
Dewi tak bisa tidur nyenyak. Terlalu banyak masalah dan kesulitan yang Ia dan keluarganya berikan pada Wira.
Wira memang baik, Dewi menyadari itu. Wira sudah membayarkan biaya rumah sakit Bapak, membebaskan Bahri dengan uang tabungan miliknya dan menikahi Dewi, wanita yang tidak sama sekali setara dengan dirinya.
Dewi sadar diri. Ia tak mau dianggap sebagai orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Dewi ingin membalas semua kebaikan Wira. Tapi dengan cara apa?
Rasanya kebaikan Wira sudah terlalu banyak pada keluarganya, sampai-sampai dia sendiri akhirnya kena masalah dan harus mengeluarkan uang untuk melepaskan Bahri semalam. Pasti tabungan Wira makin lama makin habis.
Dewi yang tak bisa tertidur pulas pun memutuskan untuk sholat tahajud. Hal yang sudah lama tak Ia lakukan.
Dewi pun mengambil air wudhu, membasuh wajahnya dengan air yang terasa dingin di sepertiga malam ini. Suasana sunyi, hanya terdengar suara dengkuran Bapak dari dalam kamar.
Ratna tertidur pulas di kamar dadakan Dewi. Mereka harus berbagi tempat tidur karena tak ada lagi ruang tersisa di rumah kontrakkan mereka.
Dewi menggelar sejadah di samping Bahri yang tertidur pulas di atas kasur Palembang yang berwarna usang. Hati Dewi selalu sedih melihat adiknya. Andai Dewi bisa memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya. Bahri pasti bisa tidur di atas kasur empuk dan dalam kamar yang hangat tanpa harus digigit nyamuk seperti sekarang.
Dewi mulai khusyuk berdoa. Sambil menahan isak tangisnya karena tak mau mengganggu Bahri, Dewi memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini.
Ia sudah banyak melakukan perbuatan yang melanggar agama. Mulai dari menjual dirinya hanya demi mendapatkan uang, tak pernah sholat karena terlalu kecewa dengan Sang Pencipta dan berbohong pada kedua orang tuanya tentang pernikahan sirinya.
Kemalangan demi kemalangan yang Ia alami tak lepas karena dirinya jauh dari Allah. Ia tak percaya bahwa hanya Allah sebaik-baiknya tempat meminta pertolongan.
Jika bukan karena kehendak Allah, tak akan Ia bertemu dengan Wira yang justru melarangnya menjual diri pada om-om senang. Dewi kini menyadari itu, karena itu Ia terus menangis dan menyesali kesalahannya selama ini.
Setelah mencurahkan segala keresahan dan permasalahannya pada Sang Pencipta, batin Dewi kini lebih lega. Ia pasrahkan masa depannya dengan Wira pada Sang Pemberi Kehidupan.
Dewi melipat sajadah dan mukenanya. Sebelum kembali ke kamar, Ia menyalakan obat nyamuk bakar dan menaruhnya di pojok. Kasihan Bahri dikerubuti nyamuk.
Dewi kembali ke kamarnya, dilihatnya Ratna yang tertidur pulas. Anak itu sejak tau Bahri ditangkap terus menangis dan tak tenang. Kini seisi keluarganya bisa tenang. Hanya Dewi yang tidak. Masalah baru datang ke keluarga barunya.
__ADS_1
Dewi tertidur sebentar dan terbangun sekitar jam setengah 6. Ia menunaikan sholat subuh lalu pergi ke pasar dekat rumah. Dewi belanja cabai dan ikan. Rencananya Dewi akan membuatkan sambal yang dikemas dalam botol beserta ikan goreng tepung kesukaan Wira.
Dewi merasa harus membayar jasa Wira. Banyak uang yang sudah Wira keluarkan untuk keluarganya. Meski hanya memasak makanan yang simple, namun Dewi berharap bisa membayar meski hanya sedikit.
Hari ini seharusnya Dewi masuk shift pertama, namun salah seorang temannya meminta tukeran shift. Dewi mengiyakan dan akan masuk shift kedua.
Jam 8 pagi Dewi sudah rapi dan siap ke apartemen Wira. Sambal dan ikan tepung buatannya tak lupa Ia bawa. Dewi pamit pada kedua orang tuanya lalu pergi dengan diantar Bahri.
"Kak, sampaikan terima kasih Bahri buat Pak Wira ya!" pesan Bahri saat Dewi turun dari motor.
"Iya. Nanti Kakak sampaikan." ujar Dewi sambil tersenyum.
"Bilang juga sama Pak Wira, aku sangat menyesal sudah menyusahkan Pak Wira. Bahri janji akan membalas semua kebaikan Pak Wira." pesan Bahri lagi.
Dewi kembali tersenyum. "Iya, Dek. Sudah sana kamu ngojek lagi! Ingat ya, ngojek di pangkalan aja. Jangan jauh-jauh! Jangan sembarangan terima tawaran dari orang!"
"Iya, Kak. Kakak masuklah! Bahri pergi dulu! Assalamualaikum!"
Seperti layaknya di rumah sendiri, Dewi masuk ke dalam apartemen setelah menekan password yang Wira beritahu. Betapa terkejutnya Dewi saat mendapati Wira sedang duduk di sofa.
"Bapak udah bangun?" tanya Dewi sambil berjalan mendekat.
"Belum tidur malah. Gue nggak bisa tidur semalaman." jawab Wira. "Baru saja mandi air hangat biar bisa tidur pulas tetap aja mata gue enggak mau merem!"
Dewi mendekat dan mengulurkan tangannya. "Salim!" Wira memberikan tangannya dan melihat barang bawaan Dewi.
"Apa yang lo bawa? Lo bukannya masuk pagi ya?" Wira melihat jam di dinding, seharusnya sudah masuk kerja tapi Dewi malah berada di apartemennya. "Bolos?"
"Enggak dong! Saya tukeran shift hari ini." Dewi mengeluarkan bawaannya. "Saya bawa ikan dan sambal pesanan Bapak. Mau makan sekarang atau nanti saja?!"
__ADS_1
"Nanti saja!" tolak Wira.
Dewi lalu duduk di sofa dan menatap wajah Wira yang terlihat kusut karena banyak pikiran. "Pasti karena keluarga saya ya?"
"Jangan sok tau!" jawab Wira dengan jutek.
"Saya kenal Bapak. Pasti saya bawa masalah lagi dalam hidup Bapak?! Maaf, Pak. Saya selalu nyusahin Bapak." ujar Dewi sambil menundukkan wajahnya.
"Apa sih lo? Lebay tau enggak?!"
"Saya dengar semua percakapan Bapak dan Bu Tari semalam. Bahri juga. Bapak yang membayar semua biaya dengan uang Bapak sendiri. Pasti uang tabungan Bapak makin berkurang karena keluarga saya."
"Sok tau!"
"Bener kan?" tebak Dewi. Dewi mengangkat wajahnya dan melihat ketulusan dalam wajah lelaki jutek itu.
"Udah jangan sok tau! Itu urusan gue!" ketus Wira.
"Pak, kita ini udah suami istri. Kalo ada masalah, kita berbagi. Meski saya hanya istri siri Bapak, tapi tetap saja pernikahan kita sah di mata Allah. Bapak enggak bisa tidur karena mikirin masalah kita bukan? Kenapa sih Bapak enggak mau sharring?" protes Dewi.
"Bukan enggak mau sharring. Gue juga enggak tau akan berbuat apa?! Gue bukan businessman atau CEO kayak kisah di novel yang banyak uang. Gue belum lama lulus kuliah dan cuma bantuin orang tua gue audit cafe dan showroom. Gue belum mandiri secara finansial. Masih membutuhkan mereka. Sekarang Mommy udah tau dan langsung bersikap tegas. Apalagi Abi? Itu yang gue pikirin sejak semalam!" jawab Wira dengan kesal.
"Maaf, Pak."
"Lo enggak usah minta maaf! Lo enggak salah!"
Dewi sejak tadi ingin memeluk Wira. Ia pun mengikuti hati nuraninya. Ia pun memeluk Wira dengan erat.
"Saya sayang sama Bapak. Cuma Bapak yang baik sama saya dan keluarga. Kalau Bapak butuh sesuatu, saya pasti akan bantu. Apapun itu!"
__ADS_1
****