Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Kebahagiaan Kecil Untuk Keluarga


__ADS_3

Dewi berjalan dengan malas menuju rumahnya. Entah mengapa, ia mulai merasa betah menginap di apartemen Wira. Jelas saja, semua fasilitas yang ada di apartemen lebih baik daripada di rumah kontrakan miliknya.


Namun Dewi tak bisa selamanya memaksa Wira membiarkan dirinya tinggal di apartemen. Ada saat dimana Wira butuh privasi. Toh Dewi bukan istri yang sangat dicintai, bukan istri sebenarnya Wira. Status mereka kan hanya pernikahan Siri, tak saling cinta pula. Dewi sadar diri dan tak mau berharap banyak.


Dewi mencari keberadaan Bahri yang biasanya ada di pangkalan ojek, namun adiknya tersebut ternyata tidak ada di tempat. Dewi juga agak heran beberapa hari ini adiknya jarang menghubungi dirinya dan jarang membalas pesan yang Ia kirim.


Beberapa teman Bahri menawari Dewi untuk naik ojek sampai ke rumah. Dewi menolaknya. Bukan karena nggak punya uang, tapi dia ingin berjalan kaki dan membeli sesuatu dahulu sebelum pulang.


Jarak dari depan gang sampai ke dalam rumahnya lumayan juga. Ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Dewi berhenti di salah satu rumah makan yang menjual ayam bakar. Dia teringat bapaknya yang sangat menyukai ayam bakar. Dewi lalu memesan seekor ayam bakar untuk dibawa pulang ke rumah.


Sambil menunggu ayam bakar miliknya, Dewi membuka ponsel dan ternyata benar, Bahri nggak ada kabar sama sekali. Biasanya, masih ada satu atau dua chat dari Bahri sekedar menanyakan apakah ia pulang atau tidak. Tapi kini nggak ada sama sekali. Adiknya itu sangat sibuk entah apa yang dia lakukan.


Dewi pun menulis pesan untuk adiknya, "Dek, Kakak bawa ayam bakar nih. Makan sama-sama yuk di rumah. Pulang sekarang aja ya! Mumpung masih hangat, enggak enak kalau sudah dingin!"


Bahri belum membaca pesan dari Dewi. Selesai membayar pesanan, Dewi pun kembali melanjutkan perjalanannya sampai ke rumah. Dewi kembali mampir di tukang kelapa muda dan membeli 4 bungkus es kelapa muda untuk dirinya dan keluarga.


Dewi harus menjalankan amanat dari Wira, uang yang diberikan oleh Wira, Dewi gunakan untuk mentraktir keluarganya seperti yang Wira minta. Dengan tangan berisi ayam bakar dan es kelapa muda, Dewi pun berjalan menuju rumahnya yang tak lagi jauh. Hatinya senang bisa memberi sedikit kebahagiaan untuk keluarganya. Semua karena kebaikan hati Wira. Cowok judes yang ternyata punya hati baik.


Dewi melewati beberapa orang ibu-ibu yang sedang duduk di teras. Mereka mengobrol sambil mencari uban atau kutu di rambut temannya. Dewi tak lupa mengucap permisi karena sudah lewat di depan mereka. Salah satu wujud sopan santun yang ibu ajarkan pada Dewi.

__ADS_1


"Permisi, Bu!" ujar Dewi dengan sopan.


"Oh iya Dewi. Silakan!" ujar ibu-ibu yang sedang asyik dicarikan kutu oleh temannya.


"Baru pulang, Wi? Sekarang jarang kelihatan loh kamu. Masih kerja di tempat kemarin?" tanya ibu-ibu yang sedang menaruh kutu di atas kuku ibu jarinya dan menekannya dengan kuku ibu jari tangan yang lain. Ibu-ibu itu puas saat mendengar suara 'cetek' yang berasal dari kutu yang telah mati akibat dijepit paksa.


"Iya, Bu. Masih di tempat yang sama kok." Dewi tak mau lebih lama berada di depan emak-emak tukang gosip, takut pertanyaan aneh akan diajukan untuknya. Ia pun pamit. "Saya duluan ya, Bu. Permisi!"


"Iya Wi!" jawab ibu-ibu yang setelah Dewi pergi langsung membicarakan bungkusan makanan yang Dewi beli. Ghibah mode on.


Rumah kontrakan mini miliknya kini sudah terlihat di depan mata. Nampak Bapak sedang duduk di teras rumah sambil melihat pemandangan di luar. Mungkin Bapak bosan karena sejak kecelakaan Bapak lebih sering berada di kamar dibanding berjalan-jalan di luar.


"Waalaikumsalam Wi! Kamu udah pulang? Udah makan belum?" tanya Bapak dengan penuh perhatian.


"Tadi pagi sih udah. Bapak coba tebak deh, Dewi bawa apa?" Dewi lalu mengangkat kantong plastik berisi ayam bakar dan es kelapa muda yang sudah ia beli. "Dewi beliin ayam bakar kesukaan Bapak! Ayo kita masuk ke dalam Pak, terus kita makan bareng!" ajak Dewi dengan penuh semangat.


Bapak tersenyum senang mendengar Dewi membawakan ayam bakar kesukaannya. "Ayam bakar yang beli di atas tanjakan kan? Yang bumbunya meresap sampai ke dalam tulang? Pas banget Wi, Bapak lapar! Ibu kamu belum pulang dari mencuci! Bapak mau masak mie instan nggak kuat berdiri lama-lama. Bapak tungguin Ibu aja di sini."


Dewi sedih mendengar apa yang Bapaknya rasakan. Bapaknya lapar dan belum makan, sementara Bapaknya masih perhatian dan menanyakan apakah dirinya sudah makan apa belum.

__ADS_1


Sejak Bapak pulang dari rumah sakit, Ibu sengaja mengambil pekerjaan sebagai tukang cuci di beberapa rumah lebih banyak lagi. Ibu bilang uangnya bisa membantu biaya kontrol Bapak setelah pulang dari rumah sakit. Dewi sudah berusaha melarang, namun Ibunya tak mau terus menerus membuat Dewi susah.


"Ya udah, ayo kita makan! Dewi antar Bapak ke dalam!" Dewi memindahkan bungkusan ayam bakar dan es kelapa muda dari tangan kanan ke tangan kirinya, sebelah tangannya ia gunakan untuk memapah Bapaknya berjalan sampai ke ruang tamu mini yang biasa mereka gunakan juga sebagai ruang makan dan nonton TV.


"Dewi ambilin nasinya dulu ya, Pak!" Dewi pun menyiapkan piring dan nasi untuk Bapak dan dirinya makan. Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali mengobrol.


Bapak banyak bertanya tentang pekerjaan yang Dewi jalankan saat ini. Apakah Dewi betah? Apakah pekerjaannya sangat melelahkan? Lalu perlahan Bapak mulai menjurus ke pertanyaan inti yakni mengenai hutang. Bagaimana Dewi akan membayarnya? Apakah Bapak bisa membantu untuk melunasi hutang Dewi? Dewi berusaha menenangkan Bapak. Ia mengatakan kalau ia masih bisa membayar semua hutang mereka.


Meski agak ragu, namun Bapak akhirnya bisa Dewi yakinkan. Mereka tak lagi membahas tentang utang lagi. "Wi, adik kamu sebentar lagi liburan sekolah. Katanya minta dijemput. Kasihan dia harus tinggal sama tante kamu. Kalau saja Bapak punya banyak uang untuk biayain dia, pasti adik kamu bisa tinggal bareng sama kita."


Dewi memang mempunyai seorang adik perempuan lagi. Adiknya bungsunya tersebut masih mengenyam bangku SMP. Adiknya tinggal di Bandung bersama tantenya yang belum memiliki anak, sengaja tantenya merawat adik Dewi untuk pancingan agar cepat punya momongan.


Keluarga Dewi awalnya keberatan, namun tantenya berjanji akan membiayai sekolah adiknya tersebut. Mau tak mau mereka pun merelakan berpisah demi masa depan anak bungsu mereka.


"Bapak doakan Dewi ya, biar Dewi bisa cepat melunasi hutang-hutang kita dan Ratna bisa tinggal sama kita lagi." kata Dewi memberi sedikit harapan pada Bapaknya.


"Iya. Bapak akan mendoakan kamu. Selalu. Kamu anak baik yang sangat Bapak banggakan. Allah pasti akan selalu melindungi kamu." doa Bapak dengan tulus.


Dewi tersenyum sinis. "Anak baik? Benarkah?" batin Dewi.

__ADS_1


****


__ADS_2