
"Kamu udah pulang, Wi?" tanya Ibu yang melongokkan kepalanya ke dalam penutup gorden yang menjadi pintu ke kamar dadakan Dewi.
"Udah, Bu. Dari tadi malah. Dewi bawa ayam bakar dan es kelapa muda. Ibu makan dulu!" ujar Dewi yang sedang asyik tengkurap seraya mendengarkan musik dari Hp miliknya sambil membuka Instakilo. Melihat kehidupan para artis yang membuatnya iri dan daya hayalnya langsung menggambarkan kalau dirinya memiliki apa yang selebgram itu miliki.
"Iya. Ibu mau taruh cucian dulu baru makan. Bahri belum pulang ya Wi?" tanya Ibu lagi.
"Loh? Kirain Dewi malah Ibu tau Bahri pergi kemana! Memang anak itu jarang pulang, Bu?" tanya balik Dewi.
"Pulang. Kayaknya malam deh pas Ibu udah tidur. Biasanya kan anak itu pulang siang buat makan dan sholat baru pergi lagi."
"Belum pulang, Bu. Pesan Dewi aja cuma dibaca enggak dibalas. Dewi coba telepon dulu deh." Dewi lalu menghubungi nomor Hp Bahri dan ternyata tak aktif. "Enggak aktif, Bu."
"Kemana lagi anak itu! Sebentar lagi mau kelulusan sekolah. Jangan mentang-mentang mau lulus sekolah malah main terus! Bukannya buat lamaran yang banyak biar bisa langsung kerja!" omel Ibu.
"Jangan diomelin dulu Bahri kalo pulang, Bu. Belum tentu dia main. Siapa tau Bahri malah rajin ngojek." Dewi membela adiknya.
"Daripada ngojek mending kerja di perusahaan. Gajinya lebih gede. Bisa buat kuliah juga nantinya. Percuma sekolah sampai SMA kalau ujung-ujungnya cuma jadi tukang ojek!" Ibu masih ngedumel tanpa memikirkan perasaan Bapak yang mendengarnya.
Bapak hanya mengelus dada. Dirinya lulusan SMA dan kini menjadi tukang ojek sejak berhenti bekerja.
__ADS_1
Dewi tak menimpali ocehan Ibunya. Kalau Ibunya mengeluh dan marah tanpa alasan begitu biasanya karena Ibu lelah. Bekerja di beberapa rumah sampai lupa waktu makan siang. Apa yang Ibunya katakan hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan baginya. Maklumi saja.
Namun tidak dengan Bapak. Dalam hati Bapak merasa sedih. Dirinya merasa gagal jadi pemimpin rumah tangga. Apalagi sekarang hanya menjadi beban bagi keluarganya saja.
****
Sesuai yang Wira prediksi, Mommy Tari datang ke apartemennya. Membawa tas besar berisi makanan siap dihangatkan dan bahan makanan untuk anak lelaki kesayangannya.
"Katanya masih banyak?! Ini tuh udah tinggal sedikit. Kamu jarang makan ya selama di apartemen?! Atau kebanyakan jajan makanan fast food yang enggak sehat? Badan makin kurus, otot kamu kelihatan lebih lembek! Contoh dong Abi kamu! Pola hidupnya sehat, rajin olahraga. Sudah usia senja masih terlihat gagah dan perkasa!" omel Tari.
"Wira olahraga kok, My. Olahraga malam." jawab Wira sambil tersenyum penuh maksud.
"Olahraga malam apa? Kamu clubbing terus ya? Awas kamu clubbing dan terjerat pergaulan bebas! Mommy nggak akan kasih kamu uang jajan lagi!" ancaman Mommy Tari memang sederhana, Wira tak takut tapi Wira tak mau mengecewakan hati Mama tersayangnya, karena itu Ia menuruti apa kata Mommynya.
Tari tersenyum mendengar bujuk rayu putranya yang sangat manis di mata Tari. "Bisa aja kamu! Mommy kan udah kasih uang jajan. Nanti saja ya, kamu kan sedikit lagi gajian. Hemat aja dulu uang kamu. Seperti janji Mommy, kamu buat perencanaan bisnis lalu ajuin ke Mommy. Nanti Mommy dan Abi akan diskusi, kalau memang oke Mommy janji akan membiayai bisnis kamu!"
"Siap, My! Mommy tenang aja, Wira sudah ada bayangan mau membuat bisnis apa. Cuma perlu survei lapangan dan riset sedikit lagi baru Wira akan ajuin ke Mommy. Wira juga mau My kayak Zaky. Bisa mandiri. Bukannya Wira menolak untuk mengecek laporan cafe dan showroom loh My, Wira ingin kaya Abi. Abi berusaha keras membangun kerajaan bisnisnya sendiri sampai bisa seperti sekarang. Wira mau lebih hebat lagi dari Abi dan bisa membanggakan Mommy dan Abi tentunya."
Kata-kata Wira tentu saja membuat Tari terharu. Baginya, putranya adalah anak paling hebat dibanding anak manapun. Dia bangga karena memiliki anak sebaik Wira. Tari pun memeluk Wira dan mengusap rambutnya dengan penuh kasih. "Mommy bangga sama kamu! Mommy yakin kamu adalah anak yang hebat. Mommy percaya sama kamu!"
__ADS_1
****
Wira menatap sisi tempat tidurnya yang kosong. Apartemennya terasa begitu sunyi sejak Tari pulang.
Dulu, tujuan Wira memiliki apartemen adalah menginginkan ketenangan dan kesunyian. Tak ada suara Abi yang suka ngobrol dengan bapak-bapak komplek. Tak ada harum masakan yang tercium dari sebelah rumah dan tak perlu mendengar Carmen yang terus-menerus merengek minta diajak jalan.
Ternyata, setelah memiliki apartemen yang sunyi dan tenang Wira malah merasa kehilangan semua hiruk pikuk yang selama ini selalu mengganggu dirinya. Awalnya Wira tidak menyadari kalau Ia ternyata menyukai kebisingan yang ada di sekitarnya. Ada Dewi yang selama ini ada di apartemennya dan mengisi hari-harinya. Namun, kini istrinya itu sedang pulang ke rumahnya dan apartemen sunyi kembali.
Wira memeriksa pesan yang masuk di handphone miliknya. Hanya ada beberapa pesan masuk dari teman-teman yang mengajak untuk clubbing dan bersenang-senang, lalu beberapa cewek yang pernah Wira ajak kencan. Mereka mengundang Wira ke rumahnya. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk melakukan perbuatan dosa yang bikin nagih.
Wira mencari pesan yang dikirimkan oleh Dewi, namun istrinya tersebut tidak mengirim pesan sama sekali. Mengabari kalau dirinya ada di rumah atau sedang apa, juga tidak. Wira ingin mengirim pesan ke Dewi namun sempat ragu, takut Dewi mengira kalau ia adalah suami yang posesif. Wira diliputi rasa penasaran, istrinya sedang apa?
"Kirim pesan... Tidak. Kirim pesan... tidak. Kirim.. tidak... kirim... tidak. Argh!! Ngeselin banget ya! Harusnya dia yang kirim pesan ke gue! Dia kan sebagai seorang istri harus kabarin suaminya. Sedang apa, udah makan atau belum, lagi ngapain, atau minimal tanya kek gue udah makan apa belum. Tanya keadaan gue baik apa enggak?! Kalau tiba-tiba gue meriang dan sakit gimana? Ini kok kayak nggak peduli gitu sama suaminya!" Wira yang awalnya galau memutuskan kirim pesan atau tidak malah berakhir dengan mengomel pada dirinya sendiri.
Kemudian bagai sebuah kontak batin, Dewi tiba-tiba mengirim pesan kepada Wira. Wira senang melihat ada pesan dari Dewi. Ia pun tersenyum, Ia membuka pesan yang Dewi kirimkan dan wajahnya kembali cemberut kesal.
*Pak, jangan lupa cucian di tempat cuci diangkat! Kayaknya mau hujan, sayang tadi saya udah sempat nyuci. Terima kasih!*
***
__ADS_1
Sabar... Sabar....
Untuk Dewi, say hi ke kamera! Yang mau pesen sate ke Dewi area Yogyakarta bisa kontak Dewi langsung ya 😘