
Galang melajukkan lexus nya dengan kecepatan tinggi, ia tak sabar untuk segera sampai di rumah Dena, perjalanan yang biasanya menghabiskan waktu hampir enampuluh menit itupun dapat ditempuh Galang hanya dalam waktu tiga puluh menit saja, waw its amazing prof!!
Galang segera keluar dari mobilnya, dengan langkah panjangnya ia kini sudah tiba di depan rumah Dena yang terbuka pintunya, suasananya sepi hanya ada beberapa ibu- ibu yang nampak berlalu lalang di gang kecil ini, sepertinya mereka baru pulang dari membeli sayur mayur, tampak seorang diantara mereka membawa satu kebat kacang panjang,dan salah satu diantara mereka rupanya ada yang memperhatikan keberadaan Galang yang sedang duduk di kursi yang ada di teras depan rumah Dena.
" sttt, siapa itu yang duduk di depan rumah Habibah" ucap salah satu dari mereka menyebutkan nama ibu Adreena.
wanita yang diajak berbicara itu pun langsung menoleh ke arah Galang,mereka memperlambat langkah kakinya.
" dari penampilannya kelihatannya sih bukan orang sembarangan itu, kaum- kaum menengah ke atas hampir ke puncak sepertinya " timpal lainnya.
" iya, aku juga berpikiran seperti itu, tapi mau ngapain dia bertamu kerumah Habibah, dirumah itukan cuma ada Dena, Jangan-jangan mereka mau berbuat mesum, wah bahaya ini, kita harus mengintai mereka, ayo"
Tiba-tiba saja mereka berjalan lebih cepat, namun kemudian berbelok pada sebuah rumah kosong, dari tempat yang dirasa tidak terlihat oleh Galang, mereka nampak duduk memperhatikan gerak- gerik Galang.
tak berapa lama Dena tampak keluar dari dalam rumahnya, mengenakan celana longgar berwarna hitam polos dan atasan t shirt berwarna senada Dena tetap cantik sekali ,kulit putihnya sangat kontras dengan warna baju yang dipakainya, hingga semakin menonjolkan kecantikan nya itu.
Galang yang menyadari kehadiran Dena itupun lalu memandangi Dena dari ujung ke ujung, Dena salah tingkah jika di pandangi terus menerus seperti ini oleh Galang, namun tiba- tiba Galang meraih kening Dena.
" siapa yang melakukan ini kepadamu, hem, katakan! ucap Galang.
"nggak ada pak, saya terjatuh di kantin kampus tadi" Dena tak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di kantin tadi kepada Galang, iya pikir itu bukanlah hal yang perlu di khawatirkan, walaupun sampai saat ini Dena masih sangat sedih jika mengingatnya, tapi biarlah Galang tidak harus mengetahuinya, masalah yang dihadapinya sudah sangat banyak bahkan Dena tidak tau apakah dari beberapa masalah nya itu, sudah ada yang terselesaikan atau kah masih belum terjamah sama sekali.
" kenapa harus berbohong, demi siapa? " Galang tau Dena tak jujur kini.
__ADS_1
" kenapa dia ini terlalu cerdas untuk hanya sekedar dibohongi saja sih" bathin Dena.
" ya iyalah Dena, doi itukan seorang profesor, dia pasti bisa membaca bahasa tubuh mu itu, jadi jangan coba- coba untuk berkata bohong ya, karena percuma, buang- buang energi aja Dena,Dena, orang mah hemat- hemat sama energi, kamu malah membuangnya, hmm mubazir kan jadinya.
"saya nggak bohong pak, saya bener- bener tersungkur, Dinda ada bersama saya saat itu pak" ucap Dena lagi, dia nggak bohong kan, dirinya memang tersungkur, ya walaupun tak menyertakan alasan di sebaliknya.
" siapa yang mendorong mu, kamu bukan balita yang baru belajar jalan kan, mana mungkin jatuh sendiri, pasti ada orang yang sengaja ingin mencelakai mu, jangan berbohong lagi, kamu itu amatiran,nggak ada bakat buat berbohong "ucap Galang masih tak percaya atas apa yang baru saja di katakan oleh Dena.
" jangan bilang jika Anisa yang melakukannya " ucap Galang lagi.
Dena tak menyangka jika Galang berpikir sejauh itu, Anisa?sebegitu khawatir nya kah Galang akan dirinya, hingga mengaitkan nya dengan pasangan perjodohan nya itu, oh ayolah ini hanya luka kecil yang memang menggores di hati Dena, tapi kenapa Galang sampai sebegitu nya ya? " tanya Dena dalam hatinya.
" diam berarti iya" ucap Galang kemudian saat Dena tak jua menjawab pernyataan nya.
"jangan mengalihkan pembicaraan saat saya sedang serius" dengan suara datar dan wajah dinginnya, Galang kembali menatap Dena yang kini menundukkan wajahnya.
" bapak terlalu mengkhawatirkan saya, sungguh ini hanyalah luka kecil tidak usah di besar- besarkan pak" ucap Dena menanggapi kata- kata Galang.
" semua orang yang aku sayangi adalah prioritas untuk ku, termasuk kamu, jangan menganggap remeh kejadian kecil, karena bisa jadi itu adalah awal dari bencana besar yang direncanakan oleh orang yang tidak suka terhadap kamu Dena, kamu harus tau siapa dirimu saat ini,kamu adalah kekasih dan juga calon istri seorang Galang Aditama Wijaya, ada nama papaku di situ,bahkan Anisa menganggap mu adalah perusak hubungan nya dengan diriku, maka berhati-hati lah dan biasakanlah untuk berkata jujur, karena saya paling tidak suka jika di bohongi sekarang jujur sama saya"
panjang kali lebar penjelasan yang Galang berikan untuk Dena.
" apa aku harus jujur ya sama dia, kalau sampai dia benar- benar mengira ini adalah perbuatan tante Anisa bagaimana?pak Galang pasti akan sangat marah sama aku kan, baiklah aku akan berkata yang sebenarnya terjadi di kantin tadi.
__ADS_1
" tadi di kantin saya bertemu dengan Anita pak dan,,,, belum selesai Dena berkata, Galang mengangkat satu tangannya, pertanda agar Dena tak perlu melanjutkan ucapannya, dia sudah tau apa jawab atas pertanyaannya tadi.
" kamu berseteru dengan nya? " tanya Galang menekankan.
" nggak pak, dia menghalangi jalan saya dengan kakinya yang disilangkan dan inilah akibatnya" ucap Dena seraya menyentuh memar pada keningnya.
" kenapa aku merasa ada hal lebih yang akan dilakukannya terhadap kamu sayang, mulai sekarang jangan pernah pergi hanya seorang diri mintalah temanmu untuk menemani walaupun hanya untuk ke kamar kecil, oke? " ucap Galang meraih satu tangan Dena, Dena tersenyum dan mengangguk meng iyakan ucapan Galang.
sementara si ibu-ibu kepopedia yang sedang ber ngintip ria, nampak berkasak- kusuk membicarakan dua sejoli yang tak menampakan gerak- gerik yang patut di curigai itu.
" sepertinya mereka hanya sekedar ngobrol- ngobrol biasa saja deh mbak, ayolah kita pulang aja, dan lagi ya, kalau sampai ketahuan sama Dena bisa malu kita, nguntitin dia" ucap salah seorang diantara ibu-ibu itu, lalu mereka pun nampak pergi meninggalkan tempat itu.
sebenarnya Dena sudah tau jika ada yang sedang mengawasi mereka, pasalnya Galang sempat berbisik kepada nya tadi di sela-sela kalimat nya, namun baik Dena maupun Galang bersikap seolah- olah tidak melihat adanya kehadiran mereka di persembunyiannya.
" mereka sudah pergi " ucap Galang pelan saat Dena nampak sibuk dengan ponselnya.
" o ya, bapak melihatnya"
tanya Dena yang langsung mengedarkan pandangannya mencari informasi yang di katakan oleh Galang, dan benar saja, salah satu dari ibu- ibu itu ada yang tertinggal berjalan di belakang, sepertinya satu alas kakinya putus, sehingga jalannya sedikit terpincang-pincang,
duh naas sekali ya bu, bu, kebiasaan kepopedia membawa petaka, ya walaupun hanya alas kakinya saja yang putus kan harus beli baru lagi, harusnya bisa untuk membeli ikan tapi apa daya my selope putus besti.. hihihi.
trimakasih, see u
__ADS_1