
Lama Galang berdiam diri di balik kemudi nya, hingga tanpa disadari ia terlelap, sungguh semua yang di alami nya sedari pagi hingga siang ini sangat membuat nya lelah, terdengar berkali- kali handphone nya bergetar namun tak jua membuat Galang terjaga, ia terbuai dalam alam mimpi indah nya.
sementara itu di rumahnya, sang papa terlihat raut kekhawatiran di wajahnya, tangan nya tak henti nya mendial nomor Galang namun hasilnya nihil, Galang tak menjawab panggilannya.
"ma" panggil nya kepada sang istri.
" ada apa pa" tanya sang mama.
" coba mama telepon ke kafe nya, apa mungkin dia singgah dulu di sana"
sang istri segera menghubungi nomor telepon kafe Galang, nampak sang istri berbicara pada sambungan teleponnya.
" gimana ma"
" sama aja pa, Galang nggak ada di kafe nya, bahkan kata Dimas sudah dua hari ini Galang tidak mengunjungi kafe"
" kemana perginya anak itu, tidak biasanya dia bersikap seperti ini" gumam sang papa.
Anisa tampak tak tenang kini begitupun dengan kedua orang tuanya.
" kamu dimana mas, seluruh pesan yang kukirimkan tak satupun yang kau baca apalagi kau balas, jika di kafe juga kamu tidak ada, hanya tinggal satu kemungkinan mas" bathin Anisa.
Anisa pamit keluar untuk menghubungi Galang, namun tentu saja bukan Galang yang di hubungi nya, melainkan Dena.
panggilan pertama langsung di jawab oleh Dena.
" iya, ada apa tante, kenapa menghubungi saya, pasti ada hal penting " ucap Dena pada sambungan telepon nya terhadap Anisa.
" maaf adik, apa mas Galang sedang bersamamu" jawab Anisa langsung pada pertanyaannya.
Dena terkejut, tadi ia meninggalkan Galang setelah mengucapkan kata- kata azimat nya yang membuat Galang tersedak air liurnya sendiri, tapi kini wanita itu menanyakan keberadaan Galang kepadanya, sungguh Dena tak sepicik itu, ia tak mungkin mengotori nama baik keluarganya sendiri dengan membawa Galang ke rumahnya, hanya demi menggagalkan rencana permintaan pingin dilamar si tante Anisa yang kini sedang bertanya dan pertanyaannya itu menjurus kepada sebuah tuduhan ya sepertinya.
" nggak tante, pak Galang tidak sedang bersama saya saat ini " jawab Dena jujur.
" kamu tidak sedang berbohong kan dik, nama baik keluarga mu yang sedang kamu pertaruhkan jika kamu berbohong" ucap Anisa yang malah membuat kesal Adreena.
" tante ini bertanya atau menuduh ya, sepertinya apapun jawaban saya tetap saja tidak mengurangi apalagi menghilangkan tuduhan terhadap saya, saya ulangi dan tolong dengarkan baik- baik, pak Galang tidak ada di rumah saya"
tut, tut, tut.. panggilan si putus sepihak oleh Dena.
Anisa kembali masuk ke dalam ruangan dimana kedua orangtua nya dan juga orang tua Galang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
" apa ini tidak buruk mas Wijaya, apa nak Galang tidak diberi tau jika kami akan berkunjung kesini? " tanya pak Broto memecah keheningan yang tercipta.
" tidak mas Broto, saya sudah bilang sama Galang jika kalian sudah ada di rumah, dan saya memintanya untuk segera pulang, dan ia pun meng iya kan ucapan saya" jawab Wijaya.
__ADS_1
"tapi ini sudah hampir tiga jam lebih sejak nak Galang pulang dari mengajar di kampusnya, namun belum ada tanda- tanda dia akan pulang, bahkan telepon pun tak angkat olehnya"
" mama khawatir Galang kenapa- napa pa, apa tidak sebaiknya kita susul saja Galang nya pa" sang istri memberi saran kepada suaminya.
"cari kemana ma, kita nggak tau kemana dia biasanya pergi" setelah berucap demikian wijaya nampak berpikir, lalu terlintas di benaknya untuk bertanya kepada Ardi sopir pribadi yang sering bersama Galang.
" Di, Ardi" panggil nya.
Ardi yang merasa namanya dipanggil pun segera mendatangi tuannya.
" ada apa pak" tanya nya sopan.
" kamu tau dimana mas Galang sering menghabiskan waktu nya jika sedang ingin sendiri seperti saat ini" tanya Wijaya.
Ardi nampak diam berpikir.
" apa mungkin mas Galang ke rumah pacarnya itu ya, duh mas, mas, bikin masalah aja ih, tapi kalau ternyata mas Galang nya nggak ada di situ gimana? " bathin Ardi.
" kita cari di sekitar kampus nya aja dulu pak, barangkali ban mobilnya mas Galang bocor dan handphone nya lowbatt" ucap Ardi memberi saran.
" ya sudah saya ikuti saran kamu, a.. mas Broto, saya akan mencari anak saya dulu, mas Broto bisa menunggu di sini bersama istri saya"ucap wijaya.
" saya ikut mas wijaya"
" kita kemana dulu Di" tanya wijaya setelah duduk di kursi penumpang berdampingan dengan Broto, sementara Ardi yang mengemudikan mobil nya.
" jalan ke arah kampus nya mas Galang pak" jawab Ardi yang sesekali menoleh ke arah kiri, berharap berjumpa dengan mobil tuan muda nya.
saat mereka melalui jalanan yang sepi, dan di sebuah tikungan,mobil yang mereka kendarai terhalang beberapa balokkan kayu besar yang sepertinya sengaja di pasang.
raut wajah wijaya dan juga Broto nampak cemas kini, sementara Ardi menghentikan mobilnya.
" kita putar arah saja pak, sepertinya ada orang yang berniat jahat sama kita" ucap Ardi.
namun baru saja dia akan memutar balik kendaraan nya, sebuah ketukkan keras terdengar dari jendela pada sisi kemudian nya.
" keluar, dan tinggalkan semua barang berharga juga mobil kalian jika ingin selamat, jangan coba- coba melawan" ucap orang di luar kaca, wajahnya sadis, postur tubuh tumbuh ke samping, dengan brewok yang di kuncir nya, menambah kesan sangar pada wajahnya dan tidak hanya satu tapi empat orang yang ada di belakang nya, wah komplotan ini namanya.
Ardi menoleh pada tuan besarnya, bertanya bagaimana ini pak, harus apa? tanya nya dalam hati.
dan rupanya Wijaya dapat membaca mimik wajah sopir pribadinya ini.
" kita keluar saja di, harta bisa di cari, saya nggak punya nyawa cadangan, kalaupun mereka menginginkan semua benda berharga yang ada di tubuh saya, pasti akan saya berikan" ucap wijaya, ya, tentu saja semua yang menempel pada tubuhnya adalah benda berharga, dan jika di gabungkan nilainya bisa mencapai angka mil- mil an,,
horang kaya guys, sikat giginya saja seharga scooter matic nya Dena rek, wuih, apa nggak mubazir aja ya, lah timbang sikat gigi aja yang penting kan tiga bulan sekali ganti, itu kalau kata bu dokter ya, hehehe, mungkin dokter giginya keluarga Galang ini beda ya, dokter merangkap model iklan sikat gigi, endorse gitu ya, atau mungkin sikat gigi yang berlapis emas 24 karat, hem,, yo wes lah, sultan mah bebas.
__ADS_1
Ardi membuka kaca mobilnya,lalu pria yang nampaknya adalah pentolan pada komplotan nya ini mendekatkan wajahnya, bau tembakau menguar dari mulutnya, saat dia bersuara.
" tinggalkan semua benda berharga, termasuk yang ada pada tubuh kalian jangan ada yang tersisa, kecuali underwear kalian, kami tidak membutuhkannya, preloved nya nggak laku dijual" ucap pria itu dengan suara dan wajah sangat sadis, senyum smirk tersungging di bibir nya yang hitam khas perokok aktif.
"saya bilang juga apa di" bathin wijaya yang menoleh ke arah Broto yang duduk di sebelah nya, raut wajahnya tak kalah tegang.
"maaf mas Broto, kita tidak punya pilihan lain, nyawa kita dalam bahaya, biarlah terlihat sangat konyol, kita ikuti saja permintaan mereka" ucap wijaya sembari mulai melepas semua benda berharga yang ada pada tubuhnya, dari mulai jas mewah, jam tangan rolex daytona,iPhone 13,hingga sepatu
Barker black ostrich mewahnya yang harganya jika di rupiah kan tembus pada nominal 14 jutaan itu.
sama halnya dengan Wijaya, Broto yang merupakan pebisnis sukses tersebut juga melepas semua accessories branded yang ia kenakan, semua mewah dan pastinya mahal, tidak heran karena kan pada rencana awalnya nya mereka ini akan membahas tentang kelanjutan hubungan Galang dan Anisa di kediaman wijaya, namun malang memang tak berbau, kini malah mereka hampir menelanjangi diri mereka sendiri, nasib masih beruntung karena mereka hanya boleh menyisahkan underwear nya saja, dengan alasan preloved dari barang tersebut susah laku nya, hem, namanya juga underwear bro, walaupun branded tapi kan tetap saja bekas, bekas terkena najis pula,,
hadeh, ngemeng- ngemeng ni perampok ada sisi kemanusiaan nya juga ya, Alhamdulillah, memang bener kalau kata pak ustadz" sejahat- jahat nya orang pasti pernah berbuat baik juga"
ya, ya, ya, pingin ketawa takut kuwalat kalau kata si Ardi, yang malah tak melepas satu helai pun pakaian yang ia kenakan, bukan karena punya nyawa cadangan seperti apa yang dikatakan tuan besarnya tadi ya, tapi karena ya...
" siapalah aku ini, hanya sopir pada keluarga berada, jas, sepatu dan jam tanganku hanyalah kawe- kawe belaka, entah itu kawe yang keberapa, jika pun ada mungkin itu preloved dari mas Galang yang sudah bosan dengan jam tangan lamanya, lumayankan dapet yang gratisan,walaupun bekasan tapi kan bekasnya mas Galang, pasti terawat dan masih kinclong tentunya"namun Ardi dapat mengambil hikmah dari kejadian yang belum selesai ini, catet belum selesai ya atau sedang berlangsung, bahwa kita seharusnya tidak usah mengumbar- umbar kemewahan yang kita miliki, jadikan investasi dan privasi saja tak perlu lah di umbar ke khalayak ramai.
dan jika sudah begini tinggallah kedua lansia ini, gigit jempol menyaksikan barang- barang mewah mereka di bawa sepenak udele dewe sama komplotan perampok yang minus kekerasan itu.
Mercedes benz C200 keluaran jerman milik wijaya pun sudah berpindah tuan dan melesat cepat tanpa menoleh ataupun hanya sekedar mengklakson sebagai salam perpisahan pada tuan lamanya, miris sekali bukan?
Wijaya dan Broto berjalan kaki menyusuri jalanan sepi, berharap ada kendaraan atau orang yang lewat dan bisa mereka mintai bantuan saat ini.
" kita bisa istirahat dulu di pondok itu pak, jika anda lelah" ucap Ardi yang melihat jika kedua lansia tak lagi berada itu tampak sangat kelelahan, sungguh Ardi tak tega melihatnya, namun apalah daya, dia tak memiliki pakaian cadangan untuk di sedekahkan kepada tuan- tuan besar di depannya ini.
" ini semua gara- gara mas Galang, Kuwalat kamu mas" Ardi mengumpat tuan mudanya yang kini sedang terbatuk, Galang kembali tersedak air liurnya sendiri akibat umpatan Ardi yang sampai kepadanya.
" uhuk, uhuk" Galang memegangi dadanya, dia meraih air mineral yang ada di sampingnya lalu menegukya perlahan.
" jam berapa sekarang" Galang melihat pada jam tangannya.
" ya Tuhan, aku tertidur disini, dia menutup kaca mobilnya yang sedikit terbuka tadi, kemudian ia nyalakan mobilnya, berjalan dengan kecepatan rata-rata, Galang meraih ponselnya.
terdapat banyak notifikasi di layar handphone nya, mulai dari sang papa, Anisa, Dimas, Ardi dan yang terakhir dari Dena.
" apa aku sudah membuat mereka semua khawatir? " tanya Galang.
" kuwalat sampeyan mas"
hehehe...
trimaksih,sudah baca dan like nya, jazakumullah katsiron.
__ADS_1