
Wira melihat ke dalam mata Dewi. Perkataan yang Dewi katakan barusan benar-benar sudah menyentuh hatinya. Membuat benih-benih cinta yang sudah hadir tumbuh semakin subur saja.
Dewi benar-benar tulus menerima Wira apa adanya. Bukan takut karena Wira tak lagi banyak uang, melainkan takut kehilangan sikap judes Wira. Hanya Dewi yang suka dengan ucapan pedas Wira, tak ada seorang teman Wira pun yang menyukai.
"Dasar cewek aneh!" cibir Wira.
"Emang. Hanya cewek aneh kayak saya yang suka kalau Bapak ngomong pedas. Bapak tau enggak kenapa?"
"Kenapa?" tanya Wira.
"Bapak tuh kayak sambal. Memang pedas dan kadang bikin sakit, tapi justru disanalah letak enaknya. Bikin nagih. Kalau enggak ada sambal, makan juga jadi tak berselera. Begitu pun hidup saya, kalau enggak dengar Bapak ngomong pedes sehari aja rasanya hambar gitu hari-hari saya."
Wira tersenyum mendengar perkataan Dewi. "Bisa aja lo!"
"Nah gitu dong. Senyum! Masalah ada buat dihadapi, dicari solusi dan diambil hikmahnya. Jangan malah murung dan berpikir dunia ini mau runtuh. Masih banyak yang lebih susah dari Bapak, contohnya saya. Masih banyak yang hidupnya kurang beruntung dari Bapak, contohnya saya. Masih banyak yang gajinya lebih kecil dari Bapak, contohnya-"
"Lo kan? Ha... ha... ha..." Wira tertawa puas karena berhasil memotong perkataan Dewi di tempat yang pas.
Dewi ikut tersenyum. "Jadi gimana? Bapak dihukum apa saja? Kita bahasnya sambil sarapan, Pak. Itu cucian belum saya bilas, bisa luntur semua motif bunga-bunga dan polkadot kalo kelamaan direndam air sabun."
Wira kembali tersenyum. "Kalo motif garis-garis sama loreng-loreng luntur juga enggak?" goda Wira.
"Iya, luntur! Nanti kaos Bapak yang warnanya merah juga berubah jadi pink. Mau Bapak berubah jadi kayak artis Korea? Masuk aja ke dalam mesin cuci! Saya diemin setengah jam udah berubah jadi Lee Min Ho!"
"Enak aja! Lo aja sana yang masuk mesin cuci! Nanti lo berubah jadi Putri Salju, mau?" balas Wira.
__ADS_1
"Udah ah main berubahnya! Kita lagi bahas hukuman Bapak nih! Jawab yang jujur, selain potong gaji apalagi?" tanya Dewi menghentikan becanda mereka dan kembali ke mode serius.
"Mommy enggak akan stok makanan lagi. Katanya gue harus dimasakkin sama lo." jawab Wira sambil memakan sarapan yang Dewi buat.
"Terus apalagi?" tanya Dewi yang juga sedang memakan sarapannya.
"Apalagi? Dipotong gaji, enggak dikasih uang jajan dan enggak di supplai makanan. Itu udah bentuk hukuman paling berat buat gue!" protes Wira.
"Ah cengeng! Baru begitu aja udah kayak dunia mau runtuh! Kirain diusir dari rumah cuma pake boxer sama kaos dalam doang! Segitu mah enggak ada apa-apanya! Tanya nih sama yang sudah lama berkecimpung dalam dunia yang kejam bagi kaum kere kayak saya" Dewi menyombongkan dirinya.
"Dih! Kere bangga! Enggak bakalan Abi sama Mommy usir gue kayak gitu! Lebay lo! Kebanyakan baca novel yang isinya jual mimpi doang sih enggak ada pelajaran hidupnya!"
"Justru karena saya kere makanya bisa memberi pengalaman pada Bapak yang tak terbiasa hidup susah! Masalah Bapak mah kecil bagi saya. Masak? Kecil! Saya masakkin, tapi bagi uang belanja ya?!"
"Hush! Jangan ngomong begitu! Kata-kata itu doa! Seharusnya Bapak bilang begini, gue kasih lo belanja sampai bisa buat tumpeng 10 biji tiap hari! Itu kan Bapak juga mendoakan diri Bapak agar rejekinya sehari lebih dari 10 biji tumpeng! Siapa tau dikabulin sama Allah!" ceramah Dewi.
"Iya juga ya! Lo kadang ada benernya juga. Oke, masalah masak beres. Apartemen sudah dibayar sama Abi untuk biaya maintenance selama setahun. Uang gaji gue kalo enggak nongkrong dan belanja barang branded sih cukup, tapi gue jadi enggak bisa nabung buat bisnis." lagi-lagi Wira menekuk wajahnya karena sedih tak jadi buka bisnis.
"Hmm... Buka aja bisnis pakai tabungan yang ada. Kita buka kecil-kecilan dulu. Beli peralatan aja yang terpenting."
"Lalu untuk sewa ruko? Bayar gaji karyawan?"
Dewi diam sejenak. Ia terlihat berpikir keras. "Pak, ini hanya ide saja ya. Terserah Bapak mau terima atau enggak."
"Ide apa? Gue pertimbangin dulu. Kalau oke, gue setuju!"
__ADS_1
"Jadi begini, Bapak kan bingung sewa ruko. Kemarin kita udah survey ruko dekat rumah saya bukan? Ruko dua lantai. Harga sewanya juga enggak terlalu mahal. Bagaimana kalau apartemen ini disewakan sama orang, uangnya buat bayar ruko. Untuk peralatan laundry, saya rasa tabungan Bapak cukup kan untuk membelinya?!"
Wira terdiam. Ia menatap apartemen impiannya. Akankah ia rela, apartemen yang ia beli dari hasil jerih payah dan tabungan miliknya disewakan pada orang lain yang belum tentu bisa merawatnya?
"Kita nanti tinggal di ruko. Saya dan Bapak. Setelah orang tua saya tau tentang kita dan pernikahan kita dilegalkan, saya akan ikut dimana pun Bapak tinggal. Kita mulai bisnis kita dari awal. Saya memang belum bisa membantu karena masih membayar kontrakkan Ibu dan adik saya sekolah, tapi Ratna dan Ibu bisa menjadi karyawan Bapak. Saya akan bantu selesai bekerja. Kalau sudah maju, Bapak baru bisa mempekerjakan karyawan." usul Dewi.
Ide yang Dewi usulkan memang masuk akal. Sebenarnya Dewi tak beda jauh dengan Bahri, pintar. Sayang Dewi tak punya modal untuk kuliah. Kepintarannya tak dimanfaatkan sebaik mungkin.
Wira hanya diam dan terus memikirkan ide yang Dewi berikan. Agak nekat tapi kalau mau membangun bisnis memang begini caranya. Melepaskan zona nyaman demi zona penuh ketidakpastian.
"Sebenarnya sejak kemarin gue udah mikirin bisnis tanpa bantuan Abi dan Mommy. Gue rencananya mau ngajuin pinjaman ke bank untuk modal usaha." ujar Wira.
"Jaminannya apa? Pinjam ke Bank harus ada jaminan dong! Apartemen ini? Amit-amit enggak bisa bayar gimana? Disita gitu? Lebih baik mana disita atau disewain sama orang?" kata Dewi pedas.
"Lo jangan doain gitu dong!"
"Bukan doain, Pak. Saya hanya berpikir realistis aja. Membuat bisnis baru tuh enggak gampang. Bunga Bank harus dibayar tiap bulan. Kalau enggak bisa bayar pasti akan numpuk. Bapak hanya merelakan setahun sewa apartemen Bapak saja. Hanya setahun, Pak. Toh kalau gagal, apartemen masih jadi milik Bapak. Enggak rugi kan?"
Lagi-lagi Wira melihat sisi yang berbeda dalam diri Dewi. Wira sadar, Dewi adalah gadis cerdas. Bukan hanya pintar, tapi cerdas.
Hanya dalam waktu sebentar saja Dewi sudah bisa membuat analisa. Hebat sekali untuk cewek yang tak merasakan bangku kuliah.
"Kalau gagal gimana?" tanya Wira. "Kalau enggak balik modal gimana?"
****
__ADS_1