Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Perdebatan Agas dan Tari


__ADS_3

Agas tak menjawab pertanyaan Tari. Jujur saja, Agas juga masih memikirkan apa yang akan Ia lakukan pada Wira.


Wira sudah berbuat salah dengan melakukan bisnis plus plus, tak peduli siapa yang mengajak duluan. Bukan masalah nikah siri yang disembunyikan yang membuat Agas marah, Agas lebih marah ke dirinya sendiri. Agas merasa gagal mendidik Wira.


"Bi! Jawab dong!" desak Tari yang tak kunjung mendapat jawaban.


"Bi! Mommy juga penasaran! Semalam Mommy udah menghukum Wira. Uang untuk membebaskan adiknya Dewi, Mommy tagih saja ke Wira. Makin habis deh uang tabungannya. Abi tau sendiri anak itu sama uang tabungannya benar-benar dijaga sepenuh hati seperti Malika kayak iklan di TV." ujar Tari tanpa menyadari kalau ia baru saja memberikan informasi tentang keluarga Dewi.


Agas memberhentikan mobilnya tepat di belakang lampu merah. "Membebaskan? Memang siapa yang dipenjara? Kok Mommy enggak cerita sama Abi?"


Tari menutup mulutnya dan menyadari kalau dirinya sudah kelepasan ngomong. Tari hanya menambah panas masalah saja.


"Mm... Itu... Bukan begitu ceritanya." Tari bingung mau menjawab apa.


Agas menatapnya dengan tajam. Tari bisa melihat kalau suaminya bertambah marah saja. Ia juga sedikit takut menghadapi kemarahan Agas kalau sudah seperti ini. "Jawab yang jujur, My!"


"Mm... Mommy akan cerita jujur kok, Bi. Tapi jalanin dulu ya mobilnya! Tuh udah mau lampu hijau!" Tari menunjuk lampu lalu lintas yang berganti dari warna kuning menjadi hijau.

__ADS_1


Dengan menahan sabar, Agas menjalankan mobilnya. "Sekarang Mommy cerita semua!"


"Iya, Bi. Jadi Dewi punya adik namanya Bahri. Anaknya lugu dan enggak tau kalau selama seminggu lebih ini dia disewa oleh orang yang ternyata jualan narkoba. Anak itu ikut tertangkap dan dianggap sebagai kurir narkoba. Kemarin Dewi telepon Wira dan nangis minta tolong. Mommy dan Wira ngurusin pembebasan Bahri,"


"Mommy ngeliat Dewi dan adiknya saling sayang, hanya mereka salah jalan, Bi. Dewi mendapatkan uang dengan ngajakin Wira bisnis plus plus, sementara Bahri malah dengan polosnya terjebak. Mereka mengingatkan Mommy akan masa lalu Mommy, Bi. Pasti karena tak punya uang makanya mereka nekat." cerita Tari sambil matanya mulai berkaca-kaca, ingatan masa lalu yang tak punya uang membuatnya selalu sedih.


"Tetap saja apa yang mereka lakukan tak bisa dibenarkan, My. Lalu Mommy menghukum Wira dengan menyuruhnya membayar sendiri? Hukuman yang bagus buat anak bangor itu!" ujar Agas sambil tetap fokus mengemudi.


"Iya, tapi sekarang Mommy nyesel, Bi. Mommy kasihan sama Wira. Pasti anak itu uang tabungannya udah mau habis. Rencananya, hari ini Mommy mau balikin lagi uang yang kemarin sudah ditransfer oleh Wira. Biarlah, anak itu sekarang udah jadi kepala keluarga pasti banyak kebutuhan sekarang." sesal Tari. Rupanya rasa marah dalam dirinya tak sebanding dengan rasa sayang dan tak mau melihat anaknya susah. Naluri alami seorang Ibu.


"Jangan dibalikin! Abi sekarang jadi malah terinspirasi buat ngasih hukuman kayak gitu ke Anak bangor itu! Awalnya Abi mau menghukum dia dengan mengambil apartemen yang Abi belikan, tapi Mommy malah menginspirasi Abi." larang Agas.


"Mommy jangan kayak gitu dong! Nanti anak itu akan menganggap apa yang ia lakukan itu benar! Anak itu nggak akan merasa kapok dan merasa salah. Kenakalannya kali ini tuh udah kebangetan, My! Kok bisa-bisanya dia buat perjanjian bisnis plus-plus kayak gitu? Udah kayak melegalkan perzinahan tahu nggak, My! Untung saya pada akhirnya mereka dinikahkan, coba kalau nggak? Beberapa lama mereka berkubang dalam lumpur dosa kayak begitu?!" Agas membelokkan mobilnya ke arah apartemen Wira. Ia memarkirkan mobil milik Tari di basement bersebelahan dengan mobil miliknya yang semalam ditinggal oleh Tari.


"Bukannya seharusnya kita malah membuat dia menjadi lelaki yang bertanggung jawab ya, Bi? Dengan memberikan ia pekerjaan dan menggajinya seperti layaknya karyawan bukan pemilik cafe, Mommy rasa itu sudah cukup untuk mendewasakan dirinya. Abi nggak ngelihat sih semalam dia tuh udah berubah. Wira jadi lebih dewasa. Terus Mommy lihat anak itu kayaknya sayang sama Dewi. Berarti Dewi itu membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk Wira, Bi" bela Tari.


"Udah deh My, jangan lagi anak itu dibela! Karena keseringan Mommy manjain dan Mommy bela, anak itu jadi suka seenaknya. Pokoknya kita harus bertindak tegas kali ini!"

__ADS_1


"Kok Abi jadi nyalahin Mommy sih? Harusnya Mommy yang menyalahkan Abi! Siapa yang sudah mencekoki Wira dengan hal-hal yang negatif sejak kecil? Anak itu sudah mulai terkontaminasi karena sering mendengar Abi dan sahabat-sahabat Abi mengobrol! Kita berdua punya andil atas kesalahan yang Wira buat saat ini. Kita harus memperbaikinya Bi!" Agas dan tari masih berdebat di dalam mobil. Mereka belum menyamakan pendapat. Mereka memilih menyelesaikannya sebelum turun dan masuk ke apartemen Wira.


Agar terdiam karena apa yang Tari katakan memang benar adanya. Saat dulu Tari sibuk dengan aneka kursus, dirinya malah asyik nongkrong bersama teman-temannya di rumah sambil membicarakan hal-hal yang seharusnya tak boleh didengar oleh Wira yang masih kecil. Agas memang menyumbang kesalahan atas kenakalan wira sekarang.


"Jadi, Mommy mau kita memaafkan perbuatan Wira gitu? Kita nikahin secara resmi terus kita kasih fasilitas yang banyak untuk dia? Maaf My, Abi tau kita berdua salah karena sebagai orang tua sudah gagal mendidik Wira. Namun, Abi nggak setuju dengan cara Mommy memanjakan anak itu lagi! Harus ada efek jera dan Abi terpaksa harus bertindak tegas terhadap anak itu. Mengenai pernikahan mereka, tentu harus kita legalkan di depan hukum. Orang tuanya harus tahu. Selanjutnya, biarkan mereka menjalani susahnya berumah tangga dulu! Jangan ada fasilitas dan uang jajan untuk Wira. Biar dia belajar dari kesalahannya!"


Tari tak bisa lagi berkata-kata jika Agas sudah memutuskan sesuatu. Ia mengikuti kemauan suaminya dan hanya bisa mengangguk lemah. Mereka pun lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam apartemen. Karena sudah tahu berapa password apartemen Wira, Tari pun langsung masuk ke dalam.


Tari melihat ada botol sambal dan juga ikan goreng tepung di meja makan. Tari sudah bisa menebak kalau itu adalah buatan Dewi. Khas buatan rumahan.


Tak disangka, Agas malah langsung masuk ke dalam kamarnya Wira. Ia membuka pintu dan mendapati anaknya sedang tertidur pulas.


Agas berjalan mendekati Wira dan menepuk punggungnya. Anak itu tidak terbangun. Agas kembali mengguncang tubuhnya, berhasil. Anak itu bereaksi.


Wira yang baru terbangun belum berpikir dengan jernih."Gue masih ngantuk, Wi!"


Agas berusaha mengendalikan dirinya dan kembali mengguncangkan punggung Wira kembali. Wira lalu mengomel karena sudah dibangunkan. "Kenapa sih Wi? Lo mau main lagi? Ya udah deh tapi lo yang di atas ya!"

__ADS_1


****


__ADS_2