Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Pesannya Tersampaikan dengan Baik


__ADS_3

"Lalu gue mulai menjadi pribadi yang berbeda. Setiap gue berbicara, gue menjadi takut menyakiti hati Cerry. Takut dia nggak akan menyukai gue kalau gue berkata sesuai isi hati yang gue rasakan. Hal itu terus berlanjut, kami semakin dekat dan gue mulai menyadari sesuatu. Sampai kapan gue akan terus berpura-pura seperti ini?!"


"Gue nggak bisa hidup dengan menjadi diri orang lain. Jujur, gue menyukai Cerry. Dia cantik, dan berasal dari keluarga terpandang. Tapi gue nggak suka setiap apa yang gue lakukan semua karena gue terlalu takut menyakiti hati Cerry. Akibatnya apa, gue menjadi diri orang lain! Gue enggak mengenali lagi diri gue, sampai Abi datang dan menasehati gue,"


"Abi bilang, kalau gue mencintai seseorang gue harus menjadi diri gue apa adanya. Mungkin ada beberapa bagian dalam diri gue yang bisa diperbaiki, tolong garis bawahi ya, diperbaiki bukan dirubah. Karena gue adalah diri gue apa adanya. Sudah menjadi keturunan keluarga Abi untuk berkata pedas mulai dari Opah, Abi dan sekarang menurun ke gue."


"Abi bilang, dulu Abi selalu berkata pedas pada Mommy. Namun Mommy tidak memaksa Abi untuk berkata manis. Mommy bisa menerima keadaan Abi apa adanya. Abi sendiri yang merubah dirinya. Perlahan demi perlahan Abi mulai bisa berkata lembut, tapi hanya untuk Mommy seorang,"


"Hidup dengan lo, mengenal lo, sikap sabar lo menghadapi gue yang pedas ini mengingatkan gue sama perkataan Abi waktu itu. Lo terima gue apa adanya. Sepedas apapun perkataan gue, lo malah tersenyum dan setiap ucapan pedas yang gue keluarkan lo malah menganggapnya lucu. Padahal seharusnya cewek lain malah sakit hati dan terluka. Itulah mengapa, gue nggak punya banyak temen. Tapi sama lo, gue bisa jadi diri gue sendiri. Apa adanya."


Wira memajukan tubuhnya dan mencium pelan bibir Dewi. "Makasih lo udah bisa nerima diri gue apa adanya. Makasih berkat lo, gue merasa diri gue tuh dihargai. Mungkin gue nggak bisa berkata-kata manis seperti cowok-cowok pada umumnya. Mereka bisa ngegombal, merayu bahkan mungkin bersikap romantis sama pasangannya. Gue nggak bisa, lebih tepatnya belum bisa. Namun semua butuh proses bukan?"


Dewi mengangguk mengamini perkataan Wira yang memang benar adanya.


"Lo tuh bini gue, meskipun gue nggak pernah mengucapkan kata cinta atau sayang seperti yang pernah lo katakan ke gue, tapi lo bisa tau dari bahasa tubuh gue." Wira kembali memajukan tubuhnya dan mencium Dewi. "Kalau dari perbuatan seperti ini, lo bisa menduga bukan bagaimana perasaan gue ke lo?"


Dewi sangat paham maksud perkataan Wira. Dewi pun membalas, ia kembali berjinjit untuk mencium Wira. "Saya tahu. Tapi saya mau Bapak ngomong langsung. Kata-kata mungkin di mata Bapak tidak penting dibandingkan dengan perbuatan. Saya sudah tahu arti perbuatan Bapak tapi saya mau Bapak mengucapkan langsung dengan bibir Bapak yang seksi!"


Wira tak kuasa menahan senyumnya mendengar perkataan Dewi. "Nakal lo ya! Godain gue melulu!"


"Ayo dong! Ngomong! Mau saya bantu?!"

__ADS_1


Wira memajukan tubuhnya dan kembali mencium Dewi. "Lewat kayak gini aja nggak ngerti?!"


Dewi kembali melepas ciuman Wira. "Ngerti sih, tapi mau diucapkan dong lewat kata-kata!"


Wira kembali memajukan tubuhnya dan mencium Dewi kembali. "Lewat perbuatan aja ya? Mau meong-meong di kamar mandi lagi nggak?" tanya Wira sambil menahan senyum di wajahnya.


Dewi menggelengkan kepalanya, kembali melepas ciuman Wira. "Ngomong dong! Saya bantu ya? Bapak bilang kayak gini! "Dewi aku Cin-"


Wira langsung membungkam bibir Dewi dengan ciuman bertubi-tubi. Mojokan Dewi sampai ke tembok dan terus menciumnya. Dewi tak lagi bisa berkata-kata, ia terlalu mabuk dengan ciuman demi ciuman yang Wira berikan.


Mereka pun membuka semua pakaian yang mereka kenakan dan mulai memadu kasih. Kamar ruko yang baru mereka tempati menjadi saksi dua insan melakukan penyatuan dengan bahasa cintanya masing-masing


Sampai akhirnya, Wira sampai di pelepasan lalu mencium kening Dewi agak lama dan dalam. Dewi yang berada di bawah tubuhnya menatap mata Wira dengan lekat. "Gue cinta sama lo! Tetaplah jadi bini gue yang menerima gue apa adanya! "


"Saya juga cinta sama Bapak!"


****


"Ayo cepetan, Wi! Kita udah telat!" ujar Wira seraya menggandeng tangan Dewi dan agak menariknya agar mempercepat langkahnya.


"Bapak sih! Saya udah rapi juga, dibikin mandi lagi! Saya kan harus mengeringkan rambut saya dahulu baru bisa pakai jilbab!" omel Dewi.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, tadi lo tuh menggemaskan banget. Rugi gue kalau nggak ngapa-ngapain lo!"


Dewi tersenyum mendengar perkataan Wira. Memang, mulut pedasnya itu seakan candu. Kalau tidak mendengar kata-kata pedas sehari saja, mungkin Dewi sangat rindu.


Mereka pun sampai di rumah Dewi yang sudah rapi karena bantuan anak buah Tari dalam menyiapkan selamatan. Karpet sudah digelar dan tenda sudah dipasang. Rencananya, acara selamatan akan diadakan di lapangan voli yang tak jauh letaknya dari rumah Dewi. Tinggal merapihkan di lapangan voli saja.


Sepanjang rumah Dewi sampai lapangan voli digelar karpet agar tetangga-tetangga yang datang ke acara selamatan bisa datang dan duduk dengan nyaman. Gang tempat rumah Dewi pun ditutup agar tak ada motor yang berlalu lalang.


"Gila, Pak. Mommy benar-benar ya kalau menyiapkan sesuatu! Ini selamatan loh, kenapa seperti ada acara Maulid Nabi?"


"Kayak nggak tahu aja Mommy kayak gimana! Kemarin aja, gue akting memelas minta perlengkapan rumah eh dikasih semua dong! Mommy itu orangnya nggak tegaan, sedikit lagi juga duit buat bikin bisnis dikasih sama Mommy. Abi aja tuh yang rese! Mommy udah mau baik sama gue, eh dia larang-larang terus!" gerutu Wira.


"Ya mungkin Abi mau kita mandiri, Pak. Sudah, kita usaha aja dulu baru minta bantuan sama mereka! Saya yakin kok, Bapak juga hebat. Bapak pasti bisa merintis bisnis Bapak sendiri. Tenang, Dewi istri kamu tercinta selalu ada di samping kamu." goda Dewi sambil tersenyum.


Wira mencibirkan bibirnya. "Godain aja gue terus! Lihat aja, nanti malam bisa habis lo sama gue!" ancam Wira.


Dewi menahan senyumnya. Memang, suaminya ini adalah lelaki paling menggemaskan di muka bumi ini.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah dan membantu acara selamatan. Sudah ada tetangga Dewi yang membantu merapikan makanan yang akan dibagikan kepada para tetangga.


"Assalamualaikum!" ujar Dewi dan Wira kompak.

__ADS_1


"Nah! Ini pengantinnya datang!" sambut ibu penggemar kangkung dan ibu penggemar kembung yang sedang membantu.


****


__ADS_2