Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Pembukaan Bisnis


__ADS_3

Dewi berangkat kerja dengan ditemani oleh Wira. Sudah bisa diduga kalau semua pasang mata akan langsung tertuju padanya. Saat kemarin Dewi libur bekerja, semua orang membicarakannya.


Tentu saja karena nasi box yang dibagikan oleh Tari kepada seluruh karyawannya mencantumkan bahwa pemberian nasi box dalam rangka syukuran pernikahan Wira dengan Dewi. Semua jadi tahu kalau ternyata Dewi sudah menikah dengan Wira


Dewi terus menundukkan wajahnya, tak berani menatap teman-temannya yang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Dengan cueknya, Wira berjalan di depan Dewi, namun saat melihat karyawannya membuat Dewi terus menundukkan kepala, Wira lalu meraih tangan Dewi.


Dewi tentu saja terkejut dengan apa yang Wira lakukan. Perbuatannya hanya akan membuat seluruh pasang mata makin menatap ingin tahu terhadapnya. Namun Wira tak peduli. Dia hanya mau Dewi merasa aman dan tidak perlu takut karena pernikahan yang telah mereka lakukan.


Wira lalu mengumpulkan semua karyawan untuk mengadakan briefing morning. Dewi hanya masuk sebentar ke ruang karyawan dan menaruh tasnya lalu ikut bergabung di area tengah cafe tempat briefing morning diadakan. Wira memilih untuk memeriksa dokumen yang diberikan oleh bagian keuangan sambil menunggu semua karyawan berkumpul.


"Maaf, Pak. Semua sudah kumpul!" ujar Manager Cafe memberitahu Wira yang masih asik memeriksa dokumen.


"Oke!" Wira menaruh dokumen yang dipegangnya di atas meja bar. Wira melirik sekilas dan melihat Dewi yang masih menundukkan kepalanya karena malu dan tak siap melihat tatapan mata penuh ingin tahu dari teman-temannya


"Selamat pagi semuanya!" sapa Wira.


"Selamat pagi, Pak!" jawab seluruh karyawannya dengan kompak. Ada kurang lebih 10 orang yang bekerja shift pertama hari ini. Termasuk security dan Manager Cafe tentunya.


"Pagi ini saya mengumpulkan kalian semua untuk mengkonfirmasi perihal pernikahan saya dengan Dewi. Seperti yang kalian ketahui, saya dan Dewi sudah menikah namun kami berdua sepakat untuk tidak meramaikan acara pernikahan kami. Jadi, saya tidak mau ada isu yang berkembang dan mengatakan kalau kami menikah sembunyi-sembunyi untuk alasan yang dibuat-buat. Intinya kami berdua sudah menikah. Mohon kalian bisa bekerja sama seperti sebelumnya dan saya minta, tidak ada lagi masalah pribadi yang dicampur adukkan dengan pekerjaan. Sekian briefing morning dari saya, kalian bisa kembali bekerja terima kasih!"


Apa yang disampaikan oleh Wira sudah sangat jelas, tegas dan langsung ke inti permasalahan. Wira tak mau saat tak ada dirinya nanti Dewi akan kena cibiran teman-temannya seperti waktu itu.


Semua karyawan pun bubar dan pergi melakukan tugasnya masing-masing. Wira lalu naik ke lantai atas dan melakukan pekerjaannya memeriksa dokumen.


Dewi yang sejak tadi menunduk tetap saja menjadi perhatian teman-temannya. Namun, kali ini tak ada tatapan merendah seperti dulu, justru mereka menganggap Dewi adalah Bos mereka dan tak berani berkata menyakitkan seperti dulu.

__ADS_1


Beberapa karyawan malah seakan mencari muka di depan Dewi. Beberapa kali membantu Dewi bekerja padahal sebelumnya terlihat begitu acuh.


Wira tidak berada lama di dalam Cafe. Ia memilih pulang ke ruko karena harus menyiapkan untuk bisnis terbarunya. Laporan Cafe dan showroom akan ia kerjakan di ruko miliknya.


Barang-barang yang diperlukan untuk bisnis laundry sudah datang semua. Ruko juga sudah diatur sedemikian rupa agar memudahkan dalam melakukan pekerjaan laundry yang dilakukan oleh Ibu Sari dan Ratna, adik iparnya.


Melihat Wira yang sudah pulang, Bahri yang kebetulan lewat pun berhenti di depan ruko.


"Assalamualaikum, Pak Wira!" sapa Bahri.


"Waalaikumsalam!" jawab Wira.


Bahri lalu turun dari motornya dan menghampiri Wira. "Lapor, Pak! Saya sudah membagikan brosur yang Bapak kasih! Tadi, sekalian ngojek saya sebar brosurnya ke pasar dan orang-orang yang lewat. Sekarang sudah habis! Semoga saja, besok banyak yang mau laundry di sini ya Pak."


Bahri tentu saja menolaknya. "Nggak usah, Pak! Bensin saya masih banyak! Saya juga tadi sekalian jalan, sekalian ngantar penumpang jadi nggak rugi kok!"


"Udah lo terima aja! Gue nggak mau ada hutang budi nih!" paksa Wira.


"Justru saya Pak yang masih ada banyak hutang budi sama Bapak! Saya nggak bisa terima, saya nggak rugi apa-apa kok Pak! Bener deh! Tadi banyak yang minta di antar ke pasar, sekalian aja saya sebar brosurnya." tolak Bahri lagi.


"Udah cepet! Udah terima aja! Pegal nih tangan gue! Lo belum ngojek lagi kan? Bantuin gue ngerapihin ruko yuk!" ajak Wira.


"Siap, Pak!" terpaksa Bahri menerima uang pemberian Wira karena tak mau mengecewakannya. Bahri pun membantu Wira untuk persiapan pembukaan laundry besok.


Ruko sudah rapi, Bahri lalu pamit meninggalkan Wira seorang diri. Wira memutuskan untuk ke lantai atas dan menyelesaikan pekerjaannya di sana.

__ADS_1


Kini, Wira sudah tidak begitu takut berada di dalam ruko. Wira malah bisa fokus bekerja. Semua karena Dewi yang meyakinkannya kalau ruko ini aman.


****


Akhirnya hari yang dinanti-nanti oleh Wira datang juga. Hari di mana Wira meluncurkan bisnis yang selama ini begitu diimpikannya. Bisnis dimana modalnya adalah dari uang tabungan Wira sendiri.


Dewi izin tidak masuk bekerja karena akan membantu suaminya di hari pertama pembukaan laundry. Mommy Tari dan teman-teman Abi bahkan mengirimkan karangan bunga sehingga ruko tempat bisnis laundry dibuka, terlihat begitu ramai oleh kalangan bunga yang dikirimkan. Tentu saja hal tersebut membuat banyak pasang mata yang tertarik, apalagi promo pembukaan laundry begitu menggoda.


Banyak juga yang datang dengan membawa brosur yang sudah disebarkan oleh Bahri. Pesanan laundry yang datang pun membludak. Namun tenang saja, Ibu Sari yang sudah terbiasa mengambil cucian banyak, bisa mengatur semuanya.


Niatnya untuk sementara hanya Ibu Sari dan Ratna yang mengerjakan pekerjaan di laundry. Namun melihat banyaknya antusiasme warga sekitar akan laundry milik menantu Ibu Sari, Wira terpaksa harus memperkerjakan karyawan untuk membantu.


"Bagaimana? Menurut lo bagaimana? Ramai kan bisnis kita?!" tanya Wira yang begitu antusias setelah bisnis laundry tutup.


"Rame banget, Pak! Hebat Bapak dan promosinya tuh keren banget! Dari tadi, banyak banget yang mau laundry di tempat kita. Kalau begini caranya sih, bisa-bisa Ibu nggak kepegang! Apa kita harus tambah karyawan lagi ya?!"


"Gue sih lagi memikirin itu. Tapi kita lihat aja dulu, satu tambahan karyawan masih bisa menghandle semua apa nggak?! Kalau masih kurang nanti karyawan Mommy bakalan gue pekerjakan lagi di sini!" jawab Wira seenaknya.


" Ya udah Bapak atur aja. Saya mau mandi dulu ya, Pak. Habis ini mau langsung tidur. Capek banget!" pamit Dewi.


"Loh, lo nggak mau makan dulu? Dari tadi lo belum makan loh!" protes Wira.


Dewi mengambil handuk dan bersiap masuk ke dalam kamar mandi. "Kenyang! Bapak aja yang makan! Saya mau langsung tidur!"


****

__ADS_1


__ADS_2