
Saat Wira menutup teleponnya, Dewi langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Ada kebakaran? Rumah siapa yang kebakaran?" tanya Dewi ingin tahu.
"Cafe Mommy ada yang kebakaran!" Wira menyimpan pekerjaan yang ia kerjakan lalu mematikan laptop miliknya. Memasukkan laptop beserta chargeran dalam tas untuk ia bawa nanti.
"Astaghfirullah! Terus gimana? Parah kebakarannya?" Dewi mengikuti Wira yang mencari koper kecil dan berhasil menemukannya di atas lemari pakaian. "Kok nyari koper? Kamu mau kemana? Memangnya Cafe dimana yang kebakaran?"
"Di Bali. Aku enggak tau seberapa parah kebakarannya, yang pasti aku ditugaskan ke sana sama Abi." Wira membuka koper miliknya dan menaruhnya di atas kasur. Ia memasukkan pakaian miliknya dan keperluan lain seperti deodoran, parfum dan lotion miliknya.
"Kamu mau pergi kapan? Sekarang gitu? Udah malam!" tanya Dewi lagi.
"Iya. Abi minta aku pergi sekarang. Besok weekend, pasti banyak pesawat ke sana meski sudah malam." Wira mengambil jaket dan mengganti celana pendek yang dikenakannya dengan celana jeans lalu mengambil dompet miliknya dan menaruhnya ke dalam waist bag miliknya beserta Hp dan chargeran.
"Kamu ninggalin aku dong?" tanya Dewi yang terlihat sedih.
Wira menghentikan kesibukannya dan berbicara dengan Dewi. "Maaf. Hanya aku yang bisa handle semua. Dulu kalau ada masalah Abi yang turun tangan. Sekarang sudah tugas aku menggantikan Abi. Kamu bisa kan aku tinggal sendiri menjaga bisnis kita?"
Mata Dewi berkaca-kaca. "Kamu mau pergi berapa lama? Aku mau ikut boleh?"
Wira menangkup wajah Dewi dengan kedua tangannya. "Kamu kan banyak fans. Jadi enggak akan kesepian dong?" sindir Wira. Masih kesal rupanya dengan kata-kata Dewi tadi.
"Aku bohong. Itu cuma becanda aja!" aku Dewi.
"Makanya jangan sombong! Ngaku banyak fans! Fans kamu tuh cuma aku!" omel Wira. Ia lalu memajukan dirinya dan mencium bibir Dewi lembut. "Aku harus pergi. Di sana pasti enggak nyaman karena aku harus urus ini dan itu. Kamu nanti malah aku cuekkin. Kamu di sini aja ya!"
Dewi menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu tergoda bule cantik gimana?"
Wira tersenyum mendengar perkataan Dewi. "Bule cantik enggak bisa ngomong meong meong semerdu kamu!" goda Wira yang kembali mencium bibir Dewi.
"Kalau dia bisa lebih merdu dari aku gimana?" tanya Dewi lagi.
__ADS_1
"Hmm... Harus aku coba dulu berarti ya? Siapa tau beneran lebih merdu!" goda Wira.
Dewi lalu mencubit pinggang Wira. "Awas aja coba-coba! Awas celup celup di tempat lain! Nanti aku buat Dewi Fans Club, mau?"
Wira tertawa mendengarnya sambil menahan sakit sehabis dicubit. "Iya aku enggak celup celup. Kamu jaga diri ya! Stok capcay masih banyak, kalau kurang minta aja Mommy kirimin. Uang bulanan masih ada enggak?"
Dewi mengangguk. "Masih."
"Nanti aku kirimin lagi kalau uang yang dikasih Abi ada lebih." harap Wira. "Bantu Ibu dan Ratna saja di laundry untuk mengusir kebosenan. Ajak Ratna jalan-jalan ke Mall sekali-kali. Nanti aku kirimkan uangnya!"
"Maunya sama kamu!" ujar Dewi dengan manja. Rasanya ia tak mau lelaki baik ini pergi jauh dari sisinya sedetik pun.
"Iya. Nanti. Setelah aku pulang kita jalan-jalan naik mobil baru."
"Mobil baru?" tanya Dewi sambil mengernyitkan keningnya. Mereka masih berbicara dengan saling berdekatan. Wira masih melingkarkan tangannya di pinggang Dewi, sementara Dewi masih melingkarkan tangannya di leher Wira.
"Iya. Abi membelikan aku mobil baru. Biar kamu enggak ketiduran di motor, bahaya. Bisa jatuh. Aku minta dikirim kalau sudah ada plat nomornya. Sabar ya!"
Mendengar Wira yang begitu perhatian padanya sampai tak mau ia ketiduran di motor dan akhirnya dibelikan mobil baru tentu saja membuat Dewi makin terharu dibuatnya. Kembali setetes air mata menetes dari pelupuk mata Dewi. "Jangan pergi!"
"Enggak mau! Maunya kamu!"
"Manja banget nih! Sebenarnya aku udah telat, tapi karena kamu manja... Aku akan mengajak kamu meong meong dulu sebelum pergi!" tanpa menunggu persetujuan Dewi, Wira pun mulai menciumnya dengan rakus.
Dewi yang semula sedih, berubah menjadi kewalahan menghadapi perubahan sikap Wira. Membuat dirinya menjadi bergairah dalam sekejap. Percintaan panas pun terjadi. Dewi seakan takut kehilangan Wira, membuatnya terus memancing hasrat Wira. Sekali... dua kali. Sampai Abi kembali menelepon.
"Kamu dimana?" tanya Abi. "Udah jalan belum?"
Wira yang masih mengatur nafasnya sehabis bertempur dengan Dewi pun menjawab dengan suara terbata-bata. "Masih... di... ruko!"
"Loh kok belum pergi?! Udah pesan pesawat belum? Ngapain aja sih di ruko belum berangkat juga?!" tanya Abi seakan tak mengerti gairah anak muda seperti apa.
__ADS_1
"Habis.... menenangkan... Dewi."
"Menenangkan ap-" Agas akhirnya mengerti apa yang Wira maksud. "Udah cepat tuntaskan dan pergi secepatnya! Dasar anak muda, hasrat masih membara! Itu kebakaran bagaimana? Huh!"
Abi menutup teleponnya dengan kesal. Wira tersenyum mendengar gerutuan Abi. "Dulu juga doi kayak gitu!" gerutu Wira.
"Kamu diomelin Abi ya?" tanya Dewi seraya menaikkan selimut menutupi tubuhnya yang polos tanpa busana.
"Iya. Sehabis mandi aku langsung pergi ya?! Jangan ditahan lagi, aku bisa diomelin panjang lebar sama Abi nanti!"
Dewi mengangguk. "Iya. Mandi dulu sana!"
Sehabis mandi, Wira pun berpamitan sekali lagi pada Dewi. Dengan berat hati, Dewi menginjinkan Wira pergi. Apa daya, Wira pergi untuk bekerja bukan untuk bersenang-senang. Hanya doa yang dapat Dewi panjatkan mengiringi kepergian Wira.
Setelah berpakaian, Dewi menemani Wira berangkat. Sebuah taksi online sudah menjemput di depan ruko.
Wira kembali memeluk Dewi dan mendaratkan kecupan penuh kasih di kening Dewi. "Aku pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik ya! Jaga rumah dan yang terpenting jaga selalu hatimu hanya untukku."
"Kok kayak lagu ya?" tanya Dewi dengan polosnya.
"Ya... Anggap aja begitu. Aku pergi dulu! Panggil Ratna saja buat menemani kamu! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Wira masuk ke dalam mobil dan sempat melambaikan tangannya sebelum pergi. Dewi menatap kepergian Wira dengan hati yang tiba-tiba diselimuti kehampaan.
Kekasih hatinya sedang pergi jauh. Entah berapa hari ia akan kembali. Meninggalkan Dewi sendirian tinggal di dalam ruko.
Dewi lalu menelepon Ratna dan meminta adiknya menemani selama Wira keluar kota. Tentu saja Ratna dengan senang hati menerimanya.
Tidur di kasur yang empuk dengan udara sejuk yang berasal dari AC. Tak ada nyamuk dan Ratna langsung tertidur pulas.
__ADS_1
Berbeda dengan Dewi, matanya terasa kering. Ia sudah mandi dan membersihkan tubuhnya sehabis berhubungan. Dewi memutuskan mengambil Al Quran dan mulai mengaji. Biarlah rasa kesepian ini ia isi dengan melantunkan ayat suci yang bisa menenangkan hati. Sekaligus mendoakan sang pujaan hati agar selalu dalam lindungan-Nya.
****