Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
bunga lili, lagi?


__ADS_3

Saat sang tuan muda mengatakan dirinya ceroboh, sungguh Ardi ingin sekali memberikan cermin yang retak sejuta, biar apa di,kenapa retaknya bukan lagi seribu sekarang ya? hmm,,biar dia bisa melihat bahwa seujung rambut hidungnya saja tak kan bisa terlihat sempurna di cermin itu, lalu kenapa sekarang melemparkan kesalahan yang jelas- jelas dialah penyebab nya, dan kenapa si pak sopir ini yang kena imbasnya , kenapa??


" ya sudahlah, lebih baik sekarang saya pergi sendiri saja ke rumah sakitnya, nungguin kamu bisa satu purnama saya nggak dapat ransum dari Dena, mana kunci mobilnya " ucap Galang menjulurkan tangannya.


" tunggu sebentar mas, biar saya antar mas Galang ke rumah sakit, orang kalau lagi emosi bahaya jika dibiarkan mengemudi" ucap Ardi kemudian masuk kembali kekamar nya, setelah mengganti baju dan membasuh wajahnya, Ardi pun meraih kunci mobil Galang diatas lemari nya.


" ini handphone mas Galang " ucap Ardi menyerahkan ponsel kepada Galang.


" apa Dena menghubungi ku, Di?


" iya, bahkan sampai berkali-kali, tapi ya apa boleh buat, mas Galang kelewatan kalau udah merem, kayak sapi, dan juga kenapa pintu kamar nya dikunci mas? jadi sekuat apapun saya menggedor nya mas Galang ya nggak bakalan bangun" ucap Ardi.


" hmm, gitu ya" ucap Galang lalu membuka layar ponselnya.


" hallo Dena, maaf ya mas lagi dijalan nih mau ke rumah sakit, kamu mau dibelikan makanan apa, bilang aja, nanti mas belikan" ucap Galang pada ujung telepon nya.


" maaf mas, ini saya mirna, mbak Dena nya sedang tidur " ucap Mirna.


"oh ,, apa udah dari tadi mbak Dena nya tidur, dia udah makan belum, dan obatnya apa udah diminum? " tanya Galang melalui sambungan telepon nya.


" sudah semua mas" ucap Mirna dan panggilan pun berakhir.


" Di, kita ke toko bunga dulu sebentar ya, saya mau kasih kejutan buat istri saya, nudah- mudahan bisa mengurangi sedikit kesalnya" ucap Galang yang mendapat anggukan kepala dari Ardi.


Ardi menepikan kendaraan nya di parkiran sebuah toko bunga.


" nggak mau ikut masuk juga Di, siapa tau kamu dapat jodoh disini,florist girl nya cantik- cantik lho Di, ayo ikutan masuk" ajak Galang.


" nggak usah deh mas, nanti kalau saya ikutan masuk jadinya lama, dan mbak Dena bakalan tambah marah" tolak Ardi.


" ya udah kalau nggak mau, tunggu sebentar ya" ucap Galang lalu segera melangkah masuk kedalam toko bunga tersebut.


" selamat datang di merekah florist kakak" ucap seorang gadis cantik berlesung pipi dengan hidung mancung dan juga bibir tipisnya yang kini datang menghampiri Galang.


" terimakasih, saya mau satu bucket bunga lili " ucap Galang.


" baiklah kakak, silahkan menunggu,pesanan akan segera kami siapkan" ucap gadis cantik tersebut.


lalu gadis itu tanpak menemui seorang wanita berseragam batik modern dengan rambut yang dikuncir satu kebelakang.


" Ci, satu bucket bunga lili untuk kakak tampan yang berdiri di samping pajangan itu ya" ucapnya tak terdengar menggema namun cukup berdengung di telinga Galang.


"apa katanya tadi, kakak tampan? Galang segera memalingkan wajahnya, ia melihat ke sekelilingnya dimana kini beberapa wanita tengah memperhatikan nya.


" apa mereka tidak melihat cat pada kuku ku ini, bukankah masih terlihat nyata, ah, orang sini mana tau makna dari inay dikuku ku ini kan, yowes lah, asalkan aku tidak menanggapi nya semua tuduhan masih bisa aku tolak" bathin Galang masih mencoba abai.


namun sejurus kemudian ia pun melihat jari manisnya yang rupanya tak mengenakan cincin kawinnya.


" ah, pantas saja mereka berkata seperti itu, pasti mereka menyangka aku ini masih single kan, huh Dena" ucapnya lalu duduk pada kursi yang tersedia.


" ini kakak, satu bucket bunga lili, apakah kakak ingin menambahkan kata- kata romantis untuk ibunda kakak? " tanya gadis cantik yang sepertinya adalah pemilik toko bunga ini.


" ibunda? baiklah mungkin Galang harus membenarkannya, ibunda dari calon anak- anakku nanti,, aamiin.


" a,, tidak perlu, saya bisa meminta selembar kertas, biar saya tulis sendiri " ucap Galang.


gadis itu kemudian meraih dua lembar kertas lalu memberikannya kepada Galang.


Galang yang merasa hanya membutuhkan satu lembar kertas saja itupun memandang pada gadis didepannya ini.


" a, saya hanya meminta satu lembar saja, kenapa nona memberikannya lebih, silahkan" ucap Galang mengembalikan kembali satu lembar kertas nya.


" kakak bisa menulis apa saja di situ, lalu berikanlah untuk ku" ucap gadis itu dengan senyum manis nya.


Galang sudah tak berniat meneruskan sesi questions and answer nya kali ini, iapun segera menyerah kan beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu kepada kasir yang berdiri di depan mejanya.


" terimakasih" ucap Galang lalu segera menyambar bucket bunga lili dari tangan gadis yang merupakan anak dari pemilik florist tersebut.


"kenapa mas, apa ada kabar buruk dari rumah sakit? " tanya Ardi saat ia melihat tuan mudanya itu tampak seperti orang shock, nafasnya ngos-ngosan, wajahnya memerah,,


" ini lebih buruk dari berita itu Di" ucap Galang lalu segera duduk di samping Ardi.

__ADS_1


Ardi menatap tak mengerti, dalam pikiran nya mungkinkah mbak Dena nya itu drop lagi atau kah tak sadarkan diri, lalu apa yang lebih buruk dari kabar itu, ah membayangkan nya saja Ardi emoh yo,,,


" innalillahi,, " ucap Ardi menutup mulutnya dengan satu telapak tangan.


" iya ini musibah buat saya di, dan kamu ikut andil dalam musibah ini" jawab Galang lalu melempari sang sopir dengan tisu di depannya.


" lho kok saya lagi sih mas, njur kepiye ceritane iku? " tanya Ardi semakin bingung saja kini.


" lain kali kalau saya minta kamu buat nemenin saya kemana saja, jangan nolak lagi ya" pinta Galang.


" oh, yang mas minta saya buat masuk kedalam toko bunga itu tadi ya, kenapa emangnya mas, beneran banyak gadis cantik nya lalu mas Galang jatuh cinta,, na'udzubillah,, mas belum juga seumur jagung, udah mau dipangkas aja, tega sampean mas" cibir Ardi yang malah mendapatkan tonjokan kecil dari Galang.


" ngawur kalau ngomong, siapa yang jatuh cinta, nggak ada, yang ada saya dikejar-kejar sama anak pemilik tokonya, dan dia bilang saya ini kakak tampan Di, dih nggilani, kayak ababil aja " ucap Galang bergidik ngeri, membayangkan ekspresi manja gadis anak pemilik toko bunga tadi.


" Wah ini kalau sampai mbak Dena tau cerita ini, bagaimana nih mas, kok saya nggak yakin mas Galang bakalan aman ya" ucap Ardi yang kemudian menambah kecepatan kendaraan nya.


tak lama kemudian mereka sudah sampai dirumah sakit dimana Dena tengah dirawat.


namun dari tempat nya berjalan ia seperti melihat seorang pria yang sangat ia kenali dari postur tubuhnya tengah berjalan keluar dari rumah sakit ini.


" Di, itu seperti tuan Ismail kan? " tanya Galang seraya matanya menunjukkan pada sosok laki-laki yang tengah berjalan seorang diri nampak keluar dari rumah sakit.


" kalau dilihat dari perawakannya sih iya mas " ucap Ardi.


" ah, sudahlah, mungkin hanya sekedar mirip, bahkan wajahnya saja tak terlihat " ucap Galang lalu mengetuk pintu ruangan perawatan Dena.


saat mendengar suara pintu diketuk, Dena segera membuka matanya.


" assalamu'alaikum sayang, maaf mas kelamaan dirumah nya" ucap Galang lalu mendekat dan menciun singkat kening sang istri yang malah. langsung memeluk nya erat.


" kenapa, apa dirumah sakit ada yang nyakitin kamu? " tanya Galang seraya mengeratkan pelukan mereka, sementara Mirna segera meninggalkan ruang perawatan nyonya mudanya.


" lho kenapa keluar mbak, saya aja mau masuk kedalam , kok mbak nya malah keluar "tanya Ardi, Mirna tak menjawab ia hanya menunjuk dengan matanya agar si Ardi itu bisa melihat bahwa ada yang lagi mesra- mesra an didalam sana.


" o,, ya sudah kalau begitu saya juga ikutan keluar aja, ayo mbak keluar sama- sama" ucap Ardi lalu keduanya pun keluar meninggalkan pasangan pengantin baru yang sedang melepas rindu, lebay,,, belum juga satu hari nggak bertemu masa udah rindu? lho namanya juga pengantin baru Di, setiap waktu ku ingin selalu denganmu,, ora percoyo yo Cubo o,apanya? ya nikahnya,, masa mau langsung jadi pasangan baru,, saru!!


Galang melepaskan pelukannya terhadap Dena.


Dena mengangguk.


" mas, aku mau pulang deh hari ini, nggak perlu nunggu besok, udah bosen di sini " ucap Dena pelan.


" tapi nanti kalau dirumah, mas nggak bisa jagain kamu terus- menerus Dena, proyek mas dengan tuan ismail sudah mulai berjalan dan mas harus turun tangan langsung, mas tidak bisa jika hanya mengandalkan Olivia atau wakil direktur saja, kamu nggak keberatan kalau mas tinggal? " tanya Galang.


" apa kamu akan sering keluar kota mas, berapa lama? " tanya Dena masih dengan suara parau nya.


" mungkin iya sayang, karena proyek kali ini memang berada di luar pulau, bahkan mas juga harus ikut dengan tuan ismail ke Kl, apa kamu mau ikut, sekalian kita honeymoon yang ke 2,mau? " ucap Galang dengan mengerlingkan satu matanya.


Dena mencubit perut Galang, walau pun tak kuat tapi yang namanya dicubit perut lagi,, pastilah sakit..


" aww, sakit sayang"


" mas mesum ih, aku nggak mau ah, kalau kerja ya kerja aja, honeymoon ya honeymoon aja, jangan dicampur adukkan, nggak profesional itu namanya" ucap Dena.


" weh yang udah pro,, iya deh mas tau, setelah pekerjaan ini selesai mas akan ajak kamu jalan- jalan gimana, udah profesional kan? " tanya Galang, Dena pun tersenyum.


walaupun mereka ditemani oleh asisten yang mereka bawa dari rumah, namun Galang lebih memilih membereskan sendiri seluruh pakaian dan juga perlengkapan Dena selama ia dirawat dirumah sakit, bukan tanpa alasan walaupun dirumah, baik Galang maupun Dena tak pernah sekalipun menyerahkan urusan cuci mencuci itu yang namanya underwear kepada para asisten rumah tangga nya, alasan nya karena itu sama saja kita merendahkan mereka, tidak sopan, tidak ada tatakrama nya, melanggar norma susila, dan segala hal yang buruk- buruk lah jika sampai barang- barang rahasia mereka itu terjamah oleh para abdi dalem dirumah besarnya.


" sekarang mas mau urus administrasi nya dulu, kamu tunggu aja di sini, nanti ada suster yang datang buat melepas infus ditangan mu" ucap Galang mengusap puncak kepala sang istri lembut.


setelah berucap demikian, Galang pun segera menuju ke ruangan dokter Angga.


" permisi dok " ucap Galang sebelum masuk kedalam ruangan praktik sang dokter.


" a, pak Galang, silahkan masuk pak" ucap sang dokter ramah.


"emm, baiklah jika Dena nya sudah merasa lebih baik, nanti saya akan cek ulang, jika memang semuanya sudah stabil kami akan berikan surat rawat jalan, agar Dena bisa beristirahat total dirumah, pasti dia bosan dirumah sakit" ucap dokter Angga.


" semua sudah stabil, nanti akan saya buatkan resep multivitamin untuk Dena, inget kurangi makan- makanan pedas, terlalu asin dan juga masam, aa,, pak Galang bagaimana rencana progam kehamilannya apakah sudah menghubungi dokter ginekologi yang saya sarankan? " tanya sang dokter yang tersenyum jahil terhadap Dena.


" beres dok, semua sudah ada jadwalnya tinggal eksekusi saja " ucap Galang menimpali.

__ADS_1


" dokter Angga sama mas Galang rupanya sama aja ya, sama- sama mesum" ucap Dena kesal, namun ia hanya diam diatas hospital bednya karena Seorang perawat tengah membuka infus di tangannya.


" terimakasih dok, kami merasa sangat beruntung bersahabat dengan dokter Angga, semua dimudahkan " ucap Galang sebelum meninggalkan ruang perawatan sang istri.


" pak Galang terlalu berlebihan, saya hanya perantara pak, semua atas kehendak Allah, semoga berhasil usahanya, jika butuh informasi akun saya selalu online untuk pak Galang dan pintu rumah saya juga selalu terbuka, ya walaupun saya nya nggak ada dirumah, hehehe " keduanya lalu tertawa.


Galang mendorong kursi roda dimana Dena duduk disana.


sementara Mirna tampak membawa tas kecil milik Dena, dan si Ardi kebagian membawa koper yang berisi pakaian Dena.


lalu mereka pun meninggalkan rumah sakit.


sementara itu tak jauh dari ruangan Dena dirawat dirumah sakit, terlihat sedikit perbincangan antara seorang perawat dengan seorang pria yang satu tangannya ia letakkan di belakang punggungnya dan nampak lah ia rupanya membawa bunga lili segar ditangannya.


" saya tidak tau namanya, tapi saya lihat tadi ia masuk keruangan itu ditemani oleh asisten pribadi nya, apakah saya boleh menjenguknya ? pinta sang pria.


" maaf tuan, tapi pasien yang Anda maksud sepertinya baru saja keluar" ucap sang perawat memberi keterangan kepada si pria yang tak lain adalah ismail yang datang untuk menjenguk Dena dan dia berniat memberikan bunga lili segar kepada Dena.


" a, baiklah kalau begitu, rupanya saya terlambat sedikit saja" ucap ismail tampak kecewa, lalu ia pun meletakkan bunga lili tersebut dimeja.


" tuan bunga anda!! ucap perawat wanita yang langsung meraih bunga didepannya itu.


ismail tak menggubris nya, ia pun melangkah menuju parkiran dimana mobilnya berada.


" seandainya aku datang sepuluh menit lebih cepat dari ini, mungkin aku bisa mendapatkan nomor handphone atau akun media sosialnya, arrggh,,, namanya saja aku tak tau,, lalu apalagi,, kenapa aku sangat memikirkannya? " ucap ismail gundah,


" apakah aku jatuh hati padanya, bagaimana jika ternyata dia sudah memiliki pacar atau lebih buruknya sudah bersuami,, emmaakkk,, kenapa kutukan itu belum juga hilang dari hidup ku,,,


" selamanya kamu akan menjadi perusak rumah tangga orang"


kalimat itu kembali terngiang ditelinga sang bujang, manakala dulu ia pernah menjalin hubungan dengan pacar sahabatnya sendiri, tapi itukan dulu jhonnn,, zamannya ia sekolah saja masih dibenerin emak jika tali kasutnya tak rapih,,, duh, aduh,,, malang betul nasib badan,, dikutuk kawan jadi pebinor rupanya awak ni,,, il, ismail bin mail.


sementara didalam rumah sakit ,dokter Angga tampak berjalan akan mengontrol satu persatu pasien nya, namun saat melintasi meja para perawat ia melihat bunga lili tergeletak disana.


" siapa yang membawa bunga lili ini, ini masih segar? " tanya sang dokter lalu tampak menciumi bunga tersebut.


" seorang pria dok, sepertinya ia bermaksud mengunjungi istri dari sahabat dokter Angga yang baru keluar tadi" jawab salah satu perawat disitu.


" pria, istri sahabat ku? Dena? "tanya nya dalam hati.


" emm, apa dia mengatakan sesuatu pada kalian? " tanya dokter Angga lagi.


" nggak ada dok, dia hanya meninggalkan bunga nya saja tanpa tambahan pesan" ucap perawat itu lagi.


" hmm, ya sudah bunga nya saya bawa keruangan saya saja, jika pria itu datang untuk mengambil bunga ini, silahkan ambil di ruangan saya" ucap dokter Angga sebelum berlalu.


" baik dok "


" bunga lili? pria?tapi bukan pak Galang, lalu siapa? Dena apa kamu tengah bermain api dengan pernikahan mu, kamu akan terbakar sendiri Dena" ucap sang dokter lalu meletakkan bunga tersebut diatas meja kerjanya.


"mas, aku mau mandi dong" ucap Dena saat kini keduanya sudah ada didalam kamarnya.


" mau mas mandiin? " tanya Galang sumringah.


" bantuin aja, aku masih sedikit lemas, takut terpeleset di dalam kamar mandi" ucap Dena yang segera berdiri menuju kamar mandi.


" pelan- pelan saja" ucap Galang meraih pinggang sang istri.


Dengan penuh kasih sayang Galang mulai melepas pakaian Dena, namun tidak dengan underwear nya, setelahnya Galang menghidupkan kran air hangat kedalam bathub yang akan digunakan Dena untuk berendam.


" bisa sendiri? " tanya Galang sebelum Dena masuk kedalam bathub nya.


Dena mengangguk.


" mas tinggal sebentar ya" ucap Galang lalu masuk kedalam kamar nya.


Terima kasih,,


happy reading sampai happy ending ya,,,


see u,,,

__ADS_1



__ADS_2