Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Tujuan Kedatangan Mommy Tari-3


__ADS_3

Tari kembali menangis mendengar jawaban jujur dari putranya. Wira tak kuasa menolak tawaran yang diberikan, alasan paling jujur dan sangat miris. Tak beda jauh dengan apa yang pernah dialami Tari dan Agas dulu. Bedanya, Tari dulu yang mengejar-ngejar Agas agar Agas mau menikahinya, sekarang justru menimpa anaknya!


Nasib Dewi yang tak beda jauh dengan apa yang Tari alami dulu membuat Tari sedikit banyak tahu bagaimana perasaan Dewi dan bagaimana nekatnya anak itu sampai tega melakukan bisnis plus-plus ini. Dewi sudah putus asa dan hanya Wira yang bisa menolongnya. Sama seperti Tari dulu, yang sudah putus asa dan hanya Agas yang bisa menolongnya.


Semua seakan lingkaran takdir yang belum selesai dalam hidupnya. Dulu Ia yang melakukan hal seperti itu, kini anaknya melakukan hal yang sama.


Kecewa? Tentu saja!


Sedih? Sangat!


Marah? Iya, tapi sama siapa? Pada takdir?


"Sampai kapan kamu mau begini sama Dewi? Akhiri bisnis ini! Biar Mommy yang membayar hutang Dewi ke kamu!" putus Tari setelah cukup lama terdiam memikirkan solusi apa yang akan diambil.


Wira menggelengkan kepalanya. "Enggak bisa, My!" tolak Wira.


"Enggak bisa? Kamu nggak bisa lepas dari kenikmatan yang diberikan oleh Dewi? Kamu nggak bisa meninggalkan kubangan dosa yang kamu buat sendiri? Mau sampai kapan? Apa perlu, kamu Mommy masukkan ke dalam pesantren agar kamu pintar menimba ilmu agama? Agar kamu sadar apa yang kamu lakukan selama ini tuh salah dan dosa besar!" kata Tari dengan penuh emosi.


Sejujurnya Wira takut. Tari nggak pernah semarah ini terhadap dirinya. Selama ini Tari selalu memanjakan dan memberikan apapun yang Wira inginkan.


Tari yang selalu membela Wira ketika Abi-nya marah. Namun di hadapan Wira kini, Mommy-nya terlihat sangat marah bercampur dengan kecewa yang amat besar terhadap dirinya.


"Bukan itu, My. Wira..."


"Mommy nggak mau tahu! Akhiri hubungan kalian sekarang! Mommy nggak mau kamu bergelimang dosa seperti ini! Kalau kamu nggak mau mengakhiri, Mommy akan memberitahu Abi kamu apa yang sudah kamu lakukan! Jangan salahkan Mommy kalau sampai apartemen ini diambil kembali oleh Abi kamu!" ancam Tari dengan tegas.

__ADS_1


"My, Wira enggak bisa! Bukan karena perjanjian bisnis plus-plus itu. Tolong Mommy tenang dulu, jangan Mommy langsung mengadukan semua ini sama Abi! Mommy tahu sendiri bagaimana Abi, suka emosional! Biarkan Wira jelasin semuanya sama Mommy!"


"Mommy nggak mau tahu! Apa yang kamu lakukan sekarang itu dosa Wira! Cara satu-satunya ya kamu harus berhenti melakukan dosa ini! Dan mengenai Abi, memang sudah sepantasnya Mommy memberitahu Abi kamu! Abi kamu adalah papa kamu yang harus tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Mommy salah kalau menyembunyikan semua ini dari Abi kamu!"


"Wira nggak bisa ninggalin Dewi nih! Bukan karena bisnis plus-plus itu! Tapi karena-" perkataan Wira terputus ketika handphonenya berbunyi.


Yang sedang diperdebatkan ternyata sedang menghubungi Wira.


*Dewi calling*


Mau tak mau, Wira pun mengangkat telepon yang masuk. Dewi tak biasanya menelepon jika tidak ada hal yang penting. Membalas pesan saja hanya sepatah dua patah kata. Pasti ada sesuatu yang terjadi. "Wira angkat telepon dulu, My!"


"Halo, kenapa Wi?!" tanya Wira tanpa basa-basi.


"Ada apa, Wi? Lo tenang dulu coba! Ceritain sama gue, ada apa? Jangan dulu nangis kayak gitu! Ada masalah apa sih?!" Wira agak panik mendengar telepon Dewi yang menangis sesegukan sambil meminta tolong.


"Bahri, Pak! Bahri ditangkap polisi!"


Deg...


"Bahri ditangkap polisi? Kenapa? Anak itu berulah apa lagi?" batin Wira.


"Ditangkap kenapa? Lo di mana? Gue ke situ sekarang!" Tari sejak tadi melihat Wira juga ikut khawatir dengan apa yang terjadi. Tari penasaran. "Ditangkap? Siapa yang ditangkap? Kenapa Wira begitu cemas?" tanya Tari dalam hati.


"Saya masih di rumah, Pak! Saya bingung harus berbuat apa. Bahri ditangkap karena diduga sebagai kurir narkoba!"

__ADS_1


Wajah Wira langsung tertunduk lemas. Ia tak menyangka, cobaan hidup Dewi begitu berat. Kini bahkan adiknya harus ditangkap polisi karena dianggap sebagai kurir narkoba. Entah apalagi cobaan yang akan ia dapatkan dalam hidup ini?


"Lo tenang dulu! Gue ke sana sekarang!" kata Wira setelah menguasai dirinya dari kekagetan atas berita yang Dewi sampaikan.


Wira menutup handphone miliknya dan lalu menyambar kunci mobil yang baru saja ia taruh di atas meja. "Kita bicarain masalah Wira nanti ya, My! Wira harus ke tempat Dewi sekarang, adiknya ditangkap polisi karena dianggap sebagai kurir narkoba! Wira harus bantuin Dewi!" ujar Wira dengan wajah yang terlihat kusut dan banyak pikiran.


"Mommy ikut! Mommy juga mau tahu apa yang terjadi!"


"Enggak usah, My! Wira akan sibuk di kantor polisi. Wira juga harus temenin Dewi, tadi pas ditelepon Dewi panik kayak begitu! Pasti anak itu nggak tahu mau minta tolong sama siapa lagi selain sama Wira!" tolak Wira. Dia tak mau kehadiran Mommy-nya malah akan membuat segalanya tambah runyam.


"Kenapa harus kamu yang tanggung jawab? Sudah cukup kamu membantu dia Wira! Kenapa lagi-lagi anak itu terus-menerus menghubungi kamu. Ini bukan kewajiban kamu!" Tari mulai tak menyukai Dewi yang selalu bergantung dengan Wira anaknya.


"My, Dewi sekarang tuh tanggung jawab Wira! Hanya Wira tempat bergantung Dewi satu-satunya! Mommy mau tahu kenapa? Karena Dewi sekarang adalah istri Wira!"


Tari terbelalak mendengar apa yang terucap dari mulut Wira. Ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Istri? Jangan main-main kamu Wira!"


"Wira nggak bohong, My! Itu alasan Wira nggak bisa menghentikan bisnis plus-plus dengan Dewi! Karena kami berdua udah nikah, lebih tepatnya nikah siri!" aku Wira.


Tari benar-benar tak menyangka akan apa yang sudah diperbuat oleh Wira. Anaknya sungguh sudah melakukan sesuatu yang tak pernah Ia sangka sama sekali. Bukan hanya perjanjian bisnis plus-plus yang ngaco dan nggak masuk akal, bahkan Wira juga sudah menikahi Dewi tanpa pengetahuan dirinya selaku orangtua kandungnya.


"Wira akan jelasin lagi nanti sama Mommy. Sekarang Wira harus ketemu sama Dewi! Anak itu pasti nggak tahu mau minta tolong sama siapa lagi?! Percayalah My, Wira nggak seburuk yang Mommy pikir! Wira nggak mau terus-menerus berkubang dalam dosa, makanya Wira nikahin Dewi secara siri."


"Mommy tetap mau ikut! Mommy mau tahu apa yang terjadi. Ayo kita pergi sekarang!" Tari tetap teguh dengan pendiriannya. Wira bisa apa? Terserah Mommy-nya mau ikut atau tidak yang penting ia bisa segera ke rumah Dewi dan menyelesaikan permasalahan dengan keluarga istrinya.


****

__ADS_1


__ADS_2