Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
siang [ bukan malam] pertama.


__ADS_3

Galang segera membuka pintu kamarnya, ia keluar dengan pakaian santainya tadi, dan juga rambut nya yang tentu saja masih basah.


saat membuka pintu tampak sang ibu mertua tengah berdiri di depannya.


" siapa bu? " tanya Galang kikuk, karena sang ibu mertua tampak memindahi penampilan nya dari ujung rambut hingga ke,,,,, eh, eh, eh,,


" nggak tau nak, tapi mereka berdua" jawab ibu Dena.


Galang pun berlalu kedepan untuk menemui orang tersebut.


" siap,,, pa? " Galang pun menarik ujung bibirnya saat melihat jika yang datang adalah dua sontoloyo dikafenya,ya siapa lagi kalau bukan Dimas dan Angga.


" weh, sudah keramas aja dia ngga, hebat,, wes ora sabar rupanya menunggu malam pertama, lah ini sih namanya siang pertama bray,,, bener- bener pro rupanya boss kita ini ngga" bisik Dimas kepada Angga.


" ho oh Dim,, kayaknya kita gangguin aktivitas mereka deh" jawab Angga.


" ngomongin saya pasti,, apa, lihat rambut basah saya iya? " ucap Galang malas.


" weh jangan suudzon dulu dong mas, kita di pinta ibu buat ngantarin pakaian ganti buat mas Galang, mas Ardi nya keluar" jawab Dimas.


" halah, modus aja kalian itu, pasti itu akal- akalan kalian saja kan, saya sudah bilang tadi sama ibu, nggak usah ngantarin pakaian ganti, nanti bisa belanja sekalian keluar sama Dena, heh iya kan, ngaku aja" ucap Galang lalu duduk disofa.


kedua karyawan nya itupun hanya geleng-geleng kepala saja melihat pengantin baru yang sepertinya sudah pecah telor siang ini.


" ngapain ketawa- ketawa gitu hah!! Galang melempar bantal sofa di samping nya.


"ya udah deh, kita pulang aja yuk ngga, sepertinya kehadiran kita sangat tidak diharapkan disini" ucap Dimas seraya berdiri, namun belum lagi ia melangkah terdengar Dena memanggil nama mereka.


" kok buru- buru pulang mas Angga, mas Dimas"ucap Dena.


eh,,,, ini dia. yang ditunggu- tunggu, sang nyonya muda Wijaya,,


Angga dan Dimas pun memandangi istri dari tuan mudanya itu.


" bener- bener pasangan yang kompak ngga,laki bini sama saja" bisik Dimas saat keduanya melihat Dena keluar dengan penampilan nya yang,,,,ya,,


padahal mereka belum ngapa- ngapain ya,, tapi ya sudahlah setiap orang punya pikiran nya sendiri- sendiri kan, dan kita tidak berhak menghakiminya, biarkan mereka sadar dengan sendirinya bahwa apa yang mereka lihat tidaklah seperti kenyataan nya,, hehehe.


" nggak usah lama- lama mandangin istri saya, dosa!! ucap Galang mengajak Dena duduk disamping nya.


" mas Dimas bawa apa itu? " tanya Dena pada paperbag yang ada disamping Angga.


" oh, ini pakaian ganti mas Galang mbak, ibu khawatir mas Galang nggak sempat keluar, makanya ibu meminta kita buat mengantarkan kesini, tapi mas Galang malah nuduh kita yang bukan- bukan" ucap Dimas.


" ngadu ne ceritanya, coba aja kalau berhasil " lirih Galang.


" kamu bilang apa sama mereka mas, kok gitu, harusnya kamu trimakasih lho, mereka udah mau nganterin pakaian ganti nya" ucap Dena seraya menatap pada Galang.


" kamu jangan terlalu percaya sama omongan mereka sayang, itu cuma akal- akalan mereka aja, modus, jiwa kepo nya udah nggak bisa di handle lagi, makanya dia memubahkan sesuatu yang seharusnya haram" ucap Galang.


" tuh kan bener saya bilang mbak, mas Galang bilang kalau ini semua cuma akal- akalan kita aja, alasan nya apa? " tanya Dimas bingung.


" halah jangan sok lugu kamu ya Dim, sudahlah males Saya ngomong sama kamu, bisa gagal,, eits,, merasa ada yang salah dengan ucapannya Galang pun tersenyum kikuk kepada Dena.


" maaf sayang, hampir keceplosan " lirih Galang.

__ADS_1


" wedi rupane ngga"[ takut rupanya ngga]ucap Dimas.


*


*


*


setelah Dimas dan Angga sudah pamit pulang, Galang menggandeng tangan Dena untuk kemudian dibawa nya masuk kedalam kamar nya kembali.


" mas capek Dena, boleh nggak kamu pijitin punggung mas? " tanya Galang sebelum membuka pintu kamarnya.


" katanya mau pergi, nggak jadi? " tanya Dena memandang kepada Galang.


" jadi dong, tapi sebelum itu mas mau dipijit dulu sama kamu sebentar ,boleh ya? pinta Galang lalu membawa tubuh Dena naik keatas ranjang.


" mas, katanya mau di pijit, kok posisi nya kayak gini? " ucap Dena melihat Galang yang kini tengah memeluknya dari samping.


" nanti aja pijit nya, sekarang nyaman nya kayak gini, boleh kan? " tanya Galang seraya menciumi pipi Dena.


Dena tak menjawab, ia pun menelusup kan wajahnya di dada bidang Galang, jari jemari nya menari di dada Galang yang walaupun masih terlindungi dengan kaus oblong, namun tetap saja sentuhan tangan Dena itu memiliki daya sengat listrik bertegangan tinggi.


" jangan menggoda, mas susah payah menahannya Dena, jadi mas mohon jangan memberikan harapan palsu" ucap Galang melerai jari Dena yang sengaja di lentikkan oleh Dena.


"buat apa! " ucap Galang lagi.


akhirnya siang itu mereka pun tertidur, tanpa melakukan apapun sebelumnya.


setelah beberapa menit berlalu, Dena tampak mengerjapkan kelopak matanya , ia akan berdiri namun tangan Galang yang melingkar sempurna dipinggangnya,Dena berusaha memindahkan satu tangan Galang tersebut.


" hemm,,, apa, mas masih ngantuk nih, nanti malam aja deh, tadi diajakin nggak mau" ucap Galang dengan suara paraunya.


" mama nelpon mas, aku mau angkat nya, tangan kamu singkirin dulu deh dari perut aku" pinta Dena, namun Galang malah langsung meraih handphone tanpa memindahkan posisi tangannya.


" iya ma, ada apa? " tanya Galang dengan mata yang belum terbuka sempurna.


" Dimas sama Angga udah sampai di rumah Dena, tadi mama bawain pakaian ganti buat kamu, cukup nggak? " ucap sang mama di ujung telepon nya.


Galang menengok kepada Dena yang ada dalam pelukannya.


" iya udah, makasih ma itu udah cukup kok, lagian besok kan Galang juga bakal pulang kerumah sama Dena ma, harusnya mama nggak usah repot- repot" jawab Galang tersenyum terhadap Dena.


Setelah panggilan berakhir Galang duduk diikuti oleh Dena yang menyandar di pundaknya.


" besok mau kerumah besar mas, berapa hari? " tanya Dena ragu- ragu.


" rumah kita sayang, ehmm, kalau mas minta selamanya gimana, kamu keberatan nggak hmm? " ucap Galang seraya menciumi puncak kepala Dena berulang- ulang.


" aku akan ikut kemana pun suami ku pergi " jawab Dena mengeratkan pelukan tangannya pada pinggang Galang.


" istri sholehah, besok kita harus siap- siap " ucap Galang sengaja menjeda ucapannya.


" siap- siap, buat apa? " tanya Dena bingung.


" honey moon sayang, mau kemana, mas bakal turutin, keluar negeri atau luar pulau aja? " tanya Galang lagi.

__ADS_1


" emm kalau dirumah aja boleh nggak mas? " tanya Dena kemudian.


" itu nggak ada dalam pilihannya sayang, luar negeri atau luar pulau ? " ucap Galang.


" ya udah luar pulau aja deh, kita ke daerah pegunungan aja deh mas, aku suka suasana di sana " jawab Dena yang tentu saja mendapat senyuman manis dari Galang.


" udah pinter sekarang ya, iya suasana di pegunungan kan dingin cocok buat pengantin baru kayak kita, iya kan? " ucap Galang mencolek hidung mancung Dena dengan jarinya.


Dena tersipu, ia lupa bahwa suami nya ini kan sedang dalam mode turn on, senggol dikit langsung terhubung.


akhirnya hingga malam menjelang mereka tak melakukan kegiatan apapun selain rebahan dikamar Dena, nggak ada adegan plus- plus ya, baik itu 21 keatas ataupun 18 kesamping hehehe, salamet ya den,akhirnya lewat juga malam pertama tanpa nina- ninu nya,,,


pagi menjelang, Galang sudah rapih mengenakan celana jeans hitam dipadukan dengan kaos v neck berwarna senada, sementara Dena masih berada di dalam kamar mandi, Galang duduk diatas ranjang dengan ponsel di tangannya, seperti nya ia tengah menerima panggilan dari seseorang.


" siapa mas? " tanya Dena saat sudah keluar dari dalam kamar mandinya, ia hanya mengenakan kimono nya saja.


" oke, trimakasih sebelumnya" ucap Galang mengakhiri panggilan suaranya.


" pihak hotel, mas udah booking kamar hotel khusus untuk honeymoon" jawab Galang seraya mendekat kearah Dena, namun belum lagi tangannya terulur untuk menyentuh wajah istrinya itu handphone nya kembali berdering.


" iya ma" ucap Galang, ternyata sang mama yang menghubunginya.


" kamu udah dijalan apa masih di rumah? " tanya sang mama.


" masih dikamar ma" jawab Galang dan Dena segera saja menggigit lengan Galang kuat- kuat saat mendengar jawaban suaminya itu.


" aww, sakit sayang, kamu garang ya sekarang,, ma, Galang digigit nih sama Dena" ucap Galang pada sang mama.


tut


tut


tut


panggilan berakhir, Galang menunjukkan layar ponsel nya dihadapan Dena.


" dimatiin sama mama " ucap Galang tersenyum.


" kamu sih mas, pasti mama mikirnya kalau kita lagi, ish,,, Dena memukuli lengan Galang dengan bantal.


" aww, sakit sayang, mama pasti seneng banget tuh, padahal kan mas belum mendapatkan apa yang seharusnya sudah menjadi hak mas sebagai seorang suami " keluh Galang.


Dena yang merasa bersalah karena sengaja mengulur- ulur waktu untuk hal itu pun akhirnya memeluk Galang erat.


" maafin aku mas, kamu jangan marah dong, aku janji besok kamu akan mendapatkan apa yang sudah menjadi hak mu, sabar ya,,, " ucap Dena menciumi pipi mulus Galang.


hmmm, gagal maning, gagal maning


sabar ya lang,, sesuatu jika dilakukan dengan tergesa-gesa pasti hasilnya juga tidak akan maksimal,,


jazakumullah khoiron


buat kalian yang selalu setia sama author amatiran ini,,,


see u,,,

__ADS_1



__ADS_2