
Galang pulang kerumah nya menjelang sore.
dia segera masuk.
" langsung mandi seger banget nih kayak nya, saat membuka pintu Galang di kejutkan dengan kehadiran sang papa di depannya.
" papa, tumben udah di rumah jam segini. ucap nya seraya mencium punggung tangan papanya tersebut.
" kamu tu ya, sibuk kerja sampai lupa hari! inikan akhir pekan lang, papa memang di rumah nggak ke kantor.
Galang tersenyum simpul. sebenarnya ia pun tau bahwa ini adalah akhir pekan dan nanti malam adalah malam minggu, namun Galang yang tak pernah mempunyai rutinitas malam minggu seperti remaja- remaja lainnya, jadilah malam minggu baginya sama saja dengan malam- malam yang lainnya, yang membedakan hanyalah besok ia akan bersantai sejenak di rumahnya, siang atau sore hari barulah ia pergi ke kafe.
namun sepertinya mulai malam ini akan berbeda deh malam minggu nya, hmm paling tidak Galang bisa ngobrol- ngobrol manis sama Dena, atau nggombalin Dena seperti nya asyik juga.
"buruan mandi, ada yang mau papa omongin sama kamu, papa tunggu di ruang kerja papa ya.
" iya, pa. Galang segera berlalu ke kamarnya.
setelah selesai membersihkan diri, Galang memperhatikan dirinya dalam pantulan cermin di kamarnya.
" papa mau ngomongin apa ya? pasti masalah penting ini, ah dari pada bertanya- tanya sendiri dan tak menemukan jawabnya lebih baik aku segera temui papa di ruangannya.
Galang membuka pintu kamarnya.
" mama, ngagetin aja ih, mama mau masuk?tanya Galang.
" mau ketemu papa? tanya sang mama.
" iya, kata papa ada yang mau di omongin sama Galang.
" ingat pesan mama, apapun yang papa mu bicarakan kamu jangan menyela oke? ikhtiar dan tawakal kita jalani secara berdampingan agar hasilnya maksimal, masih yakin sama rencana Tuhan kan? semua yang terbaik untuk hamba Nya.
Galang mulai membaca kemana kiranya arah pembicaraan sang mama.
Galang menggenggam tangan sang mama lalu tersenyum dan menganggukan kepalanya.
" selalu doa kan Galang ma, Ridho nya mama Ridho Tuhan juga.
setelah berucap Galang melepaskan genggamam tangan nya dan segera menuju ruangan kerja papanya.
" assalamu'alaikum pa, boleh Galang masuk.
" Wa alaikumusalam, iya masuk aja lang.
" gimana pekerjaan mu, masih nyaman?
" nyaman banget pa, senyum Galang mengembang sempurna saat menjawab pertanyaan sang papa, ya pekerjaan nya sebagai seorang dosen yang langsung mengingatkan nya pada sosok gadis ayu di kampusnya itu, siapa lagi kalau bukan Dena.
" semangat banget jawab nya lang, papa suka sama jawaban kamu itu.
" berapa usia mu sekarang?
tak seperti sebelumnya, kali ini Galang tampak menjeda jawaban untuk pertanyaan papanya barusan.
usia?Galang tak mungkin lupa, bahkan Dena pernah menjuluki dirinya sebagai bujang tua waktu itu, ah Dena kenapa semua jawaban selalu berhubungan sama kamu sih! bathin Galang.
__ADS_1
" lang, papa tanya kok diem aja?
" tiga puluh tujuh tahun pa, jawab nya.
"hmm, usia yang cukup matang, papa dulu seusia kamu udah menikah lho lang dan mama mu sedang mengandung kamu waktu itu, lah kamu kok belum ada tanda- tanda mau menuju ke arah sana sih lang, papa belum pernah denger curhatan mamamu kalau kamu pernah bawa teman wanita ke rumah.
" Galang nggak mau pacaran pa, mau nya langsung nikah aja.
"eits.. tolong dong di revisi ucapan pak Dosen yang satu ini.
" nggak mau pacaran dia bilang, terus yang beberapa hari belakangan bersama Dena itu apa namanya pak dosen, ta'arufan gitu ya! hmm, pasti nilai agamanya bertuliskan tinta merah nih waktu sekolah dulu.
" ya bagus dong, udah ada pandangan emangnya wanita mana yang mau papa lamarkan buat kamu?
pipi Galang memerah kini, antara bahagia atau khawatir,ingin sekali rasanya ia menganggukan kepalanya dan berkata "ada, ayo malam ini kita melamar nya pa"
tapi untuk sampai pada kalimat itu tidak lah mudah, karena sebelum itu pasti akan banyak pertanyaan dari sang papa tentang siapa wanita pilihan nya itu,jika dia bilang wanita itu adalah Dena, mahasiswi di kampusnya, pastilah sang papa tidak akan menerus kan obrolan nya kali ini.
" pacaran kok sama anak kuliahan, apa yang kamu cari,kesenangan sesaat? Galang tak mau membayangkan jika kalimat- kalaimat pamungkas dari sang papa sudah terucap.
rasanya berat sekali untuk menjawab nya antara sudah ada atau belum. sungguh Galang bingung saat ini.
"Tuhan, bantu lah hamba Mu yang lemah ini, lirih nya dalam hati.
" oke, papa sudah mendapat jawabannya, nanti malam kita akan bertemu dengan rekan bisnis papa di kafe kamu ya, malam minggu tutup jam berapa kafe nya lang?
" jam sepuluh malam pa.
Galang kembali ke kamarnya.
" masuk aja ma, nggak di kunci.
Galang duduk di depan cermin dengan handphone di tangan nya. sang mama menepuk pundak nya pelan.
" papa ngajakin kemana nanti malam, kok mama juga di suruh siap- siap.
" ke kafe ma, mau ketemu sama rekan bisnisnya.
" kamu nggak nanya untuk apa papa ngajakin kamu ketemu sama teman nya itu?
Galang menggelengkan kepalanya.
"ngga usah lesu gitu dong, ayo semangat nya mana, udah telepon Adreena belum?
mendengar nama Adreena Galang langsung beranjak dari lamunannya.
" ma, gimana kalau ternyata papa mau menjodohkan Galang sama anak rekan bisnis nya itu?
" jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, terus lah berprasangka baik!
buruan telepon Adreena nya atau vidio call aja lang, mama mau ngobrol dong sama dia.
" dia pemalu orangnya ma.
" coba aja dulu.
__ADS_1
Galang melakukan panggilan vidio kepada Dena, panggilan terhubung dan langsung di jawab oleh Dena, namun penampakan nya bukan wajah Dena, melainkan dinding kamar dengan wallpaper salur biru putih.
" Dena, kamu disitu kan, keluar deh jangan sembunyi gitu! nggak asyik ah. mamaku mau ngobrol nih sama kamu.
Dena segera menampakkan wajah nya.
" mana mamanya pak, tanya Dena dengan senyum manisnya.
" duh, manis banget sih den senyum nya, senyum mu mengembalikan kalori yang hilang dari tubuh ku Dena.
" mulai deh gombalan nggak mutu nya keluar, mana mamanya pak.
Galang menoleh namun rupanya sang mama sudah keluar dari kamar nya.
" udah keluar den, tapi bener tadi mamaku ada disini, pingin ngobrol sama kamu katanya.
" ya udah, panggilan suara aja deh pak, saya nggak nyaman kalau mode vidio.
" tapi saya nyaman Dena, bahkan terlalu nyaman. jangan di matiin ya? mohon Galang.
Dena memperhatikan wajah Dosen di layar handphone nya kini.
" kenapa wajah nya berubah jadi sendu gini sih pak, berat banget ya beban hidup nya? Dena bertanya dalam hati.
" iya, nggak di matiin kok, bapak cerita aja semua ke saya, saya akan menjadi pendengar yang baik untuk cerita pak Galang.
namun Galang tak juga bersuara, pandangan matanya tak sekejap pun teralihkan dari memandang wajah Dena.
"kok diem aja sih pak, mau ngomong apa?
Galang tersenyum lalu beeucap.
" saya sayang sama kamu Dena"
"tolong jangan dimatiin ya... pinta Galang dengan wajah memelas nya.
" kamu nggak perlu membalas ungkapan sayang saya, cukup kamu Terima dan rasakan dan kamu akan tau.
Dena menatap Galang dengan tersenyum.
" pak Galang ada masalah apa sih? kok saya yang jadi sasaran nya.
" kamu adalah tujuan hidup saya saat ini dan selamanya Dena.
Dena menatap tanpa senyuman kini. namun matanya nampak berkaca- kaca, tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipis nya.
" kenapa menangis, apa ucapan saya menyakiti hatimu? Galang mengusap wajah Dena pada layar handphone nya.
Dena menggelengkan kepalanya, namun bulir- bulir bening tak mampu ia tahan hingga jatuh berderai...
hmmm, sedih ya, terkadang Tuhan memberikan air mata agar saat kita tertawa pun air mata masih mengikuti gelak deraian nya, tentunya airmata kebahagiaan
'
'
__ADS_1