Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Curahan Hati Dewi


__ADS_3

"Kalo makan jangan lupa nafas, Pak. Pelan-pelan. Dikunyah 30 kali." ujar Dewi seraya menyuapi Wira dengan sabar.


"Berisik ah! Enak nih nasi uduknya. Enggak sia-sia lo jalan jauh!" puji Wira seraya mengambil sebuah kerupuk dan memakannya.


"Iyalah. Sini, bayar dulu! Enak aja tinggal makan doang! Pake uang jalan juga ya!" tagih Dewi.


"Dih mulai deh sifat pelit lo. Enggak nahan gue! Ntar gue kasih lo duit lagi. Lo doain aja gue bagus audit nih cabang! Biar Mommy kasih gue duit lagi. Kan doa istri mujarab buat suami!" ujar Wira dengan santainya.


Tanpa Wira sadari, saat dirinya mengatakan hal itu jantung Dewi berdetak lebih kencang. Dewi merasa kini Wira sudah benar-benar mengakui dirinya sebagai seorang istri. Akankah selamanya?


"Aa!" Wira membuka mulutnya, meminta Dewi segera menyuapinya. Dewi tersadar dari lamunannya dan kembali menyuapi Wira.


"Rumah Tante lo jauh enggak? Nanti gue anter lo kesana terus gue balik ke cafe lagi. Gue mau audit sebentar. Nanti sore gue jemput." ujar Wira.


"Lumayan sih, Pak. Malah makan waktu kayak gitu. Saya di sini aja deh temenin Bapak. Siapa tau bisa bantu-bantu? Sekalian ngawasin Bapak, takut main mata sama cewek lain." goda Dewi.


"Ganggu aja lo! Tau aja gue mau cari cewek Bandung yang cantik!" balas Wira.


"Oh... gitu! Awas aja!"


"Awas apa?"


"Ya... Awas aja." bingung Dewi mau mengancam apa.


"Enggak bisa ngancem gue ya? Kasian deh ha... ha... ha..." Wira tertawa puas karena menang melawan Dewi.


"Bisa. Kata siapa enggak bisa? Nanti kalo macam-macam saya..." Dewi mikir sejenak, "Saya enggak buatin ikan goreng tepung lagi buat cemilan!"


Tawa Wira semakin kencang. "Heh Cumi, enggak ada ancaman kayak gitu! Ngancem kok enggak bikinin ikan goreng tepung! Ancem tuh kayak di sinetron-sinetron. Kabur dari rumah. Ngambek ngacak-acak tempat sampah. Ini ngancem kok enggak ada serem-seremnya!"

__ADS_1


"Ya... Hidup saya kan bukan kayak sinetron! Mau ancem kabur dari rumah, rumah yang mana? Rumah aja masih ngontrak! Kalau saya kabur yang bayar kontrakkan siapa? Terus Bapak aneh, masa saya acak-acak tempat sampah? Emangnya saya doggy?" jawab Dewi yang membuat Wira tertawa makin terbahak-bahak.


"Tapi dogggy style suka kan? Hua...ha...ha...ha..."


Wajah Dewi memerah. Kadang Wira memang suka membuatnya seperti ini. Kenapa juga bahas yang mereka lakukan di tempat tidur? Malunya itu loh...


"Udah ah! Makannya mau dihabisin enggak nih? Kebanyakan becanda!" omel Dewi.


Wira mengambil air mineral dan meminumnya. Menenangkan dirinya yang asyik menertawai Dewi. "Masih dong! Suapin lagi!"


Dewi kembali menyuapi Wira sampai habis. "Lo beneran enggak mau ke tempat Tante lo sekarang? Lo kan bisa ke sana dan ngobrol-ngobrol dulu."


"Enggak ah. Nanti aja sekalian jemput Ratna. Males saya berlama-lama di rumah Tante." Dewi merapihkan bekas makan Wira dan memasukkannya dalam plastik.


"Kenapa?" tanya Wira penasaran. Wira yakin ada alasan kenapa Dewi sampai malas bertemu Tantenya. Ke Bandung saja Ia malas, sekarang malah sudah di Bandung tak mau ke rumah Tantenya lama-lama.


Dewi menghembuskan nafasnya, terlihat kesal karena mengingat apa yang telah terjadi. "Jadi gini, Pak. Tante saya itu sulit punya anak. Tante saya yang inisiatif buat merawat adik saya Ratna. Awalnya kami menolak, tapi Ia menjanjikan akan menyekolahkan Ratna dan memberi kehidupan yang lebih baik. Akhirnya demi kebaikan Ratna, kami setuju. Kami bahkan yang membujuk Ratna dan mengimingi kalau di rumah Tante akan lebih baik lagi,"


"Bukan itu aja, Pak. Setiap saya datang, pasti ada aja deh yang diaduin. Ujung-ujungnya minta uang. Kalau saya lagi ada uang sih enggak masalah. Buat jemput ke Bandung aja butuh ongkos, uang dari mana buat kasih ke Tante? Saya kasihan sama Ratna. Kalau saya mampu bayarin Ratna sekolah di Jakarta juga pasti akan saya yang bayar! Apa daya, hutang saya aja numpuk! Takut Ratna nasibnya tidak lebih baik." cerita Dewi sambil sesekali menghapus air matanya.


Benar dugaan Wira, masalah dalam kehidupan Dewi tak berhenti sampai di situ. Saat seperti ini, Wira sangat bersyukur hidupnya jauh lebih beruntung dibanding Dewi. Masalah yang Ia pikul sangat berat, padahal usianya masih terlalu muda.


Teman-teman seusia Dewi banyak yang asyik nongkrong di cafe sambil membahas materi kuliah, sementara Dewi? Ia bekerja siang malam demi keluarganya, bahkan sampai menjual kesuciannya sendiri.


Wira mengangkat tangannya dan mengusap kepala Dewi dengan lembut. "Lo telepon Tante lo sekarang. Bilang sama Tante lo, Ratna akan lo bawa pulang ke Jakarta. Ratna akan pindah sekolah di Jakarta. Masalah biaya sekolah, biar gue yang biayain! Masih sanggup kok gue bayarin sekolah satu anak doang mah!"


Meski dengan ucapan yang terkesan sombong, Dewi tau ada kebaikan dibalik ucapan tersebut. Ada perasaan tak terima melihat Dewi tersakiti. Ada rasa ingin melindungi dan melakukan sesuatu demi orang yang dilindunginya.


Dewi mengangkat wajahnya, Ia pun memeluk Wira dengan erat. Wira terkejut. Dewi bertindak sesuai nalurinya. Ia ingin memeluk penyelamat hidupnya.

__ADS_1


Deg... deg...


Jantung Wira berdegup kencang. Bukan pertama kali mereka kontak fisik, tapi dipeluk seperti ini...


"Makasih ya, Pak. Bapak memang benar-benar malaikat yang diutus untuk menolong saya. Entah dengan cara apa saya bisa membalas Bapak." ujar Dewi dengan suara bergetar karena menangis.


Nyess...


Perasaan Wira begitu bahagia mendengar Dewi mengatakan seperti itu. Ia merasa dirinya bak pahlawan meski sadar dirinya tak sebaik itu.


"Gue... Akan lakuin yang gue bisa untuk membantu lo." kata Wira dengan sepenuh hati. Tanpa Wira sadari, tangannya mengusap lembut kepala Dewi.


Satu menit...


Dua menit...


"Pak, kita pelukan sampai kapan?" tanya Dewi dengan lugunya.


Wira pun menjauhkan tubuhnya. "Ya... lo sih kelamaan meluk gue! Jadi gue... Udah gak usah dibahas! Ayo kita mandi! Eh maksud gue, kita mandi masing-masing! Ini di cafe! Lagi juga lo lagi datang bu- maksud gue, kita mandi gantian! Ayo turun!" Wira yang grogi berbicara dengan gugup.


Dewi menahan tawanya melihat kelucuan sikap Wira. Pasti Wira susah payah mengatur kata-katanya. "Iya, Pak. Saya ngerti kok. Ayo kita turun, sebelum karyawan lain datang!" ujar Dewi dengan senyum meyakinkan.


Wira menenangkan debaran jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang. "Ayo! Bawa tas lo sekalian!"


"Siap, Bosku yang baik!" goda Dewi.


"Udah ah! Jangan godain gue lagi!"


Dewi masih tersenyum. Suaminya memang menggemaskan. Baik hati pula. Bagaimana Ia tak jatuh hati dengan lelaki baik seperti Wira?

__ADS_1


****


__ADS_2