Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Budak Cinta


__ADS_3

Wira lalu memakan makanannya sambil sesekali menatap ke arah Dewi. Istrinya terlihat lebih kurus dibanding sebelum ia pergi.


"Kamu makannya yang banyak dong, Sayang! Kamu kelihatan lebih kurus loh sekarang! Aku ambilkan ya!" tawar Wira.


"Enggak usah! Aku udah kenyang!" tolak Dewi.


"Ya udah kalau nggak mau nambah. Kamu mau jajan cemilan nggak? Mau es krim? Spaghetti? Pizza? Kamu mau jajan apa? Nanti aku yang belikan, kamu tinggal sebut aja?!" tanya Wira lagi.


"Enggak usah! Aku udah kenyang!" Dewi mengulangi lagi jawaban yang tadi ia diberikan.


"Nanti sore aja berarti ya karena kamu masih kenyang?! Oh iya, aku bawa banyak oleh-oleh buat kamu! Ada cemilan, aksesoris yang aku beli di sana khusus buat kamu biar kamu tambah cantik dan juga ada mukena! Aku cari yang paling cocok untuk kamu. Nanti kamu bisa pakai untuk shalat ya!"


Dewi tak menjawab ucapan Wira, Ia malah sibuk membereskan piring miliknya yang sudah kosong dan piring milik Wira lalu membawanya ke wastafel untuk ia cuci.


Wira mengikuti Dewi dan memeluk Dewi dari belakang ia mencium rambut Dewi yang harum dan menyadarkan kepalanya di bahu Dewi. "Aku kangen sama kamu!"


Dewi kembali mengacuhkan Wira dan malah sibuk mencuci piring. Selesai mencuci piring dan membersihkan tangannya Dewi berbalik badan. Membuat matanya dengan mata Wira saling bertemu.


"Boleh aku lihat anak kita?!" pinta Wira.


Dewi membalas tatapan Wira. Terlihat sekali kerinduan yang mendalam pada diri suaminya.


"Bukankah kamu tak menginginkan anak ini?" tanya Dewi dengan dingin.


"Kamu salah paham, Sayang. Aku bukannya tidak mengingingkan aku hanya-"


Dewi mengacuhkan Wira dan pergi ke dalam kamarnya. Ia tak mau kalau ibunya mendengar pertengkaran mereka.

__ADS_1


Wira mengikuti Dewi masuk ke dalam kamar dengan langkah panjangnya. Wira menutup pintu dan merengkuh Dewi dalam pelukannya.


"Maafkan aku, Sayang! Aku tahu, kamu pasti sangat sakit hati karena perkataanku waktu itu. Jujur saja aku sangat terkejut. Bukan karena aku menolak anak dalam kandungan kamu. Aku hanya terkejut."


Dewi tersenyum sinis mendengarnya. "Lalu kenapa saat aku bertanya, apakah kamu tidak senang dengan berita kehamilanku kamu tak langsung menjawabnya? Kamu malah berkata kalau kamu butuh waktu untuk berpikir. Apa yang harus kamu pikirkan lagi?!"


"Iya, aku tahu aku salah! Kamu boleh hukum aku! Tapi tolong, dengarkan aku! Aku memang waktu itu begitu kaget dan tak menyangka kalau kamu akan hamil secepat itu. Kamu tahu, kita masih muda. Emosi masih labil dan pengetahuan tentang hidup berumah-tanggaku masih sedikit. Aku hanya berpikir, belum lama setelah kamu tidak meminum pil KB kamu sudah hamil. Aku hanya tak menyangka secepat itu aja. Aku senang sekali kamu hamil. Aku sangat senang akan menjadi seorang ayah! Apalagi aku akan memiliki anak dari seorang wanita baik dan cantik yang sangat aku cintai seperti kamu!"


Dewi pun mulai menitikkan air matanya. Ia tak kuasa lagi menahan setiap butiran air mata yang ingin menetes dari kedua pelupuk matanya.


Wira pun memeluk Dewi namun sayangnya istrinya itu menolak pelukannya. Namun Wira kembali memeluk Dewi. Ia mau, istrinya menangis dipelukannya. Ia mau, istrinya marah namun mau memaafkan dirinya pada akhirnya.


Dewi pun menangis dalam pelukan Wira seraya memukul dadanya. Meluapkan kekesalan yang selama ini menghimpit dadanya.


"Pukul aja! Enggak apa-apa kok! Aku memang sudah jahat sama kamu! Aku pergi saat kamu butuh aku, aku enggak bisa bersikap yang seharusnya saat kamu mengabarkan berita bahagia itu. Aku memang sebodoh itu," ujar Wira seraya mengusap lembut rambur Dewi.


Wira mengangkat wajah Dewi dan menatap mata sedih milik istrinya. "Ajari aku untuk bersikap lebih baik lagi mulai sekarang. Ajari aku bagaimana menjadi sosok yang bisa selalu membahagiakan kamu! Ajari aku menjadi suami pintar yang selalu membuat istrinya tersenyum!"


Wira lalu mencium kening Dewi agak lama. Sebulir air mata menetes dari pelupuk mata lelaki yang selalu berkata pedas tanpa memikirkan perasaan orang lain tersebut. Air mata penyesalan karena sudah menyakiti hati istrinya.


Wira kembali menatap Dewi, mereka saling bertatapan. Dewi bisa melihat penyesalan dalam diri suaminya. Dewi pun teringat pesan Tari, sampai kapanpun lelaki tak akan pernah dewasa, kita perempuan yang tugasnya membuat mereka berpikir dewasa.


Dewi mengangkat tangannya dan menghapus air mata di wajah Wira. Air mata penyesalan atas setiap perbuatan yang sudah menyakiti hati wanita yang dicintainya.


Mommy benar, hidup Dewi memang beruntung. Ada lelaki baik yang sangat mencintainya. Nikmat manakah yang ia dustakan?


"Kamu mau 'kan maafin aku?" tanya Wira penuh harap.

__ADS_1


Dewi mengangguk. Tak tega rasanya berlama-lama marah pada laki-laki semanis ini.


Senyum di wajah Wira pun mengembang. "Alhamdulillah!" Wira kembali mencium kening Dewi. "I love you, Baby!"


Dewi tersenyum kecil. Ternyata lama di Bali membuat Wira tak canggung lagi mengucap kata cinta, padahal dulu Dewi sulit sekali membuatnya bilang cinta.


"Senyumnya yang lebar dong, Sayang! Suami tampan kamu sudah pulang! Hi Baby, ini Daddy pulang! Kamu pasti kangen sama Daddy bukan?" Wira mengusap perut Dewi lalu mengecupnya dengan penuh cinta. "Daddy sayang kamu! Baik-baik ya di dalam sana! Jangan rewel dan menyusahkan Mommy!"


Wira lalu kembali berbicara pada Dewi. "Oh iya aku punya berita baik buat kamu!" ujar Wira dengan sangat bersemangat.


"Apa?" tanya Dewi penasaran.


"Aku punya banyak uang sekarang!" Wira tersenyum bahagia. "Aku berhasil nego ke pihak asuransi dan akhirnya uang yang dibayarkan asuransi lebih banyak lagi. Kata Abi, uang itu buat aku aja! Lumayan 'kan? Dapat uang kerja di luar kota ditambah uang asuransi!"


Dewi akhirnya tersenyum, suaminya memang kadang masih kekanakkan. Senang sekali kalau dapat uang dari Abi, padahal sebentar lagi sudah mau punya anak. Mommy Tari lagi-lagi benar, nampaknya ia harus menambah stok sabarnya mulai sekarang. "Syukurlah!"


"Kok syukurlah? Ayo sekarang kamu ganti baju! Kita pergi ambil mobil baru!" ajak Wira.


"Mobil baru?"


"Iya! Kamu lupa, sebelum pergi ke Bali aku sudah bilang sama kamu kalau Abi memberi kita sebuah mobil. Sekarang, mobilnya sudah siap. Plat nomornya sudah terpasang dan sudah atas nama kamu!"


"Atas nama aku? Bukankah itu mobil pertama kamu? Kenapa bukan atas nama kamu saja?" tanya Dewi tak percaya dengan kejutan yang Wira berikan.


"Buat apa? Toh semua milik aku adalah milik kamu! Aku mah enggak punya apa-apa. Semua punya kamu! Semua hasil kerja keras aku ya buat kamu seorang! Aku cukup jadi budak kamu saja! Budak cinta!"


Dewi tersenyum mendengar perkataan Wira. Ia pun berjinjit dan mencium pipi Wira. "I love you too!"

__ADS_1


****


__ADS_2