
Agas tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia biarkan putranya menangis dan akan menasehatinya saat sudah tenang nanti.
Carmen yang baru mendengar berita dari Bahri pun datang. Wajahnya sudah dipenuhi air mata.
Carmen semakin sedih saat melihat Abangnya terus menangis sambil duduk di lantai. Carmen pun memeluk Wira, Abang yang selalu membelanya dan menyayanginya.
"Yang sabar ya, Bang! Abang harus ikhlas! Kasihan Kak Dewi kalau Abang sedih kayak gini!" ujar Carmen seraya mengusap air mata di wajah Wira. Percuma, karena air mata itu tak kunjung berhenti. Terus menetes dan tak bisa dibendung lagi.
Wira tak menjawab apa-apa. Ia masih menangis sedih. Carmen dengan lembut dan penuh kesabaran berusaha membujuk Wira.
"Abang enggak kasihan sama Kak Dewi? Kak Dewi di dalam masih menangis karena sedih, Bang. Ia butuh Abang! Jangan Abang hanya sedih dan meratapi nasib di luar seperti ini. Siapa yang memeluk Kak Dewi dan menenangkannya kalau bukan Abang?" Carmen memang seperti Tari yang tau bagaimana bersikap dan berbicara. Tau bagaimana membujuk Wira.
Wira menghapus air matanya. "Kamu benar, Dek." ujar Wira dengan suara serak. "Abang harus menguatkan Dewi, bukan diri Abang sendiri!"
"Ayo Carmen antar ke dalam!" bujuk Carmen.
Wira pun menurut. Carmen membantunya bangun dan menuntunnya masuk ke dalam kamar. Nampak Dewi masih menangis meski Tari dan Ibu Sari sejak tadi bergantian menenangkannya.
Air mata Wira kembali lolos. Ia tak tega melihat Dewi namun teringat perkataan Carmen kalau Dewi membutuhkannya membuat Wira menguatkan dirinya.
Wira berjalan mendekati Dewi. Tari dan Ibu Sari memberi ruang dua orang sejoli yang sedang dilanda musibah saling menguatkan.
Wira menarik Dewi dalam pelukannya. Tanpa kata. Hanya air mata dan tangis keduanya yang pecah.
Dewi memeluk Wira dengan erat. Ia tahu dimana dirinya harus menangis sekarang.
"Maafin aku, Sayang! Maafin aku!" ujar Wira dengan suara seraknya.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah! Aku yang tidak menjaga anak kita dengan baik. Kalau saja aku lebih berhati-hati, pasti anak kita akan baik-baik saja!" sesal Dewi.
Wira mengusap rambut Dewi. Mereka sama-sama menyesali keadaan mereka. Sama-sama menangisi kehilangan mereka. Sama-sama saling menguatkan.
****
__ADS_1
Dewi tak diijinkan langsung pulang oleh dokter. Keadaannya yang masih lemah membutuhkan perawatan lebih intensif lagi.
Wira yang merawat Dewi. Air mata Wira sekarang sudah kering. Seakan sudah terkuras habis. Ia sedih melihat keadaan Dewi yang lemah dan terus menyalahkan dirinya dan sadar kalau ia tak mau lagi kehilangan orang yang dicintainya.
Dewi tak mau makan. Hal tersebut yang membuat keadaannya makin lemah. Ia bahkan harus diinfus untuk makan dan agar tidak kekurangan cairan.
Dokter sudah meminta Wira agar lebih membujuk Dewi agar mau makan. Dewi harus cepat pulih kalau mau segera pulang dari rumah sakit.
"Aku suapi ya?!" tanya Wira seraya memegang nampan besi berisi makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Dewi hanya menggelengkan kepalanya. Tatapannya masih kosong. Tangannya diinfus dua infusan. Satu untuk cairan dan obat sementara yang lainnya untuk makanan dalam bentuk infus.
"Kamu harus kuat. Harus ikhlas. Jangan sampai anak kita sedih melihat keadaan kamu yang seperti ini!" bujuk Wira.
Dewi tak menjawab. Masih asyik menatap tembok kosong tanpa memikirkan apapun.
Terpaksa Wira membujuk Dewi dengan caranya. "Kamu enggak mau mengunjungi makam anak kita?"
Cara yang Wira lakukan berhasil. Dewi mengalihkan pandangannya dari tembok dan kini menatap Wira dengan lekat, seakan mencari kebenaran dari ucapan suaminya.
Dewi mengangguk. "Mau." jawabnya lemah.
Wira memaksakan tersenyum. "Kalau begitu kamu harus keluar dari rumah sakit dulu dong! Bagaimana bisa ke makam kalau untuk makan saja kamu harus pakai infus?"
"Aku mau makan." kata Dewi dengan lemah.
Wira kembali tersenyum. Usahanya membuahkan hasil. Tak ada yang bisa membujuk Dewi selain dirinya. "Aku suapi ya!"
Dewi makan setiap suapan yang Wira berikan. Meski tak banyak yang Dewi makan, sudah kamajuan. Esoknya Dewi agak lebih segar. Selang infus untuk makanan sudah dicabut. Dewi boleh pulang jika keadaannya sudah membaik.
Dewi tentu saja semangat untuk sembuh. Ia mau datang dan mendoakan anaknya secara langsung. Itu semangat yang membuat Dewi bisa pulang ke rumah.
Untuk sementara Dewi tinggal di rumah Mommy Tari. Kamar tamu di lantai bawah akan digunakan untuk Dewi agar tak perlu naik turun tangga seperti di ruko.
__ADS_1
Dewi dan Wira menurut saja. Apalagi Wira. Ia ingin istrinya ada yang mengurus. Ibu Sari sudah repot dengan laundry, takut Dewi tak ada yang memperhatikan.
"Kapan kita ke makam?" tagih Dewi karena Wira tak juga mengajaknya pergi.
"Kamu harus benar-benar pulih kalau mau ke sana." bujuk Wira.
"Aku udah sehat kok!" jawab Dewi.
"Belum! Kamu masih lemah. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat." pesan Wira.
Dewi akhirnya menurut. Wira terus memperhatikan Dewi. Wira ingin mengusir rasa sedihnya dengan bekerja. Namun ia tetap ingin memperhatikan Dewi. Maka ia pun memutuskan bekerja di rumah untuk sementara.
Setelah keadaan Dewi membaik, Wira menepatinya mengajak Dewi ke makam. Di depan pusara janinnya, Dewi kembali menangis. Wira pun demikian. Berdua mereka saling menguatkan seperti apa yang Carmen katakan.
"Aku sudah sehat sekarang. Aku mau pulang ke ruko!" pinta Dewi setelah mereka sudah di perjalanan pulang dari makam.
"Kamu yakin?" tanya Wira.
Dewi mengangguk yakin. "Aku mau bekerja di laundry. Aku mau menyibukkan diri. Aku enggak mau terus mengingat anak kita."
"Baiklah kalau itu mau kamu! Kita pulang ke ruko, tapi dengan syarat kamu harus bisa jaga kondisi. Jangan terlalu keras bekerja. Ingat, kamu belum pulih benar!"
"Iya. Aku hanya akan membuat laporan saja. Tidak membantu yang berat-berat kok!"
Wira tersenyum. "Baiklah! Kita pulang sore ini!"
Dewi mengangguk. "Hmm... Aku boleh minta satu hal lagi enggak sama kamu?" tanya Dewi.
"Apa? Kalau aku bisa pasti akan aku kabulkan!" janji Wira.
"Aku mau membantu membuat laporan untuk bisnis baru kamu. Pokoknya apapun yang bisa mengalihkan pikiran aku dari kesedihan. Aku enggak mau anak kita bersedih melihat aku yang terpuruk seperti ini." ujar Dewi seraya memainkan kuku jari tangannya.
"Boleh kok. Kamu harus sehat dulu ya! Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau! Kita akan rintis bisnis kita dan buktikan kesuksesan kita berdua. Aku mau anak kita nanti bangga punya orang tua seperti kita. Aku mau dia menyambut kita nanti dengan wajah tersenyum, bukan dengan wajah sedih."
__ADS_1
Dewi mengangguk sambil menghapus air mata yang berhasil lolos. "Aku juga."
****