Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
hamba yang lemah.


__ADS_3

pagi ini benar - benar menguras pikiran Dena, hal yang di jaga nya agar hubungan Tak terlarang nya ini tidak diketahui oleh orang lain, khususnya Anita sang sahabat yang memang sudah terlebih dulu menaruh hati kepada Galang, ternyata harus terungkap di saat yang sungguh- sungguh tidak tepat, bagaimana tidak, di saat wanita lain yang juga mencintai Galang dan nyata-nyata sudah dijodohkan oleh Galang meminta ingin segera di lamar, sementara dirinya,,,oh hanya Tuhan saja yang tau, apakah hanya sia- sia saja perjuangan mereka jika ternyata memang lah nama Anisa yang telah tertulis pada lauhul mahfudz sebagai jodoh untuk Galang, bukan Adreena Wijaya seperti yang telah di gadang- gadangkan oleh Galang, di saat sang wanita itu sudah terang- terangan memberi ultimatum agar dirinya mundur saja dari persaingan cinta segi empat ini,namun Dena bersikukuh tetap pada perjuangan nya.


"oh Tuhan sekali nya aku jatuh cinta namun mengapa harus melibatkan banyak hati, tak bolehkah ku nikmati manisnya mencintai dan di cintai tanpa harus menyakiti, tanpa harus mengorbankan persahabatan ku yang sudah terjalin semenjak usia remaja ku,aku takut jika harus jatuh cinta lagi Tuhan, cukup satu kali seumur hidup ku, hanya kamu mas"lirih Dena yang kini sudah ada di dalam ruangan di kampusnya.


" pagi semua "


Dena langsung mendongakkan kepalanya saat suara berat ciri khas Galang menyapa seisi ruangan pagi ini.


Dena tersenyum, saat bersilang tatap dengan Galang yang juga tersenyum kepadanya.


Dena menoleh kebelakang saat di rasa kursi di belakangnya kosong.


ya, Anita tak masuk kelas sejak kejadian tadi pagi.


" kemana Anita pergi, sebegitu kecewanya kah dia terhadap ku, sebegitu menyakitkan kah luka yang tertoreh di hatinya dan aku yang menorehkan luka itu"


ah Dena masih layak kah engkau disebut sebagai seorang sahabat? sahabat macam apa yang menikung sahabatnya sendiri,rasanya segala pembenaran tak dapat di jadikan nya alasan, ya walaupun Dena bukan lah perusak hubungan orang lain disini, karena perasaan Anita nyatanya bertepuk sebelah tangan terhadap Galang, namun tetap saja Anita kecewa bahkan mungkin benci kepadanya, pikiran- pikiran itu yang kini hadir di benak Dena, hingga dia tak sadar jika Galang selalu memperhatikan dirinya.


Dena baru tersadar kala seorang mahasiswa di sampingnya berkata pelan.


" Dena, kamu di perhatikan pak Galang dari tadi, ada apa? "tanya Dion mahasiswa yang duduk di samping Dena.


Dena terkejut, pandangannya langsung ke depan, benar saja apa yang di ucapkan oleh Dion barusan, Galang menatap nya tajam, Dena berpura- pura menuliskan sesuatu pada lembar kertas di depannya.


jam kuliah sudah selesai, Dena keluar dari kelasnya seorang diri, ya, karena dia yang terakhir kali keluar dari ruangan itu, pandangan matanya menyusuri setiap lorong dan sudut- sudut ruangan, berharap menemukan Anita, namun tak terlihat olehnya.


" cari siapa? "Dena terkejut saat seseorang menyapa dari arah belakangnya, Dena menoleh dan Galang sudah berada di sampingnya kini.


" saya melihat apa yang terjadi antara kamu dan sahabat mu itu"ucap Galang.

__ADS_1


"apa yang saya khawatirkan akhirnya terjadi juga pak, dan saya harus menyelesaikan nya seorang diri"


"apa kamu membutuhkan saya untuk ada di dekatmu saat ini? "


" sungguh, saya ingin sekali bapak ada di samping saya di saat- saat seperti ini, kenapa masalah seakan tak sabar menunggu gilirannya bentuk menghampiri kita? "


"masih kuat" ucap Galang lalu tersenyum.


Dena pandangi wajah Galang dengan seksama tak satu inci pun yang terlewatkan.


"apa, saya memang tampan, jangan memandangi terus menerus, kamu akan semakin tergila- gila kepada ku, hem"


plak!!!


Dena memukul Galang dengan buku besar yang ada di tangannya.


" katakan jika cinta saya ini salah pak, beritahu saya jika perjuangan ini hanya lah sia- sia,pengorbanan ini untuk siapa? hubungan yang mana yang harus di pertahankan dan yang akan berlanjut, katakan pak, katakan!! Dena berkata dengan penuh emosi, walaupun suaranya pelan namun penekanan pada setiap kalimatnya menunjukkan sisi lemah pada dirinya.


" jawabannya cuma satu, aku sayang kamu"


Galang kemudian menghapus air mata di pipi Dena, tak menghiraukan jika bisa saja orang lain melihat dan mendengar apa yang tengah mereka bicarakan. dan benar saja, rupanya Anita masih ada di kampus, dia melihat dari sudut tersembunyi yang tak terlihat oleh Galang dan Dena.


" tega kamu den, kamu tikung sahabat mu sendiri, dimana arti persahabatan kita selama ini Dena, aku sudah curiga sejak beberapa waktu belakangan ini,kamu selalu menolak saat aku ajak pulang bareng, rupanya kamu pulang di antar pak Galang, munafik lo Den, gue benci"Anita meninggalkan tempat itu dengan langkah penuh amarah dan kecewa terhadap Dena.


" ayo ikut aku ke kafe, kamu laper kan? " Galang meraih tangan Dena, namun di tepis oleh Dena.


"kita pulang aja pak, bukan kah tante Anisa sudah menanti bapak di rumah, mungkin dia sedang menunggu bapak sekarang, pulanglah,selesaikan masalah bapak si rumah, dan saya akan menyelesaikan masalah saya dengan Anita" Dena segera beranjak dari tempat nya namun Galang mencekal tangannya.


" kamu tidak mau menyemangati saya Dena, tidak ada kata- kata manis untuk saya"

__ADS_1


Dena diam, dia kacau, sungguh kacau, tapi kenapa lelaki di depannya ini nampak santai sekali sih, bahkan dia meminta Dena berkata manis untuk menyemangatinya, selamat ya pak, anda sukses membuat saya berantakan "bathin Dena.


Dena tidak tau jika Galang sama kacaunya, hanya saja keyakinannya itu mengalahkan kekhawatiran di antara mereka, dia tidak ingin terlihat tak memiliki pendirian, satu Dena akan tetap hanya Dena baginya, bahkan ia memutuskan untuk ke kafe saja ketimbang pulang kerumahnya.


" saya juga sayang sama mas Galang"


Dena malu sekali mengucapkan kalimat tadi, bukan, bukan kata sayang nya ya, tapi yang di ujung kalimat itu lho, yang membuat Galang tersedak air liurnya sendiri.


" uhuk, uhuk, Galang buru- buru menetralkan nafasnya, baru saja ia akan berucap, tetapi Dena sudah tidak ada lagi di hadapannya.


" dasar, wanita, mau manggil kayak gitu aja, drama nya melebihi drama Korea, bikin pingin senyum terus, ah Dena kamu manis sekali, jika malu- malu seperti itu"


Galang melangkah pergi meninggalkan kampusnya yang sudah mulai sepi.


saat sedang melajukkan mobilnya, handphone Galang berdering, ia sambungkan lewat sambungan earphone di telinganya.


" iya pa, ada apa? " rupanya sang papa yang menelponnya.


" kamu dimana lang,segera pulang, di rumah ada Anisa dan orang tua nya"


" iya pa, Galang dijalan menuju rumah, tunggu saja"


panggilan berakhir, Galang menepikan mobilnya, ia tidak ingin mengemudi dalam keadaan kacau seperti ini, kepalanya ia sandarkan pada kemudi nya.


" Tuhan, bantu lah hamba" lirih nya...


trimakasih, semoga selalu syuka ya, jazakumullah katsiron~~~~


__ADS_1


__ADS_2