekali pak dokter ini ya Dena, hehehe.


" apaan sih dok, kenapa dari tadi ngajakin main tebak- tebak buah manggis terus sih"ucap Dena lagi.


Angga hanya tersenyum kemudian melambaikan satu tangannya.


Dena berlalu setelah kendaraan sang dokter sudah tak terlihat,


" dokter Angga kenapa ya, apa dia tau sesuatu tentang aku, ah, " Dena mempercepat jalannya, matanya membulat sempurna saat dirinya baru saja sampai di depan pintu rumahnya,


jeng, jeng, jeng,,,, lihat apa Dena, ,,


trimakasih, maaf jika up nya nggak beraturan


jazakumullah khoiron...


semoga selalu suka.

__ADS_1



__ADS_2