
Dena sungguh sangat gugup kali ini, tadi sebelum mereka masuk kedalam rumah besar,Galang sudah berpesan agar Dena tak perlu menjawab pertanyaan sang mama, cukup dirinya saja, namun rupanya kenyataan tak seindah rencana gess, bahkan sekarang sang mama tak membutuhkan suara nya, cukup diam katanya,, duh mesakno emen lang, lang.
" maksud mama apa ya, maaf Dena belum mengerti ma" ucap Dena menunduk.
Ryanti pun menoleh kepada Wijaya, Wijaya pun menganggukan Kepala nya.
"sebenarnya sih mama udah curiga waktu kalian hanya berdua di ruangan Galang tadi, apalagi waktu sekretaris genit mu bilang jika kalian sudah cukup lama di dalam, dan dia tak berani mengetuk pintu ruangan Galang, kenapa?"tanya Ryanti.
Galang akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan mamanya, namun ia urungkan saat sang mama meletakkan jari telunjuk pada bibirnya, yang artinya adalah diam!!
Dena bingung, apa iya ia harus berkata jujur bahwa calon suaminya itu hampir saja menodainya,, tapi Dena tak berani membayangkan konsekuensi nya, entah itu hanya untuk Galang atau bisa jadi berlaku juga untuk dirinya.
" Dena, mama nanya lho ini, kenapa diem aja" ucap Ryanti lagi, namun Dena masih bergeming.
" baiklah kalau kamu nggak mau jawab, berarti feeling mama benar, kalian mesum dikantor!! Galang dan Dena serentak menggeleng kan kepala nya.
" itu nggak benar ma" bantah Galang ,namun lagi Ryanti memberi isyarat agar Galang jangan dulu bicara.
"ma, sebaiknya kita dengar jawaban versi tersangka utamanya ma, kalau Dena papa yakin sih hanya sebagai korban " ucap sang papa yang juga tengah memperhatikan Galang dan juga Adreena.
" kebalik dong pa, justru korban lah yang harus memberikan kesaksiannya, maling mana ada yang ngaku, ya nggak lang" Ryanti menatap kepada Galang yang menggeleng kan kepalanya.
" mama tega ih, masa anak sendiri dibilang maling, istighfar ma, istighfar,astaghfirullah"ucap Galang.
" lho mama bener kan lang, mama kok nggak yakin sama kamu, lebih yakin sih sama Dena" ucap sang mama lagi.
" ma, sebenarnya yang anak mama ini Galang apa Dena sih? " tanya Galang.
" dua- duanya" jawab sang mama singkat.
" lagian nih ya pa, bisa aja kan anak mu yang tersangka ini mengancam Dena untuk memberikan kesaksian palsu sama mama, bener nggak lang? " imbuh sang mama,
" mama sudah berkali- kali memfitnah Galang, oke nggak apa, Galang terima,tapi Galang nggak bisa jamin kalau Dena, gimana sayang? " tanya Galang menoleh kepada Dena.
" sayang, sayang, kamu pikir mama percaya apa hem!! Ryanti kini menarik kuncir Galang.
"udah dong ma, sakit nih, belum ada yang mijitin,belum H_A_L_A_L,,, " Galang menoleh kepada Dena kala mengucapkan kata-kata yang sering di ucapkan oleh Dena.
" halah sejak kapan kamu tau halal haram" ucap sang mama mencibir Galang.
" mama udah dong, kenapa hobby banget sih memojokkan anak sendiri, caten tampan nih" Galang mendekat kepada mamanya.
Ryanti tersenyum melihat tingkah laku putra semata wayang nya ini.
" ma, kayaknya mereka nggak mau mengakui apa yang sudah menyebabkan benda kecil ini meluruh ke lantai, papa punya ide bagus nih dan papa jamin mereka tidak bisa mengelak lagi, lang papa pinjem handphone nya dong" kini Wijaya yang bicara, Galang tau kemana arah pembicaraan sang papa,
" CCTV, mampus gue, masih terhubung lagi, aduh,, " Galang gugup sekali gess, dia melihat kepada Dena yang dilihatnya juga sedang tidak baik- baik saja, sebuah keputusan akan diambilnya, dia akan mengaku saja, setidaknya dia masih bisa menyelamatkan wajah Dena di depan orang tuanya, biarlah dirinya saja yang menanggung akibat dari perbuatan nya itu.
" nggak perlu ma, pa, mama sama papa nggak perlu mengecek CCTV di kantor"
" lho, memangnya kenapa, CCTV-nya udah kamu rusak duluan, kesamber petir, atau apa? " tanya Ryanti bingung.
" Galang akan mengatakan nya disini, tapi Galang mohon papa sama mama jangan memojokkan Dena, karena dalam hal ini kesalahan sepenuhnya ada pada Galang " ucap Galang lalu tersenyum kepada Dena yang menganggukan kepalanya.
Galang pun akhirnya nya mengakui apa yang telah dia lakukan terhadap Dena dikantor nya tadi, ya walaupun mereka tak sampai pada tahap yang menjijikkan tapi sungguh, Galang membutuhkan mental yang cukup untuk mengatakan ini semua.
" Galang khilaf ma, tapi Galang patut bersyukur karena calon menantu mama ini adalah wanita istimewa" ucap Galang mengakhiri penjelasan nya.
Ryanti menoleh kepada suaminya,
" gimana ini pa, apa sebaiknya akad nikahnya dipercepat, mama kok nggak yakin kalau Dena bakal selamat dari buaya danau macam Galang ini"
mata Galang membulat sempurna, dia sudah berkata jujur, sejujur- jujurnya, tapi kenapa mamanya ini, ya walaupun sebenarnya dia setuju dengan saran pertama dari sang mama, tapi untuk buaya danau nya, oh sungguh Galang tidak seburuk itu.
__ADS_1
" Galang setuju sama saran mama yang pertama" mendengar ucapan Galang, Ryanti segera saja meraih satu bantal sofa yang berbentuk love, lalu ia lempar kan kepada Galang.
" dasar otak mesum!! ucap Ryanti menimpuk bahu Galang berkali- kali dengan bantal sofanya.
Galang sibuk menutupi bahu dengan tangannya.
" ampun ma ampun,, " ucapnya lalu memeluk sang mama.
Ryanti pun beranjak mendekat kepada suaminya saja, ,
" gimana pa" bisiknya.
" sepertinya nggak perlu ma, toh besok mereka sudah dipingit, jadi Dena aman"ucap Wijaya.
Ryanti manggut-manggut, ia pun setuju dengan pikiran sang suami.
" besok kalian sudah mulai di pingit kan? " tanya Ryanti.
" lusa ma" jawab Galang.
" kenapa lusa, setau mama besok lho, iya kan Dena? " kini Ryanti ganti melihat kepada Dena yang langsung mendongakkan kepalanya.
" besok kita akan menghadiri pesta pernikahan nya dokter Angga ma, jadi dipingit nya lusa " ucap Dena yang kembali tertunduk.
" oh, jadi minta perpanjangan waktu nih ceritanya, emang udah di izinin sama orang tua mu " tanya Ryanti lagi.
" belum ma, rencananya pulang nanti Galang akan bicara sama ayah dan ibu Dena"jawab Galang.
" kalau nanti di izinin, mama mau besok kalian perginya di kawal sama Ardi, dan ingat nggak ada istilah Ardi nya pulang duluan, paham?
Galang dan Dena mengangguk.
" ya udah sekarang kalian pulang, nanti keburu gelap" Galang dan juga Dena pun segera beranjak dari duduknya, dengan senyum bahagia Galang berjalan menuju mobilnya, namun alangkah terkejutnya dia karena rupanya Ardi sudah ada di balik kemudi, tersenyum manis kepadanya.
" nganterin mas Galang sama mbak Dena" jawab Ardi lalu menghidupkan mesin mobil Galang.
" siapa yang nyuruh " tanya Galang lagi, ia masih berdiri di ambang pintu mobilnya.
" mama yang nyuruh" Galang tak berani lagi protes jika pintu syurga nya sudah berucap, ia pun segera membuka pintu belakang dan mempersilahkan Dena untuk duduk terlebih dulu,ya mereka ada di kursi penumpang.
" ngebut Di, keburu magrib" ucap Galang yang mendapat tatapan tajam dari Dena.
" kenapa? " tanya Galang pelan.
" aku nggak suka ngebut- ngebut" ucap Dena.
" a, di, rata-rata aja, nyonya muda takut" ucap Galang lalu menyilangkan kakinya, namun sejurus kemudian dia merasakan pedih di paha kanannya,
"awww, sakit sayang"ucapnya seraya menahan tangan Dena yang masih mencapit dengan kedua jarinya.
" kamu sama mama sama aja ya, hobby mencubit" ucap Galang lalu membawa satu tangan Dena ke bibir nya.
" mas, lepasin, malu" ucap Dena dengan gerakan bibirnya menunjuk kepada Ardi.
" Di, kamu fokus nyetir aja, untuk sementara telinga mu mode budeg dulu ya, oke? " ucap Galang dan Ardi pun mengacungkan satu ibu jarinya, hal yang membuat Galang tersenyum puas.
*
*
*
" tapi janji setelah acaranya selesai, kalian langsung pulang, nggak usah kelayapan kemana-mana " ucap ayah Dena, setelah mendengar permintaan kedua calon pengantin di depannya ini.
__ADS_1
" iya Pak, kita juga perginya kan dianterin sama sopirnya mas Galang"ucap Dena.
setelah mendapatkan izin perpanjangan waktu dari calon mertuanya, Galang pun pamit undur diri.
" mas pulang dulu ya, besok mas jemput, dandan yang cantik, pakai gaun yang dari mas itu ya" pinta Galang yang di angguki oleh Dena.
" ekhm, ekhm" Galang segera memutuskan pandangannya kepada Dena, saat si sontoloyo Ardi sudah mengkode dengan deheman gatalnya.
" iya, iya" ucap Galang kepada Ardi yang bersandar pada bahu mobil Galang.
Galang pun segera melangkah setelah berpamitan kepada Dena.
*
*
*
pagi pun menjelang, Dena sudah bersiap dengan dress pesta berwarna abu muda yang dipilihkan Galang,tak lupa polesan make up flawless yang menjadikan wajahnya semakin memancarkan aura kecantikan nya.
Dena keluar dari kamarnya, saat mendengar suara orang berbincang-bincang di teras rumahnya.
" mas" sapanya saat melihat bahwa Galang lah yang tengah berbicara dengan ayahnya.
setelah sang ayah masuk kedalam rumah, Galang melangkah mendekat kepada Dena.
" subhanAllah, cantik banget sih calon istri ku" ucap Galang tepat di depan wajah Dena.
" mas udah dong, lihat tuh mas Ardi nggak berkedip lihatin kita, ayok ah" Dena melenggang mendahului Galang.
*
*
*
mereka tiba di lokasi resepsi saat acara sedang berlangsung, tampak kedua mempelai yakni dokter Angga dan sang istri tengah menyalami para tamu yang ingin memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
" dokter, selamat ya" ucap Dena saat menyalami sang dokter.
" iya Dena, selamat juga buat kamu yang sudah menemukan kembali serpihan hati mu yang dulu pernah pergi" sang dokter membalas ucapan selamat dari Dena.
" dokter cerita dong, kok tiba-tiba aja langsung sebar undangan, dijodohin ya? " tanya Dena setelah melepas jabatan tangannya.
" mirip- mirip dengan kisah mu sama mas Galang mu itu"ucap sang dokter?
" ekhm, ekhm, sayang jangan lama- lama dong, nggak lihat apa tuh bu dokternya ngeliatin kalian terus, bisa gagal unboxing nanti dokter Angga nya" Galang berbisik kepada Dena.
" mas ih" Dena mencubit lengan Galang yang tentu saja tak berefek apapun karena ia mengenakan jas disebalik nya.
" selamat dok, dan trimakasih untuk nasihatnya, akhirnya saya menemukan kembali tulang rusuk saya " ucap Galang saat bersalaman dengan sang dokter.
" Alhamdulillah, semoga sak lawase nggeh[ selamanya ya]ucap sang dokter menimpali.
" Roaming dok, saya bukan Dena" ucap Galang bingung.
sang dokter pun tersenyum.
trimakasih, semoga selalu suka
selamat membaca,,
see u,,,,
__ADS_1