
Setelah urusannya dengan Anugrah Dewantara selesai, Galang pun bergegas meninggalkan tempat itu.
" Dim,tolong kamu datang ke modern resto sekarang,gunakan lexus hitam saya" Galang menutup ponsel nya setelah menghubungi Dimas, ya Galang tidak ingin hari terakhir nya bersama Dena sebelum esok mereka akan dipingit harus sia- sia dengan perselisihan saja, biarlah nanti Olivia dan Ardi pulang bersama Dimas, sementara dia akan menghabiskan waktunya hari ini bersama Dena.
"Di" Ardi menghentikan langkahnya, lalu menoleh kapada Galang.
" iya mas, ada apa? " tanya nya.
" kamu sama Olivia pulang bareng Dimas, saya masih ada urusan, nanti tolong bilangin ke ibu ya, saya perginya sama Dena" ucap Galang.
Ardi yang paham dengan masalah yang tengah dihadapi oleh tuan mudanya itu pun tersenyum.
" nggeh mas, semoga urusannya segera selesai"ucap Ardi lalu menyerah kan kunci mobilnya kepada Galang.
" saya duluan ya, Dimas sebentar lagi datang, kalian tunggu saja" pamit Galang kepada Ardi dan juga Olivia.
Galang membuka pintu mobil nya, didalam tampak Dena tengah sibuk dengan ponsel nya, ia tampak mengetik pesan entah untuk siapa, Galang segera melajukkan kendaraan nya.
" chatingan sama siapa? " tanya Galang di sela-sela aktivitas mengemudi nya.
" siapa saja yang bisa bikin aku nyaman" jawab Dena ketus.
" kamu marah sama mas? " Galang melihat sekilas kearah Dena yang malah memandang keluar jendela.
" marah juga nggak akan mempengaruhi keputusan yang sudah kamu ambil kan, jadi untuk apa, bikin lelah di hati aja, aku menyesal sudah melontarkan pertanyaan nggak guna kepada klien mu tadi, maaf jika lancang" ucap Dena masih memalingkan wajahnya.
ciiittt,, Galang mengerem mobilnya , lalu merubah posisi duduknya, ia kini tengah menghadap ke arah Dena.
" kamu salah paham Dena, mas bisa jelaskan semuanya, ayolah ini hari terakhir kita sebelum esok kita sudah tidak diperbolehkan bertemu, mas nggak mau, mengisi waktu yang sangat berharga ini dengan perselisihan saja" Galang meraih satu tangan Dena.
"aku, salah faham? mas yang nggak memahami aku, musholla itu akan digusur mas, dan kamu menyetujui nya, katakan dimana letak kesalahfahaman ku, katakan? " suara Dena mulai berat saat berbicara terhadap Galang.
" kapan mas bilang kalau musholla itu akan digusur Dena? " ucap Galang masih coba meredam egonya.
" kamu membatalkan transaksi jual beli tadi mas? " tanya Dena yang kini menatap kepada Galang.
" nggak, mas tetap membeli lahan itu Dena, tapi mas nggak akan menggusur musholla itu, nggak akan" ucap Galang tegas.
" sekarang mas bisa bilang begitu, tapi saat nanti ada tawaran yang lebih menggiurkan dan mengharuskan kamu untuk meratakan tempat itu kamu yakin iman mu nggak akan goyah?
" hey, kamu meragukan calon suami mu ini dan yang harus kamu ingat imanku akan lemah jika mendengar bisikan mu saja,selain itu aku masih bisa menjamin nya,
sekarang coba kamu pikir, jika lahan itu dibeli oleh pihak lain, apa yang akan terjadi dengan musholla itu, banyak hal yang lebih menguntungkan ketimbang mempertahankan rumah ibadah itu Dena, dan mas berpikir jika kita bisa andil dalam hal itu, terlepas dari masalah yang mungkin akan timbul setelah nya, kita punya Allah sebagai pembela" Dena tersenyum menatap wajah calon imamnya itu.
"maaf sudah suudzon sama kamu mas" ucap Dena menggeser duduknya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Galang.
" sekarang kemana, ngemall, mantai atau,,,? " ucap Galang dengan menaik turunkan alisnya, Dena mendongakkan kepalanya, lalu memukul dada Galang pelan.
" nggak usah mesum!! ucap Dena, beranjak dari bahu Galang, namun Galang menarik nya kembali.
" biarkan seperti ini" ucap Galang mendekap bahu Dena.
" mas, kamu nggak coba telepon mas Ardi, apa mereka sudah sampai dirumah" ucap Dena.
Galang mencolek dagu Dena.
" perhatian banget sih calon istri mas ini"
" mas kita berhenti bukan di area parkir lho, mengganggu pengguna jalan yang lain" ucap Dena, Galang melepas dekapan nya pada bahu Dena lalu melajukkan toyota Porsche miliknya.
"Dena" Dena menoleh,
"apa? " tanya nya.
" kalau besok kita sudah mulai dipingit, lalu bagaimana kita bisa menghadiri acara pernikahan dokter Angga? " ucap Galang.
" lho, iya mas, kok aku lupa sih, gimana dong, apa kita minta perpanjangan waktu sama ibu saja nanti, tapi kira- kira di kabulin nggak ya? bingung Dena menatap kepada Galang yang tersenyum kepada nya.
" nanti kita coba sama- sama ya" ucap Galang lagi.
suasana kembali hening untuk beberapa waktu, hingga Dena merasakan sesuatu di tangannya ada yang hilang.
" mas"
" hem" Galang menyahut tanpa menoleh.
Dena menunjukkan pergelangan tangnnya, Galang memperhatikan nya lalu meraih tangan Dena.
" tangannya kenapa, sakit? " tanya Galang, ia teringat saat mencekal tangan Dena di ruangan nya tadi.
Dena menggeleng.
" lalu apa? " Galang semakin bertanya-tanya.
__ADS_1
" Gelang yang dari kamu, kok nggak ada, padahal sebelum berangkat tadi aku mengenakannya mas, kok sekarang nggak ada, kamu lihat nggak? " tanya Dena bingung.
" mas nggak lihat Dena, coba kamu ingat- ingat mungkin saat di toilet atau di ruangan mas tadi kamu melepasnya lalu lupa mengenakannya kembali"ucap Galang.
Dena coba mengingat nya, namun mentok ia tak dapat mengingat apapun .
" nggak mas, aku kan nggak lama tadi di dalam sana "ucap Dena.
" ya udah, besok mas akan tanyakan sama cleaning service dikantor, barang kali mereka menemukannya, atau bila perlu mas akan cek CCTV di ruangan mas besok" Galang coba menenangkan Dena.
" maaf mas, aku lalai nggak bisa menjaga pemberianmu" ucap Dena lesu.
" nggak usah lesu gitu dong, kita bisa beli lagi jika memang barangnya hilang, oke? " ucap Galang mengelus punggung tangan Dena.
" mas, boleh aku tanya sesuatu? " ucap Dena.
" apa, tanya aja" Galang menimpali nya.
" kenapa tadi kamu bersikap seperti itu terhadap ku waktu dikantor? " Dena kembali menatap mata Galang yang ternyata juga tengah melihatnya, pandangan keduanya pun bersirobok.
" maaf, mas lepas kendali tadi, beruntung ada mama, karena jika tidak, mungkin sekarang kamu sudah tidak sudi berada disisi mas lagi" ucap Galang penuh penyesalan, sungguh ia adalah pria dewasa bahkan Dena pernah menyebutnya mendekati kadaluwarsa, berdua saja dalam satu ruangan dengan lawan jenisnya, adalah cobaan terberat bagi nya, ia susah payah mengendalikan hawa nafsunya tapi kenapa Dena selalu menggodanya, ya walaupun tanpa sentuhan- sentuhan terlarang, hanya bisik- bisik tetangga saja yang Dena dengungkan di telinganya, tapi di situlah sisi kelemahan seorang Galang aditama Wijaya, seharusnya Dena tak usahlah memancing - mancingnya.
" aku sampai tidak mengenali dirimu mas, kamu berubah menakutkan, persis kakek- kakek mesum " ucap Dena.
" kok kakek- kakek sih yang, tua banget " Galang tak Terima akan julukan dari Dena.
" yang bilang kamu masih muda siapa mas, udah mateng banget bahkan" imbuh Dena.
" hampir busuk dong" Galang pasrah saja.
" hmm, ya mendekati di fase itu mas, tapi aku takut banget tadi mas, kamu seperti orang kerasukan setan aja makanya aku baca ta'awudz tadi, ternyata bantuan Allah langsung datang melalui kehadiran mama" ucap Dena.
"maaf sudah membuatmu takut, mas janji nggak akan seperti itu lagi, itu yang terakhir sampai kita sah dan halal"
Dena tersenyum menepuk punggung tangan Galang berulang-ulang.
*
*
*
saat ini keduanya tengah duduk santai di taman kota yang ramai pengunjung, menikmati aneka makanan dan minuman yang di pesan oleh Galang sebelum nya tadi.
" iya sayang" jawab Galang singkat.
hari itu mereka sukses menghabiskan waktu berdua saja, hingga hari menjelang sore mereka putuskan untuk pulang.
mereka melangkah beriringan, kala tiba-tiba handphone Galang berdering.
"mama" ucap Galang terhadap Dena sebelum menjawab panggilan dari sang mama.
" iya ma, ada apa? " tanya Galang pada sambungan telepon nya.
" masih lama atau udah dijalan? "tanya sang mama.
" ini udah dijalan, tapi Galang singgah dulu sebentar ke rumah Dena ma"
" putar balik, nggak usah ke rumah Dena, langsung pulang ke rumah " Galang terkejut saat mendengar perintah dari mamanya.
" nggak bisa ma, Galang harus nganterin Dena pulang dulu" tolak Galang.
Dena yang mendengar jika Galang tengah di ultimatum oleh sang mama itupun, bertanya lewat gerakan bibirnya yang dapat dibaca oleh Galang.
" mama nyuruh mas langsung pulang gimana? " tanya nya tanpa suara terhadap Dena.
Dena menganggukan kepalanya.
" bawa Dena sekalian kerumah, ada yang ingin mama tanyakan sama kalian berdua, cepetan!!
" iya ma, Galang sama Dena segera meluncur, doakan saja semoga nggak terjebak macet ya, jadi mama nggak menunggu terlalu lama" ucap Galang lagi.
" nggak usah banyak drama, buruan!!
" iya ma"
tut
tut
tut,,
panggilan berakhir, Galang memasukkan kembali ponsel kedalam saku celananya.
__ADS_1
" mama Minta mas buat ajakin kamu ke rumah,ada yang ingin beliau tanya kan sama kita, gimana kamu keberatan nggak? " tanya Galang sebelum melajukkan kendaraan nya.
" turuti saja mas, siapa tau itu penting " jawab Dena.
Galang pun melajukkan toyota Porsche miliknya dengan kecepatan tinggi, untuk menghindari macet ia memilih jalur alternatif saja.
" nanti kalau mama nanya, biar mas aja yang jawab ya" pinta Galang sebelum masuk kedalam kediaman nya.
" iya mas " jawab Dena pelan.
" Assalamu'alaikum ma, pa, Galang sama Dena nih" ucap Galang membawa Dena menuju ke ruang keluarga yang berada di samping taman.
dan benar saja disana sudah menunggu Ryanti dan juga Wijaya, yang langsung mengalihkan perhatian mereka terhadap Galang dan Dena.
" ma, pa" sapa Galang lalu mencium punggung tangan kedua orang tua nya tersebut, di ikuti Dena yang berjalan disamping nya.
" duduk" ucap sang mama.
Galang dan Dena duduk seperti seorang terdakwa saja jhooonnnn,,,
" mama nemuin ini diruangan kamu tadi lang" ucap sang mama seraya menimang- nimang Gelang milik Dena, baik Galang dan juga Dena sama- sama tak dapat menutupi keterkejutan nya.
" kenapa mukanya kok seperti maling ketangkap basah" ucap Ryanti memandang bergantian kepada anak dan calon menantu di depannya ini.
" mama ih, Kata-kata nya vulgar banget, ada Dena disini ma" ucap sang papa yang sebenarnya susah payah menahan tawa melihat dua insan didepan mereka yang tengah diadili oleh istrinya ini, salah sendiri kenapa nekad sekali memancing di air yang butek,,,
Galang mendongakkan kepalanya,
" papa sama mama nggak ada bedanya, satu paket, nggak usah sok- sok an belain Galang sama Dena deh" ucap Galang kepada sang papa.
" lho, kamu harus nya say thankyou lang sama papa, papa ada disini sebagai tim pembela buat kamu dan juga Dena, karena kalau tidak ,hukumannya bisa seumur hidup" ucap Wijaya.
" Galang pasti seneng banget tuh pa, mendengar kata seumur hidup, betul nggak lang? " tanya Ryanti yang malah menatap Dena yang tertunduk.
" tergantung ma, kalau seumur hidup nya bersama Dena tentu saja itu adalah impian Galang, tapi kalau sebaliknya Galang akan mengajukan kasasi, mama sudah melanggar hak asasi Galang" ucap Galang pelan.
" wuih, bahasa ny itu lho pa, mama sampai bingung mengartikannya, artinya apa lang? " tanya sang mama.
Galang tak menjawab, ia hanya melihat sekilas kepada Dena.
" Dena" mendengar jika namanya yang dipanggil, Dena pun mendongakkan kepalanya.
" iya bu" Jawab nya.
"mama, panggil mama mulai sekarang, ba bu, ba bu, dibiasakan!! ucap Ryanti lagi.
" iya bu, a, ma" akhirnya bisa juga ya den.
" mama tanya, sekarang kamu lihat mama" Dena pun menuruti perintah calon mertuanya itu.
" ini benar punya kamu? " tanya Ryanti seraya menunjukkan gelang putih bertahtakan berlian disatu sisinya kepada Dena, Dena menoleh kepada Galang sebelum menjawab pertanyaan mamanya Galang itu.
" kanapa harus meminta persetujuan Galang, jawab aja, mama nggak mau ya punya mantu klelar- kleler[ lambat]" ucap Ryanti yang mengikuti kemana arah pandang Dena.
" itu memang Gelang Dena ma" bukan, itu bukan suara Dena, melainkan suara sang putra mahkota.
" mama tanya Dena, bukan kamu lang, kenapa kamu yang menjawab nya, Dena tiba-tiba sariawan atau sakit gigi" ucap Ryanti.
" mama sama papa membuat nya takut" ucap Galang yang langsung mendapatkan cubitan mesra di perutnya dari tangan sang mama.
" aww, sakit ma, mama kalau nyubit nggak pernah main- main, bisa satu minggu ini biru bekas cubitan mama" rintih Galang yang ditanggapi dengan senyuman saja oleh sang mama.
" jangan percaya Dena, Galang masternya kalau urusan drama berdrama, Korea mah lewat, jangan percaya ya " ucap Ryanti dan Dena tersenyum mendengar ucapan Ryanti yang tengah menjelek- jekekkan calon suaminya itu, anak mereka sendiri.
"mama, udah dong, Galang udah jawab pertanyaan mama tadi" ucap Galang kesal.
" mama mau denger versi Dena" Dena pun menganggukan kepalanya.
" itu memang gelang Dena ma, pemberian mas Galang, sebenarnya Dena sudah menolak nya ma, tapi mas Galang memaksa" ucap Dena merasa jika calon mertuanya ini tak setuju jika Galang memberikan benda berharga itu untuk nya.
" mama bukan mempermasalahkan itu Dena, tapi mama menemukan gelang ini tepat di bawah meja kerja Galang, dimana sebelum nya kalian sama - sama tengah berdiri di situ, kenapa, ayo cerita kan" pinta sang mama.
Dena kembali menatap Galang yang juga tengah menatap nya.
" kali ini mama hanya ingin mendengar Jawaban nya dari Dena saja, suaramu tidak mama butuhkan lang, jadi cukup diam " ucap Ryanti tegas.
hmmm, jadi terdakwa lagi ya pak presdir,,
trimakasih,, semoga selalu suka
jazakumullah khoiron
see u,,,,
__ADS_1