
"Iya, sih. Abang akui itu. Kalo sama Cerry mana bisa Abang ngomong jutek? Bisa nangis dia. Dewi tuh anaknya enggak gampang baper. Ibaratnya cuek tingkat dewa. Sepedas apapun ucapan Abang, Dewi santai aja tuh." jawab Wira.
"Abang coba lihat Abi sama Mommy deh. Abi kalau ngomong sama orang lain, pedesnya sebelas dua belas kayak Abang. Hanya sama Mommy aja Abi ngomongnya lembut dan penuh kasih sayang. Semua karena Abi beneran sayang sama Mommy istrinya. Kalo Abang malah kebalik. Ngomong sama istri sendiri enggak ada lembut-lembutnya sama sekali. Aku jadi curiga tentang perasaan Abang ke Kak Dewi."
Wira terdiam mendengar penuturan dari Carmen. Adiknya itu memang benar. Ia memang sangat judes dengan Dewi, berbeda dengan Abi yang jika berbicara dengan Mommy sangat lembut dan penuh kasih.
"Mungkin... Karena Abang lebih nyaman kali berbicara judes dengan Dewi?! Karena Abang tahu Dewi tak akan mengambil hati setiap ucapan yang Abang ucapkan." ujar Wira.
"Apa Abang lebih menyukai Cerry dibanding Kak Dewi? Eh enggak boleh lagi loh, Bang. Abang udah nikah sekarang. Enggak boleh lagi suka sama Cerry?!" larang Carmen.
"Yang bilang Abang suka sama Cerry siapa sih, Dek? Abang asyik aja ngobrol sama Cerry. Enggak ada apa-apa. Kamu mah lebay!"
Obrolan Wira dan Carmen harus terputus manakala mendengar ketukan di pintu. Dewi memanggil Wira dan Carmen untuk ikut serta makan bersama sesuai perintah dari Tari.
Kedua kakak beradik itu pun menyudahi obrolan mereka dan keluar kamar. Nampak Dewi sudah menunggu Wira di depan pintu kamar Carmen.
"Loh Kak Dewi bukan langsung ke meja makan aja? Kenapa malah nunggu di sini Kak?!" tanya Carmen seraya menutup pintu kamarnya.
"Enggak apa-apa. Biar bareng aja turunnya." jawab Dewi.
Carmen pun tersenyum. "Yaudah yuk kita turun." Mereka pun turun ke bawah dan langsung ke meja makan. Nampak Abi sudah duduk sambil streaming nonton siaran sepak bola dari Hp miliknya.
"Bi, anak-anak udah turun tuh! Udahan dulu nonton bolanya!" ujar Mommy.
Dengan patuh Abi mematikan siaran bola yang ia tonton. "Udah, My!"
Tari tersenyum. "Pinter banget sih Abi kalo Mommy bilangin nurut!"
"Iya dong! Abi gitu loh! My, nanti malam Abi nginep di poskamling ya! Mau main catur sama bapak-bapak. Boleh kan, My?" Abi memainkan kedua alisnya agar diijinkan oleh Mommy.
"Pantas saja nurut. Ternyata ada maunya! Yaudah, tapi jam 3 udah pulang ya! Jangan lupa sholat tahajud sepulang dari poskamling!" ujar Mommy.
"Siap, Darling!"
Dewi sejak tadi memperhatikan bagaimana kemesraan kedua mertuanya tersebut. Abi yang bersikap manja pada Mommy sungguh berbeda dengan Wira yang bersikap acuh padanya.
Dewi tadi sempat mendengar percakapan Wira dan Carmen di kamar. Kebetulan pintu kamar Carmen tadi terbuka sedikit.
"Benar yang dikatakan Carmen, aku memang bukan tipikal perempuan kesukaan Pak Wira. Abi sangat nurut dan mencintai Mommy makanya selalu berbicara baik." batin Dewi.
__ADS_1
"Wi, Dewi!" panggil Tari membuyarkan lamunanan Dewi.
"Ah iya... My." jawab Dewi terbata.
"Kamu melamun saja! Ayo disendok nasinya!" ujar Tari.
"Iya, My." Dewi melihat piring Wira yang ternyata sudah mengambil nasi sendiri dan Wira asyik makan.
Dewi mengambil nasi dan lauk lalu makan bersama keluarga Agas. Dewi makan dalam diam sambil memperhatikan keluarga harmonis di depannya. Mereka makan sambil sesekali mengobrol, tak ada yang membicarakan tentang hutang atau kesulitan hidup. Membuat Dewi melihat dengan iri saja.
Kalau keluarga Dewi makan bersama, mereka harus mengeluarkan kursi rotan dan menaruhnya di teras lalu menggelar tikar. Biasanya mereka makan sambil berebut lauk yang sedikit. Ibu yang memisahkan. Lalu mulai deh Ibu mengeluh soal harga yang naik.
Dewi mengerti kenapa Ibu melakukan itu. Semua karena keterbatasan uang yang mereka miliki. Kalau saja mereka punya uang banyak seperti keluarga Wira, pasti obrolan mereka penuh kehangatan seperti ini.
"Dulu Mommy ngambek beberapa kali sama Abi kalian. Habis centilnya enggak hilang-hilang!" cerita Mommy.
"Tapi Abi tetap dong mengejar cinta Mommy! Iya enggak My?" goda Abi.
"Iya sih. Abi udah Mommy jambak pas ngelahirin Wira dan Carmen aja tetap saja cinta sama Mommy. Iya gak Bi?"
"Tentu dong Mommy-ku Sayang!"
Dewi melihat penuh rasa iri. Andai Wira juga memperlakukannya semanis Abi memperlakukan Mommy.
Dewi hanya diam saja di meja makan. Sesekali ia menanggapi obrolan mereka dengan tersenyum kecil.
Selesai makan, Dewi membantu membereskan meja makan. Sudah menjadi kebiasaannya di rumah seperti itu. Tari melarang tapi Dewi tetap bersikukuh membantu. Dewi merasa tak enak hati kalau hanya makan tidur saja.
Dewi masuk kembali ke kamar Wira. Nampak Wira sedang asyik bermain Hp. Dewi memilih sholat isya dulu sebelum tidur.
"Udah sholat, Pak?" tanya Dewi seraya merebahkan tubuhnya di samping Wira.
"Udah." jawab Wira singkat. Wira masih asyik bermain Hp.
Dewi lalu memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur. Belum lama ia tertidur, ia merasakan pelukan hangat pada tubuhnya. Rupanya Wira juga ikut bergabung tidur. Dewi pun melanjutkan merangkai mimpi sampai pagi menjelang.
Pagi-pagi sekali Wira sudah terbangun dan memutuskan untuk menyalurkan hasratnya. Ia pun membangunkan Dewi dengan caranya sendiri.
Dewi terbangun dan merasakan sentuhan di tubuhnya. Meski kesadarannya belum pulih, Dewi tau siapa yang melakukan hal itu. Siapa lagi kalau bukan Wira.
__ADS_1
Hubungan suami istri mereka memang tak pernah bermasalah. Jiwa muda, semangat membara, hasrat menggebu. Apalagi Wira yang biasanya menyalurkan hasrat dengan bergonta ganti pasangan. Kini Dewi harus mau setiap Wira menginginkannya jika tak mau suaminya selingkuh dengan wanita lain.
Atau kembali menyukai Cerry...
Dewi langsung membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat subuh. "Bapak mau jadi imam?" tanya Dewi.
"Gue?" Wira menunjuk dirinya sendiri. "Jadi imam?"
"Iyalah. Bukan jadi duta shampoo lain!" jawab Dewi dengan jutek.
"Lo yakin mau gue jadi imam lo?" tanya balik Wira.
"Ya memang sekarang Bapak udah jadi iman saya bukan? Apa salahnya kalau sekarang jadi imam sholat juga?" ujar Dewi.
"Gue enggak jago! Bacaan gue masih berantakan." tolak Wira.
"Lalu kapan? Justru belajar dari sekarang Pak biar makin lancar." jawab Dewi.
Wira terdiam sejenak. Ia merasakan ada yang berbeda dari istrinya. Agak emosional.
"Yaudah, gue jadi imamnya! Jangan protes kalo bacaan gue berantakan!"
"Iya."
Dewi pun menggelar sebuah sajadah di depannya. Wira mengambil wudhu dan mulai memimpin sholat.
"Allahu Akbar!" takbir Wira pertama sebagai imam sholat.
Dewi mendengarkan bacaan surat Wira. Memang belum sejago imam masjid, namun sudah lumayan mengingat bagaimana pergaulan dirinya selama ini.
Tangan Wira pun disambut Dewi seusai sholat. Tangan kekar yang sudah beberapa kali melindunginya dari masalah.
"Bolehkah aku egois sedikit saja? Bolehkah aku memiliku seutuhnya tanpa ada cinta lain di hatimu?" batin Dewi.
****
Hi semua!
Dukung aku dengan like, komen, vote dan add favorit ya! Yuk vote yuk! 😍😍😍
__ADS_1