Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
ternyata benar.


__ADS_3

Sesuai keluhan yang dirasakan oleh Dena, maka dokter pun menyarankan agar Dena dibawa keruangan dokter spesialis ginekologi,


"Sp.OG lang, inget nggak,klinik bersalin Anugrah?


hmm, pasti inget Olivia ya,,


Dena duduk dikursi rodanya dengan sang ibu dibelakang mendorong nya, sementara Galang berjalan disebelah nya bersama Ardi.


" mas, aku mau dibawa kemana sih? " tanya Dena saat rasanya ia sudah berjalan terlalu jauh namun belum sampai juga.


" mas juga nggak tau Dena, ibu sama mama sepertinya tau, ya ma? " tanya Galang kepada sang mama yang berjalan di samping Ardi.


" udah ikut aja, nanti juga kalian bakalan tau" ucap sang mama tak henti menebar senyum manisnya.


tak lama kemudian mereka berhenti, Dena membaca papan nama didepan pintu ruangan tersebut.


dr. Hadi Poernomo adam, sp OG.


" inikan ruangan praktik dokter kandungan bu, ngapain Dena dibawa kesini? " tanya nya mendongak kepada sang ibu.


" menurut mu? " ucap sang ibu tersenyum seraya memandang kepada sang besan yang juga tersenyum terhadap nya.


setelah pintu dibuka, Dena pun dibawa masuk, sementara Ardi menunggu diluar.


tampak lah dokter pria, yang seperti nya Galang pernah bertemu sebelum nya, tapi dimana ya, saat membaca papan nama di depan pintu tadi dia sempat berpikir juga.


" kok namanya familiar ya, tapi siapa? " tanya nya.


sang dokter melihat kepada Dena, lalu berganti kepada Galang.


" bukankah anda pria yang mengantarkan istri anda ke klinik beberapa waktu yang lalu, tapi tunggu, sepertinya istri anda waktu itu bukan lah orang yang sama, atau mata saya yang bermasalah " ucapnya seraya membetulkan kaca mata oval nya.


Dena, tentu saja Dena tau siapa yang dimaksud dokter pada kalimat"bukan orang yang sama", ya jelas beda lah, olive oil sama dirinya, tak ada yang bisa dimirip- mirip kan, walaupun disandingkan,


tapi lihatlah betapa ibu dan juga sang mama kini saling menatap dengan wajah penuh tanya.


" maksudnya apa lang,kamu pernah bawa siapa ke dokter kandungan ha? " tanya sang mama mulai kesal.


" nanti aja di rumah jelasin nya ma" ucap Galang pelan, khawatir ibu mertuanya itu mendengar apa yang ditanya kan oleh sang mama.

__ADS_1


Dena mulai bisa menebak, saat kini dirinya sudah terbaring diranjang rumah sakit itu.


seorang perawat wanita mengoleskan gel ke perut bagian bawahnya, lalu sang dokter meletakkan alat monitor yang terhubung ke layar nya.


" ini masih sangat kecil bapak, ibu, Kira-kira masih berusia sekitar empat minggu, harus sangat dijaga, trimester awal biasanya ibu akan mengalami mual- mual di pagi hari atau yang sering disebut morning sickness, tapi walaupun orang menyebutnya pagi, tapi tidak menutup kemungkinan hal itu bisa juga terjadi pada Petang atau bahkan siang harinya" ucap sang dokter kemudian duduk kembali.


Dena tak menyangka akan diberikan kepercayaan oleh Allah secepat ini, dia mengingat jika dulu sang ibu harus menunggu untuk waktu yang terbilang lama, satu dekade itu lama ya baru bisa merasakan kehadiran dirinya, sungguh rezeki yang luar biasa untuk nya dan juga Galang yang kini tampak menyeka airmata yang mengalir di ujung matanya.


" kamu nangis lang, kenapa? " tanya sang mama.


" terharu ma, sebentar lagi Galang akan menjadi seorang ayah ma, anak mama akan menjadi orang tua" ucapnya mendekat kepada sang istri.


" sayang, selamat ya, rupanya doa mas langsung di ijabah sama Allah " ucap Galang mencium kening sang istri singkat.


"doa ku juga mas, masa doa kamu aja" protes Dena.


" iya mama " ucap Galang, lalu membantu Dena turun dari hospital bed nya.


setelah menerima resep obat yang akan ditebus nya di apotek nanti, Galang membawa Dena keluar dari ruangan itu, kali ini dia sendiri yang mendorong sang istri.


" biar ibu saja nak Galang" ucap ibu Dena, namun Galang tetap bersikukuh untuk mendorong Dena hingga kini sudah ada diruang perawatan nya.


" selamat ya pa, sebentar lagi dipanggil opa" ucap Ryanti berjalan mendekat kepada sang suami.


"Alhamdulillah" ucap Wijaya dan ayah Dena bersamaan.


" selamat juga oma" ucap Wijaya seraya tertawa kecil.


Galang dan Dena sama- sama tersenyum melihat kebahagiaan kedua orang tua mereka.


kini mereka tau bagaimana perasaan orang tuanya dulu, saat mengetahui bahwa mereka akan segera memiliki zuriat,


bahagia nya susah untuk dijabarkan,, sungguh terlalu bahagia, atau bahagia nya kebangetan.


saat ini kedua orang tua mereka sudah kembali ke rumah nya.


tinggallah Dena dan juga Galang, beserta Ardi yang kini tengah makan siang di kantin rumah


sakit.

__ADS_1


" kenapa melamun, mikirin apa? " tanya Galang manakala ia melihat Dena tengah memandang keluar lewat jendela ruang perawatan nya.


Dena menoleh lalu tersenyum, terlihat semburat merah diwajah ayu nya.


Galang pun berjalan mendekat ke arahnya.


" mikirin apa hayo, bumil nggak boleh stress, ingat sekarang nggak sendirian lagi, nggak boleh egois, ada yang kini sangat bergantung sama mamanya" ucap Galang memeluk sang istri dari sampingnya.


" iya mas, aku tau lah" jawab Dena.


"eh, kok sekarang ada lah nya kalau ngomong, sejak kapan? " tanya Galang masih dengan posisinya.


" sejak tadi" jawab Dena singkat.


" kalau nggak pakai lah? " tanya Galang.


" bayar" ucap Dena.


" waduh, belum lahir aja udah berubah kalimat nya, nanti kalau udah launching apa akan lebih banyak lagi perubahan nya? " ucap Galang lagi.


Dena terdiam, entah mengapa semenjak mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung, emosinya sangat labil, walaupun kata sang ibu itu adalah hal yang wajar, namun Dena coba menolaknya, tapi mana hasilnya tetap saja dia


M_A_R_A_H!!!


" iya, aku bakal gendut, payudara ku bakalan kendur, tubuhku tak terawat, badanku bau keringat, lalu saat kamu akan berangkat kerja, akan ada yang menangisi mu untuk ikut kerja juga, lalu saat malam aku akan begadang menjaganya, otomatis perhatian ku tidak mungkin sepenuhnya lagi untuk kamu mas, kamu siap menerima perubahan ku nanti? " tanya Dena kesal.


" lho kenapa jadi marah?" bathin Galang.


sekarang Galang baru percaya kata- kata presiden ke enam RI, bahwa diam adalah emas, lah ini kenyataan nya memang sebaiknya Galang lebih banyak diam saja lah, daripada bicara malah bikin petaka, kan astagfirullah "


" nggak gitu juga sayang, emang siapa yang bilang kamu bakalan kayak gitu, nggak ada, mas bakalan ikut turun tangan langsung mengasuh dan membesarkan buah hati kita nantinya, jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, jalani apa yang ada sekarang ini, hari esok punya rahasia nya sendiri " ucap Galang lalu mencium pipi Dena singkat.


" terimakasih mas, maaf jika emosiku tak terkendali, sejujurnya aku tak ingin seperti ini, tapi entahlah" ucap Dena pasrah.


" kekecewaan tidak memiliki tempat dihati yang penuh rasa syukur ,Alhamdulillah kita memiliki apa yang sudah lama orang dambakan" ucap Galang lagi.


terimakasih


jazakumullah khoiron

__ADS_1


see u,,


__ADS_2