Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Mengadu pada Abi-2


__ADS_3

"Aku tuh serius, Bi! Aku kasihan sama Dewi! Beberapa hari ini, Dewi terlihat kelelahan. Dia bahkan sampai ketiduran di motor, padahal sebelumnya nggak pernah kayak gitu! Wira ngerti sih, Dewi capek banget. Beresin ruko, ngurusin keperluan Wira, masak dan kadang masih membantu di laundry. Belum Dewi harus bekerja di cafe. Karena kelelahan, Dewi jadi suka ketiduran. Kalau naik mobil setidaknya Dewi nggak akan ketiduran sampai hampir jatuh kan?"


Agas terdiam mendengar cerita Wira. Anak lelakinya yang biasa manja kini sudah berpikir dewasa. Sudah bukan lagi anak nakal yang kerjaannya mengerjai orang tua terus. "Kamu lagi akting nggak?!" selidik Agas. Matanya terus menelisik wajah Wira, mencari tahu kebenaran dalam ucapannya.


"Terserah Abi deh! Kalau nggak percaya juga nggak apa-apa. Terserah! Bi, Itu abang ojeknya udah datang, ambilin dulu es kopinya!" perintah Wira dengan seenaknya. Ia merasa kesal karena Abi meragukan perkataannya.


"Dasar anak kurang ajar! Udah Abi yang pesenin eh Abi juga yang ngambilin!" gerutu Agas namun tetap saja berjalan keluar dan mengambil minuman pesanannya.


"Es kopi yang 1 liter punya Wira taruh freezer aja, Bi. Biar dingin!" teriak Wira, lagi-lagi seenaknya sendiri.


Abi diam. Dilipatnya kedua tangan di dada. Ia kini marah karena merasa tak dihargai oleh anaknya sendiri.


Wira pun menyadari kalau Abi-nya tak lagi asyik untuk dibercadaian. Wira memasang senyum lebar seraya memamerkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


"Maksud Wira, Wira aja yang taruh ke freezer! Abi pasti capek deh udah ambil minuman di depan!" Wira berjalan mendekati Abi dan mengambil minuman yang Abi letakkan di atas meja lalu menaruh minuman miliknya ke freezer.


"Ayo kita ngobrol lagi!" Wira menggandeng lengan Abi seraya tangan satunya membawa es kopi miliknya dan milik Abi. "Jangan kebanyakan marah-marah! Inget, Mommy tambah awet muda. Kalo kerutan Abi tambah banyak nanti Mommy tergoda duda nackal sebelah loh!"


Agas pun menjitak kepala anaknya. "Enak aja! Mommy kamu cuma cinta sama Abi tau!"


"Iya... iya... Percaya! Karena Abi ganteng and you have a bigger gun, right? Sama dong, Dewi juga cinta sama aku karena i have a bigger gun like you, Dad."


Agas tersenyum mendengar pujian Wira. "Bisa aja kalo ngambil hati orang tua! Udah sana pilih mobil mau yang mana! Jangan yang kelas atas. Yang bisa kamu pakai untuk keperluan kamu saja!"


Tari yang baru kembali dari rumah sebelah heran dengan keakraban anak dan suaminya. "Tumben kamu ke rumah Mommy siang hari begini? Pasti ada maunya!"


Mommy ikut bergabung dan meminum kopi milik Abi tanpa ijin. "Lagi ngomongin apa?"

__ADS_1


"Abi lagi nanya kemajuan bisnisnya Wira. Katanya laundry tetap ramai alhamdulillah. Kalau tetap ramai selama sebulan ke depan, Abi niatnya mau kasih modal buat bisnisnya Wira."


"Beneran? Gitu dong! Inget ya, modal dari Abi buat bisnis beneran, bukan bisnis plus plus ngaco kamu!" sindir Mommy.


Wira terdiam. Ia memikirkan perkataan Mommy dan juga teringat permintaan ibu mertuanya.


"My! MOMMYKU SAYANG!" teriak Wira yang sontak mengagetkan Mommy Tari.


"Apa sih?" omel Tari.


"You are my hero! Luv you My!"


*****

__ADS_1


****


__ADS_2