Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
layak untuk di perjuangkan.


__ADS_3

Dena masih memejamkan matanya, ketika seorang wanita datang dengan tergopoh- gopoh dari kejauhan, Galang yang melihat hal itu segera membangunkan Dena.


"sayang, itu kayak nya ibu kamu,wajahnya panik banget" Galang menepuk-nepuk pipi Dena pelan.


merasa ada yang membelai pipinya, Dena malah semakin asyik menelusup kan wajahnya pada punggung tangan Galang, hmm, ora sadar iku pasti, kalau udah sadar nanti mau bilang apa coba? heh, kalian berdua itu podo wae, bucin tingkat akut..


Galang berusaha melerai tangannya yang menjadi tumpuan pipi halus Dena.


" sayang, ada ibu,nanti kamu malu trus aku yang disalahin kan!! Dena mendongakkan kepalanya, ia Berjengit kaget karena ada pada posisi yang tidak seharusnya begini, terlalu mepet sama Galang.


" kesempatan didalam kesempitan ih"


plak!! Dena memukul lengan Galang yang baru saja menempel pada pipinya.


Galang tak membalasnya, dia hanya tersenyum saat ibu Dena sudah ada di depan mereka kini.


" kenapa pulang duluan nduk" tanya sang ibu dengan rasa khawatir yang tak dapat di sembunyikan nya itu.


" Dena panas tinggi tadi bu, jadi saya antar pulang saja, biar bisa beristirahat di rumah" jawab Galang.


" lho, kok di anter sama pak Galang, apa nggak mengganggu pekerjaan nya di kampus pak, kan bisa pesan angkutan online aja Den" ucap Ibu Dena menoleh kearah Dena lalu membuka pintu rumahnya.


" kalian cuma berdua pulangnya " ibu Dena berbisik di telinga putrinya itu tapi gerakan tangannya mencapit perut Dena.


" awww" pekik Dena memegangi perutnya.


Galang yang berdiri di belakang Dena langsung meraih bahu Dena.


" kenapa? " tanya nya pada Dena.


Dena menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


Galang duduk di samping Dena yang berbaring pada sofa panjangnya.


" Dinda kok lama banget sih" gerutu Dena.


" laper banget ya, sabar mungkin Dinda lagi antri, inikan jam makan siang pasti ramai pengunjung kan? "ucap Galang.


tak berapa lama kemudian Dinda datang dengan nasi kotak dalam kantong kresek di tangannya.

__ADS_1


ketiganya pun menikmati makan siang tanpa ada yang bersuara, hanya terdengar tegukan air minum dan sesekali sendok yang berdenting.


uhuk, uhuk, Tiba-tiba Dena tersedak, reflek Galang dan Dinda memberikan air minum.


kedua gelas berisi air putih tersaji di depan Adreena lengkap dengan tangan keduanya.


" Ya Allah, mau minum aja kok dilema banget sih, galau nya melebihi waktu berada di bilik suara,takut salah pilih"bathin Dena.


namun Dena akhirnya meraih gelas milik Dinda, cari aman saja lah, masalah Galang, kita bicarakan nanti, hehehe.


" pelan- pelan" bisik Galang, Dena menoleh lalu tersenyum.


Dinda sudah pulang terlebih dulu bersama kakaknya, sedangkan Galang masih berada di rumah Dena.


Dena keluar dari kamarnya setelah membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


mengenakan celana joger berwarna navi dipadukan dengan atasan kaos longgar Dena nampak lebih segar sekarang saat berjalan ke arah Galang.


" hmmm, harum banget sayang, jadi pingin cium ih" ucap Galang pelan, takut- takut terdengar oleh ibu Dena.


" boleh, nih cium aja pak, nggak dilarang kok, halal!! ucap Dena seraya memberikan handuk kecil kepada Galang.


" jangan marah- marah terus dong pak, nanti semakin tua lho, kalau jalan bareng saya nanti dikira orang bapaknya lagi bukan pacar apalagi suami gimana dong? " goda Dena sambil sesekali menyugar rambut basahnya.


" cepet tua Dena, bukan semakin tua, Lama-lama ucapan kamu kok selalu menyudutkan saya ya Dena, lebih tepatnya sih menghina"


" tuh kan, baru juga di ingetin jangan marah- marah, lupa ya sama umur, udah hampir kepala empat kan? " goda Dena seraya menatap wajah tampan Galang.


"sepertinya teman- teman mu di kampus sudah mulai mencurigai kita Dena" ucapan Galang menghentikan aktivitas Dena yang sedang menikmati teh hangat buatan ibunya itu.


" o'ya, terus gimana dong pak, sejujurnya saya belum siap kalau mereka mengetahuinya"tambah Dena.


" belum siap, atau malu? " tanya Galang.


Dena mengerutkan keningnya hingga tercipta garis- garis halus di sana.


"kaya nenek- nenek kamu kalau begitu" ucap Galang seraya mengelus kening Dena, Dena mengusap keningnya kasar.


" habis ucapan bapak nggak masuk akal, malu? karena apa coba? " tanya Dena lagi.

__ADS_1


" ya malu, karena ketahuan pacaran sama bujang tua macam saya, dosen nya lagi, kan berlipat-lipat malu nya, iya kan? " ucap Galang.


" iya, bujang tua, ganteng, mapan, kaum berada, pewaris tunggal perusahaan orang tuanya, baik, sholeh, katakan mana yang membuat saya malu atau bangga punya kekasih seperti pak Galang" jawab Dena kesal, kenapa dosen ku kekasih ku ini minder nya kok nggak pada letaknya ya, merendah kok di puncak gunung yo podo wae pak!!!


Galang tersenyum menatap Dena.


" kamu memuji saya Dena, banyak banget lagi pujiannya, berasa pakai sayap nih, pingin terbang boleh? " goda Galang yang terlihat semburat bahagia di wajahnya atas ucapan Dena barusan.


" saya berkata jujur pak, nggak ada yang di buat- buat, buat apa? pak Galang sudah sangat dewasa jika hanya baru merasa bahagia saat di puji oleh lawan jenis nya "


" iya saya percaya, dan saya pun bangga mencintai walaupun belum seutuhnya memiliki kamu Dena, tapi saya berjanji bahwa hanya saya yang boleh memiliki kamu, itu janji saya" ucap Galang seraya menggenggam tangan Dena, Dena pun mengeratkan genggaman tangan mereka.


" bismillah pak, semoga segera menjadi sah dan Alhamdulillah "


" aamiin" ucap mereka hampir berbarengan.


lalu keduanya sama - sama tersenyum.


Galang menyeka airmata yang mengalir di sudut mata Dena.


" simpan airmata mu, cukupkan hanya untuk rasa bahagia saat nanti sah dimata Tuhan dan negara" ucap Galang.


"terdengar deru mesin kendaraan roda dua, sepertinya ayah Dena, Galang buru- buru melerai genggaman tangannya lalu menggeser duduknya, namun sebelum nya ia tinggalkan kecupan singkat pada punggung tangan Dena seraya bibirnya berucap,love you.


"nggak sopan dilihat sama calon mertua jhoooonn.... hehehe.


rupanya ayah Dena masuk melalui pintu belakang ya, hmm, yang di depan udah was- was takut terciduk, eh malah nggak lewat ya sudahlah Alhamdulillah kalau begitu.


" Dena, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, ini tentang Anisa " ucap Galang mencoba membaca mimik wajah Dena yang sebelumnya tersipu malu, kini nampak sedikit ketegangan diwajahnya.


" minggu ini papa akan mengajak saya untuk melamar Anisa"


Dena nampak menghela nafas nya, lalu ia sandarkan kepalanya pada badan kursi nya.


" saya akan setia, seperti janji bapak terhadap saya, tak ada yang bisa membuat pendirian saya goyah, selagi nama Anisa belum bergelar menjadi nyonya Galang Wijaya"ucap Dena seraya menatap Galang yang juga tengah menatap dirinya.


" kamu memang layak untuk ku perjuangkan Dena, ya memang hanya tinggal dirimu akhir perjuanganku, karena semua yang mendahului namamu sudah ada dalam genggaman ku"


tentu saja dalam hal ini adalah restu dari sang papa yang sudah di dapat oleh Galang, dan kini ia harus menyelesaikan rencana lamarannya dengan Anisa, selesai ya lang,itu artinya tidak akan ada lagi tahap- tahap berikutnya.

__ADS_1


thanks for reading and like, jazakumullah katsiron.


__ADS_2