
Wira masuk ke dalam rumah Dewi. Hatinya kembali tercubit. Ruang tamu kontrakkan Dewi tak begitu besar. Hanya sebuah tv tabung dan kursi rotan untuk duduk.
"Duduk dulu, Pak! Saya buatin es teh manis mau?" tanya Dewi dengan cueknya.
"Wi, yang sopan dong nanyanya. Masa kayak gitu!" tegur Bapaknya Dewi.
Dewi lupa kalau mereka tidak hanya berdua, ada Bapak Dewi diantara mereka. Dewi tak bisa bicara leluasa seperti biasanya. "Iya, Pak."
"Boleh. Es teh manis saja." ujar Wira menengahi.
Wira duduk bersebelahan dengan Bapaknya Dewi. Mata Wira masih penasaran, kenapa ada lemari pakaian di ruang tamu? Lalu apa yang ditutupi gorden itu?
"Kata Dewi, Bapak mau buka bisnis laundry pakaian ya? Makanya belajar ke sini." Bapaknya Dewi membuka pembicaraan.
"Iya, Pak. Rencananya memang begitu. Saya memang ingin membuat bisnis sendiri. Selama ini belum ada bisnis yang sesuai menurut saya. Saat Dewi cerita tentang pekerjaan ibunya, saya jadi punya ide buat bisnis laundry." ujar Wira yang kini sudah lancar mengobrol bersama Bapaknya Dewi.
"Bukannya Bapak sudah punya cafe? Makin banyak saja bisnisnya, Pak." ujar Bapak.
"Panggil saya Wira saja, Pak. Enggak enak dipanggil Bapak. Sebenarnya cafe itu bukan punya saya, punya kedua orang tua saya, Pak. Saya hanya ditugaskan mengawasi dan mengelolanya saja." ujar Wira merendah.
"Tetap saja Bapak eh Nak Wira hebat. Masih muda sudah berpikir membuka banyak bisnis. Salut saya sama anak muda yang sudah mandiri. Saya juga bangga pada Dewi anak saya sendiri, masih muda sudah menanggung tanggung jawab yang seharusnya saya pikul. Andai saya terlahir di keluarga yang bisa memodali anaknya berbisnis, pasti nasib Dewi akan lebih baik." tanpa sadar Bapak malah curhat pada Wira. "Eh kok saya malah curhat ya? Maaf Nak Wira, jangan diambil hati. Saya hanya mengeluarkan isi hati saya saja."
"Tak apa Pak. Dewi memang anak Bapak yang hebat. Masih muda namun rajin. Tak pernah dia bolos kerja sehari pun. Bahkan Dewi suka double shift kalau temannya ada yang tak masuk." puji Wira.
Dewi yang sedang membawa es teh manis pun merasa tersanjung. Bukan karena Wira memujinya, namun karena selama ini ternyata Wira memperhatikannya. Wira tahu kalau dirinya tak pernah absen sama sekali. Hanya ketika Bapaknya sakit ia ijin, itu pun potong cuti. Dewi juga suka menggantikan temannya dengan double shift. Meski lelah, uang lebihannya lumayan untuk Dewi.
Dewi menghidangkan es teh manis di atas meja bersama uli bakar yang kemarin Ibunya bawa. Ada hajatan tetangga dan Ibu dikasih uli. Dewi berinisiatif membakarnya agar Wira mencoba makanan yang tak pernah Ia makan sebelumnya.
__ADS_1
"Silahkan, Pak. Cobain juga uli bakar. Masih hangat." ujar Dewi yang duduk di kursi plastik bakso.
"Uli bakar?" Wira tak pernah makan uli bakar. Kalau tape uli pernah tapi jarang.
"Iya, Nak Wira. Kemarin Ibunya Dewi bawa uli dari hajatan tetangga. Dibakar sama Dewi. Enak deh. Coba Nak Wira cicipin!" ujar Bapak dengan ramah.
Tak mau mengecewakan, Wira pun mengambil sepotong dan memakannya. Wira menyukai makanan sederhana yang Dewi buat. "Enak! Saya cuma tau tape uli saja, ternyata bisa dibakar juga ya?!"
Dewi tersenyum senang. Wira memang mudah menyukai makanan baru. Idenya membuat uli bakar tak sia-sia rasanya.
"Ini juga enak. Silahkan di minum!" kata Dewi.
Wira meminum es teh manis buatan Dewi. Segar sekali di tenggorokkannya. "Bisa kita mulai sekarang, Wi?" tanya Wira.
"Bisa, Pak. Ibu lagi nyuci di tempat lain, sebentar lagi pulang. Saya yang tunjukkin aja sama Bapak!" ujar Dewi.
Wira lalu melewati kamar orang tua Dewi. Hanya ada sebuah tempat tidur dan lemari. Jauh lebih sempit bila dibandingkan dengan kamar miliknya. Bahkan apartemennya yang kecil pun jauh lebih luas dibanding rumah kontrakkan ini.
Mereka pun menuju ruang cuci. Rupanya sejak tadi Dewi sudah memulai pekerjaannya. Mencicil cucian sebelum Wira datang. Pantas tadi celana yang dikenakannya terlihat sedikit basah.
Di dalam mesin cuci dua tabung milik keluarga Dewi sudah ada cucian yang sedang dicuci. Berputar satu arah selama beberapa putaran lalu berbalik arah selama beberapa putaran juga. Suaranya lebih bising, beda dengan mesin cuci di apartemen milik Wira. Suaranya halus bahkan nyaris tak terdengar.
"Lo udah mulai nyuci?" tanya Wira.
"Iya. Dari tadi subuh. Kalo saya kesiangan bisa enggak kebagian matahari, Pak. Bagi kami yang masih mengandalkan sinar matahari, kesiangan sedikit itu merugikan." jawab Dewi.
Wira lalu melihat halaman belakang rumah Dewi yang penuh dengan tali jemuran. Sudah setengah dari tali tersebut berisi pakaian yang sedang dijemur. Tersusun rapi agar space kecil di rumah mereka muat dengan semua cucian.
__ADS_1
"Berapa lama keringnya kalo dijemur?" tanya Wira lagi.
Dewi mencabut colokan mesin cuci dari stop kontak dan mulai mengucek cucian dengan tangannya. "Tergantung. Kalau mataharinya bagus, tak sampai setengah hari sudah kering. Kalau agak redup bisa seharian. Kalau hujan ya bisa dua hari. Biasanya dijemur di dalam rumah sambil diangin-anginkan dengan kipas angin agar enggak bau."
Sambil membilas cucian, Dewi tetap menjawab pertanyaan yang Wira ajukan. "Jemur di dalam? Muat memang?"
Wira masuk kembali ke dalam dan melihat Dewi sedang membilas cucian. "Muat dong. Itu di tengah jalan biasanya Ibu taruh tali buat jemur pakaian yang enggak kering. Ada jemuran dadakan yang biasanya dipasang di tengah. Berhubung Pak Wira mau datang, ya kita copot dulu. Nanti dipasang lagi."
"Memang kenapa kalau ada gue?" Wira mengambil sebuah dan mencoba membilas cucian seperti yang Dewi lakukan. "Gue mau coba."
"Nanti basah. Udah ganteng begitu juga!" goda Dewi.
Wira mengambil busa sabun dan mencolek hidung Dewi. "Biar kayak Pinokio!"
"Ih rese banget!" Dewi balas mengambil busa sabun dan mengolesi dagu Wira. "Biar kayak Bang Haji Rhoma!"
Wira tertawa dengan apa yang Dewi lakukan. "Santai, Ani! Santai!" ujar Wira dengan logat khas Bang Haji Rhoma Irama.
Dewi tertawa mendengar lelucon Wira. Si jutek ini ternyata lucu juga. "Ih dia ketawa. Seneng bener, Neng!" goda Wira.
Wira terus menatap Dewi yang tertawa dan terpukau dengan wajah cantik Dewi yang natural. Tanpa make up. Baju agak basah karena membilas cucian namun di mata Wira terlihat begitu cantik.
Tanpa sadar Wira memajukan tubuhnya dan mencium pipi Dewi. "Nanti malam pulang ke apartemen ya!"
Tawa di wajah Dewi pun menghilang. Berganti wajah yang merah merona karena malu.
****
__ADS_1