
Dewi memutar kembali botol teh dan apesnya botol kembali ke arahnya. "Nih botol sensitif banget sih? Maunya sama aku terus!"
Wira tersenyum melihat Dewi memarahi botol yang tak salah apa-apa. "Aku tanya kamu lagi nih, truth or dare? Kamu paling enggak suka kalau aku ngapain?"
"Mau aku jawab jujur nih?!" tanya balik Dewi.
"Iyalah."
"Nanti marah enggak?"
"Enggak. Udah cepetan!"
"Beneran loh ya! Oke, aku jawab. Aku tuh paling enggak suka kalau kamu sudah fokus bekerja. Sudah di depan laptop. Kamu seakan lupa kalau di dunia ini bukan hanya kamu seorang. Ada aku yang harus nungguin kamu selesai kerja padahal mau ngajak kamu nonton. Saat kamu sadar, ternyata sudah malam dan niatku ngajak kamu nonton gagal deh." jawab jujur Dewi.
"Kapan aku kayak gitu? Kayaknya enggak pernah deh!" elak Wira.
"Tuh 'kan kamu enggak ngerasa! Yaudahlah anggap aja kamu enggak pernah kayak gitu!" ujar Dewi dengan malas.
Wira menyadari kesalahannya. Inilah hal sepele yang selama ini selalu diabaikannya. Hal yang membuat hubungannya tak lagi harmonis.
"Oke. Aku minta maaf. Aku akan memperbaiki kesalahan aku. Untuk membantu aku mengingat janji aku, tolong kamu beritahu dulu kalau kamu mau mengajak aku nonton. Aku akan setel alarm agar aku ingat, oke?"
Dewi tersenyum. "Oke."
"Sekarang aku yang putar ya botolnya." Wira memutar botol dan ternyata botol berhenti tepat di depannya. "Yah... Kenapa jadi aku yang apes?!"
"Nah! Ini giliranku! Aku mau kasih kamu 3 pertanyaan!" ancam Dewi.
"Enggak bisa! Sekali putar, sekali pertanyaan!"
"Ya kamu udah 3 kali nanya aku, sekarang aku gantian!"
"Huft... Iya deh! Aku kasih 3 pertanyaan!" Wira mengalah.
__ADS_1
"Nah gitu dong! Oke, pertanyaan pertama. Kamu pernah enggak selingkuh? Atau jalan sama cewek lain?" tanya Dewi.
"Enggak pernah!" jawab Wira tanpa ragu sedikitpun.
"Yakin?"
"Yakin dong! Kecuali kamu, Mommy dan Carmen enggak pernah tuh. Oh iya, Ratna dan Ibu tambahan. Sisanya sama sekali enggak pernah."
"Meskipun... Kita jarang bermesraan? Kamu enggak mencari pelampiasan di luar gitu? Dulu bukannya kamu kayak begitu?"
"Ini aku hitung pertanyaan kedua ya! Jawabannya enggak pernah. Pelampiasan kamu bilang? Tinggal minta sama kamu kenapa harus melampiaskan ke yang lain?! Satu lagi, aku tuh sibuk kerja. Kamu sendiri yang bilang bukan, aku kalau kerja tuh sampai lupa keadaan sekitar. Lupa juga sama hal kayak gitu, kecuali kayak sekarang nih. Kamu di depan aku pakai baju tidur yang bikin aku nepsyong. Baru deh aku pengen...."
"Stop! Pertanyaan ketiga. Apakah kamu masih mau punya anak lagi sama aku meski aku pernah gagal menjaga anak kita?" Dewi menunduk sedih.
Wira menuangkan bedak di telapak tangannya. Dicoleknya bedak dan dilumuri ke wajah Dewi. "Satu, pertanyaan kamu ngaco."
Dicolek lagi bedak dan dioleskan ke wajah Dewi. "Dua, pertanyaan kamu tak perlu aku jawab."
Kembali dicoleknya bedak bayi dan dioleskan ke wajah Dewi. "Ketiga, hanya kamu yang aku percayai menjadi ibu dari anak-anakku."
"Caranya?"
"Hmm... Aku juga kurang mengerti caranya bagaimana. Aku hanya mengoreksi saja apa kesalahanku. Waktu itu saat kamu mengabari aku kalau kamu hamil, bukannya langsung bersyukur aku malah bertanya 'kok bisa?'. Mungkin itu bagi Allah pertanda kalau aku belum siap. Namun sekarang, aku akan senang hati mendengar kamu hamil lagi. Aku malah berniat mengundang anak yatim kalau kamu hamil lagi. Anggap saja itu nazar aku. Kamu ingetin ya kalau aku lupa!"
Dewi mengangguk patuh. Senyum di wajah Dewi mengembang. "Aku juga mau belajar ikhlas ah. Sama seperti kamu, aku masih susah mengikhlaskan kepergian anak kita. Mungkin itu juga yang membuat Allah belum mempercayai aku untuk diberi anak lagi. Aku setuju sama kamu. Aku akan memperbaiki diri aku sampai Allah mempercayai aku lagi untuk dititipkan seorang anak."
"Pinter! Gitu dong! Baru istrinya Wirata Agastya!" Wira menunjuk ke arah cermin. Memberitahu Dewi hasil karyanya mencoret coret wajah Dewi.
"Ya Allah Sayang! Kamu tuh ya! Awas aja aku balas!" Dewi mengambil bedak dan melumuri wajah Wira dengan bedak.
"Curang woy! Dikit-dikit! Ini kenapa dituangin ke wajah aku langsung banyak?!" Wira mengelitiki Dewi yang tertawa menahan geli. Mereka bahkan memberantaki seprai dan membuat cemilan yang Wira beli berjatuhan semua di lantai.
Wira dan Dewi tertawa, bercanda dan menikmati kebersamaan mereka. Sampai Wira berada di atas tubuh Dewi. Menatap Dewi dengan lekat.
__ADS_1
"Kamu kok tambah cantik sih Sayang?"
Dewi tersipu malu mendengar pujian dari Wira. "Masa sih? Bukannya malah timbul banyak keriput ya?"
"Enggak dong! Baru umur 23 tahun masa sih udah banyak keriput? Masih kencang. Pepaya kamu saja makin montok dan menggemaskan untuk aku rengkuh."
Dewi tertawa mendengar perkataan Wira. "Pepaya? Klop dong sama pisang kamu?!"
Wira ikut tersenyum mendengar perkataan Dewi. "A big banana."
"Ha...ha...ha..."
"Wanna try?" tanya Wira sambil memainkan kedua alisnya.
"Hmm... Mau dong! Tapi... Pemanasan dulu ya! A big banana suka memaksa masuk tanpa pemanasan dulu. Sakit jadinya."
Wira tersenyum. "Tentu dong!" Wira memajukan dirinya dan mencium bibir Dewi. Pelan, lembut dan penuh cinta. "Seperti yang kamu bilang tadi, kamu suka dicium aku dimana?"
Sebelum Dewi menjawab, Wira sudah menurunkan tali baju tidur Dewi. Membuat kulit putih Dewi terlihat jelas. Wira juga menyingkap baju tidur Dewi dan terlihat kini di balik bra renda yang menggoda imannya. Pepaya..
Wira menundukkan tubuhnya dan mengecup buah sintal milik Dewi. Hanya sebentar namun mampu mengirimkan sinyal ke otak Dewi untuk mendessah. "Di sini bukan?"
Dewi mengangguk. Ia tak bisa berkata lagi saat Wira menikmati dua buah sintalnya bergantian. Membuat Dewi beberapa kali menyebutkan nama Wira.
Wira membuka baju Dewi dan membuangnya sembarangan, seperti saat pertama kali mereka bercinta dulu. "Sudah siap spot kedua yang kamu sukai?"
Dewi menggelengkan kepalanya. "Aku pasti tak akan tahan."
"Ayo kita coba!" Wira pun mulai memanjakan Dewi. Membuat Dewi tak hentinya menikmati kenikmatan demi kenikmatan saat Wira melakukan penyatuan dengannya.
Udara Puncak yang dingin. Hasrat yang membara menahan kerinduan yang selama ini terpendam seakan menjadi satu.
Dua insan yang menyatukan cinta mereka. Berharap diberi lagi kepercayaan untuk dititipkan sang buah hati.
__ADS_1
Sampai sebuah kata terucap, "I Love you!"
****