
setelah berpamitan dengan beberapa karyawan di kafe nya Galang bersama Dena pun meninggalkan tempat itu.
" besok udah cuti kuliah kan? " tanya Galang yang di angguki oleh Dena.
Dena menoleh, sepertinya ada yang ingin ditanyakan kepada Galang.
" apa, wajahmu udah ketebak, mau nanya apa? " ucap Galang.
" kamu mengundang tante Anisa sama keluarga nya juga di acara pernikahan kita mas? " tanya Dena.
" nggak, Anisa udah pindah ke luar negeri ikut suami nya, tapi kalau orang tuanya, mas rasa papa sama mama yang mengundang mereka, secara ,mereka kan mantan calon besan, silaturahmi harus tetap terjalin" jawab Galang.
" mas" ucap Dena takut- takut,
" hmm" ucap Galang lagi.
" tanya lagi boleh nggak?
" boleh tapi nggak gratis ,jawabannya harus bayar"
" ish, perhitungan banget sih" dengkus Dena kesal.
" bayarnya nggak usah pakai uang, tapi nanti aja bayarnya setelah akad"
" mulai deh, pikiran mu itu mas nggak bisa jauh- jauh dari hal seperti itu" ucap Dena.
" kamu jangan langsung suudzon gitu dong sama mas, memang nya mas mau minta bayaran berupa apa sama kamu?
" ya sudahlah, aku cuma mau nanya itu aja" ucap Dena lalu menyender pada kursinya.
tak lama mereka sudah tiba di kediaman Dena.
" mas langsung pulang aja, masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan, biar nanti pas honeymoon udah free, nggak ada yang gangguin " ucap Galang yang membuat Dena tersipu.
" kamu makin cantik kalau malu- malu gitu, mas suka"goda Galang.
" gombal, gembel!! ucap Dena kesal kemudian masuk kedalam rumahnya.
Galang pun berjalan menuju mobilnya dimana disana Ardi sudah menunggunya.
" langsung pulang atau mampir kemana dulu mas? " tanya Ardi sebelum melajukkan kendaraan nya.
" mampir ke supermarket dulu Di" jawab Galang lalu menutup pintu mobilnya.
kendaraan melaju membelah jalanan ibukota yang ramai.
Ardi memakirkan kendaraan nya di area basement supermarket tersebut.
" keperluan kamu masih cukup semua Di? " tanya Galang di sela- sela langkah kakinya menuju lantai dua pusat perbelanjaan tersebut.
__ADS_1
Ardi tau memang tuan mudanya ini selalu memperhatikan penampilan setiap karyawan nya tak terkecuali Ardi dan nilai lebih nya adalah dialah yang akan selalu mencukupi kebutuhan mereka itu, baik itu external maupun internal ya,,
external seperti misalnya kemeja, jeans, tshirt, kaos oblong, nah kalau yang internal ya bisa kalian jabarkan sendiri lah apa saja kebutuhan internal kaum adam itu,, biasanya sih disebut nya underwear,,,,
" mas mampir ke counter pakaian khusus gen deh, kebetulan punya saya sudah kecil semua " ucap Ardi.
eh, eh, eh,, Galang segera mengalihkan penglihatannya pada bagian,,, emm,, maaf, maaf,,,
" kamu gendutan sekarang Di, minum obat kuat ya,, buat apa? yang mau menikah itu saya lho, kenapa yang ikhtiar kok kamu" ucap Galang dengan wajah herannya.
" mas Galang ngomong apa, saya nggak pernah ya minum yang kayak gituan, dosa" jawab Ardi.
" ah, masa iya sih Di, cuma minum aja udah dosa, lebay deh kamu"
" lho iya mas, gimana kalau setelah minum ramuan itu terus birahi saya timbul, apa nggak dosa itu jadinya mas, sementara pasangan halal belum punya, lho kemana melampiaskan nya, hayo" ucap Ardi dengan senyum dibibir nya.
" solo karir aja di, lebih aman" sarkas Galang.
" mas Galang sering ya kayak gitu, astaghfirullah mas, udah nggak perjaka lagi dong, kalau saya sih emoh mas, mending nggak usah minum yang kayak gituan deh" ucap Ardi lagi, Galang tertawa mendengar jawaban sopir pribadinya itu,
mereka kemudian masuk pada tempat yang dikatakan Ardi sebelum nya tadi.
Ardi menoleh saat ternyata Galang juga ikut dengan nya.
" mas mau nemenin saya, nggak usah mas saya bisa sendiri, percaya deh" ucap Ardi menghentikan langkah nya.
" kepedean kamu, saya juga lagi cari benda-benda itu, emang kamu aja yang membutuhkannya "
setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan keduanya pun kini sudah ada di dalam kendaraan.
*
*
*
" langsung masukkan di garasi aja Di, saya nggak keluar lagi, capek mau istirahat " ucap Galang setelah tiba di kediamannya, sembari menutup pintu mobilnya, lalu masuk ke rumahnya.
tak ada siapapun di depan, seperti biasa, mama dan papa nya pasti sedang duduk- duduk santai di taman samping rumah.
Galang tak berniat menghampiri, ia langsung naik kekamar nya saja.
setelah membersihkan tubuhnya Galang duduk menghadap laptopnya,
" semua persiapan sudah di rampung kan, hanya tinggal menunggu harinya saja, duh Dena, rasanya kok seperti mimpi, padahal waktu aku meninggalkan dirimu saat itu, rasanya duniaku sudah berhenti di Anisa, aku bahkan tak lagi memiliki keyakinan yang ku gadang- gadang kan kepadamu, rasaku hambar, tak manis ataupun gurih, apalagi pahit, aku sudah pasrah, tapi rupanya sang maha Cinta memang menginginkan kita bersama, apapun rintangan dan masalah nya, toh tulang rusuk mu tetap akan bersatu dengan ku, hmm, Trimakasih Allah,, Galang membaringkan tubuh lelahnya menatap langit- langit kamarnya,
hingga tanpa disadari ia sudah Terlelap.
Galang dan Dena dipingit selama dua hari, dan selama dua hari itu mereka benar-benar tidak pernah bertemu, hanya sesekali Galang melakukan panggilan video kepada Dena, walau sebenarnya hal itu tidak efektif, namun lumayan lah, bisa mengikis sedikit rasa rindunya terhadap Dena, seperti halnya hari ini,
__ADS_1
Dena sedang dihias kukunya menggunakan Hena, ya walaupun dia bukanlah gadis palembang, namun ia mencintai budaya itu, baginya itu sesuatu yang unik, bukan nail art ya, tapi inai,, dan disebut Hena.
Dena ditemani seorang wanita yang kini tengah menghias kukunya dengan inai, ketika tiba- tiba ponselnya berdering.
" tolong ambilin mbak" pinta Dena pada wanita berhijab mint tersebut.
" iya mas ada apa? " tanya Dena pada panggilan suara nya.
" kangen kamu" ucap Galang pelan, Dena melihat pada wanita yang tengah menghias punggung tangannya sekilas, takut- takut jika kalimat Galang barusan didengar oleh wanita itu.
" emm, aku lagi dipasangin inai nih, kamu juga ya" ucap Dena mengalihkan pembicaraan.
" kamu kok nggak bales ungkapan kangen mas sih, kenapa? memangnya nggak kangen ya? " tanya Galang.
" mas, malu ih, aku nggak sendirian disini " ucap Dena pelan, padahal wanita disamping nya itu sesungguhnya sudah mendengar apa yang di ucapkan oleh Galang, hanya saja ia berpura-pura tidak tau saja.
" ya udah nanti kalau udah selesai melukis tangannya bilang ya, nanti mas hubungi lagi" ucap Galang sebelum mengakhiri panggilannya.
" siapa mbak, calon suaminya ya, mau dipasangin Hena juga? " tanya wanita disamping Dena.
" saya sih pinginnya gitu mbak, tapi dia akan usahain, kukunya aja cukup sih" jawab Dena.
setelah selesai menghias tangan dan kuku Dena, wanita itupun pamit pulang, sementara Dena tengah duduk dikamar nya, memandang keluar jendela, disaat itulah ia merasa sebuah sapuan halus membelai rambutnya, ia pun menoleh.
" ibu" ucapnya ketika sang ibu ada disamping nya.
" udah selesai dihias kukunya? " tanya sang ibu.
" tinggal nunggu kering nya aja bu" jawab Dena, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu yang duduk disebelahnya.
" kamu bahagia dengan pilihan mu ini nduk? " tanya sang ibu seraya mengelus surai hitam Dena.
" insya Allah, ini takdir Allah bu, dan Dena percaya takdir Allah nggak pernah menyusahkan hambaNya" ucap Dena .
" syukur lah, ibu ikut bahagia semoga acara besok berlangsung sesuai doa kita ya " ucap sang ibu lalu mengecup puncak kepala Dena, dia sedih namun juga bahagia, putri semata wayangnya telah menemukan pendamping hidup yang memang dicintai dan mencintai nya, namun ia tak mungkin menampakkan kesedihan nya itu, biarlah hanya airmata bahagia yang akan Dena lihat di wajah kedua orang tuanya esok hari.
" Allah, rupanya Engkau mengabulkan setiap keinginan ku, hanya saja kesabaran ku tak sampai pada waktu Mu, hingga mungkin aku pernah ber suudzon terhadap Mu, astaghfirullah" dengan mata berkaca- kaca Dena mengingat setiap ucapan yang pernah di dengungkannya dalam setiap sujud panjangnya, dan satu persatu menjadi nyata, salah satu doanya ialah, ia pernah menginginkan bisa berjodoh dengan pria sebaik dan se sholeh ayahnya, tapi apa yang akan di dapatkan nya esok bahkan melebihi apa yang pernah di pintanya,,
baik ,tentu saja Galang adalah pria baik ,sholeh, Mudah-mudahan kata- kata mesum Galang berbanding terbalik dengan ketaatan nya dalam. hal ibadah dan juga terhadap orangtuanya, tampan, oh sungguh Dena tak pernah memimpikan bisa bersuamikan pria setampan Galang, lalu mapan,, siapapun tau bahwa mantan dosen yang sekarang menjabat sebagai seorang presiden direktur di perusahaan nya dan Ceo di kafe miliknya itu adalah pria mapan, bahkan Dena pernah menyangka bahwa Galang ini memiliki showroom mobil, dilihat dari seringnya ia bergonta-ganti kendaraan jika datang ke rumahnya atau sekedar mengantarkan nya ke kampus.
ya begitulah jalan takdir seseorang tidak ada manusia yang bisa menebaknya, jika sudah tiba saatnya maka tak ada yang bisa menghalanginya, sekuat apapun cobaan yang datang menghadang toh mereka akhirnya bersatu juga, insya Allah.
intinya tetap ikhtiar dan juga tawakkal.
ingat,doa adalah kekuatan kita, saat tak seorang pun peduli dan meremehkan kita, kita harus percaya ada Allah yang memudahkan setiap urusan kita.
jazakumullah khoiron
happy Reading
__ADS_1
see u,,,