Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
surat dari Dena.


__ADS_3

Angga mempercepat langkah kakinya hingga kini ia sudah berjalan di samping Dena.


" jangan tunjukkan kesedihan mu dihadapan orang yang tega menyakiti mu" ucap Angga di sela-sela langkah kakinya.


" aku nggak sekuat itu dokter" ucap Dena sedikit terisak.


" jika belum mampu untuk itu, setidaknya berpura- pura acuh,tak akan menampilkan sisi lemah mu Dena" ucap Angga pelan, lalu ia buka satu sisi pintu mobilnya untuk Dena.


" trimakasih dok" Dena kemudian masuk kedalam mobil,Angga mengganggukkan kepalanya lalu tersenyum.


Hyundai santa Fe milik sang dokter melaju dengan kecepatan sedang, sesekali Angga melihat kepada Dena yang tampak menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya, matanya terpejam, tapi Angga tau jika Dena tidak tertidur, dia hanya sedang mencari kenyamanan nya sendiri, begitu analisa Angga dibalik kemudi nya.


Dena membuka matanya setelah dirasa ia sudah terlalu lama berada di dalam mobil sang dokter.


" berhenti di depan halte itu saja dok" ucap Dena memberi tau Angga.


Angga pun menepikan kendaraan nya pada tempat yang Dena ucapkan.


" rumahmu yang mana? " tanya Angga sebelum Dena keluar dari mobilnya.


" rumah saya masuk gang kecil dok, maaf mobil dokter nggak bisa masuk kesana" jawab Dena kikuk, ia sebenarnya malu sekali sudah menunjukkan kesedihan nya dihadapan pria yang baru di kenalnya seperti dokter Angga ini, tapi apa boleh buat, Dena belum pandai untuk berpura- pura bahagia seperti yang disarankan oleh sang dokter tadi.


Angga tau,Dena sedang ingin sendiri saat ini, ia pun sadar status mereka hanyalah sebatas teman belum merasa saling nyaman hanya sebuah kebetulan saja hari ini mereka di pertemukan.


" kamu hati- hati ya, jangan sungkan untuk menghubungi saya, jika kamu merasa membutuhkan teman untuk bercerita" ucap Angga,


" trimakasih dok"ucap Dena lalu tersenyum dan keluar dari mobil sang dokter.


Angga baru melajukkan mobilnya ketika Dena sudah tak nampak lagi olehnya.


______________


_________


_____


sementara itu Galang kini tengah duduk di samping Anisa, mereka kini tengah berada pada food area di pusat perbelanjaan tersebut.


Galang hanya diam sedari tadi, Anisa yang merasa tak nyaman dengan sikap yang di tunjukkan Galang itupun menghentikan aktivitas makan nya.

__ADS_1


" kamu nggak laper mas, kenapa makanannya nggak kamu sentuh sama sekali " tanya Anisa memperhatikan wajah Galang.


" cepat selesai kan makan mu, setelah ini saya mau ke kafe" ucap Galang tak memperdulikan pertanyaan Anisa.


" aku boleh ikut nggak ke kafe kamu mas? " tanya Anisa dengan wajah berbinar- binar.


" untuk sekarang jangan dulu, ada hal yang harus saya selesai kan tanpa melibatkan dirimu" jawab Galang datar tanpa ekspresi.


Anisa memalingkan wajahnya, Sikap Galang yang seperti ini sudah menjadi santapan yang tak asing baginya, Galang berdalih jika ia sedang berusaha untuk bersikap sewajarnya saja, tapi entah usaha seperti apa yang tengah dilakukannya,pasti nya ia telah melukai hati seorang Adreena.


tring


tring


tring, ponsel Galang berbunyi menandakan ada panggilan masuk untuk nya, ia pun segera meraih ponsel nya, Galang memilih menjauh dari Anisa ketika menerima panggilan di handphone nya.


" ada apa dim" tanya nya seraya menoleh ke arah Anisa yang sedang menikmati makanan di depannya,dan rupanya Dimas yang berada di ujung teleponnya.


" ada titipan dari mbak Dena mas, sebaiknya mas Galang segera ke sini" ucap Dimas.


" iya, simpan saja,


tiga puluh menit lagi saya sampai di kafe, tolong jangan beri tau yang lain tentang titipan dari Dena itu Dim" pinta Galang sebelum menutup panggilan dari Dimas tersebut.


" ayo saya antar pulang, Dimas sudah menghubungi saya terus" ucap Galang kemudian berlalu tanpa menunggu Anisa yang buru- buru menyambar tas selempang nya dan juga handphone nya yang tergeletak di meja.


" tunggu mas" pinta Anisa yang tak di dengar oleh Galang, yang berjalan cepat setelah menyelesaikan pembayaran di kasir.


______________


__________


_____


tiga puluh menit kemudian Galang sudah sampai di kafe nya, ia bergegas menemui Dimas di meja kasirnya.


" ini mas" Dimas tanpak menyodorkan sebuah kotak kecil yang di dalam nya terdapat surat dari Dena, Dimas sengaja meletakkannya dalam kotak kecil agar tak menimbulkan kecurigaan pada teman- temannya yang jiwa kepopedianya sudah melewati ambang batas normal itu, patut di waspadai memang, hehehe.


Galang bergegas menuju ruangan yang sudah lebih dari seminggu itu tak di datanginya. ia sudah tak sabar membaca isi surat dari Dena, sebenarnya perasaan Galang kini tak bisa di prediksi, yang pasti semuanya pasti tentang keberadaan dirinya,

__ADS_1


perlahan Galang membuka selembar kertas yang bertuliskan tulisan tangan Dena, tulisannya rapih sekali.


~maaf jika tulisan saya ini tidak berkenan untuk pak Galang, jujur saya bingung , ingin bertanya tapi kepada siapa? jika menangis adalah cara saya untuk membuang pikiran- pikiran negatif saya terhadap pak Galang, tapi mengapa hingga airmata ini menganak sungai, kesedihan ini tak jua kunjung terlerai, entah jawaban apa yang akan saya dapat dari tanya yang sejujurnya saya tau jawabnya adalah rasa kecewa, saya tidak ingin buru- buru percaya namun tak juga saya ingin sekedar menduga- duga karena hanya menambah rasa kecewa semakin membuncah,


" dimana dan kenapa "


by,, Adreena.


Galang menyimpan surat dari Dena dalam saku celananya, ia remas rambutnya kasar, merasa menjadi pria durjana karena telah mengkhianati wanita yang dicintainya.


" maafkan saya Dena, sejujurnya saya ingin sekali menghubungi mu, tapi bukankah itu hanya akan menambah rasa kecewa mu terhadap ku, dan terlebih bukankah tadi kamu sudah melihat ku bersama Anisa, mungkin kini semua stigma burukmu tertuju hanya untuk ku Dena, biarlah memang aku pantas mendapatkan nya,umpama kanlah aku sebagai yang paling hina sekalipun oleh mu, namun satu yang harus kamu tau,dalam ketidak berdayaan ini, aku masih percaya bahwa takdirku adalah bersamamu, entah seperti apa jalan yang harus ku lalui nantinya, tapi yakin ku akhirku adalah kamu, biarlah cintaku dungu, biarlah kepercayaan diriku halu bagimu, tapi aku berharap keyakinan mu pun sama terhadapku...


maaf ku tak mungkin mengikis sedih mu...


Galang,, "


teramat panjang pesan yang dikirimkan Galang untuk Dena melalui akun media sosial milik Dimas, bukan tanpa alasan Galang melakukan hal itu, karena kini semua akun media sosial milik Galang di bawah kendali Anisa, bukan Galang tak mampu untuk memberontak, tapi banyak pertimbangan yang harus di pikirkan dan juga masalah yang akan semakin rumit jika ia melakukan hal itu.


setelah mengirimkan pesan panjang lebar kepada Dena Galang bergegas meninggalkan kafe.


" saya pulang Dim, jangan katakan apapun jika Dena kembali mengirimkan pesan untuk mu" ucap Galang kemudian berlalu meninggalkan kafe nya.


" nggeh mas, rupanya pinter juga mas Galang merayu ya, sudah di sanjung- sanjung sampai ke awan biru, lalu di hempaskan tapi masih menggantung di indahnya pelangi, eh dirayu juga seperti angin yang semilir, sendu merayu, preet lah mas, mas, ora ndue pendirian( tidak punya pendirian) kalau sudah ikhlas ya lepas, jangan merampas" gerutu Dimas setelah membaca pesan Galang untuk Dena yang ternyata belum di hapus oleh Galang.


" sepurane mas, sepurane" imbuh Dimas lalu kemudian memasukkan ponsel nya ke dalam saku celananya.


Galang melajukkan lexus nya dengan kecepatan tinggi, beberapa menit kemudian ia telah sampai di rumahnya, tapi matanya tertuju pada kendaraan mewah yang terparkir di halaman rumah nya, toyota Porsche putih yang diyakininya adalah milik Anisa.


" Anisa, apalagi yang di rencanakan nya kali ini" Galang menghembuskan nafasnya kasar.


" mas" sapa Anisa yang ditanggapi dengan tatapan mata saja oleh Galang.


" duduk dulu lang, ada yang ingin mama tanyakan " sang mama ikut bicara kali ini.


" Galang ke atas dulu ma" ucap Galang kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


hmmm, lelah menjadi anak baik- baik ya pak dosen, yo wes gubrak ea... aja...


trimakasih, semoga selalu suka

__ADS_1


BarokAllah


see u.....


__ADS_2