
Agas yang awalnya duduk santai langsung terduduk tegak manakala Wira mengatakan kalau dirinya sudah menghamili anak orang.
"Hah? Kamu hamilin anak orang? Siapa? Udah berapa bulan? Kamu sering main sama dia? Abi kan udah bilang enggak boleh senakal itu! Kebiasaan sih kamu ngeliat nen gede dikit langsung aja mupeng! Sekarang malah ngelakuin hal yang lebih parah lagi! Ya Allah... Abi salah apa mendidik kamu sampai seperti ini! Kamu enggak ngegugurin anak itu kan? Jangan! Enggak boleh! Jangan menambah dosa! Kasihan anak itu enggak bersalah. Kamu cuma nambah dosa aja!" cerocos Abi Agas panjang lebar.
Wira tak kuasa menahan tawa dan Ia pun tertawa terbahak-bahak. Tak sia-sia Ia pulang ke rumah. Abi-nya memang hiburan di tengah kegalauannya menikah dadakan.
"Ih! Kok malah ketawa?! Kamu bohong ya?! Kamu ngerjain Abi ya?!" tebak Agas.
"Ha...ha...ha...ha... Abi lagian kayak emak-emak latah! Panjang bener nyerocosnya! Mommy aja yang ibu-ibu enggak kayak Abi! Parah Abi sih!" Wira terus menertawakan Abi-nya.
Agas mengambil majalah di atas meja, menggulungnya lalu menggetok kepala Wira. "Dasar anak bangor! Abi sendiri dikerjain! Kalau beneran kejadian gimana?!"
"Aw! Ih dia mah mukulnya sekuat tenaga sih! Sakit tau!" keluh Wira sambil mengusap kepalanya yang kena pukul. "Santai aja sih! Kalau kejadian toh Abi langsung punya cucu! Udah pantes tau umur Abi buat nimang cucu!"
"Cucu... cucu! Nikah dulu! Baru Abi tenang punya cucu! Lagian, Abi masih muda. Masih bisa dapetin daun muda!" ujar Agas tanpa pikir panjang.
"Nikah mah udah, kawin yang belom! Wah Abi parah, aku bilangin Mommy nih Abi mau nyari daun muda!" padahal Wira bilang terus terang, tapi Agas ternyata enggak mudeng.
"Eh awas ya ngadu sama Mommy! Abi kan bilang masih bisa, bukan mau nyari! Beda itu! Beda! Lagian kamu juga kebalik, paling kawin dulu yang udah tapi nikah belom!" Agas tak sadar kalau anaknya sudah berkata jujur. "Masih muda, jalan hidup masih panjang. Hidup yang bener. Jangan ikut-ikutan yang enggak bener. Apa yang diajarin sama Sony dan Riko jangan kamu telan mentah-mentah. Mereka cuma ngomong doang, aslinya mah udah enggak bandel kayak dulu. Jadikan pengalaman Abi sebagai ilmu agar tidak terjerumus dalam lubang dosa kayak Abi dulu. Bukan malah menginspirasi kamu!"
Agas memang kalau menceramahi anaknya layaknya teman yang mengajak ngobrol. Wira tau apa yang Ia lakukan salah, karena Ia bangor saja makanya tak menggubris nasehat Abinya.
"Bi, waktu pertama kali nikah sama Tante Tara dulu Abi gimana? Canggung enggak?" Wira sudah tau cerita masa lalu Abinya. Ia mau nanya sama Abi karena saat Abi menikah usianya sudah lumayan mapan.
"Sst! Jangan kencang-kencang nanyanya. Kalo Mommy kamu dengar enggak enak Abi. Antara Abi dan Tante Tara udah lama selesai." omel Agas sambil celingukan takut ketahuan Tari.
__ADS_1
"Iya...iya. Wira pelan-pelan deh. Gimana? Cerita dong!" desak Wira.
"Hmm... Gimana ya? Dulu sih karena kami saling mencintai ya biasa aja. Pernikahan yang seperti layaknya orang menikah karena cinta gitu. Beda kalo sama Mommy kamu!" jawab Agas dengan jujur.
"Memangnya kalo sama Mommy, Abi enggak cinta?" tanya Wira lagi.
Abi Agas menggelengkan kepalanya. "Waktu awal nikah sih enggak. Mommy kamu dulu bukan type Abi banget. Nikah juga karena mau bantuin Mommy kamu lepas dari Bapak tirinya yang banyak hutang. Tapi setelah mengenal Mommy lebih jauh, Abi malah mengenal arti cinta yang sebenarnya. Eh malah cinta mati sama Mommy kamu sampai sekarang!"
Wira malah tertegun mendengar perkataan Agas. "Kenapa ceritanya mirip sama gue?!" batin Wira.
"Tumben nih akur!" sindir Carmen yang baru pulang bersama Tari. "Biasanya main jambak-jambakkan!"
"Eh iya bener. Biasanya juga main sindir-sindiran, ini kok malah ngobrol akrab sih?" Tari juga heran melihat kedua orang lelaki kesayangannya sedang duduk akur mengobrol sambil ngemil Chiki rasa cokelat.
"Biasalah, My. Anak muda kita lagi galau. Butuh jawaban dari ahlinya ahli. Siapa lagi kalau bukan Abi Agastya Wisesa Sang Legenda Mantan Duda Nackal yang terkenal sejagat raya!" mulai deh Agas lebay dan membanggakan masa lalunya.
"Enggak, My. Enggak dong. Sayangku cintaku cantikku semua hanya Mommy Tari seorang!" Agas menghampiri Tari yang ngambek dan mengikutinya kemanapun Tari pergi.
Tinggallah Carmen yang duduk di tempat Agas semula. Mengambil Chiki dari tangan Wira dan memakannya. "Tumben Bang pulang ke rumah! Enggak betah di apartemen baru?!"
"Udah cuci tangan belum? Jangan jorok! Cuci tangan dulu sana!" omel Wira seraya merebut Chiki yang dipegang Carmen.
"Udah, Bang! Pas masuk langsung cuci tangan aku! Tau sendiri Mommy kayak gimana kalau masalah kebersihan. Abang jawab dong pertanyaan aku. Abang enggak betah di apartemen sendirian? Takut ya? Apartemennya serem?" Carmen keukeuh mau tau alasan Wira. Tak akan berhenti sampai Abangnya menjawab.
"Soalnya enggak ada istri Abang sih. Kalo ada istri Abang di rumah pasti Abang betah." lagi-lagi Wira berkata jujur namun tak ada yang mempercayai ucapannya.
__ADS_1
"Ngimpi! Bang kapan nih traktir aku! Abang janji loh mau traktir aku sepuluh juta! Aku kan udah berhasil bujuk Abi buat beliin Abang apartemen!" tagih Carmen.
Wira menghela nafas dalam. Karena punya apartemen-lah Ia harus menikahi anak orang dengan terpaksa. Andai orang rumahnya tau kalau sejak tadi Wira berkata jujur, pasti mereka tak akan sesantai ini.
"Besok! Abang mau tidur dulu sekarang!" Wira lalu bangun dan hendak tidur di kamarnya.
Mommy Tari yang sedang di dapur pun berteriak saat tau Wira mau tidur. "Jangan lupa sholat dulu Bang baru tidur!"
"Iya, My!" Wira menaiki tangga dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia pun terlelap dan lupa perintah Mommynya.
****
Wira terbangun saat mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk kencang. "Abang! Mommy suruh turun! Waktunya makan malam!" teriak Carmen.
Wira membuka matanya dengan malas dan melihat jarum jam di kamarnya menunjukkan pukul 8 malam. Hampir seharian Ia tidur dan melupakan 3 waktu sholat.
"Abang! Ih tidur apa mati sih?!" gerutu Carmen.
"Iya! Abang turun!" balas Wira dengan malas. Carmen lalu meninggalkan kamar Wira dan turun ke bawah. "Kok bosen ya? Apa nyuruh bini gue pulang ke apartemen aja ya?" gumam Wira.
Wira lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak! Dia bukan bini gue yang sebenarnya! Dia bini karena terpaksa! Jangan mulai main rumah-rumahan! Sadar Wira... Sadar!"
Wira lalu mencuci mukanya. "Gue harus sadar. Gue harus profesional! Dia bukan bini beneran gue!"
****
__ADS_1
Oke. Hari ini kita double Up. Yuk vote novel ini yang banyak ya 😊